Antara Dosa, Kematian, Ampunan Allah dan Ramadhan

0

Segala puji bagi Allah, Tuhan yang Maha pengasih, Maha Penyayang, Maha Pengampun dan Maha Memberi petunjuk. Semoga kebahagiaan selalu bersama kita semua dimana dan kapan pun.

Pembaca yang budiman, kali ini kami akan mengajak kita semua untuk sejenak memanfaatkan waktu untuk merenung tentang hal-hal yang barangkali telah menjadi keseharian kita, yaitu dosa. Serta kenyataan yang sudah maklum bagi kita semua akan kepastiannya yakni kematian. Lalu ampunan Allah –Subhanahu wa Ta’ala– yang selalu terbuka untuk kita kapan dan dimanapun kita berada selama nafas belum sampai di kerongkongan dan matahari belum terbit dari barat. Kemudian tentang keberadaan kita di bulan Ramadhan yang sudah pertengahan.

Dosa-dosa
Pembaca yang budiman, kami percaya bahwa semua kita sadar bahwa dosa-dosa kita telah begitu banyaknya. Jangankan dihitung dari puluhan tahun yamg lalu atau belasan tahun yang lalu ketika kita mulai baligh, mungkin dihitung sejak pagi atau malam sebelum kita mulai membaca tulisan ini, maka dosa kita itu sudah begitu banyaknya. Kalau saja Allah menampakkannya untuk kita maka barangkali kita sudah cukup malu untuk melihatnya. Jika saja Allah menampakkannya dalam bentuk “bau”, maka barangkali kita sudah saling menjauhi antara satu dengan yang lainnya karena begitu baunya kita, atau kalau sekiranya dosa-dosa kita itu didatangkan dalam bentuk titik-titik hitam di tubuh kita, maka barang kali kita sudah dipenuhi oelh titik-titik hitam dan kita pun malu untuk melihatnya. Pembaca yang budiman namun Allah Maha Penyayang, sehingga dighaibkan-Nya dosa-dosa kita itu sebagai ujian keimanan kita.

Adapun orang yang beriman amat berbeda sikapnya terhadap dosa dengan orang munafik, sebagaimana Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi:

“Sesungguhnya orang Mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal gunung. Ia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang.” (HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullâh)

Lihatlah, setiap waktu hingga saat ini, kita selalu mendapat limpahan rahmat karunia Allah –Subhanahu wa Ta’ala-, yang tak terhingga. Padahal bersamaan dengan itu, kita tenggelam dalam lumpur kemaksiatan, berbuat dosa kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala– Kita tak tahu, manakah diantara kedua hal itu yang patut lebih dahulu kita syukuri: nikmat yang terus kita terima tanpa henti, atau dosa kemaksiatan kita yang ditutupi oleh Allah –Subhanahu wa Ta’ala– sehingga kita selalu tampak suci di depan sesama manusia?

Pembaca yang budiman, kalau saja kita ditanya; Pernahkah Anda menangis – karena takut akan dosa-dosa anda? Maka kira-kira apa yang akan kita jawab. Padahal ketahuilah, sesungguhnya hal itu merupakan jaminan selamat dari neraka. Menangis karena takut kepada Allâh Ta’ala akan mendorong seorang hamba untuk selalu istiqomah di jalan-Nya, sehingga akan menjadi perisai dari api neraka. Nabi shalallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah sampai air susu kembali ke dalam teteknya. Dan debu di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asap neraka Jahannam” (HR. at-Tirmidzi, an-Nasâ’i,  Ahmad, al-Hâkim).

Kematian
”Saudaraku, ketahuilah, segala sesuatu yang sering datang dianggap dekat. Namun maut yang jarang datang sesungguhnya jauh lebih dekat.”

Kami tiba-tiba teringat dengan kisah tragis yang menimpa seorang pemuda setahun yang lalu (2011) di kota kita ini, beberapa hari menjelang masuknya bulan suci Ramadhan ia tewas setelah terjatuh saat mencoba menyalib sebuah mobil Bus dengan motornya. Yang amat menyedihkan adalah hidupnya berakhir dengan aroma minuman keras yang menyengat disekitarnya, karena ia tewas bersama satu jerigen ballo’-nya.

Pembaca yang budiman, mungkin pemuda tadi sebelumnya tidak sadar bahwa sesungguhnya hari itu adalah hari terakhir dia hidup di dunia ini, bahwa hari itu hari terakhir dia berkumpul bersama keluarganya; ayah, ibu, saudara dan karib kerabatnya, atau bahkan dengan teman-temannya. Bahkan kami percaya, bahwa beberapa waktu sebelum kematiannya dia masih belum sadar, bahwa sesungguhnya dia telah keluar untuk menuju kepada kematiannya. Saudaraku pembaca yang budiman, dan bukankah kita juga mungkin mengalami hal yang sama? Bukankah kita juga beraktifitas kesana kemari, berkendaraan atau berjalan kaki? Ya, aduhai. Apa jadinya kita bila kematian datang hari ini sedang dosa-dosa kita menggunung, dan kita belum diampuni oleh Allah. Aduhai, apa jadinya kita, apa jadinya kita??

Ampunan Allah
Diriwayatkan dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata, aku mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam–  bersabda, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman -yang artinya, “Wahai anak cucu Adam, sesungguhnya bagimu apa yang kamu pintakan kepadaku dan kamu mohonkan kepadaku, aku mengampunimu atas apa yang ada padamu dan aku tidak memperdulikannya (berapa besar dan banyak dosa yang ada padamu), wahai anak adam, seandainya engkau datang dengan dosa-dosamu sebanyak awan di langit, kemudian engkau memohon ampunanku, maka aku mengampunimu, wahai anak cucu Adam, sesungguhnya seandainya engkau datang kepadaku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menemuiku dengan tanpa menyekutukanku sama sekali, maka kutemui engkau dengan ampunan sejumlah itu pula”. (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad)

Pembaca yang budiman, pernahkah kita berpikir apa jadinya kita bila kita tak diampuni oleh Allah Ta’ala? Na’udzu billahi min dzalik. Alhamdulillah betapa Allah maha pengampun. Dosa kita yang banyak itu bisa diabaikannya bila kita bertaubat. Bahkan dengan sifat Penyayang Pengampun-Nya, di bulan Ramadhan ini Allah penuhi hari-hari kita dengan ampunan. Allah ampuni kita dengan puasa kita, Allah ampuni kita dengan shalat-shalat malam kita, subhanallah!
Amalan-amalan Ramadhan

Pembaca yang budiman, maka saatnyalah sekarang kita ber-azzam untuk memanfaatkan momentum Ramadhan dengan sebaik-baiknya, dengan mengisi hari-hari kita dengan ibadah kepada Allah sebanyak-banyaknya, sebab dosa kita sudah begitu sangat menumpuk, sedang kamatian begitu dekat dan tak pernah kita tau kapan datangnya. Dan subhanallah, Ramadhan adalah waktu yang dipenuhi Allah dengan Ampunan. Adapun amalan-amalan yang utama itu adalah;

1. Puasa Ramadhan.
Dan ini adalah wajib hukumnya untuk kita semua orang-orang yang beriman kepada Allah, selama kita bukan anak-anak, bukan orang sakit, bukan orang tua renta yang tak sanggup lagi berpuasa, bukan musafir (orang yang melakukan perjalanan jauh), bukan wanita haidh atau nifas dan bukan orang gila. Dan barang siapa melakukannya maka baginya ampunan Allah.
“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa”
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah maka dosanya di masa lalu pasti diampuni”. (HR. Bukhari dan Muslim)

2. Qiyam Ramadhan (shalat tarawih)
“Barangsiapa menegakkan qiyam ramadhan(shalat tarawih karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah maka akan diampuni dosanya yang telah lalu” (HR. Bukhari dan Muslim)

3. Qira’atul Qur’an (banyak membaca al Qur’an)
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata:

“Adalah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- orang yang paling dermawan, dan beliau menjadi lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan ketika malaikat Jibril menemui beliau, dan malaikat Jibril menemui beliau di setiap malam Ramadhan dan mengajarkan al-Qur’an kepada beliau. Maka ketika itulah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih dermawan untuk memberikan kebaikan daripada angin yang bertiup kencang.”

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Teman-teman kami berpendapat: disunnahkan banyak-banyak membaca al-Qur’an di bulan Ramadhan dan saling mempelajarinya, yaitu dengan seseorang membacakannya kepada yang lain dan yang lain membacakan kepadanya, berdasarkan hadits Ibnu Abbas tadi” (al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 6/274)

4. Banyak bersedekah
Dan secara khusus yang dimaksudkan adalah memberi buka puasa pada orang-orang yang berpuasa. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi kabar gembira tentang ini.

“Barangsiapa memberi buka puasa pada orang lain maka baginya pahala yang serupa dengan pahal orang yang berpuasa itu tanpa dikurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa tersebut”. (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah)

Mari saling mengingatkan dan menasehati untuk mengisi Ramadhan kita dengan Amalan-amalan. Mumpung masih ada waktu, mumpung belum terlambat. Semoga Allah menerima segala amal ibadah kita dan mudah-mudahan kita keluar dari bulan termasuk dalam orang-orang yang diampuni dosanya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]

(Oleh: Syahrullah Hamid, S.Pd.I)

Share.

Leave A Reply