Akhir Ramadhan: antara Masjid dan Pasar

0

Tempat yang paling disukai Allah di dunia adalah masjid dan tempat yang paling Dia benci adalah pasar. Ini dijelaskan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid dan tempat yang paling dibenci Allah adalah pasar-pasar.” (HR. Muslim)

Masjid menjadi tempat yang paling dicintai Allah Ta’ala karena ditempat itulah kebanyakan manusia menyembah-Nya, sujud kepada-Nya, menyebut nama-Nya, membaca Kalam-Nya (al-Qur’an), mengajarkan agama-Nya. Masjid adalah tempat terkumpulnya berbagai bentuk peribadatan kepada Allah Azza wa Jalla.

Lalu kenapa pasar menjadi tempat yang paling dibenci Allah? Mengomentari hadits tersebut Imam Nawawi berkata “karena pasar adalah tempat penipuan, kebohongan, riba, sumpah palsu, ingkar janji dan berpaling dari dzikrullah (mengingat Allah) dan lain sebagainya.”

Pasar adalah tempat yang melalaikan. Dimana kebanyakan manusia lupa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, lupa dengan akhirat dikarenakan mengurusi dunia. Dapat kita lihat ketika adzan berkumandang berapa dari mereka yang segera memenuhi panggilan Allah tersebut? Bahkan suara Adzan kadang ditelan oleh hiruk pikuknya suara orang-orang di pasar. Maka tak heran jika seseorang yang masuk pasar dan terlena di dalamnya bisa melewatkan beberapa waktu shalat.

Sekarang ini kita dapati pasar juga sudah menjadi tempat tabarruj (pengumbaran aurat-aurat) wanita. Itu terjadi baik di pasar tradisional terlebih pasar-pasar modern yang bernama mall. Wanita dengan celana pendek tidak canggung-canggung lagi berjalan di tengah pelototan orang-orang yang sengaja melihat ataupun mata-mata yang mungkin tak sengaja melihatnya. Sehingga ketika ada orang beralasan untuk jalan-jalan di pasar hanya untuk cuci mata maka pada dasarnya untuk mengotori mata dan hatinya.

Salman al-Farisi berkata, “Jika engkau bisa, jangan sekali-kali menjadi orang yang pertama kali masuk pasar dan paling akhir keluar darinya. Karena di situlah medan pertempuran dengan setan, dan di sana setan menancapkan benderanya.” (atsar riwayat Muslim)

Allah Subhanahu wa Ta’ala membenci pasar, maka sudah sepantasnyalah seorang mukmin juga membencinya, dia membenci apa yang dibenci Rabbnya.

Hal ini bukan berarti kita dilarang total untuk pergi ke pasar, namun kita diingatkan agar senantiasa ingat kepada Allah dimanapun kita berada meskipun di tempat-tempat kelalaian seperti di pasar. Tidaklah Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu keluar menuju pasar, lalu melewati para pandai besi dan melihat apa yang mereka keluarkan dari kobaran api, kecuali air mata mengalir deras dari kedua matanya. Ketika Al Hasan bin Shalih masuk ke pasar, serta melihat orang yang menjahit dan ada yang membuat sesuatu, maka ia berkata, “Lihatlah, mereka terus bekerja hingga kematian datang menjemput mereka.”

Seorang muslim dan muslimah hendaknya tidak merasa senang untuk terus berada di dalam pasar, tidak merasa betah dan kerasan ketika berada di dalamnya dan tidak mendatanginya kecuali karena ada keperluan dan hajat yang mengharuskan untuk ke sana, apalagi pasar-pasar modern (mall) yang ada saat ini.

Masjid bagi orang beriman
Masjid adalah tempat yang paling dicintai oleh Allah maka seorang mukmin juga akan mencintai masjid, Ia mencintai apa yang dicintai oleh Rabbnya. Hatinya dia tautkan di masjid-masjid Allah. Ia akan gelisah jika ketinggalan shalat berjama’ah di masjid.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Memakmurkan masjid menjadi ciri dan hak bagi orang beriman. Mereka adalah orang-orang pilihan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Adapun makna “memakmurkan masjid” ini adalah membangun dan mendirikan masjid, mengisi dan menghidupkannya dengan berbagai ibadah dan ketaatan kepada Allah Ta’ala, menghormati dan memeliharanya dengan cara membersihkannya dari kotoran-kotoran dan sampah serta memberinya wewangian.

Dengan kata lain semua bentuk ketaatan apapun yang dilakukan di dalam masjid atau terkait dengan masjid maka hal itu termasuk bentuk memakmurkannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengabarkan kabar gembira kepada orang yang terpaut hatinya pada masjid,

“Tujuh golongan yang Allah akan menaungi mereka pada suatu hari (hari kiamat) yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; (diantaranya) Seorang penguasa yang adil, pemuda yang dibesarkan dalam ketaatan kepada Rabbnya, seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, ….” (Muttafaqun alaihi)

Ada perkataan ulama yang menyebutkan “orang yang beriman, yang imannya sejati dia di masjid bagaikan ikan di air, namun sebaliknya orang yang munafiq, yang lidahnya saja mengaku beriman tapi di batinnya tidak, berada di masjid bagaikan burung di dalam sangkar”. Sekalipun sangkarnya dari emas, makanannya cukup, minumannya cukup tapi burung itu selalu mencari celah-celah di mana ia bisa keluar.

Orang beriman betah berada di dalam masjid. Hatinya tenang berada di dalam masjid. Ketika ada persoalan yang menghimpitnya, maka masjid adalah tempat pelariannya. Di rumah Allah itulah dia mengadukan persoalannya kepada Allah Azza wa Jalla.
Tidak sebagaimana orang-orang fasik ketika ditimpa masalah, mereka malah pergi ke tempat maksiat, bersenang-senang dengan kemaksiatan hanya untuk melupakan masalahnya sesaat. Wallahu musta’an.

Fenomena akhir Ramadhan
Pembaca yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Setiap tahun kita dihadapkan pada sebuah fenomena yang memiriskan. Ketika pertengahan Ramadhan telah berlalu, masjid-masjid yang dulunya ramai kini mulai ditinggalkan. Semakin Ramadhan akan berakhir, maka masjid semakin sepi. Jama’ah masjid yang dulunya mungkin 10 shaf sekarang tinggal 4 shaf saja. Dimana yang 6 shaf? Ternyata orang-orang yang biasa mengisi 6 shaf itu kini sebagian besar menjejali pasar-pasar. Mereka berpindah dari tempat yang paling dicintai oleh Allah ke tempat yang paling dibenci oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pasar-pasar menjadi sesak. Jam-jam pasar pun semakin panjang. Bahkan ada supermarket yang memasang pengumuman besar-besar bahwa menjelang Idul Fitri mereka buka lebih pagi sampai larut malam! Selain itu mereka membuat pengunjung untuk betah dan “gila belanja” dengan iming-iming diskon.

Menggapai Lailatul Qadr
Dalam bulan Ramadhan ada sebuah malam yang nilainya lebih baik dari pada 1000 bulan (83 tahun lebih). Sebagaimana yang Allah Firmankan dalam al-Qur’an surah al-Qadr (yang artinya):

“…lailatul qadr itu lebih baik daripada seribu bulan…” (QS. al-Qadr : 3)

Ketika ada orang yang beribadah pada malam itu, maka sama seperti ia beribadah lebih dari 83 tahun. Maka celakalah orang yang bermaksiat pada malam tersebut dan rugilah orang yang menyia-nyiakannya dengan melakukan hal yang tidak bermanfaat.
Umur Nabi Adam ‘alaihi salam berusia 1000 tahun. Nabi Nuh ‘alaihi salam berusia 950 tahun. Jadi, rata-rata umat Nabi terdahulu itu memiliki usia yang panjang seperti usia Nabinya, sehingga kesempatan untuk berbuat baik/jahat itu leluasa sekali. Jika dibanding dengan umur umat terdahulu maka umur umat Rasulullah lebih pendek, berkisar 60-70 tahun.

“Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, hanya sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu.” (HR. Tirmidzi)

Namun demikian umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bisa menyamai kebaikan umat-umat terdahulu dengan keutamaan yang diberikan Allah kepada kita yakni lailatul qadr.
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa nilai ibadah pada malam itu 1000 bulan sama dengan 83 tahun lebih. Misalnya orang yang sudah meraih 10 kali Lailatul qadar, maka nilai ibadahnya melebihi ibadah seseorang selama 830 tahun terus-menerus beribadah. Subhanallah.

Selain keutamaan tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barang siapa yang beribadah kepada Allah di malam lailatul qadr maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaqun ‘Alaih)

Sekali lagi ini adalah anugerah yang sangat besar dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat tidak patut untuk disia-siakan.
Kapan Lailatul Qadr?

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 42-50 pendapat dalam penentuan lailatul qadr dan yang paling rajih bahwa dia pada malam-malam yang ganjil pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.

Dalam beberapa riwayat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyuruh kita untuk mencari lailatul qadr pada 10 malam terakhir Ramadhan, lebih spesifik lagi pada malam-malam ganjil,

“Carilah malam lailatul qadr pada tanggal-tanggal ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadhan” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits lain,

“Carilah lailatul qadr pada sepuluh malam yang terakhir pada malam 21, 23, 25 dan 27.” (HR. Ahmad, dishahihkan oleh Al-Albani).

Untuk lebih fokus menggapai keutamaan lailatul qadr ini maka Rasulullah mencontohkannya dengan beri’tikaf di masjid pada 10 hari terakhir Ramadhan. Dengan beri’tikaf di masjid seseorang memutuskan diri dari urusan-urusan dunia yang melalaikan. Seseorang lebih leluasa untuk ber-taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dengan berbagai amalan ibadah yang disyariatkan-Nya. Tentu saja dengan kualitas dan kuantitas yang baik karena kita terlatih untuk meninggalkan kesenangan jasmani sehingga hati bertambah khusyu’ dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. I’tikaf di masjid memperbesar kemungkinan untuk menggapai lailatul qadr.

Kalaupun tidak bisa sepenuhnya I’tikaf di masjid karena tuntutan pekerjaan kita dalam mencari nafkah pada siang harinya, namun jangan juga kita tinggalkan sepenuhnya. Sebagaimana kaidah yang mengatakan, “Jika tidak bisa mendapatkan semuanya, jangan meninggalkan semuanya.” Minimal kita hidupkan malam-malamnya dengan shalat lail, tadarrus al-Qur’an, dzikir, berdoa ataupun ibadah lainnya di masjid.

Ramadhan terakhir
Jika pada malam-malam sebelumnya kita telah sungguh-sungguh dalam qiyamullail (shalat tarwih), tadarrus al-Qur’an dan ibadah lainnya, maka di 10 malam ini kesungguhan itu lebih dituntut lagi. Semangat beribadah harus lebih ditingkatkan lagi. Jika diibaratkan pelari yang hampir mendekati garis finish maka inilah saat-saat untuk lebih memacu diri. Bukan malah mengendorkan semangat dan mengisi waktu dengan hal yang tidak bermanfaat.

Anggap saja ini Ramadhan terakhir buat kita. Di tahun depan kesempatan ini belum tentu berulang lagi. Jika demikian kesempatan untuk beribadah setara 83 tahun lebih mungkin hanya kali ini saja! Wallahu musta’an.[]

(Zainal Lamu)

Share.

Leave A Reply