Al-Qur’an dan Kehidupan

0

Oleh: Syekh. Prof. Dr. Nashir ibn Sulaiman al-‘Umar

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan berbagai penjelasan mengenai petunjuk itu serta furqon (pembeda antara yang hak dan bathil) serta menjadikannya sebagai jalan menuju surga dan keselamatan dari neraka. Maka beruntunglah orang-orang yang menjadikan al-Qur’an sebagai kawan karibnya, semoga kelak menjadi temannya di dalam kuburan, pemberi syafa’at di hari kiamat, penyelamat dari neraka dan pemandu ke surga.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada sang Rasul yang membaca al-Qur’an dalam shalat-shalat malamnya, hingga kedua kakinya bengkak, lantaran saking cintanya kepada al-Qur’an dan kepada Dzat yang telah menurunkannya. Semoga shalawat dan salam tercurah pula kepada para sahabatnya, pengikutnya dan seluruh orang yang berjalan di atas petunjuknya hingga hari kiamat.

Allah telah menganugerahkan kepada umat Islam, al-Qur’an yang berisi berita tentang peristiwa masa lampau, informasi masa yang akan datang, hukum-hukum dalam berbagai problematika ummat, perkataan yang jelas tanpa basa-basi. Siapa yang meninggalkannya karena keangkuhan maka Allah akan membinasakannya dan siapa yang mencari petunjuk selainnya maka Allah akan menyesatkannya. Al-Qur’an merupakan tali Allah yang kuat, peringatan yang bijak, jalan yang lurus, tak akan menyimpang karena hawa nafsu, tidak akan salah karena perbedaan bahasa. Para ulama tidak akan berhenti untuk mengkajinya, tidak akan usang karena sering diulangi, tidak akan terputus keajaibannya, bangsa jin tak akan pernah berhenti menyimaknya sampai-sampai mereka berkata….. “Katakanlah (hai Muhammad): “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: sekumpulan jin telah mendengarkan (Al Qur’an), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al Qur’an yang menakjubkan, (yang) memberi petunjuk ke jalan yang benar, lalu kami beriman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami,  (QS al-Jinn: 1-2). Siapa yang berkata dengan al-Qur’an maka ia benar, yang mengamalakannya diberi pahala dan mengajak (berda’wah) kepadanya akan ditunjukkan ke jalan yang lurus.

Sesungguhnya al-Qur’an ini merupakan kitab paling agung. Tidak satupun yang melebihi keagungan dan kemuliaannya. Tidak ada satupun yang lebih komprehensif, lebih bermanfaat, lebih mudah (dipelajari) dan lebih jelas serta mencakup seluruh sisi dan aspek kehidupan. Hamba akan terus bergantung kepadanya. Kehidupan   yang sempurna adalah yang sesuai petunjuknya.

Al Qur’an adalah sumber kehidupan, jika manusia mau merenungkan. Karena kehidupan yang hakiki adalah kehidupan yang berjalan sesuai petunjuk al-Qur’an. Sebaliknya, kehidupan yang tidak sesuai dengan petunjuk al-Qur’an bukanlah kehidupan sejati, meski dianggap sebagai kehidupan. Berkaitan dengan hal ini Allah Ta’ala berfirman:

أَوَمَن كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَن مَّثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا ۚ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ [٦:١٢٢]

Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan. (6: 122).

Tidak ada kehidupan tanpa al-Qur’an. Sebab Allah telah menyebutnya sebagai ruh. Munginkah ada kehidupan tanpa ruh?

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ [٤٢:٥٢]

“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.  ” (QS. Asy Syuura: 52).

Tiada kehidupan tanpa ruh, Jika ruh telah hilang, maka hilang pula yang namanya kehidupan.

Al-Qur’an juga menyifati orang-orang hidup tanpa petunjuk al-Qur’an sebagai mayat, padahal mereka makan, minum, (beraktifitas) pagi dan petang. Sebagaimana firman Allah:

إِنَّكَ لَا تُسْمِعُ الْمَوْتَىٰ وَلَا تُسْمِعُ الصُّمَّ الدُّعَاءَ إِذَا وَلَّوْا مُدْبِرِينَ [٢٧:٨٠]وَمَا أَنتَ بِهَادِي الْعُمْيِ عَن ضَلَالَتِهِمْ ۖ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ [٢٧:٨١]

“Sesungguhnya kamu tidak dapat menjadikan orang-orang yang mati, mendengar dan (tidak pula) menjadikan orang-orang yang tuli mendengar panggilan, apabila mereka telah berpaling membelakang. Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri.” (QS. an-Naml: 80-81).

Allah juga menyifati orang-orang yang berpaling dari al-Qur’an sebagai orang buta. Allah Ta’ala berfirman

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]  قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا [٢٠:١٢٥]قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ الْيَوْمَ تُنسَىٰ [٢٠:١٢٦]

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.

Ia berkata: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”  Allah berfirman: “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”.  (QS. Thaha: 124-126).

Bagaimana tidak, di dalamnya terdapat seluruh yang dicari dan dibutuhkan hamba dalam kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat. Di dalamnya terdapat aturan keluarga, aturan bermasyarakat, aturan hukum, peradilan, obat penawar bagi penyakit . Al-Qur’an juga meluruskan aqidah dan pemikiran serta membina akhlaq.

Di dalamnya terdapat bayan (penjelasan) tentang hak orang tua atas anaknya, hak anak atas orangtuanya, hak pemimpin atas rakyatnya, hak rakyat atas pemimpinnya. Di dalamnya juga terdapat penjelasan hak pribadi/individu dalam masyarakat, dan hak masyarakat atas individu, serta penjelasan tentang hak istri atas suaminya dan sebaliknya, hak seseorang terhadap saudaranya, hak kerabat dan tetangga. Tentu saja di atas semua itu adalah hak Allah atas hamba-hamba-Nya.  Adakah kehidupan yang lebih sempurna melebihi kehidupan yang digariskan oleh al-Quran seperti dijelaskan di atas?

Allah telah menurunkan kitab-Nya yang mulia kepada nabi-Nya dengan tujuan perbaikan kehidupan dunia dan merealisaiskan kebahagiaan hidup di akhirat. Tujuan tersebut telah tercover dalam al-Qur’an, baik yang meliputi persoalan hukum, syariat, nasihat dan sebagainya. Sebagaimana firman-Nya dalam surat al-Kahfi: 1-2:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُ عِوَجًا ۜ [١٨:١]قَيِّمًا لِّيُنذِرَ بَأْسًا شَدِيدًا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًا [١٨:٢]

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al-Quran) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal saleh, bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik”

Imam al-Qurthubi berkata, ” Lurus hikmahnya, tidak ada kesalahan, kerusakan dan kontradiksi di dalamnya”.

Allah telah menjelaskan semua yang diperlukan manusia, sebagaimana firman-Nya dalam  surat al-Isra: 12:

وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا [١٧:١٢]

“Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.”

Allah Ta’ala telah menurunkan kitab-kitab sebelumnya kepada para nabi untuk maksud dan tujuan ini. Allah tidak menurunkannya untuk kepentingan madhzab dan suku, tetapi Allah menurunkannya agar manusia hidup di atas petunjuknya. Sebagaimana dalam surah Al-Hadid ayat 25, Al-Maidah ayat 46, dan Al-Baqarah ayat 213:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS:Al-Hadid ayat 25)

وَقَفَّيْنَا عَلَىٰ آثَارِهِم بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ ۖ وَآتَيْنَاهُ الْإِنجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِّلْمُتَّقِينَ [٥:٤٦]

Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 46).

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. al-Baqarah: 213).

Selain itu, ayat-ayat al-Qur’an yang lain menunjukkan bahwa al-Qur’an dan kitab-kitab samawi sebelumnya bertujuan untuk mengarahkan kehidupan umat manusia agar sesuai dengan petunjuk Allah dan memperbaiki kehdupan di muka bumi dengan aturan langit (wahyu). Andaikan orang-orang musyrik pada masa nabi mengetahui bahwa kewajiban mereka terhadap al-Qur’an sekadar membaca, maka mereka tidak akan memerangi Nabi dan tidak larut dalam peperangan berdarah. Tetapi mereka memahami bahwa maksud dan tujuan dari da’wah Islamiyah adalah menjadikan al-Qur’an sebagai hukum yang menata seluruh aspek kehidupan. Allah Yang  Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui yang memiliki sifat-sifat yang agung dan asma-ul husna (nama-nama yang paling indah), tidak mungkin menurunkan kitab-Nya sebagai penjelas hukum-hukum, merinci hal-hal detail dalam hidup, lalu menurunkan kitab yang tidak bertujuan selain dibaca dan diulang-ulangi ayatnya.

Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa makhluq mendapatkan petunjuk dengan kitab yang diturunkan oleh Allah merupakan tujuan diturunkannya kitab-kitab tersebut.

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَأَنزَلَ التَّوْرَاةَ وَالْإِنجِيلَ [٣:٣]مِن قَبْلُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَأَنزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ [٣:٤]

Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,  sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Aali Imran: 3-4).

Ketika Allah menurunkan Adam ‘alaihissalam ke bumi, Allah menjelaskan kepadanya bahwa petunjukNya akan diturunkan kepada anak keturuannya kelak. Allah juga menjelaskan balasan bagi orang yang mengikuti dan akibat menyelisihi petunjuk tersebut. Allah Ta’ala berfirman dalam surah Thaha ayat 123-124:

قَالَ اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ [٢٠:١٢٣]وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ [٢٠:١٢٤]

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 123-124).

Allah Ta’ala menjelaskan bahwa jika orang-orang terdahulu menegakkan wahyu yang diturunkan Allah kepada mereka, niscaya mereka akan bahagia di dunia dan di akhirat. Sebagaimana firman-Nya:

وَلَوْ أَنَّا كَتَبْنَا عَلَيْهِمْ أَنِ اقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ أَوِ اخْرُجُوا مِن دِيَارِكُم مَّا فَعَلُوهُ إِلَّا قَلِيلٌ مِّنْهُمْ ۖ وَلَوْ أَنَّهُمْ فَعَلُوا مَا يُوعَظُونَ بِهِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ وَأَشَدَّ تَثْبِيتًا [٤:٦٦]وَإِذًا لَّآتَيْنَاهُم مِّن لَّدُنَّا أَجْرًا عَظِيمًا [٤:٦٧]وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا [٤:٦٨]

“Dan sesungguhnya kalau Kami perintahkan kepada mereka: “Bunuhlah dirimu atau keluarlah kamu dari kampungmu”, niscaya mereka tidak akan melakukannya kecuali sebagian kecil dari mereka. Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka),  dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami,  dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. ” (QS. an-Nisaa’: 66-68).

Kehidupan hakiki hanya dapat diraih dalam penerapan wahyu yang diturunkan oleh Allah melalui para Rasul-Nya, melaksanakan kewajiban yang diperintahkan di dalamnya dan meninggalkan hal-hal yang dilarang dan diharamkan.

 Para ulama Salaf dan Kehidupan Qur’ani

Para salaf membaca al-Qur’an dari lubuk hati mereka yang paling dalam dengan niat hidup dengan panduan al-Qur’an. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata:

“إذا سمعت قول الله تعالى يا أيها الذين امنوا فأرعها سمعك، فإنها خير يأمر به، أو شر ينهى عنه”

“Jika anda mendengar firman Allah ‘Yaa ayyuhalladziina aamanuu‘, konsentrasikanlah pendengaranmu! Karena setelahnya akan ada kebaikan yang diperintahkan atau keburukan yang dilarang”.

Ketika turun ayat (perintah) berhijab, maka para wanita di kalangan sahabat (sahabiyat) bersegera mengamalkan perintah tersebut. Ketika turun surat Al-Maidah ayat 90-91, Umar bin Khaththab mengatakan, “intahainaa, intahainaa, kami berhenti, kami berhenti”. Ketika turun ayat ini Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan:

إن الله تعالى حرم الخمر فمن أدركته هذه الآية وعنده منها شيء فلا يشرب ولا يبع”

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan khamr. Barangsiapa yang ketika turun ayat ini masih memiliki khamr janganlah ia meminum dan menjualnya sedikitpun.”

Kemudian kaum muslimin (para sahabat) melewati hari-hari yang berbau khamar dikarenakan sungguh banyak khamar yang ditumpahkan di jalan-jalan (setelah pengharamannya).

Perhatikanlah! betapa cepatnya mereka dalam merespon perintah Allah yang menjadi jaminan kehidupan mereka. Hal ini dapat pula kita saksikan pada sikap mereka saat turun ayat peralihan qiblat dari baitul Maqdis ke baitul haram (Ka’bah). Mereka segera menerima dan menuruti perintah Allah. perubahan qiblat tidaklah bermaksud apa-apa melainkan ujian keimanan bagi mereka. Ujian untuk mengetahui siapa yang benar-benar hidup dan siapa yang telah mati (hatinya). Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَن يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّن يَنقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ

“…Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot…” (QS. al-Baqarah: 143)

Akhirnya mereka lulus dalam ujian tersebut, sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Al Bara’ bin ‘Aazib, “Pada awal memasuki kota Madinah Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengunjungi kakek-kakeknya atau paman-pamannya dari kalangan Anshar. Beliau shalat menghadap Baitul Mqdis selama 16 atau 17 bulan. Namun beliau suka/ingin berkiblat ke Baitullah Mekah. Shalat pertama yang beliau lakukan menghadap ka’bah adalah shalat ‘ashar. Saat itu ada seseorang yang shalat bersama beliau, lalu orang tersebut keluar dan melewati orang-orang yang sedang shalat di sebuah masjid. Mereka sedang ruku’, maka beliau berseru; aku bersaksi atas nama Allah, aku telah shalat bersama rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap Makkah (Ka’bah). Maka mereka segera berputar menghadap ke arah ka’bah.[]

(Diterjemahkan dari tulisan beliau yang berjudul, Al-Qur’an Wal-hayah http://www.almoslim.net/node/83986 (Sym)

 

Share.

Leave A Reply