Mengapa Koruptor Naik Haji?

0

Siang itu, panas matahari terik menyengat, dua orang berjalan di tengah gurun pasir, dua orang itu tak lain adalah sahabat yang mulia Amirul Mukminin Umar  bin Khattab dan Abdullah bin Dinar radhiyallahu ‘anhum. Mereka sedang mengadakan perjalanan dari Madinah ke Makkah. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang anak gembala. Lalu timbul dalam hati Khalifah Umar untuk menguji sejauh mana kejujuran dan keamanahan si anak gembala itu.

Maka, terjadilah dialog berikut ini. “Wahai anak gembala, juallah kepadaku seekor anak kambing dari ternakmu itu!” ujar Amirul Mukminin. “Aku hanya seorang budak,’ jawab si gembala.” Umar bin Khattab berkata lagi, “Katakan saja nanti pada tuanmu, anak kambing itu dimakan serigala.” Anak gembala tersebut diam sejenak, ditatapnya wajah Amirul Mukminin, lalu keluar dari bibirnya perkataan yang menggetarkan hati Khalifah Umar, “Fa ainallah? (Dimana Allah?). Kurang lebih maknanya adalah, “Jika Tuan menyuruh saya berbohong, lalu di mana Allah? Bukankah Allah Maha Melihat? Apakah Tuan tidak yakin bahwa siksa Allah itu pasti bagi para pendusta?”

Umar bin Khattab adalah seorang khalifah, pemimpin umat yang sangat berwibawa lagi ditakuti, dan tak pernah gentar menghadapi musuh. Akan tetapi, menghadapi anak gembala itu beliau gemetar, rasa takut menjalari seluruh tubuhnya, persendian-persendian tulangnya terasa lemah, kemudian beliau menangis. Menangis mendengar kalimat tauhid itu, yang mengingatkan pada keagungan Allah, dan tanggung jawabnya di hadapan-Nya kelak.

Lalu dibawanya anak gembala yang berstatus budak itu kepada tuannya, kemudian ditebusnya, dan beliau berkata, “Dengan kalimat tersebut (Fa ainallah?) telah kumerdekakan kamu dari perbudakan itu dan dengan kalimat itu pula insya Allah kamu akan merdeka di akhirat kelak.”

Peristiwa di atas jelas merupakan cermin jiwa yang ihsan, serta gambaran iman yang melahirkan sifat jujur dan amanah. Seorang anak yang terdidik dengan nilai-nilai Islam dan tauhid yang kuat. Manusia yang langka untuk zaman sekarang ini.

Alangkah indahnya negeri ini bila penduduknya memiliki iman dan ihsan seperti anak gembala itu. Apalagi jika iman dan ihsan itu ada pada orang-orang yang dominan memegang peranan penting di negeri ini. Kita akan menikmati kesungguhan presiden dengan jajaran para menteri kabinet dan seluruh aparat pemerintahannya untuk memajukan bangsa dan memakmurkan rakyatnya, bebas dari rasa takut, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Dibandingkan dengan harapan tersebut realita yang ada hal tersebut masih sesuai dengan pepatah “jauh panggang dari api”. Berita-berita korupsi di tanah air seakan tak ada habis-habisnya. Menurut lansiran sebuah media bahwa data dari pihak kejaksaan agung angka tindak pidana korupsi tiap tahunnya meningkat sampai 100%. Uniknya kebanyakan kasus korupsi yang terungkap selalu saja kasusnya menggurita kemana-mana melibatkan banyak oknum, dengan kata lain ternyata “perampokan” tersebut sudah tidak dilakukan sendiri-sendiri tapi beramai-ramai.

Uang negara yang katanya ‘bantuan’ namun tak lain adalah utang dari luar negeri juga tak luput dari incaran koruptor. Profesor Sumitro Djoyohadikusumo, pendiri fakultas ekonomi dari Universitas Indonesia, pernah menyatakan bahwa paling sedikitnya 30% dari pinjaman yang diberikan kepada pemerintah Indonesia telah dicuri.

Salah seorang ketua Pengadilan Negeri yang sekaligus ketua majelis hakim kasus Gayus, mengakui kecipratan uang haram sebesar Rp 50 juta. Ironisnya, uang hasil penyuapan tersebut digunakan untuk umrah. Itu menandakan bahwa para koruptor di negara ini sudah sedemikian parah. Mereka tidak lagi takut kepada peradilan yang ada di dunia ini, bahkan peradilan akhirat.
Dari berita-berita yang kasat mata bahwa banyak diantara pejabat yang terlibat kasus-kasus korupsi itu juga ibadah formalnya tidak kalah rajin juga, seperti shalat maupun umrah, bahkan haji. Namun sebagaimana diketahui, ibadah dengan menggunakan uang haram tidak akan mendatangkan pahala, tapi dosa, bahkan laknat. Ibadah memang dianjurkan. Namun, harta yang dipakai untuk ibadah harus diperoleh dengan cara yang halal.

Dulu, pernah ada pertanyaan yang muncul di benak saya -mungkin juga Anda-, “Kok bisa ya orangnya shalat di masjid tapi pulangnya membawa sandal orang lain?” Jawabannya mungkin kita bisa lihat dari hadits panjang berikut:

“Dari Umar radhiyallahu ‘anhu juga dia berkata: Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam) seraya berkata: “Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu”, kemudian dia berkata: “anda benar”. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang  membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman”. Lalu beliau bersabda: “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk”, kemudian dia berkata: “anda benar“.  Kemudian dia berkata lagi: “Beritahukan aku tentang ihsan”. Lalu beliau bersabda: “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau”… (HR. Riwayat Muslim)

Dari hadits tersebut dikenal istilah ‘Islam’, ‘Iman’ dan ‘Ihsan’. Islam menekankan pada aspek ubudiyah atau ibadah formal, Iman menekankan pada aspek akidah dan Ihsan menekankan pada aspek moralitas. Celakanya ketiga aspek tersebut diterapkan secara parsial dan terpisah. Sendiri-sendiri tanpa menyatu. Aspek Islam, misalnya tadi, salat dan umrahnya rajin, tapi akidahnya kadang-kadang masih bolong-bolong dan bopeng. Masih suka ke dukun, para normal, ramalan bintang, dan sebagainya, mau jadi caleg, mau dapat jodoh ke mbah ini atau ke kuburan anu, dsb.

Ada yang akidahnya bagus, kuat, tapi ‘Islam’nya (ibadahnya) berantakan. Shalat di masjid, keluar dari masjid, tukar sandal, nah. Andaikan bila ‘Ibadahnya bagus, imannya bagus, tapi ihsannya (moralitasnya) berantakan. Korupsinya rajin, menilep uang negara (rakyat) juga tak kalah gesit, dst. Kenapa??? Karena difahami bahwa ajaran Islam tidak diintegralkan dan disatukan.

Iman dan Ihsan erat kaitannya dengan Muraqabatullah (senantiasa merasa diawasi oleh Allah) bila muraqabatullah ini terasa melemah ini menunjukkan iman juga sedang lemah. Kalau kita renungkan diantara penyebab penting hingga bangsa ini hampir bangkrut adalah lemahnya muraqabatullah. Kebohongan sudah menjadi kultur bangsa kita; mahasiswa nyontek, pejabat korup, bisnis penuh tipu, dan lain-lain itu bersumber karena lemahnya muraqabatullah.

Namun bila iman dan ihsan menyebar di negeri ini, maka kita akan mendapati politisi yang jujur, jauh dari praktik rekayasa negatif untuk menjatuhkan lawan politiknya, polisi yang mengayomi masyarakat, karyawan dan para buruh yang memiliki dedikasi dan tanggung jawab. Insya Allah, peraturan akan dipatuhi, negara akan aman, kemakmuran akan dinikmati, hati penduduk negeri menjadi damai.

Demikian memang jaminan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam al-Qur’an, (yang artinya):

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka.” (QS. al-A’raf: 96).

Wallahu Ta’ala A’lam. [af]

Share.

Leave A Reply