Beberapa Fatwa Ulama tentang Riba

0

Telah disampaikan kepada al-Lajnah ad-Daaimah lil Iftaa’ (Komisi Tetap Urusan Fatwa) di Saudi Arabia sejumlah pertanyaan, dan telah dikeluarkan jawaban dari lembaga tersebut. Adapun yang menjadi ketua pada saat itu adalah yang mulia Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah, semoga Allah melimpahkan kepada beliau rahmat-Nya yang luas.

Pertanyaan Pertama:

Apakah riba itu diharamkan bagi kedua belah pihak, yang meminjamkan uang dengan riba (kreditur) dan juga peminjamnya (debitur/nasabah). Ataukah hanya haram bagai orang yang menghutangi saja sedangkan yang berhutang tidak (yakni pihak debitur). Dan apakah boleh berhutang dengan riba karena suatu kebutuhan atau karena alasan fakir?

Jawab:

Riba itu haram kapan saja ada dan dengan bentuk apa saja, haram atas pemilik modal dan atas orang yang berhutang dengan bunga, baik yang berhutang itu orang fakir ataupun orang kaya. Masing-masing keduanya mendapatkan dosa dan mendapatkan laknat, masuk juga orang yang membantu keduanya baik penulis ataupun saksi.

—————

Pertanyaan Ke Dua:

Ada sebagian orang yang bermuamalah dengan riba dan memasukkan riba ke dalam kaidah “Adh-dharuratu tubiihul mahdzurat” (Kondisi darurat menjadikan boleh perkara yang dilarang). Kemudian apa sikap seseorang yang mempunyai hutang, dan dihadapkan dua pilihan apakah membayarnya atau kah diajukan ke mahkamah agar dapat mengambil bunga?

Jawab:

Tidak boleh bermuamalah dengan riba secara mutlak.(Semua yang tersebut dalam pertanyaan tidak dibolehkan, pen)

—————

Pertanyaan Ke Tiga:

Saya tahu bahwa mengambil pinjaman dari bank adalah haram, yang menjadi pertanyaan adalah apakah seseorang yang menjamin orang yang akan meminjam di bank juga termasuk kategori yang haram? (Yakni penjamin atau penanggungnya).

Jawab:

Mengambil hutang dari bank dengan sistim bunga adalah haram, karena merupakan riba, dan menjadi penjamin bagi pelaku riba adalah tidak dibolehkan karena termasuk membantu dalam perbuatan dosa. Padahal Allah telah melarang dari tolong menolong dalam perbuatan dosa sebagaimana firman-Nya,

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Maidah: 2)

—————

Pertanyaan Ke Empat:

Apakah bekerja di bank-bank itu hukumnya haram, dan segala permasalahan terkait dengan karyawan juga haram?

Jawab:

Sesungguhnya bekerja di bank yang memberlakukan sistim riba adalah haram, sebab pegawai yang bekerja di sana baik itu penulis rekening ribawi, ataupun yang menyerahkan uang di tempat yang menjalankan riba, atau orang yang menerimanya, pembawanya, yang mengantarkan berkas-berkasnya dari kantor ke tempat lain atau dari satu tempat ke tempat lainnya, ataupun pembantu urusan pekerjaan mereka yang mendukung kelancaran pekerjaan di bank dan semisal itu maka mereka semua dalam pekerjaan yang haram, baik terlibat langsung maupun tidak langsung. Dan apa yang yang didapat oleh para pekerja dengan usaha itu dan dengan malaksanakan pekerjaan tersebut adalah haram termasuk upah atau penghasilan yang haram.

—————

Pertanyaan Ke Lima:

Apakah mendepositokan uang di bank dengan mengambil bunga atau tidak adalah haram? Apakah mengambil hutang di bank dengan sistim bunga untuk keperluan konsumtif ataupun perdagangan juga haram?

Jawab:

Mendepositokan uang di bank dan semisalnya dengan adanya tuntutan (klaim) atau dengan tujuan mengambil bunga sebagai imbalan atas uang yang didepositokan adalah haram. Sedangkan mendepositokan uang di bank yang mempraktekkan riba dengan tanpa mengambil bunganya adalah juga haram, karena termasuk membantu mereka dalam melaksanakan sistim ribawi, dan memungkinkan mereka untuk memperluas kegiatan. Kecuali jika sangat terpaksa menyimpannya karena khawatir hilang, dicuri atau dirampok dan ia tidak punya cara untuk menyimpannya kecuali dengan menyimpan di bank ribawi. Komentar saya (penulis), “Pada saat ini alhamdulillah sudah banyak dijumpai bank-bank Islami, maka tidak ada lagi alasan bagi orang-orang untuk menyimpan harta mereka di bank-bank ribawi (kon¬vensional) dengan alasan takut kecurian. Karena merupakan kewajiban syar’i untuk meninggalkannya dan beralih ke bank-bank Islami, dan menutup rekening-rekening mereka di bank ribawi.

—————

Pertanyaan Ke Enam:

Apa hukum bunga yang diambil oleh bank?

Jawab:

Bunga yang diambil oleh bank dari para debitur atau peminjam uang dan juga bunga yang dibayarkan oleh bank kepada para kreditur (deposan) ini semua adalah bunga, termasuk riba yang jelas sekali keharamannya dalam al-Qur’an, as-Sunnah dan menurut ijma’.

—————

Pertanyaan Ke Tujuh:

Apa hukum dalam Islam tentang mengambil hutang dari bank dengan sistim riba untuk membangun rumah sederhana?

Jawab:

Haram hukumnya mengambil hutang di bank dan selainnya dengan riba baik hutang itu untuk keperluan membangun rumah atau untuk kebutuhan konsumtif seperti untuk makan dan pembelian pakaian atau untuk biaya pengobatan. Demikian juga jika hutang tersebut digunakan untuk perdagangan, pengembangan dan selain itu, berdasarkan keumuman ayat-ayat yang melarang dari riba dan keumuman hadits-hadits yang menunjukkan haramnya riba.

—————

Pertanyaan ke Delapan:

Saya telah menikah dan telah melangsungkan akad nikah tersebut, dan saya mengajukan kepada salah satu bank agar memberikan pinjaman (untuk pernikahan itu, pen), saya benar-benar sangat membutuhkan dana tersebut!

Jawab:

Tidak boleh bagi anda untuk mengambil pinjaman tersebut, dan apa yang anda sebutkan berupa keperluan mendesak untuk membayar mahar yang layak bukan merupakan alasan yang membolehkan anda mengambil hutang ribawi dari bank tersebut atau dari selainnya. Hendaknya anda bertakwa kepada Allah karena orang yang bertakwa maka akan diberikan jalan keluar oleh Allah.

—————

Pertanyaan ke Sembilan:

Apabila seseorang telah berkecimpung dengan riba, lalu dia ingin bertaubat maka bagaimanakah Cara membersihkan uang yang dia dapat dari riba tersebut, apakah bisa disedekahkan?

Jawab:

Hendaknya dia bertaubat kepada Allah, memohon ampunan, menyesali perbuatannya yang telah lalu dan berhenti dari bunga atau riba, dengan cara meginfakkannya kepada para fakir miskin. Namun ini bukan termasuk kategori sedekah yang disunnahkan, tetapi merupakan bentuk untuk berlepas diri (berhenti) dari apa yang diharamkan Allah, untuk membersihkan dirinya dari apa yang telah dia lakukan berupa sesuatu yang tidak disyariatkan oleh Allah Subhanahu wata’ala.

Sumber: Fatwa al-Lajnah al-Daimah jilid 13 bab Riba

Share.

Leave A Reply