Agar kita Cinta Al-Qur’an

0

Kondisi Kaum Muslimin
Apabila kita memperhatikan keadaan kita saat ini, maka akan di dapati bahwa masih banyak di antara kaum Muslimin yang amat jauh dari Al-Qur’an, bahkan begitu sangat jauhnya mereka dari petunjuk dan pengajaran yang ada di dalam Al-Qur’an.

Di antara mereka ada yang tidak mau atau malas membaca Al-Qur’an, sebagian lagi ada yang hanya membacanya hanya ketika waktu shalat saja atau membacanya ketika ada acara-acara perlombaan saja. Ada pula yang membacanya hanya ketika dalam kondisi terjepit dan kesulitan. Ada juga yang sekedar membaca Al-Qur’an, namun tidak mau mentadabburinya  (memperhatikan arti, maksud dan isinya), atau membacanya tapi tidak mau mangamalkannya. Bahkan, yang paling parah adalah ada orang yang menolak sebagian ayat-ayat-Nya dan selalu mempermasalahkannya.

Diantara Sebab Utamanya
Mengapa demikian? Apa sebabnya?
Penyebab utamanya adalah tidak adanya kecintaan kepada Al-Qur’an. Rasa cinta kepada Al-Qur’an itu telah redup dan menghilang atau bahkan rasa cinta itu telah mati.

Sesungguhnya jika hati ini cinta kepada sesuatu, maka dia akan tertambat dan bergantung kepadanya, selalu merasakan kesenangan bersamanya dan  kerinduan ingin bertemu dengannya serta tidak ingin berpisah dan jauh-jauh darinya.

Begitu juga terhadap Al-Qur’an. Jika hati seseorang sudah mencintainya, maka dia akan merasakan kenikmatan ketika membacanya, merasa senang dan gembira saat bersamanya. Dia akan berusaha untuk mengetahui, memahami dan menyelami arti dan makna yang terkandung di dalamnya.  Sebaliknya, jika tidak ada kecintaan, maka hati ini akan sulit menerima Al-Qur’an, terasa berat untuk  tunduk taat kepada Al-Qur’an.

Kenyataan menunjukkan benarnya pernyataan ini. Sebagai contoh; seorang pelajar yang memiliki semangat, kesukaan, dan kecintaan pada suatu pelajaran tertentu, maka ia akan cepat menguasai apa yang telah diajarkannya, dia dengan segera dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya dalam waktu yang singkat.  Sebaliknya, siswa yang tidak suka pelajaran tersebut, maka ia tidak akan bisa menguasi pelajaran yang sudah disampaikan kecuali setelah mengulang-ulangnya berkali-kali. Dia menghabiskan banyak waktu untuk mempelajarinya, dan tidak bisa menyelesaikan tugas dan kewajibannya dengan baik.

Bagaimanakah cara menumbuhkan rasa cinta ini terhadap Al-Qur’an?
Sebelum dijawab, ada baiknya kita mengetahui tanda-tanda jika hati itu cinta kepada Al-Qur’an

Tanda-Tanda Kecintaan Hati kepada Al-Qur’an
Kecintaan hati kepada Al-Qur’an mempunyai beberapa tanda, di antaranya :
1- Sebagaimana cintanya seseorang kepada sesuatu, cinta pada Al-Qur’an pun ditandai dengan kesukaannya ketika bersua (berjumpa) dengannya
2- Tidak  merasa jenuh dan bosan ketika duduk-duduk bersama dan membacanya dalam waktu yang cukup lama
3- Jika jauh darinya, maka ia akan selalu merindukannya dan berharap bisa segera bertemu dengannya
4- Banyak berdialog dengannya dan meyakini petunjuk dan arahannya serta kembali kepadanya ketika menghadapi berbagai persoalan hidup, baik kecil maupun besar
5- Mentaatinya, baik dalam perintah maupun larangan

Inilah tanda-tanda terpenting dan utama akan adanya rasa kecintaan seseorang kepada Al-Qur’an. Jika salah satunya tidak ada, kecintaan itupun ikut berkurang. Maka, ukurlah diri kita dengan tanda-tanda utama tersebut di atas.
Pertanyaannya sekarang adalah; “Apakah saya mencintai Al-Qur’an?”

Cara Agar Hati Mencintai Al-Qur’an
1.  Berdo’a dan Bertawakkal hanya kepada Allah
Persoalan cinta adalah persoalan (qalbu) hati. Semantara kita tidak sanggup menguasai hati kita sendiri. Hati seseorang terletak di tangan Allah. Dia membuka dan menutup hati seseorang kapan saja Dia menghendaki, dengan hikmahNya, serta ilmuNya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman;

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan”. (Al-Anfal: 24).

…“Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di telinga mereka…”(Al-Kahfi: 57).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.”
(HR. Muslim).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda;

“Sesungguhnya hati semua anak cucu Adam itu berada di antara dua jari dari sekian jari Allah Yang Maha Pemurah. Allah Subhanahhu wa Ta’ala akan memalingkan hati manusia menurut kehendak-Nya.”
(HR. Muslim).

Oleh karena cinta letaknya di hati, dan hati berada di dalam genggaman Allah, maka memohonlah bantuan kepada Allah dan berdo’alah  kepadaNya agar Dia memberikan karunia kecintaan kepada Al-Qur’an agar kita bisa mencintainya.

Hendaknya berdo’a dengan tulus, penuh ketundukan, memohon dengan mendesak dan memohon dengan belas kasihan serta sangat berharap untuk segera diberi.

2.  Berilmu; yaitu berusaha Mempelajari dan Memahami Keagungan dan Keutamaan Al-Qur’an dan Keutamaan orang-orang yang mempelajarinya, menghafalnya dan mengamalkannya.

Diantara Keutamaan Al-Qur’an dan Keutamaan orang yang mempelajarinya;
a.    Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan yang mengajarkannya” (HR. Al-Bukhari).

b.    Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah dari rumah-rumah Allah, mereka membaca Al-Qur’an dan saling mempelajari diantara mereka, kecuali turun kepada mereka ketentraman, mereka diliputi rahmat, malaikat menaungi mereka dan Allah menyebut-nyebut kebaikan mereka dihadapan makhluk yang mulia yang ada di sisi-Nya” (HR. Muslim).

c.    Dari Ibnu Mas’ud bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an, maka ia akan mendapatkan satu kebaikan yang dilipatgandakan sepuluh kali lipat.  Nabi melanjutkan:” Aku tidak mengatakan bahwa Alif laam miim itu adalah satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf” (HR. At-Tirmidzi).

d.    Dikisahkan oleh ’Aisyah radhiyallahu ’anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Orang yang membaca Al-Qur’an dan ia pandai maka ia bersama para malaikat pembawa kitab yang mulia dan baik. Orang yang membaca Al-Qur’an terbata-bata dan kesulitan maka ia mendapat dua pahala” (HR. At-Tirmidzi).

e.    Umar bin Khatthab meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Sesungguhnya Allah mengangkat derajat suatu kaum dengan Al-Qur’an dan merendahkannya juga dengan kitab ini (Al-Qur’an)” (HR. Muslim).

3.    Bergaul dengan orang-orang Shalih.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

“Perumpamaan teman yang shaleh ibarat penjual minyak wangi. Bila dia tidak memberimu minyak wangi, kamu akan mencium bau keharumannya. Sedangkan perumpamaan teman yang buruk ibarat tukang pandai besi. Bila kamu tidak terjilat apinya, kamu akan terkena bau asapnya”. (HR. Bukhari).

“Seseorang adalah sejalan dan sealiran dengan teman akrabnya, maka hendaklah kamu berhati-hati dalam memilih teman pendamping” (HR. Ahmad).

4.    Bersabar; yaitu bersabar dalam ketiga hal di atas.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (Al-Baqarah: 153).

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung”. (Ali Imran: 200)

“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu”. (Muhammad: 31).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
“Tidak ada suatu rezeki yang Allah berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar”. (HR. Al Hakim)

“Barangsiapa yang menjaga diri dari meminta-minta kepada orang lain, maka akan diberi rezeki kepuasan oleh Allah. Dan barangsiapa yang merasa dirinya cukup, maka akan diberi kekayaan (hati dan jiwa) oleh Allah. Dan barangsiapa yang berlaku sabar, maka akan dikurnia kesabaran oleh Allah. Tiada seorangpun yang dikaruniai suatu pemberian yang lebih baik serta lebih luas (manfaatnya) daripada kurnia kesabaran itu.” (Muttafaq ‘alaih).

Wallahu ta’ala a’lam.

Disadur dari; Kunci-Kunci Tadabbur Al-Qur’an, DR. Khalid al-Laahim dengan sedikit tambahan.

Share.

Leave A Reply