Aqidah Rafidhah Tentang Sifat-Sifat Allah

1

Rafidhah adalah sekte yang pertama kali mengatakan bahwa Allah subhanahu wata’ala ber-jisim (bertubuh seperti tubuh makhluk).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan bahwa yang mempelopori tuduhan ini adalah dari sekte rafidhah adalah Hisham bin al Hakam, Hisham bin Salim al Juwailiqi, Yunus bin Abdurrahman al Qummi, dan Abu Ja’far al Ahwal.

Mereka ini adalah para tokoh syiah itsna ‘asyariyah yang pada akhirnya mereka menjadi sekte jahmiyah yang meniadakan sifat bagi Allah subhanahu wata’ala. Sebagaimana riwayat-riwayat mereka yang mensifati Allah dengan sifat-sifat yang negatif, yang mereka kukuhkan sebagai sifat-sifat yang kekal bagi Allah subhanahu wata’ala.

Ibnu Babawaih yang meriwayatkan lebih dari tujuh puluh riwayat yang mengatakan, “Allah tidak disifati dengan waktu, tempat, tingkah, gerak, pindah, tidak tersifati dengan sifat-sifat yang ada pada jisim, tidak berupa materi, jisim, dan bentuk”.

Tokoh-tokoh mereka tetap berpijak di atas konsep yang sesat ini, dengan meniadakan sifat-sifat Allah yang terkandung dalam al Qur’an dan Hadits.

Mereka mengingkari turunnya Allah subhanahu wata’ala ke langit bumi, ditambah lagi perkataan mereka tentang al Qur’an bahwa ia adalah makhluk, dan mereka juga mengingkari akan melihat Allah di akhirat nanti.

Disebutkan dalam Biharul Anwar bahwa Abu Abdillah Ja’far ash Shadiq pernah ditanya, apakah Allah bisa dilihat pada hari kiamat? Maka ia menjawab, “Mahasuci Allah, dan Mahatinggi setinggi-tingginya, sesungguhnya mata tidak bisa melihat kecuali pada kepada benda yang memiliki warna dan berkondisi tertentu, sedangkan Allah subhanahu wata’ala Dzat yang menciptakan warna dan yang menentukan kondisi.”

Bahkan orang-orang syiah berkata, “Jika ada seorang menisbatkan kepada Allah sebagian sifat seperti Allah dapat dilihat, maka orang tadi dihukumi murtad (keluar dari agama)”, sebagaimana yang disinyalir oleh tokoh mereka Ja’far an Najfi dalam Kasyful Githa halaman 417.

Ketahuilah, sesungguhnya melihat Allah hak, benar adanya, ditetapkan dalam al Qur’an dan as Sunnah yaitu melihat Allah dengan tidak bisa dibayangkan dengan detail dan tak diperagakan, seperti firmanNya:

“Wajah-wajah (orang-orang Mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Rabbnyalah mereka melihat.” (QS. al Qiyamah: 22-23)

Dalil dari as Sunnah bahwa Allah subhanahu wata’ala dapat dilihat di hari kiamat yaitu hadits yang diriwayatkan oleh al Bukhari dan Muslim dari Jarir bin Abdullah al Bajali, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Kami pernah duduk bersama Rasulullah, kemudian beliau melihat bulan purnama pada malam empat belas, maka beliau bersabda: Kalian akan melihat Rabb kalian dengan mata kepala sebagaimana kalian melihat bulan ini dan tidak bersusah-susah dalam melihatNya.”

Dan banyak lagi ayat al Qur’an dan hadits Nabi yang membicarakan tentang hal ini yang tidak mungkin diungkap di sini.

————————————————-

Sumber: Buku “Menyingkap Hakikat Aqidah Syiah” oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad, Penerbit: Jaringan Pembelaan terhadap Sunnah

Share.

1 Comment

Leave A Reply