Antara Khalifah Umar dan Perempuan Tua, Khaulah

0

Suatu hari Khalifah Umar bin Al-Khatthab keluar bersama al-Jarud al-Abdi dari masjid. Ketika mereka berdua sedang berjalan tiba-tiba seorang perempuan memanggil dan menyapa dengan memberi salam. Setelah Umar membalas salamnya, perempuan itu meminta agar Umar berhenti dan mengajaknya bicara sejenak. Karena tampak hendak menyampaikan sesuatu Umar dengan penuh hormat mempersilakan ia menyampaikan apa yang hendak ia sampaikan.

Ia segera menyampaikan kata katanya: “Umar, dulu ketika masih kecil, engkau biasa dipanggil dengan nama Umair dan di pasar Ukazh engkau sering berkelahi dengan sesania anak remaja. Tidak lama berselang, kemudian engkau diberi nama Umar. Sekarang, engkau diberi gelar Amirul Mu’minin. Maka bertakwalah kepada Allah dalam mengurusi rakyat. Ketahuilah bahwa orang yang takut mati maka ia akan takut kehilangan!”

Kata-katanya memberi kesan tidak sopan, seolah ia berbicara dengan orang awam, bukan dengan pemimpin negara. Oleh sebab itu, mendengar kata-katanya ini, al-Jarud yang sejak awal memperhatikan penuh penasaran menyela geram seraya berkata: “Hai, siapakah engkau, mengapa demikian lancang terhadap Amirul Mu’minin?!” Namun Umar segera menenang kan dan melarang al-Jarud meneruskan kata-katanya. Umar meminta agar membiarkan perempuan itu berbicara hingga selesai.

Umar memaklumi sikap al-Jarud karena tidak mengenal siapa sebenarnya perempuan itu. Maka Umar pun bermaksud memperkenalkan perempuan itu kepadanya seraya menjelaskan: “Sahabatku, dialah Khaulah, putri Hakim, perempuan yang didengar kata-katanya oleh Allah dan langit. Oleh sebab itu Umar (aku) lebih pantas mendengar kata-katanya!” yang dimaksud didengar kata-katanya oleh Allah dari langit adalah yang menjadi penyebab turunnya ayat yang artinya:
“Sungguh Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengajukan gugatan kepadamu tentang suaminya dan mengadu kan halnya kepada Allah.” (al-Mujadilah: 1)

Begitu agung sikap Umar terhadap orang yang memiliki sejarah penting dalam Islam; dan begitu mulia sikap Khaulah yang merasa tergugah untuk senantiasa mengingatkan Umar setelah menjadi khalifah di mana tanggung jawab besar ada di pundaknya atas kaum muslimin! Ini semua adalah refleksi dan pengejawantahan dan didikan Rasulullah dengan sabdanya:
“Tidaklah masuk dalam golongan kami, orang yang tidak menyayangi yang lebih muda diantara kami dan tidak memuliakan orang yang lebih tua di antara kami.” (at-Tirmidzi dan Ahmad)

Sumber: Kisah-kisah Unik Sisi Kehidupan Pelaku Sejarah Islam, Fahrurrazi Meng

Share.

Leave A Reply