Al Mahrum, Si Miskin yang Pantang Mengemis

0

Di dalm al-Qur’an disebutkan, ada dua golongan miskin yang memiliki hak atas harta kita. Pertama as Sa’il dan kedua al Mahrum.

As Sa’il adalah kaum miskin yang memilih jalan meminta-minta untuk menyambung hidup. Kebanyakan mereka sudah putus asa mencari kerja. Atau karena factor fisik yang kurang, hingga dirasa tak mungkin lagi bekerja mencari uang. Kalaupun mungkin, barangkali tidak banyak peluang, sedang perut harus segera diisi dan kebutuhan mendesak lain harus segera terpenuhi.

Yang kedua adalah al mahrum. Tipe ini cukup unik dan memiliki keistimewaan lebih dibanding yang pertama. Al mahrum adalah orang miskin  tapi berusaha menyembunyikan ketidakmampuannya. Seorang mahrum, lebih memilih perut terlilit lapar daripada memelas, memohon belas kasihan orang lain. Rasa malu dan keiinginan menjaga harga diri menjadikannya lebih memilih bersabar dan menyembunyikan kekurangannya dari orang lain. Bukan tidak butuh bantuan, tapi ia hanya memilih sikap pasif. Sambil terus berusaha mencari jalan keluar dan terus berdo’a pada yang Maha Kuasa agar diberi kemudahan. Sehingga kadangkala, orang lain bahkan tetangga dekatnya, tidak tahu kondisinya yang sebenarnya.

Kedua golongan diatas berhak atas sedekah atau zakat. Mereka jugalah yang lebih berhak atas berbagai subsidi dari pemerintah; minyak goreng murah, beras jatah, beasiswa sekolah hingga bantuan dana kesehatan dan rumah. Melihat angka kemiskinan yang tak kunjung menurun , ada banyak sekali sa’il dan mahrum di sekitar kita.

As sa’il cendurung mudah dikenali bahkan disensus. Karakteristiknya, pakaian lusuh, mungkin cacat dan meminta-minta. Meskipun untuk saat ini, mata kita bisa saja tertipu. Kelihatannya pengemis, tidak tahunya borjuis. Sebab, ada yang memang menjadikan mengemis menjadi semacam kerja sampingan. Ada juga yang sebenarnya mampu, tapi tetap saja sangat bernafsu saat ada dana bantuan dibagikan dan berusaha menipu.

Sedang al mahrum, butuh kepekaan lebih untuk mengenal mereka. Harus kita ingat jumlah kaum tak punya di Negara kita mencapai puluhan juta. Itu hanya sebatas data yang validitasnya masih simpang siur. Bisa jadi jauh lebih mengerikan  dari jumlah yang dipublikasikan. Sebab jika melihat realita, media massa tak henti-hentinya memuat berita tentang kemiskinan, kurang gizi, hingga kematian tragis akibat tak bisa makan beberapa hari. Dan bukan tidak mungkin beberapa diaantaranya ada disekitar kita. Menjadi tetangga, teman atau saudara sendiri.

Oleh itu hendaknya kita bisa lebih peka. Jangan sampai kita dicela malaikat karena makan hingga kenyang, sedang tetangga kita menangis karena lapar. Rasulullah shallahu ‘alaihi wassallam  mengajarkan agar kita memasak, perbanyak kuahnya dan bagikan kepada tetangga. Sesederhana apapun masakannya. Ini untuk mengajarkan bahwa jika kita ingin memberi, tak perlu banyak kekhawatiran, takut tidak enak, tak diterima dan dicela, yang diberi sudah punya dan lain sebagainya. Akibatnya justru tak jadi memberi. Padahal belum tentu pikiran negative (negative thinking) kita benar. Malah bisa jadi sebenarnya mereka tengah menanti-nanti, akankah kita mau berbagi? Wallahulmusta’an.

Sumber : Majalah Islam Ar-Risalah edisi 82 Th.VII

Share.

Leave A Reply