Anda Semua adalah Hamba Allah

0

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, diceritakan bahwa­sanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu mengatakan: ‘abdi’ (budak laki-laki saya) dan ‘amati’ (budak perempuan saya). Kalian semua adalah hamba Allah dan semua wanita kalian adalah hamba Allah. Tetapi hendaklah ia mengatakan: ‘ghulami’ (pembantu laki-laki saya), ‘jariyati’ (pembantu perempuan saya), ‘fataya’ (pemuda saya), dan ‘fatati’ (pemudi saya).” (HR. Muslim)

Penjelasan Hadits:

Ini adalah pembebasan dini yang diberikan oleh Islam kepada setiap wanita dan pria dari segala perlakuan yang tidak manusiawi atau tindakan yang merusak harkat dan martabatnya. Hal itu berlaku bagi siapa saja, termasuk jika yang bersangkutan menjadi pembantu atau melakukan pekerjaan apa pun untuk orang lain.

Larangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini tidak hanya berlaku pada ucapan saja, melainkan juga berlaku pada perlakuan. Hal itu terlihat jelas di dalam sabda beliau, “Kalian semua adalah hamba Allah dan semua wanita kalian adalah hamba Allah.” Karena selama kita semua sama-sama menjadi hamba Allah, maka tidak ada seorang pun yang berhak menguasai orang lain untuk dijadikan sebagai budak atau hambanya.

Imam An-Nawawi mengatakan, “Seorang tuan (pemilik budak) tidak boleh memanggil budaknya dengan, ‘abdi’ (budak laki-laki saya) dan ‘amati’ (budak peremuan saya). Seharusnya dia memanggilnya dengan, ‘ghulami’ (pembantu laki-laki saya), ‘jariyati’ (pembantu perempuan saya), ‘fataya’ (pemuda saya), dan ‘fatati’ (pemudi saya). Alasannya ialah karena secara esensial hanya Allah-lah yang berhak menjadikan manusia sebagai budak atau hamba. Juga karena kata­kata tersebut mengandung makna pengagungan kepada diri sendiri dengan sifat yang tidak selayaknya disandang oleh manusia.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri sudah menjelaskan tentang illat (alasan) di balik larangan itu dengan sabdanya, “Kalian semua adalah hamba Allah”. Karenanya beliau melarang menyombongkan diri kepada orang lain dengan ucapan, perbuatan, pemanjangan kain, dan lain-lain.

Sedangkan kata-kata, ‘ghulami‘ (pembantu laki-laki saya), ‘jariyati‘ (pembantu perempuan saya), ‘fataya‘ (pemuda saya), dan ‘fatati‘ (pemudi saya) tidak menunjukkan makna kepemilikan sebagaimana kata ‘abdi‘ (budak saya) -meski kata-kata itu bisa digunakan untuk menyebut orang merdeka dan budak belian- tetapi hanya menunjukkan kekhususan saja.

Allah berfirman (yang artinya),

“Dan ketika Musa berkata kepada muridnya.” (QS. Al-Kahfi: 60)

“Yusuf berkata kepada para pemudanya” (QS. Yusuf: 62)

“Mereka berkata, ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini.” (QS. Al-Anbiya’: 60)

Sedangkan penggunaan kata jariyah untuk menyebut wanita merdeka yang masih kecil sangat populer di masa jahiliyah maupun di masa Islam. Tampaknya yang dilarang adalah menggunakan kata-kata panggilan itu dengan rasa sombong dan angkuh, bukan sekedar memberi­kan penjelasan atau pengenalan. (Shahih Muslim bi SyarhiAn-Nawawi,15/17)

Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kita untuk bersikap sombong dan angkuh kepada pembantu wanita, maka bersikap sombong dan angkuh kepada istri, saudara perempuan dan anak perempuan pasti lebih keras larangannya. Itulah yang diserukan dan ditekankan oleh ayat-ayat al­-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Larangan itu tidak hanya berlaku bagi laki-­laki saja, melainkan juga berlaku bagi kaum wanita. Dus, wanita dilarang bersikap sombong dan angkuh kepada pembantu wanitanya, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan. Sebab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan wanita pemilik rumah bahwa dia dan pembantu wanitanya sama-sama hamba Allah. Beliau bersabda, “dan semua wanita kalian adalah hamba Allah.”

Perlakuan buruk yang banyak dilakukan oleh para pembantu kepada anak-anak sesungguhnya merupakan balas dendam terhadap sikap sombong dan angkuh yang ditunjukkan oleh tuan rumah kepada pembantu­nya. Dan tidak sedikit perlakuan buruk itu sampai kepada tindakan kriminal. Ini yang banyak di ekspos di surat kabar dan majalah pada tahun­-tahun belakangan ini.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Share.

Leave A Reply