Bahaya Dukun dan Perdukunan

0
Perdukunan dan paranormal sepertinya bukan barang haram yang harus dijauhi. Lihat saja berapa banyak iklan-iklan praktek perdukunan dan usaha-usaha klenik di koran-koran dan majalah-majalah yang beredar. Praktek-praktek ini begitu laris manis di tengah-tengah masyarakat muslim yang menjadi pasien mereka.Dan lihatlah lebih jauh lagi, kita akan dapati sederetan nama-nama populer dalam barisan dukun/paranormal yang berhasil menipu jutaan pemirsa ummat Islam melalui acara-acara penyesatan yang disponsori stasiun-stasiun televisi dan iklan-iklan, yang menawarkan solusi kehidupan. Ada yang katanya bisa membantu peruntungan, meramal masa depan, membaca pikiran, mengetahui isi hati, dan sebagainya.

Mereka tidaklah lebih hebat dari Nabi dan Rasul-rasul yang pernah diutus oleh Allah di muka bumi, termasuk Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam, bahkan seujung kuku pun para dukun itu tak mampu menyamai kedudukan Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, namun Allah Ta’ala menegaskan kepada Rasul-Nya untuk berkata kepada kaumnya;

“Katakanlah: ”Aku tidak berkuasa menarik kemanfa’atan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (Qs. Al A’raaf: 188)

Apabila sebaik-baik makhluk, penghulu para nabi, manusia pilihan, kekasih Allah Subhanahu wa Ta’ala saja tidak mengetahui perkara gaib, apalagi selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dari manusia-manusia biasa yang kebanyakan mereka adalah orang-orang kafir, atau meninggalkan shalat, banyak melakukan maksiat.

Bahaya Dukun dan Perdukunan

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingatkan bahaya perdukunan dan peramalan ini. Bahkan, sekedar mendatangi mereka dengan menanyakan sesuatu, bukan untuk mendakwahi mereka, bisa membuat shalat kita selama 40 hari sia-sia alias tidak diterima. Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari” (HR. Muslim)

Jika mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yang mereka ucapkan, apa yang mereka ramal, maka bahayanya lebih besar lagi. Hal itu bisa membuat kita terjatuh pada kekufuran.

“Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad” (HR. Ahmad)

Bagaimana penjelasannya seseorang yang mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai ucapannya bisa jatuh menjadi kafir? Sebab orang datang kepada mereka umumnya dengan tujuan mencari perlindungan, keselamatan, menanyakan masa depan dan hal-hal ghaib lainnya, yang kesemuanya itu seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Hanya Allah yang Maha Melindungi. Hanya Allah Pemilik keselamatan. Hanya Allah yang Menentukan dan Menjamin rezeki seseorang. Hanya Allah yang Mengetahui masa depan dan apa yang akan terjadi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):

“Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu” (QS. Al Anfal : 64)

Apa yang dilakukan oleh manusia di zaman modern ini dengan mendatangi dukun dan meminta pertolongan gaib kepadanya, tidak ubahnya seperti orang-orang kafir di zaman jahiliyah yang menggantungkan dirinya kepada berhala, atau meminta bantuan kepada para dukun yang kemudian dukun-dukun itu berhubungan dengan jin dan berhala. Padahal mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Lalu mengapa mereka tidak memurnikan ibadah kepada Allah dan hanya meminta kepada Allah?

“Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?” Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku.” Kepada-Nyalah bertawakallah orang-orang yang berserah diri.” (QS. az-Zumar : 38)

Perdukunan di era modern ini semakin kompleks dan kadang-kadang dibungkus dengan berbagai kemasan dan istilah yang menipu. Istilah dukun banyak diganti dengan “orang tua”, “sesepuh”, “orang pintar”, bahkan “guru spiritual.” Jika dulu dukun identik dengan dupa dan kemenyan, orangnya berambut panjang, bau tak sedap karena jarang mandi, pakaian serba hitam jarang dicuci, saat ini dukun bisa tampil dengan pakaian rapi, parlente, dan bergaya kece. Namun hakikatnya sama.

Mereka mengaku memiliki kekuatan gaib atau ilmu gaib yang diklaim mampu menyelesaikan permasalahan orang yang meminta tolong kepadanya. Umumnya akan disertai dengan ritual atau persyaratan yang tidak ilmiah dan tidak memiliki dalil, meskipun sang dukun berupaya memberi label praktiknya dengan identitas Islami. Sedangkan alat-alat yang digunakan sebagai sarana, jika dulu ada jimat, saat ini kerap disamarkan dalam bentuk gelang, cincin, kalung dan berbagai perhiasan yang indah. Namun hakikatnya juga sama. Benda-benda itu diklaim sebagai penangkal sesuatu, atau mendatangkan kekuatan tertentu. Sehingga sang pemakai akan tergantung kepadanya, takut jika berpisah atau kehilangan benda itu.

Di zaman Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam juga ada praktik serupa. Imran bin Husain radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan kesaksiannya tentang bagaimana sikap Rasulullah terhadap jimat-jimat semacam itu.
“Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, “Apakah ini?” Orang itu menjawab, “penangkal sakit.” Nabi pun bersabda,

“Lepaskanlah itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati dan gelang itu masih ada pada tubuhmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad)

Dalam hadits lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya. Dan barangsiapa menggantungkan wada’ah, semoga Allah tidak memberi ketenangan padanya.” (HR. Ahmad)

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit dan pengaruh jahat orang yang dengki dan sebagainya. Sedangkan wada’ah adalah sesuatu yang diambil dari laut semisal kerang yang digunakan sebagai jimat.

Dari hadits Nabi tersebut kita mendapatkan penjelasan mengapa banyak orang yang memiliki dan menggunakan jimat justru ia dilanda galau dan menderita hidupnya, tidak lain karena jimat-jimat dari dukun itu hanya menambah kesesatan. Ia tidak memiliki kekuatan karena kekuatan hanya milik Allah, malah ia membuat hati takut dan mendatangkan laknat Allah.

Praktik perdukunan semacam itu, juga memakai jimat-jimat seperti itu, membuat hati bergantung kepada dukun dan jimat. Tidak lagi mau beribadah kepada Allah dan berdoa kepadaNya, namun mengandalkan dukun dan jimat sebagai penyelesai masalah dan jalan pintas menuju kesuksesan. Meskipun mengaku sebagai Muslim, pada hakikatnya kemusyrikan telah merasuk pada jiwanya, persis seperti firman Allah Subhanahu wa Ta’ala (yang artinya):

“Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah” (QS. Yusuf : 106)

Betapa bahayanya syirik ini ditegaskan Allah dua kali dalam surah yang sama. Bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sementara dosa-dosa yang lain masih mendapatkan peluang ampunan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mepersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar” (QS. An Nisa : 48)

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mepersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An Nisa’ : 116)

Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik. Maka perdukunan harus kita jauhi  karena ia sangat erat dengan kesyirikan. Sebagaimana Allah Ta’ala firmankan dalam banyak ayat bahwa seseorang yang meninggal dalam kondisi syirik tidak akan mendapatkan ampunan, maka konsekuensi logis berikutnya adalah ia pasti dimasukkan Allah ke dalam neraka.

Allah Ta’ala memfirmankan hal itu (yang artinya):

“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang zalim” (QS. Al Ma’idah : 72)

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari dosa dan perbuatan syirik yang hanya menjadikan amalan kebaikan kita tak ada artinya di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala.[albalaghmedia.com]

Share.

Leave A Reply