Cemburu

0
  • Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahuanhu, dia berkata, Sa’ad bin Ubadah Radhiallahuanhu. Pernah mengatakan, “Andaikata aku melihat seorang laki-laki bersama istriku, niscaya aku akan me­mukulnya dengan pedang dalam posisi tidak terbalik. Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Apakah kalian takjub terhadap kecem­buruan Sa’ad? Sungguh, aku lebih cem­buru dari pada dia, dan Allah lebih cemburu dari pada aku.” (HR. Bukhari)
  • Dari Abdullah bin Mas’ud. dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau bersabda, “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburuan dari pada Allah. Karena itulah Dia mengikat perbuatan-perbuatan yang keji. Dan tidak ada seorang pun yang lebih suka dipuji dari pada Allah.” (HR. Bukhari)
  • Dari Aisyah diceritakan bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Wahai umat Muhammad, tidak ada seorang pun yang merasa lebih cemburu dari pada Allah ketika melihat hamba-Nya yang laki-laki atau hamba-Nya yang perempuan sedang berzina. Wahai umat Muhammad, andai­kata kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis.” (HR. Bukhari)
  • Dari Abu Salamah Radhillahuanha diceritakan bahwa­sanya Urwah bin Zubair Radhiallahuanhuama bercerita kepadanya tentang ibunya, Asma’ (binti Abu Bakar) bahwasanya dia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih pecemburu dari pada Allah.” (HR. Bukhari)
  • Dari Abu Hurairah Radhiallahuanhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam, bahwa­sanya beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah merasa cemburu, dan kecemburuan Allah itu terjadi manakala seorang mukmin melakukan apa yang diharamkan oleh Allah.” (HR. Bukhari)

Penjelasan Hadits:

Barangkali hilangnya rasa cemburu ini dari sekian banyak masyarakat Barat -atau paling tidak lemahnya rasa cemburu pada diri mereka turut berperan dalam peningkatan terjadinya kerusakan (baca: dekadensi moral).

Hal inilah yang coba dilakukan oleh para pendukung permisifisme (aliran serba boleh) di dalam masyarakat kita yang muslim. Mereka berusaha melemahkan atau bahkan menghapus sama sekali rasa cemburu dari dalam diri kaum muslimin. Sehingga seseorang tidak lagi peduli ketika melihat istrinya, saudara perempuannya, putrinya atau bahkan ibunya duduk berdam­pingan dengan laki-laki lain yang bukan mahramnya.

Cemburu merupakan salah satu pagar perlindungan bagi nilai-nilai keutamaan. Dengan melindunginya berarti kita akan melindungi masyarakat dari perzinahan dan penyimpangan-penyimpangan lainnya, serta dampak-dampak buruknya yang saat ini banyak dislami oleh masyarakat Barat. Hal yang sama juga mulai dislami oleh masyarakat-masyarakat yang mengikuti jejak dan meniru perilaku mereka.

Apabila cemburu itu bisa melindungi masyarakat pada umumnya, maka cemburu juga bisa melindungi istri pada khususnya. Cemburu akan melindungi istri dari penyimpangan, melindunginya dari wanita-wanita lainnya, dan juga melindungi anak-anak dari ayah yang menelantarkan mereka.

Wanita yang dicemburui oleh para lelaki di sekitarnya, seperti ayahnya, saudaranya, suami­nya, dan anaknya, maka kecemburuan itu akan menjadi tabir yang menghalanginya dari godaan setan, sehingga tidak terjadi hal-hal yang bisa membuatnya tergelincir ke dalam jurang penyimpangan.

Dan ketika cemburu itu sudah menjadi perangai yang tertanam di dalam jiwa semua lelaki, maka wanita tidak akan berani menyata­kan penyimpangan sekecil apa pun. Dengan demikian maka seorang istri akan merasa sangat aman dari perselingkuhan yang mungkin dilakukan oleh suaminya, karena seraya untuk melakukannya sangat minim dan tidak mudah lantaran jarangnya -atau bahkan tidak adanya wanita yang berperilaku menyimpang (jalang).

 

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Share.

Leave A Reply