Bukti Cinta Kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

0

Di bulan seperti sekarang ini (rabiul awwal) kata-kata ‘maulid’ akan banyak kita dengarkan disebut oleh orang-orang atau bahkan kita baca di Koran-koran. Itu karena banyak dari kaum muslimin, dengan alasan yang beragam tentunya, ramai merayakannya. Maulid sendiri bahasa arab yang berarti waktu kelahiran. Dan kemudian disempitkan maknanya menjadi waktu kelahiran Nabiyullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Satu hal yang sama yang selalu dilontarkan oleh orang-orang, sebagai dasar perayaan ini adalah sebagai bentuk cinta kepada beliau Rasulullah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebenarnya hal ini telah diingatkan oleh para ulama sejak ratusan tahun yang lalu, dan akan kita angkat kembali di sini sebagai da’wah kepada kaum muslimin secara umum dan pembaca al-Balagh secara khusus. Tentang kedudukan maulid dan bagaimana yang seharusnya kita lakukan karena mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sejarah Maulid Nabi
Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah menyebutkan dalam kitab Al-Bidayah wan Nihayah (11/172) bahwa yang mula-mula mengadakan perayan ini adalah Ubaidillah bin Maimun Al-Qidah Al-Yahudy pemerintah di Mesir pada zaman Daulah Faatimiyah Al-‘Ubaidiyah (357-567 H) yang mengadakan berbagai macam perayaan-perayaan dan diantara perayaan tersebut adalah Peringatan Maulid Nabi Muhammad.

Jadi yang pertama kali mengadakan perayaan ini dari Az-Zanadiqah Al’Ubaidiyun Ar-Rafidhah, keturunan-keturunan orang Yahudi yaitu Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi, dan tidak mungkin yang melakukan hal tersebut adalah orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedudukan Perayaan Maulid Nabi Dalam Islam
Orang yang mendekatkan diri kepada Allah –Subhanahu wa Ta’ala– dengan beberapa ibadah yang mana ibadah tersebut tidak ada pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya maka ibadahnya tertolak dan ia akan menanggung dosa walaupun ia mengikhlaskan diri serta bersungguh-sungguh dalam ibadah tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda artinya:

“Barangsiapa yang mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan (agama) kami, yang tidak diperintahkan atasnya maka hal itu ditolak” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan melakukan Perayaan Maulid Nabi adalah termasuk hal mengada-ngadakan sesuatu dalam urusan agama yang tentunya terlarang dalam Islam, hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain :

  1. Rasulullah tidak pernah melakukannya, begitu pula Khulafaur Raasyidin dan selain mereka dari kalangan sahabat dan orang-orang yang datang setelah mereka dari kalangan Taabi’in dan Atbaa’ut taabi’in. Padahal mereka adalah orang yang lebih mengetahui sunnah dan lebih sempurna kecintaaannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan lebih sempurna dalam mengikuti syariat beliau dari pada orang-orang yang datang setelah mereka, dan seandainya peringatan maulid itu hal yang baik maka mereka akan mendahului kita untuk mengamalkan perayaan maulid tersebut.
  2. Peringatan tersebut merupakan perbuatan yang menyerupai orang-orang Nasrani yang memperingati kelahiran Isa Al-Masih sedangkan kita telah dilarang untuk menyerupai  orang-orang Nasrani dan mengikuti peringatan-peringatan hari raya mereka, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda artinya:“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk didalamnya” (HR. Abu Daud dan Ahmad)
  3. Ini mengisyaratkan anggapan bahwa Allah belum menyempurnakan agama ini untuk hamba-Nya dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam belum menyampaikan sesuatu yang sepantasnya diamalkan oleh ummatnya dan para shahabat belum menyampaikan tentang bagaimana cara mengagungkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mencintai serta menghormati Beliau dengan penghormatan yang semestinya, sebagaimana yang dilakukan orang yang datang setelah mereka. Padahal Rasulullah telah bersabda artinya: “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi, melainkan diwajibkan baginya agar menunjukkan kepada ummatnya jalan kebaikan yang diketahuinya kepada mereka” (HR. Muslim). Seandainya upacara peringatan maulid itu termasuk ajaran agama yang diridhai Allah, niscaya Rasulullah menjelaskan kepada ummatnya atau beliau menjalankan semasa hidupnya atau paling tidak dikerjakan oleh para shahabat-sahabatnya. Sahabat Hudzaifah bin Yaman pernah berkata: “Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh shahabat Rasulullah maka janganlah kalian melakukannya”. Imam Malik-rahimahullah- pernah berkata: “Barangsiapa yang melakukan bid’ah dalam Islam dan menganggapnya sebagai bid’ah hasanah (bid’ah yang baik). Maka sungguh ia telah menyangka bahwa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat khianat dalam penyampaian risalah (tidak menyampaikan semua risalah)
  4. Menghidupkan malam perayaan tersebut bukan berarti menunjukkan rasa kecintaan kepada Rasulullah, berapa banyak orang yang menghidupkan perayaan ini mereka adalah orang-orang yang jauh dari petunjuk Rasulullah,  menganggap remeh shalat dan mereka dikenal sebagai pelaku maksiat, dosa  dan lain-lain.  Kecintaan yang sebenarnya kepada Rasulullah adalah yang sebagaimana  yang Allah kehendaki dalam firman-Nya artinya: “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku niscaya Allah mengasihimu….” (QS. Ali Imran : 32) Dan sabda Rasulullah artinya: “Setiap kalian akan masuk syurga kecuali yang enggan!” mereka (sahabat) bertanya : “Siapa yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau bersabda : “Siapa yang taat kepadaku akan masuk syurga dan siapa yang berbuat mksiat kepadaku maka dialah orang yang enggan” (HR. Bukhari). Jadi, kecintaan yang sebenarnya terhadap beliau dengan cara mengikuti beliau dengan berpegang teguh (konsekuen) kepada petunjuknya baik yang nampak maupun yang tidak tampak dan mengikuti jalannya, dan menjadikannya sebagai tauladan baik  dalam ucapan maupun perbuatan serta kelakuan dan akhlaq beliau.
  5. Bersamaan dengan ini banyak ulama-ulama yang datang belakangan telah menyebutkan kerusakan-kerusakan yang besar dan kemungkaran-kemungkaran yang buruk yang terjadi disebabkan karena perayaan seperti ini, bahkan orang yang ikut dalam perayaan tersebut mengakui akan kerusakan dan kemungkaran tersebut. Diantaranya adalah adanya ucapan yang menjurus kepada kesyirikan dan mengagung-agungkan secara berlebih lebihan kepada Rasulullah, dan adanya campur baur antara laki-laki dan wanita (bukan mahram), pemakaian lagu-lagu dan bunyi-bunyian, minum-minuman yang memabukkan dll. Kemungkaran-kemungkaran ini sulit untuk dibatasi karena satu daerah dengan daerah yang lain memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri, bahkan sebagian mereka ada yang sampai mengkafirkan siapa yang meninggalkan perayaan maulid tersebut  –Naudzu billahi min dzalik-
  6. Sesungguhnya hari kelahiran Rasulullah merupakan hari wafat beliau juga yaitu pada 12 Rabiul Awwal, maka aduhai, bagaimana kita merayakan hari tersebut?! –Wallahu musta’an-

Setelah menyimak penjelasan di atas maka yang pantas kita lakukan sekarang adalah: “ tidak merayakannya ” mari kita ikuti Rasulullah –shallallahu’alaihiwasallam- baik perintahnya maupun larangannya, inilah yang seharusnya kita lakukan karena kita mencintainya.

Syair arab mengatakan:

“laukana hubbuka shoodiqan la atho’tahu fainnal muhibba liman yuhibbu muthii’un” jika saja cintamu memang benar-benar jujur maka tentulah engkau akan mentaatinya karena sesungguhnya sang pecinta kepada yang dia cintai dia akan taat.

Allahu a’lam bisshowab

Syahrullah Hamid

 

Ingin berpartisipasi dalam dakwah di dunia Maya. Silahkan kirim tulisan Anda ke admin@wahdahmakassar.org

Insya Allah tulisan yang diterbitkan akan mendapat bingkisan yang menarik.

Share.

Leave A Reply