Abdurrahman Bin Auf, Saudagar Kaya, Dermawan dan Sederhana (1)

1

Oleh : Syamsuddin al-Munawi, MA

Nama dan Kelahiran

Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu ‘Auf  bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri. Kun-yahnya Abu Muhammad. Namanya pada masa jahiliyah Abdu Amr, dalam versi lain Abdul Ka’bah.  Setelah masuk Islam Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menamainya ‘Abdurrahman. Ibunya bernama Syifa binti ‘Auf bin ‘Abdul Harits bin Zuhrah.  Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada Kilab bin Murrah. Laqab –gelar- nya al-Shadiq al-Barr . Beliau  dilahirkan pada tahun 581 M  sepuluh tahun setelah  tahun Gajah. Beliau   lebih  muda sepuluh tahun dari  Nabi.  Nabi dilahirkan pada tahun gajah yaitu tanggal 20 April 571M.

Masuk Islamnya

Abdurrahman bin ‘Auf termasuk kalangan Assaabiquunal Awwalun, orang yang mula-mula masuk Islam. Beliau masuk Islam dua hari setelah Abu Bakar memeluk Islam. Abdurrahman Raf’at Basya menuliskan bahwa, “Abdurrahman bin ‘Auf masuk Islam sebelum  Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masuk ke rumah al-Arqam, yaitu dua hari sesudah Abu Bakar Al Shiddiq masuk Islam. Sama halnya dengan kelompok kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam, ‘Abdurrahman tidak luput dari penyiksaan dan tekanan kaum Kafir Quraisy. Tetapi dia teguh dan tetap sabar”.

Hijrahnya

Abdurrahman bin ‘Auf dikenal sebagai Sahabat yang hijrah dua kali. Hijrah pertama ke Habasyah dan kedua ke Madinah. Sebagaiamana diketahui, pada masa awal Islam  kaum Muslimin menghadapi tekanan dan siksaan dari orang-orang kafir Quraisy.  Ketika siksaan semakin dahsyat, maka Rasulullah memerintahkan kepada sebagian Sahabat untuk berhijrah ke Habasyah.  Pada bulan Rajab tahun ke-5 kenabian gelombang pertama dari para sahabat berangkat ke Habasyah. Mereka terdiri atas 12 pria dan 4 wanita dibawah pimpinan ‘Utsman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu sebagai ketua rombongan.  Diantara Sahabat yang hijrah tersebut adalah ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendapat izin dari Allah untuk berhijrah, Abdurrahman bin ‘ Auf termasuk orang-orang yang mempelopori hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sangat menjaga Kehormatan

‘Abdurrahman bin ‘Auf dikenal pula sebagai orang yang muta’affif, artinya sangat menjaga kehormatan dirinya. Hal ini nampak ketika beliau menginjakkan kaki pada hari pertama  di kota Madinah, saat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarkan beliau dengan Sa’ad bin Rabi’. Syekh Shafiyyurrahman al Mubarak Fuuriy mengutip kisah tentang hal ini dari sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah, Ketika mereka sampai di Madinah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memepersaudarakan ‘Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’ad bin Rabi’. Sa’ad berkata kepada ‘Abdurrahman, “Saya adalah orang Anshar yang paling kaya, hartaku akan aku bagi dua dan setengahnya aku berikan kepadamu. Aku juga memiliki dua istri lihat dan pilihlah yang paling menarik bagimu, sampaikan kepadaku, aku akan menceraikannya. Setelah selesai masa ‘iddahnya nikahilah”. “Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Di mana pasar kalian?”  tanya ‘Abdurrahman bin ‘Auf, lalu ia ditunukkan lokasi pasar Bani Qainuqa’. Mulailah ia berjualan.  Pada hari pertama beliau memperoleh keuntungan berupa Uqt dan minyak samin. Keesokan harinya ia kembali mendapatkan keuntungan dan terus meningkat pada hari-hari berikutnya. Hingga suatu hari ‘Abdurrahman datang menghadap kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam  sedang di badannya terdapat bekas minyak wangi.  “Wah, alangkah wanginya engkau wahai ‘Abdurrahman?” Tanya Rasulullah. “Aku telah menikah”, jawab ‘Abdurrahman.  “Mahar apa yang  kamu berikan kepadanya?” Tanya Rasulullah kembali. Abdurrahman menjawab; emas seberat/sebesar (nuwah)  biji kurma.  Kalau begitu berwalimah  (kenduri)-lah meski hanya dengan seekor kambing.

Jihad dengan Jiwa dan Harta

Berkorban di jalan Allah dengan jiwa dan harta merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan para sahabat Nabi. Semua sahabat Nabi dikenal sebagai sosok-sosok yang militan dalam membela agama Allah dengan jiwa dan harta. Demikian pula dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf. Bahkan ‘Abdurrahman bin ‘Auf pernah datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan kondisi kaum Muslimin yang mengalami penyiksaan dari orang Quraisy, dengan harapan Rasulullah mengizinkan mereka untuk melawan. Tetapi hal itu ditolak oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Ketika Abdurrahman bin Auf masuk Islam dan mendapati kaum Muslimin disiksa oleh orang-orang Kafir Quraisy padahal pada masa jahiliyah mereka dihormati dan disegani. Maka Abdurrahman bin ‘Auf bersama beberapa orang Shahabat datang kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan hal itu. Mereka mengatakan, Wahai Rasulullah, dahulu kami mulia padahal kami musyrik. Setelah beriman kami terhina. Rasulullah menjawab, sesungguhnya saya diperintahkan untuk memaafkan, maka janganlah kalian berperang. Ketika kami di Madinah kami diperintahkan untuk berperang”.

Ketika tejadi perang Badr, Abdurrahman bin ‘Auf termasuk dalam barisan sahabat yang ikut dalam perang yang disebut dengan Yaumul Furqan tersebut.  Beliau juga pernah mengikuti  perang Uhud, Tabuk dan perang-perang lainnya. Mengenai keikutsretaan Abdurrahman bin ‘Auf pada perang Badar dan uhud  diceritakan oleh Abdurrahman Raf’at Basya seperti berikut. “Dalam perang Badar ‘Abdurrahman turut berjihad fi sabilillah, dan dia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, antara lain ‘Umair bin ‘Utsman bin Ka’ab At-Taimy. Dalam perang uhud ia tetap teguh bertahan di samping Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ketika banyak kaum Muslimin banyak yang  meninggalkan medan laga. . . .”.

Hal ini merupakan  bukti keberanian beliau di medan tempur. Al Harits bin Shammah mengisahkan kepahlawanan Abdurrahman bin Auf pada perang Uhud. Beliau mengatakan: “Aku ditanya oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam sedang beliau berada di Syi’b, apakah anda melihat Abdurrahman bin ‘Auf? Aku melihatnya di sisi bukit sedang menghadapi para tentara Quraisy. Aku bergegas kepadanya untuk membantunya, tetapi aku melihatmu sehingga aku datang kepadamu. Rasulullah mengatakan, Sesungguhnya ia dilindungi oleh para Malaikat. Al Harits melanjutkan, aku kembali kepada Abdurrahman bin ‘Auf  ternyata aku lihat dihadapannya tujuh orang tentara Quraisy sedang meregang nyawa, anda beruntung kata al Harits. Apakah anda yang telah membunuh semuanya? Adapun ini dibunuh oleh Arthah Bin Syarhjil, sedang yang dua aku yang membunuhnya. Adapun mereka (yang empat orang), aku tidak tahu siapa yang membunuh mereka. Sungguh benar Allah dan Rasul-Nya. Ketika selesai perang  dan kaum Muslimin keluar sebagai pemenang, ‘Abdurrahman mendapat hadiah sembilan luka parah menganga di tubuhnya, dan dua puluh luka-luka kecil. Walaupun luka kecil, namun di antaranya ada yang sedalam anak jari.

Abdurrahman bin ‘auf juga dikenal sebagai seorang yang selalu terdepan dalam urusan infaq fi Sabilillah. Beliau sangat menyadari bahwa jihad membela agama Allah bukan hanya dengan jiwa, tetapi juga dengan harta. Beliau sangat  memahami kandungan firman Allah Ta’ala:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١١١]

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.
Komitmen yang jelas dari seorang  Abdurrahman bin Auf dalam berjihad dengan harta direkam dengan jelas oleh penulis buku Shuwar Min Hayaatish Shahabah. Beliau menulis, “Pada suatu hari Rasulullah berpidato membangkitkan semangat jihad dan pengorbanan kaum Muslimin. Beliau berdiri di tengah-tengah para Sahabat. Kata beliau, antara lain “bersedekahlah tuan-tuan! Saya hendak mengirim suatu pasukan ke medan perang”. Mendengar ucapan Rasullah tersebut, ‘Abdurrahman bergegas pulang ke rumahnya dan cepat pula kembali ke hadapan Rasulullah di tengah-tengah kaum Muslimin. Katanya, Ya Rasulullah! Saya mempunyai uang empat ribu. Dua ribu saya pinjamkan kepada Allah, dan dua ribu saya  tinggalkan untuk keluarga saya”. Lalu uang yang dibawanya dari rumah diserahkan kepada Rasulullah dua ribu.

Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mendoakan keberkahan terhadap harta Abdurrahman bin Auf  baik harta yang dia infakkan maupun harta yang dia tinggalkan buat keluarganya. Dan semenjak itu Abdurrahman dikenal sebagai seorang yang dermawan dan gemar bersedekah. Ketika Nabi sedang mempersiapkan pasukan perang Tabuk, beliau membutuhkan dana dan personil yang  tidak sedikit. Oleh karena itu beliau memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka untuk jihad fi sabilillah. Abdurrahman bin ‘Auf kembali mempelopori menyambut seruan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Tidak tanggung-tanggung, beliau menyerahkan dua ratus uqiyah uang emas.   Syekh Mutawalli Asy Sya’rawi hafidzahullah menukil sebuah riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallaahu ‘anhuma, ketika ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu datang menyerahkan infaqnya sebsar 200 uqiyah, Nabi bertanya kepadanya, Adakah yang engkau tinggalkan untuk keluargamu? Iya, lebih banyak  dan lebih baik dari yang aku infakkan. Berapa? Tanya Rasulullah. Abdurrahman menjawab, sebanyak jumlah kebaikan dan rezki yang dijanjikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kedermawanan Abdurrahman Bin ‘Auf

Abdurrahman bin ‘Auf dikenal sebagai salah seorang sahabat yang kaya. Perniagaanya selalu meningkat. Kafilah dagang milikinya terus menerus hilir mudik keluar masuk Kota Madinah mengangkut berbagai macam dagangan dan kebutuhan pokok penduduk. Ada gandum, tepung, pakaian, barang-barang pecah belah, minyak, wewangian dan segala kebutuhan penduduk. Bahkan, suatu hari penduduk kota Madinah melihat ada debu tebal membumbung di atas langit Madinah. Mereka   mengira akan akan ada badai, ternyata gumpalan debu itu disebabkan oleh iring-iringan kafilah dagang yang besar dan panjang. Tidak tanggung-tanggung iring-iringan yang mengundang rasa penasaran penduduk Madinah itu berjumlah 700 onta bermuatan penuh dan lengkap. Ketika memasuki kota rombongan onta tersebut memadati sepanjang jalan kota Madinah, bumi seolah-olah bergetar. Pemilik ratusan onta berisi barang dagangan itu adalah Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallaahu ‘anhu.
Akan tetapi, meskipun hartanya melimpah Abdurrahman bin ‘Auf dapat mengendalikan hartanya dengan sangat baik. Beliau tergolong orang yang sangat dermawan dan gemar bersedekah. Infaq dan sedekah telah menjadi sesuatu yang inheren dalam komitmen keislaman para sahabat termasuk Abdurrahman bin ‘Auf. Beliau memahami benar makna firman Allah:

 لَن تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ [٣:٩٢]

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.
Beliau juga sangat mengerti maksud ayat:

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ [٩:١١١]

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. 

(QS Al-An’am ayat:111).

Oleh karena itu tidak ada satu moment kesempatan untuk bersedekah, melainkan Abdurrahman selalu bergegas untuk melakukannya. Beliau segera berinfaq di jalan Allah.Thalhah bin ‘Abdullah bin ‘Auf mengatakan, 

“Semua penduduk Madinah merasakaan manfaat dari Abdurrahman bin’Auf, sepertiga (penduduk Madinah) diberi pinjaman oleh beliau, sepertiga lagi di bayarkan utang-utang mereka dan sepetiga dikunjungi (silaturrahmi) oleh beliau”. 

Kekayaan yang melimpah tidak membuat Abdurrahman diperbudak oleh harta. Bahkan menjelang wafatpun ia mewasiatkan sejumlah besar hartanya di jalan Allah. Urwah radhiyallaahu ‘anhu mengisahkan, Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan 50.000 (lima puluh Ribu) hartanya di jalan Allah. Bahkan ada orang yang mendapatkan bagian sebanyak 1000 dinar.
Puncak dari kedermawanan dan kebaikan Abdurrahman bin ‘Auf   kepada   sesamanya , ialah ketika ia menjual tanah seharga empat puluh ribu dinar, yang kemudian dibagikannya kepada Bani Zuhrah dan orang-orang fakir dari kalangan muhajirin dan Anshar. Ketika Aisyah mendapatkan bagiannya, ia berkata,

”Aku mendengar Rasulullah bersabda, tidak akan memperhatikan sepeninggalku, kecuali orang-orang yang bersabar. Semoga Allah memberinya air minum dari mata air Salsabila di surga.”

Infaq dan sedekah telah mengalir dalam darah daging Abdurrahman bin ‘Auf. Sehingga menjelang wafatpun ia masih sempat mewasiatkan hartanya untuk kemaslahatan kaum Muslimin. Az Zuhri menceritakan bahwa ketika akan meninggal dunia Abdurrahman bin ‘Auf mewasiatkan sejumlah besar hartanya untuk dibagikan kepada Veteran perang Badar. Jumlah veteran Badar yang masih hidup saat itu  sebanyak 100 orang. Masing-masing memperoleh 400 dinar. Diantaranya adalah Utsman bin ‘Affan radhiyallaahu ‘anhu. (Bersambung ke bagian 2 Insya Allah)

Maraji’:

Abul Khail, Muhamad bin Ibrahim Shaleh, 1430/2009, Taarikhu KhulafaairRaasydiin, Riyadh:Darul Fadhilah.

Al Mubarak Furi, Shafiyyurrahman, 1428/2007, Ar rahiqul Makhtum , Qatar: IdaaratusySyuunil Islamiyah.

Al Jazariy, Izuddin ibnu Atsir Abul Hasan Ali bin Muhammad,1424H/2003, Asadul Ghaabah Fiy Ma’rifatis Shahaabah, Beirut: Darul Kutubul ‘Ilmiyah.

Al Mishriy, Mahmud, 1423 h/2002,Ashhaab al Rasul, Mesir: Daar al Taqwa.

Asy-Sya’rawiy, Mutawalli, 1421H/2000, Ghazawaaturrasuul,Kairo: Maktabutturaats al Islamiy.

Basya, Abdurrahman Raf’at,2001,Shuwarun Min Hayaatis Shahaabah, Jakarta: Media da’wah.

Khalid,  Khalid Muhammad (terj) Muhil Dhofir,2007,  Rijal Haularrasul, Jakarta: Al I’tishom Cahaya Umat.

Share.