Khutbah Idul Adha: Dakwah Islam Jalan Mewujudkan Cita-cita Kejayaan

0

DAKWAH ISLAM, JALAN MEWUJUDKAN CITA-CITA KEJAYAAN

Dikeluarkan oleh: Dewan Syariah Wahdah Islamiyah

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِفَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin -hafizhakumullah-

Tiada kalimat terindah yang dapat terucap pada seperti pagi hari penuh bahagia ini, selain takbir, tahlil, dan tahmid kepada Allah Subhanahu Wata’ala. KeagunganNya begitu tinggi, kebesaranNya tiada tertandingi, karuniaNya begitu besar, dan nikmat pemberianNya begitu banyak tidak terhingga. Rasa suka cita, wajah ceria, senyum yang mengembang, ayunan kaki yang ringan, sungguh merupakan pemberian Ilahi yang wajib untuk disyukuri.

Fallahumma lakal hamdu ‘ala kamaali asma’ika washifatika, walaka al-syukru kamaa a’thayta katsiran..

Segala puja dan puji bagiMu Ya Allah atas kesempurnaan nama dan sifat-sifatMu, segala rasa syukur atas banyaknya anugrahMu.

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Kaum Muslimin yang Berbahagia,

Peristiwa Idul Adha selalu mengingatkan kita kepada sosok Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalam, keteladanannya senantiasa terpatri di dalam diri sesama umat manusia. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dahulu kala hidup di sebuah negeri yang bernama Babylonia, sebuah negeri yang berada di tepi sungai Tigris, Kota Baghdad, di Irak. Negeri ini dikaruniai tanah yang gembur nan subur, masyarakatnya hidup makmur, berlimpah aneka macam rezeki dari sumber-sumber pertanian, peternakan, dan perdagangan, kehidupan mereka benar-benar dipenuhi kenikmatan dan kesenangan, sehingga sikap hidup foya-foya menjadi tabiat dan kebiasaan mereka.

Alih-alih mensyukuri limpahan nikmat kesejahteraan hidup yang Allah berikan kepada mereka, dengan melakukan ketaatan atau mengesakan Allah dalam ibadah, justru masyarakat Babylonia memenuhi negeri mereka dengan ritual-ritual kesyirikan, penyembahan kepada selain Allah. Pepohonan, bebatuan, matahari, bulan, dan bintang-bintang pun mereka akui sebagai Tuhan, bahkan lebih dari itu, mereka membuat patung-patung dengan tangan mereka sendiri, lalu menjadikannya sebagai Tuhanyang disembah, naudzubillahi min dzalik.

Keadaan buruk dan keji ini, menyebabkan Allah menimpakan kehinaan kepada mereka dengan menjadikan Namrudz bin Kan’an sebagai raja yang menguasai negeri Babylonia, lelaki durhaka ini demikian bangga dengan harta dan kekuasaannya, angkuh dengan kekuatan bala tentara yang dimilikinya, setelah melihat keadaan rakyatnya telah diliputi kebodohan, diselimuti gelapnya kesyirikan, menghinakan diri di hadapan berhala-berhala pahatan, keadaan ini dijadikan kesempatan emas bagi Namrudz untuk mengangkat dirinya sebagai tuhan, mewajibkan rakyatnya untuk menyembah dan merendahkan diri di bawah telapak kakinya hingga pada akhirnya memerintah mereka dengan penuh kezhaliman dan kesewenangan.

Ketika Nabi Ibrahim ‘alaihissalam telah mencapai usia remaja, nuraninya berontak mengingkari apa yang ia saksikan, akal sehatnya tidak dapat menerima apa yang dilakukan oleh masyarakatnya, fitrahnya terusik dan terganggu oleh ritual-ritual syirik yang keji itu, hatinya tersayat oleh kemungkaran yang merajalela tanpa ada seorangpun yang bangkit mengingkarinya, terlebih lagi ketika kesyirikan itu justru dilakukan oleh ayah kandungnya sendiri, maka semakin pilulah perasaan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Malam hari ia lalui dengan perenungan yang dalam tentang metode penyampaian dakwah yang akan ia lakukan dan siang harinya ia lalui dengan tekanan perasaan yang sangat menyakitkan kala menyaksikan kesyirikan itu dilakukan secara nyata dihadapannya. Hal ini tidak mungkin ia biarkan berlalu begitu saja, maka iapun bangkit walau hanya seorang diri memikul amanah dakwah, menasihati kaumnya agar segera menghentikan dosa besar ini.

Misi dakwah mulia ia mulai dari dalam rumahnya, sebab demikianlah yang dikehendaki oleh Allah bagi hamba-Nya, mendahulukan kerabat terdekat dalam urusan agama. Ia mendatangi ayahnya dan menyampaikan dengan penuh kasih dan bahasa yang sangat santun nan lembut seruan dakwahnya

يَاأَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا

“Wahai ayahku sesungguhnya telah datang kepadaku sebagian ilmu pengetahuan yang tidak sampai kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus”. (QS. Maryam: 43).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menjelaskan kepada ayahnya tentang hakikat penyembahan yang ia dan kaumnya tujukan kepada berhala-berhala itu, juga dengan bahasa yang sangat santun

يَاأَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا

“Wahai ayahku, janganlah engkau menyembah syetan, karena sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah”. (QS. Maryam: 44).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengutarakan kepada ayahnya alasan utama ia harus menyampaikan dakwah ini kepadanya, tidak untuk mengguruinya dan tidak pula karena wujud kedurhakaan anak kepada orangtuanya, akan tetapi semata karena kekhawatiran atas keselamatan ayahnya di hadapan Allah kelak pada hari kiamat, maka dengan belas kasih penuh harap Nabi Ibrahim berkata :

يَاأَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا

“Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa engkau akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, lalu engkaupun menjadi kawan bagi syetan-syetan itu”. (QS. Maryam:45)

Betapa kaget dan sedih Nabi Ibrahim ‘alaihissalam pada saat mendengarkan tanggapan ayahnya atas dakwah yang ia sampaikan dengan penuh kasih itu, sesuatu yang sama sekali diluar dugaan dan bayangannya, ayahnya demikian murka, ia benar-benar tersulut api kemarahan oleh nasihatnya, dengan suara tinggi ia membentak Nabi Ibrahim yang masih berdiri di hadapannya:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنْتَ عَنْ آلِهَتِي يَاإِبْرَاهِيمُ لَئِنْ لَمْ تَنْتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

“Apakah engkau benci terhadap tuhan-tuhanku wahai Ibrahim? jika kamu tidak berhenti (dari dakwahmu ini) niscaya aku akan merajammu, dan tinggalkanlah aku untuk selama-lamanya”. (QS. Maryam: 46).

Ya, inilah risiko dakwah yang harus Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terima, ketabahannya benar-benar diuji, idealismenya berada dalam ancaman mematikan, keistiqamahannya di atas jalan tauhid sedang dipertaruhkan, antara memilih ayah yang sangat ia cintai atau pergi meninggalkan rumah tempat ia dibesarkan dengan penuh perhatian dan kasih sayang oleh kedua orangtuanya demi menjalankan misi dakwah menyelamatkan kaumnya dari bahaya kesyirikan.

Tidak ada pilihan yang lebih baik bagi Nabi Ibrahim pada saat itu kecuali tetap tegar laksana karang menghadapi ujian dakwah ini, ia telah memantapkan tekad untuk tetap melanjutkan misi mulia ini, apapun risiko yang harus ia terima, meskipun ia harus terusir jauh dari keluarganya dan hidup sebatangkara menghadapi pahit getirnya perjuangan dakwah tanpa kehadiran ayah di sisinya, pasti Allah Yang Maha Kaya dan Maha Perkasa tidak akan pernah meninggalkan apalagi menelantarkannya. Dengan penuh keyakinan ia berkata kepada ayahnya, dan di dalam hatinya ia masih berharap semoga kalimat ini akan sedikit meluluhkan hati ayahnya, kalimat yang demikian indah, menunjukkan betapa besar bakti dan hormat anak kepada ayahnya:

قالَ سَلَامٌ عَلَيْكَ سَأَسْتَغْفِرُ لَكَ رَبِّي إِنَّهُ كَانَ بِي حَفِيًّا

وَأَعْتَزِلُكُمْ وَمَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَأَدْعُو رَبِّي عَسَى أَلَّا أَكُونَ بِدُعَاءِ رَبِّي شَقِيًّا

“Berkata Ibrahim: “Semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu, aku akan tetap meminta ampun kepada Tuhanku untuk dirimu, sesungguhnya Ia sangat baik kepadaku, dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang engkau seru selain Allah dan aku akan senantiasa berdoa kepada Tuhanku, mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdoa kepada Tuhanku”. (QS. Maryam: 47-48).

Keyakinan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam terhadap kebaikan Allah Subhanahu Wata’ala yang tak terbatas, menyebabkan beliau juga yakin bahwa ia tak akan mungkin menuai kecewa di penghujung perjuangannya, selagi ia terus berinteraksi akrab dengan Tuhannya dalam doa-doa tulus disepanjang waktu. Bukankah Allah Maha Mendengar keluhan hamba-hambaNya? Bukankah Allah Maha Pemurah lagi Maha Kaya? Memberikan kepada hambaNya apa yang ia pinta tanpa sedikitpun rasa susah? Bukankankah Allah yang memerintahkan hambaNya untuk terus berdoa? Dan menjanjikan kepada mereka kepastian ijabah?

وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Dan berkata Tuhanmu: “berdolah kepadaKu niscaya Aku akan mengijabah doa kalian”. (QS. Mu’min: 60).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mempersenjatai dirinya dengan doa-doa yang tak pernah putus ia lantunkan, meminta kepada Rabbnya keteguhan dan kekuatan memikul amanah dakwah ini, menelusuri jalannya yang penuh onak dan duri. Ia mulai menyebarkan seruan dakwahnya kepada siapa saja yang ia jumpa, agar meninggalkan peribadatan kepada selain Allah, patung-patung itu adalah benda mati yang tak bisa berbuat apa-apa, meski sekedar untuk membela dirinya. Hujjah dan alasan telah ia sampaikan dalam setiap dialog-dialog bersama dengan kaumnya, ia mampu mematahkan setiap alasan mereka dengan kekuatan argumentasi dan logika, hingga tak tersisa lagi bagi mereka kecuali mengatakan satu-satunya alasan yang tak layak dijadikan hujjah:

قَالُوا وَجَدْنَا آبَاءَنَا لَهَا عَابِدِينَ

“Mereka berkata: “kami dapati nenek moyang kami menyembah patung-patung itu”. (QS. al-Anbiya’: 53).

Ketika dialog tak lagi mendatangkan manfaat meski setiap alasan mereka telah dipatahkan sampai keakar-akarnya, dan nampaklah hakikat penyebab kesesatan mereka, semata karena fanatik buta kepada nenek moyang dahulu kala, maka Nabi Ibrahim merencanakan metode yang berbeda, yaitu menghancurkan seluruh patung-patung sesembahan mereka yang sangat dikeramatkan itu lalu menyisakan satu-satunya patung yang paling besar di kuil peribadatan mereka untuk menyingkap tirai kebodohan yang telah menutup akal sehat kaumnya. Didalam hati, Nabi Ibrahim pun memasang tekad itu:

وَتَاللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصْنَامَكُمْ بَعْدَ أَنْ تُوَلُّوا مُدْبِرِينَ

“Demi Allah aku akan membuat tipudaya atas patung-patung kalian itu setelah kalian beranjak pergi.” (QS. al-Anbiya’: 57.)

Rencana itu telah dilakukan dengan sempurna, namun Nabi Ibrahim akhirnya ketahuan hingga digelandang kehadapan raja, dibelenggu di hadapan kaumnya untuk dimintai pertanggungjawaban atas makar yang baru saja ia lakukan. Nabi Ibrahim ‘alaihissalam hanya meminta kepada raja untuk bertanya kepada satu-satunya patung yang tersisa di sana atas peristiwa pembantaian yang menimpa kawan-kawannya, mengapa patung-patung itu diam saja dan tak melakukan pembelaan meskipun dengan hanya memejamkan mata, sungguh nyatalah kelemahan berhala-berhala ini, tidak layak untuk dijadikan Tuhan yang dipuja-puja. Meskipun demikian mereka enggan meninggalkan perbuatan kesyirikannya, bahkan mereka hendak membinasakan Nabi Ibrahim di dalam kobaran api yang menyala-nyala, hingga pada akhirnya Allah Subhanahu Wata’ala menyelamatkannya.

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin yang Berbahagia,

Sepenggal kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam di atas memberikan kepada kita sekalian pelajaran yang berharga, yaitu sifat optimisme dalam menghadapi setiap permasalahan, yang dibangun atas keteguhan memegang prinsip kebenaran. Ujian demi ujian di dalam memperjuangkan kebenaran telah dihadapi oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan penuh ketabahan dan keyakinan atas pertolongan Allah Subhanahu Wata’ala, tidak sedikit pun ujian itu menggoyahkan harapannya dan tidak pula melemahkan semangat juangnya, ia bahkan semakin optimis bahwa pada suatu hari nanti cahaya dakwah ini akan menyingkap gelapnya kesyirikan yang tengah menyelimuti negerinya. Allah pasti akan memenangkan cahayanya meski pasukan kafir itu sangat membencinya. Allah berfirman:

وَاللَّهُ غَالِبٌ عَلَى أَمْرِهِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Dan Allah pasti akan memenangkan urusannya, namun sebagian besar manusia tidak mengetahui”. (QS. Yusuf: 21).

Kebenaran pasti akan menang, sekuat apapun pengusung kebatilan berupaya menutupinya, Allah berfirman:

يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

”Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, dan Allah akan menyempurnakan cahayaNya itu meskipun orang-orang kafir membencinya”. (QS. al-Saff: 8).

Cahaya kebenaran yang terpancar kuat, tidak akan mampu dicegah oleh siapapun dari kalangan umat manusia, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيَبْلُغَنَّ هَذَا اْلأَمْرُ مَا بَلَغَ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ، وَلاَ يَتْرُكُ اللهُ بَيْتَ مَدَرٍ وَلاَ وَبَرٍ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ هَذَا الدِّيْنَ، بِعِزِّ عَزِيْزٍ أَوْ بِذِلِّ ذَلِيْلٍ، عِزًّا يُعِزُّ اللهُ بِهِ اْلإِسْلاَمَ، وَذِلاًّ يُذِلُّ اللهُ بِهِ الْكُفْرَ. رَوَاهُ أَحْمَدُ

“Sungguh agama ini akan mencapai tempat yang dicapai oleh siang dan malam, hingga tidak ada satu rumahpun di kota atau di desa kecuali Allah pasti akan memasukkan agama ini ke dalamnya, suka atau tidak suka, kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam, atau kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran”. (HR. Ahmad).

Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa bersifat optimis sesempit apapun kondisi yang menghimpit kita, pada saat Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan beliau untuk meninggalkan istri dan anak tercintanya di Kota Makkah yang kering dan tandus, Nabi Ibrahim ‘alaihissalam justru merasa yakin bahwa pada suatu ketika tempat itu akan menjadi ramai dikunjungi oleh umat manusia, sehingga keluarganya tidak akan mati kelaparan atau berada di dalam kesendirian. Allah berfirman:

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumahMu yang dihormati, ya Tuhan kami agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati umat manusia cenderung kepada mereka dan berilah rezeki kepada mereka dari jenis buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur”. (QS. Ibrahim: 37).

Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan permintaannya ini dengan meminta Nabi Ibrahim ‘alaihissalam untuk menyeru umat manusia buat melaksanakan ibadah haji. Allah berfirman:

وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan ibadah haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan berkendaraan, yang datang dari segenap penjuru yang jauh”.(QS. al-Hajj: 27)

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamd

Ma’asyiral Muslimin Hafizhakumullah

Perintah Allah Subhanahu Wata’ala kepada Nabi Ibrahim ‘alaihissalam agar menyampaikan kewajiban ibadah haji bagi seluruh manusia sebagai jawaban atas permintaan menjadikan umat manusia cenderung kepada keluarganya, menunjukkan bahwa sifat optimisme akan terwujudnya suatu cita-cita kejayaan hanya akan dapat diperoleh dengan seruan kebenaran ke jalan Allah Subhanahu Wata’ala. Dakwah Islam menjadi jalan utama buat mewujudkan cita-cita kejayaan yang telah dijanjikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dakwah Islam yang bersendikan atas sifat hikmah, kasih sayang dan pendidikan yang benar tentang ajaran agama. Dakwah Islam yang berisi penyampaian dan pembinaan, arahan dan bimbingan, amar ma’ruf dan nahi mungkar, ajakan untuk berbuat baik serta peringatan agar menghindari kemungkaran. Dakwah Islam adalah upaya untuk saling menasihati agar menetapi kebenaran, saling memberi wasiat agar dapat bersabar mengarungi kehidupan, saling mengingatkan dari sifat lupa dan kelalaian, saling menguatkan sehingga dapat bersifat istiqomah, saling mengkritik demi terhindar dari upaya pengelabuan syetan. Dakwah Islam menjadi landasan operasional menuju terwujudnya janji Allah Subhanahu Wata’ala untuk menjaga kesinambungan nikmat-nikmatNya, dan keberlangsungan berkah bagi negeri dan bangsa.

Memelihara kesucian masyarakat dari upaya kerusakan yang dilakukan oleh pengusung-pengusung kebatilan, menjadi tugas dan tanggungjawab setiap eleman bangsa, sehingga melakukan amar ma’ruf nahi mungkar yang merupakan bagian dari dakwah adalah juga menjadi tugas bersama. Hal ini berlaku khususnya pada saat kondisi kemungkaran lebih dominan dari kebaikan itu sendiri.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Kepada pemerintah baru yang akan terbentuk nanti, kami serukan untuk senantiasa menjadikan tuntunan agama sebagai pedoman di dalam mengeluarkan dan menerapkan kebijakan. Bertindak adil, dan penuh kasih sayang kepada rakyat tanpa membeda-bedakan antara satupun, tidak termakan oleh provokasi kaum liberal yang berupaya meminggirkan ulama dan umat Islam dari peran membangun bangsa dan negara ini. Kami tidak setuju segala macam tindakan kezhaliman, dengan dalih apapun, apalagi bila yang melakukannya adalah pihak-pihak yang seharusnya menjaga ketentraman masyarakat. Kami berpesan agar tindakan memancing kaum muslimin untuk melakukan tindakan-tindakan reaktif untuk segera dihentikan, pelecehan terhadap simbol-simbol Islam, seperti kalimat Laa Ilaha Illallah, atau jenggot yang menjadi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, atau memakai cadar bagi muslimah, adalah contoh tindakan provokasi ini. Negara ini adalah milik seluruh warganya, dibangun atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, sehingga selayaknya pemerintah melindungi agama dari tindakan-tindakan pelecehan, sekecil apapun hal tersebut.

Kepada kaum perempuan, kami serukan agar senantiasa menjaga sifat kesopanan sebagai kaum muslimah dan bagian dari tradisi ketimuran. Nilai kebaikan seorang perempuan dapat diukur dari sikap dan tingkah lakunya yang mempertahankan keanggunan dan kesopanannya. Mempertontonkan aurat, bercampur baur dengan kaum laki-laki, slogan emansipasi dan kehormatan gender, sama sekali bukan bagian dari budaya bangsa kita yang dibangun atas dasar nilai-nilai religius. Kami mengajak kaum perempuan untuk ikut menjaga stabilitas bangsa ini dengan berupaya konsisten terhadap nilai-nilai agama dan kemanusiaan, semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa menuntun kita semua di atas jalanNya.

Kepada para orangtua dan guru pengajar di segenap tingkat pendidikan, kami mengingatkan akan tanggungjawab pendidikan anak-anak kita, kemajuan nalar dan intelektual mereka tidak akan berguna kecuali apabila dibangun di atas pondasi iman yang kuat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Peradaban umat Islam yang cemerlang pada zaman dahulu dibangun atas dasar keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kemapanan iman, siapapun dari umat Islam yang memahami agamanya pasti mengetahui bahwa tidak ada pemisahan antara nalar logika dan iman keyakinan di dalam agama Islam, justru keduanya berjalan bersama dan saling melengkapi antara satu sama lain. Rumah, sekolah dan kampus hendaknya menjadi tempat untuk membangun kembali peradaban kita, dan bukan peradaban liberal yang bebas nilai. Orangtua, guru, dan dosen menjadi pelaku utama dalam menanamkan nilai-nilai keseimbangan ini kepada generasi umat dan bangsa. Jangan hilang pada saat mereka membutuhkan anda, atau menjadi teladan buruk bagi mereka dalam akhlak dan muamalah, generasi kita membutuhkan teladan yang baik dalam kesehariannya.

Kepada para pemuda, kami serukan agar memanfaatkan usia dan semangat yang dimiliki bagi kemajuan umat dan bangsa. Bergaul bersama dengan orang-orang saleh dapat membantu untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi diri dan masyarakat, sedangkan sebaliknya, bergaul dengan komunitas yang jahat dapat memberi pengaruh negatif, sehingga menyia-nyiakan usia dan kemampuan memberi yang terbaik bagi umat dan bangsa. Kesalahan dalam memilih sahabat dapat memberi penyesalan yang tidak ringan, oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih kawan.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamd

Kaum Muslimin yang Dimuliakan Allah,

Sebelum mengakhiri khutbah ini, marilah sejenak menyimak panduan singkat menunaikan ibadah kurban kita hari ini hingga tiga hari tasyriq nanti. Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, kambing yang genap berusia setahun, sapi yang genap berusia dua tahun. Syaratnya, hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: kepicakan pada mata, kepincangan pada kaki dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, mengetahui hukum-hukum menyembelih dan upahnya tidak diambilkan dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, kulit atau daging, meskipun dia juga bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Waktu penyembelihan hewan kurban adalah seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala yang kita peroleh sangat bergantung pada keikhlasan niat kita dalam menunaikan ibadah kurban ini.

Akhirnya, kaum muslimin yang berbahagia, marilah kita menundukkan hati, menengadahkan tangan, mengharap kepada Allah Subhanahu Wata’ala Tuhan Yang Maha Esa, meminta dengan penuh rasa dan keyakinan terhadap ijabah dariNya

الحمد لله رب العالمين والصلاة والسلام على رسوله الأمين وعلى آله وصحبه أجمعين

اللهم ربنا ظلمنا أنفسنا ظلما كبيرا وإنه لا يغفر الذنوب إلا أنت فاغفر لي مغفرة من عندك وارحمني إنك أنت الغفور الرحيم

“Ya Allah Yang Maha Esa, kami hambaMu kembali pada hari ini menyatakan ketundukan kami hanya kepadaMu, tiada yang berhak disembah kecuali Engkau semata, jadikanlah kami semua sebagai hamba yang mengetahui dan menjaga hakMu untuk disembah.

Ya Allah Yang Maha Mendengar, segala ucapan bahkan bisikan kami pasti terdengar olehMu, tiada mampu rasanya kami menahan mulut ini untuk berucap hal-hal yang Engkau murkai meskipun kami mengetahuinya, tiada sanggup kami mencegah lisan ini untuk bergerak dengan selain dzikir menyebut namaMu. Kami memohon ampunanMu atas yang disengaja, dan kami memohon perlindunganMu dari yang tidak disengaja. Ya Allah, tuntunlah lisan kami ini untuk banyak berdzikir menyebut nama-nama indahMu, bimbinglah mulut kami ini agar dapat menghindari dosa-dosa perkataan, seperti gibah dan menghina orang lain.

Ya Allah Yang Maha Melihat, tiada yang tersembunyi dari perbuatan kami bagiMu, serba nyata dan jelas di sisiMu segala yang kami lakukan, kami sungguh belum mampu menjaga pandanganMu dari melakukan perbuatan dosa. Ya Allah, maafkan kami atas segala kelalaian dan perbuatan yang berlebih-lebihan, tuntun jalan kami sepanjang waktu, dan berikanlah kepada kami kesempatan dan kesempatan untuk bertaubat kepadaMu sebelum ajal menjumpai hidup kami.

Ya Allah, Engkau lebih tahu penderitaan saudara-saudara kami di negeri Palestina, Myanmar, Irak, dan Suriah. Kami hanya mampu mengadu kepadaMu perbuatan kezhaliman kaum kafirin atas saudara-saudara kami di sana, Ya Allah timpakan atas kaum zhalim penderitaan yang melapangkan hati kami, buatlah mereka menyesal karena telah menzhalimi kaum muslimin. Ya Allah berilah kepada selain mereka pelajaran agar tidak melakukan perbuatan serupa kepada saudara-saudara kami.

Ya Allah Yang Maha Pemurah, kami sadar atas besarnya pengorbanan orangtua kami dalam merawat, membimbing dan melindungi kami sejak kecil, dan kami sadar bahwa perlakuan kami belum mampu untuk membalas segala kebaikan tersebut. Kami hanya mampu memanjatkan doa kepadaMu buat orangtua kami, Ya Allah berikanlah hidayah bagi orangtua kami yang masih hidup, bimbinglah mereka untuk hidup di atas jalanMu, ampunkan dan kasihilah orangtua kami yang telah meninggal dunia, terimalah amal kebaikan mereka, maafkan kesalahan-kesalahan mereka, cucilah dosa-dosa mereka dengan air yang jernih sehingga tidak menyisakan noda sedikitpun. Ya Allah, berikanlah kepada kami petunjuk untuk juga memimpin keluarga kami, istri dan anak-anak kami sebagaimana mestinya, bahkan lebih baik dari bimbingan orangtua kami kepada kami.

Ya Allah Yang Maha Pengasih, kami memohon kepadaMu agar mengasihi ulama, dan guru-guru kami. Ya Allah terimalah segala kebaikan mereka terhadap umat ini, dan ampunilah kesalahan dan kealpaan mereka dalam kehidupan keseharian mereka. Ya Allah, berilah kepada para pemimpin kami hidayah dan petunjuk agar menjadikan kitabMu dan sunnah RasulMu sebagai pedoman dalam menjalankan amanah dan tanggungjawab mereka, bimbinglah mereka untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dengan cahaya agamaMu dan keteduhan syariatMu.

Ya Allah, inilah doa dan permohonan kami, maka kabulkanlah Wahai Zat Yang Maha Mengabulkan doa.

ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم

سبحانك اللهم ربنا وبحمدك أشهد أن لا إله إلا أنت أستغفرك وأتوب إليك

وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمين

 

 

 

Share.

Leave A Reply