Garis Pemisah antara Belas Kasih dan Ceroboh

0

Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu pernah meminta izin untuk menemui Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, lalu dia menemukan orang-orang tengah duduk di depan pintu beliau dan belum ada seorang pun di antara mereka yang diizinkan (masuk). Kemudian, lanjut Jabir, Abu Bakar Radhiyallahu ‘Anhu diizinkan, lalu dia pun masuk. Kemudian datanglah Umar Radhiyallahu ‘Anhu, lalu dia meminta izin dan dia pun diizinkan. Lalu dia menemukan Nabi tengah duduk terdiam dan membisu sementara di sekelilingnya ada istri-istrinya.

Kemudian, ujar Jabir, Umar berkata, “Sungguh, aku akan mengatakan sesuatu yang bisa membuat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tertawa.” Lantas Umar mengatakan, “Ya Rasulullah, apa pendapatmu jika Binti Kharijah meminta nafkah kepadaku, lalu aku bangkit ke arahnya dan aku tepuk lehernya?” Lalu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pun tertawa dan bersabda, “Mereka berada di sekelilingku seperti yang engkau lihat-sedang meminta nafkah kepadaku. “Kemudian Abu Bakar bangkit ke arah Aisyah dan menepuk lehernya. Dan Umar juga bangkit ke arah Hafshah dan menepuk lehernya. Mereka berdua mengatakan, “Kalian semua meminta kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sesuatu yang tidak beliau miliki. “Mereka lantas menjawab, “Demi Allah, kami tidak meminta kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sesuatu yang tidak beliau miliki.”

Kemudian beliau menjauhkan diri dari mereka (istri-istri beliau) selama satu bulan atau 29 hari. Lalu turunlah ayat ini, “Wahai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu… (QS. Al-Ahzab: 28) sampai dengan “…bagi yang berbuat baik di antara kalian ada balasan (pahala) yang besar.” (QS. Al-Ahzab:29).

Kemudian, lanjut Jabir, beliau memulai dengan Aisyah seraya bersabda, “Wahai Aisyah, aku ingin menawarkan sesuatu kepadamu yang mana aku ingin engkau tidak tergesa-gesa (dalam mengambil keputusan) tentang hal ini sebelum engkau berkonsultasi dengan ayah-ibumu.”

“Apa itu, ya Rasulullah?” sahut Aisyah. Lalu beliau membaca ayat tersebut. Aisyah lantas berkata, “Apakah tentang engkau aku harus berkonsultasi dengan ayah-ibuku? Tidak, justru aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan rumah Akhirat. Dan aku minta kepadamu untuk tidak memberitahukan apa yang aku katakan kepada salah seorang istrimu.” Beliau lantas bersabda, “Tidaklah salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya. Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan dan menyusahkan, akan tetapi Dia mengutusku sebagai orang yang mengajarkan dan memudahkan.” (HR. Muslim).

Penjelasan Hadits:
Hadits yang dicatat oleh Imam Muslim di dalam kitab Shahih-nya dengan judul Bab “Suami Memberikan Pilihan Kepada lstrinya” ini mengandung beberapa pelajaran berharga yang patut dikaji berikut ini.

Kendati situasi dan kondisi yang beliau hadapi demikian pelik dan sulit, di mana tidak seorang pun diizinkan menemui Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang tengah duduk terdiam dan membisu, namun demikian beliau tetap merespon positif upaya untuk membuatnya tertawa. Kemudian beliau pun tertawa oleh karena ucapan Umar Radhiyallahu Anhu.

Di sini terkandung seruan kepada para suami untuk tidak melupakan senyuman, betapa pun sulitnya keadaan, dan selalu meringankan beban keluarganya, kendati kondisinya sangat berat.

Tindakan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang menjauhi seluruh istrinya selama satu bulan penuh memberikan bantahan yang kuat terhadap tuduhan sebagian orientalis dan lain-lain bahwa Nabi adalah seorang sex maniac. Siapa yang sanggup menjauhi semua istrinya selama satu bulan penuh kecuali orang yang jauh dari syahwat dan kecenderungan hawa nafsu?!

Ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberikan opsi kepada istri-istrinya untuk memilih Allah, Rasul-Nya, dan rumah Akhirat, ataukah memilih dunia dan perhiasannya, maka beliau memberikan kebebasan penuh kepada mereka untuk menentukan pilihan, tidak meminta mereka untuk memberikan jawaban secepatnya, bahkan menyarankan agar mereka terlebih dahulu berkonsultasi dengan keluarga (orang tua) mereka.

Hal ini benar-benar merupakan sikap belas kasih yang tiada tara. Juga merupakan kesabaran luar biasa yang acap kali hilang dan para suami yang suka menuntut istrinya agar segera menentukan sikap dan pilihan dalam segala hal.

Akan tetapi kesabaran dan belas kasih itu tidak menghalangi beliau untuk memegang teguh sikap yang benar dan pendapat yang tepat.

Inilah yang kita temukan pada waktu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mengabulkan permintaan Aisyah, istrinya, agar beliau tidak memberitahu istri-istri beliau yang lain bahwa Aisyah memilih Allah dan Rasul-Nya. Dalam hal ini beliau menolak tegas permintaan Aisyah tersebut dengan sabdanya, “tidaklah salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku melainkan aku akan memberita hukannya.”

Namun beliau tidak menolak begitu saja tanpa alasan dan penjelasan. Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta‘ala tidak mengutusku sebagai orang yang menyulitkan dan menyusahkan, akan tetapi Dia mengutusku sebagai orang yang mengajarkan dan memudahkan.”

Hal ini memberikan peringatan kepada para suami yang tidak bisa membedakan antara sikap belas kasih dan fleksibel dengan keteguhan dalam memegang nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang fundamental.
Bukanlah belas kasih kepada istri manakala suami mengikuti seruan istrinya agar dirinya tidak mengunjungi ibunya.

Juga bukanlah belas kasih kepada istri manakala suami bersikap ceroboh dan masa bodoh terhadap istrinya yang suka membuka sebagian perhiasannya (baca: auratnya) meskipun sedikit. Dan bukan pula belas kasih kepada istri manakala suami tidak menyuruh istrinya melaksanakan shalat pada waktunya. Dan seterusnya. Di sana ada garis pemisah antara belas kasih dan ceroboh. Namun garis ini kerap kali hilang dan pandangan sebagian suami. Akibatnya, mereka melanggar ajaran agama dengan anggapan (asumsi) bahwa mereka berbelas kasih kepada istri.

Kecerobohan ini sering kali terjadi setelah si istri mengabulkan permintaan suaminya, dan sebagai imbalannya si suami juga mengabulkan permintaan istrinya, namun permintaan itu sedikit melanggar norma-norma agama Islam.

Kita melihat bagaimana respon yang diberikan oleh Sayyidah Aisyah demikian menakjubkan dan agung ketika dia memberikan jawaban secara spontan, “Apakah tentang engkau aku harus berkonsultasi dengan ayah-ibuku? Tidak, justru aku memilih Allah, Rasul-Nya, dan rumah Akhirat.”

Namun, kendati respon yang diberikan Aisyah demikian mantap dan jawabannya demikian indah, Nabi tetap tidak berkenan untuk mengabulkan permintaannya yang diajukan langsung seusai memberikan respon yang positif tersebut. Beliau justru menyatakan, “Tidaklah salah seorang di antara mereka bertanya kepadaku melainkan aku akan memberitahukannya.”

Jadi hendaknya setiap suami melihat garis pemisah; antara belas kasih yang tidak membatalkan yang benar, dan tidak juga membenarkan yang batal dengan kecerobohan yang mengabaikan kebenaran dan menghalangi kebajikan.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Share.

Leave A Reply