Gerakan Penentang Hijab dan Kiat Membendungnya

0

Oleh Abu Ahmad Afifi

Adalah sunnatullah di muka bumi ini bahwa setiap perjuangan yang menuntun manusia kepada kebaikan pasti akan mendapatkan cobaan-cobaan dan tantangan-tantangan, baik itu cobaan dan tantangan tersebut datangnya dari dalam (muslim) maupun dari luar (non muslim), dari individu-individu maupun kelompok yang tersusun rapi. Disinilah Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin menguji siapa diantara hamba yang bersabar dan siapa diantara mereka yang gugur dalam perjuangan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :

 أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS al-ankabut : 2-3)

Rayuan feminisme, gerakan feminisme, merekalah yang paling banyak mengompori kaum Hawa untuk terjun di luar rumah dengan porsi waktu yang lebih lama, sementara di rumah, cukup malam hari saja. Itu pun kalau tidak lembur.  Isu-isu yang mereka lontarkan sangat spektakuler, menarik simpati dan membangunkan semangat pemberontakan bagi kaum Hawa. Gerakan ini bagaikan hembusan angin surgawi. Mereka menanamkan pikiran bahwa selama ini mereka  memiliki hak dan kewajiban yang sama, akan tetapi “dirampas” oleh kaum laki-laki. Atau dengan kata lain, bukan karena kodrat wanita yang menjadikan ia dikuasai laki-laki, namun dipolitisir oleh kaum laki-laki itu sendiri. Mereka berpikir, kalau laki-laki tidak hamil, maka wanita juga berhak untuk menolak ‘dihamili’, meski oleh suaminya sendiri. Jika laki-laki tidak menyusui anak, maka wanita juga berhak menolak memberikan ASI, jika laki-laki tidak berjilbab, maka kaum hawa juga boleh tidak berjilbab, karena memang jilbab itu merupakan kekangan dan penghambat karir menurut mereka. Sebaliknya, kalau laki-laki jadi direktur, pilot, petinju, dan seterusnya, maka wanita juga boleh, begitu seterusnya.

Menurut mereka lagi, salah satu faktor penyebab kemunduran umat islam ialah karena diterapkannya jilbab atas wanita. Entah dengan logika apa opini ini berkembang dan laris di mayarakat kita?

Bisa dibayangkan apa yang terjadi dalam kehidupan dunia ini bila kaedah yang mereka usung itu menjadi acuan dan rujukan. Niscaya kehinaan dan kenistaan yang akan didapati oleh kaum wanita.

Penetrasi budaya Barat terhadap masyarakat Indonesia telah sedemikian dalam. Mulai dari pergaulan bebas, cara berpakaian, pendidikan sampai masalah ketuhanan sekalipun harus merujuk ke Barat. Hal-hal yang telah baku dalam agama seperti wajibnya jilbab atas Wanita harus ditinjau ulang dengan kacamata liberalisme dan HAM.

Gerakan melawan jilbab di Indonesia semakin hari semakin gencar, atas nama emansipasi wanita, modernisasi, kebebasan hidup, dan seribu ucapan lainnya, semuanya tak lepas dari makar musuh-musuh Allah untuk mengeksploitasi wanita dengan segala cara, pada intinya adalah ingin menghancurkan hukum Allah ini dan ingin menjadikan muslimah seperti wanita yang tidak memiliki nilai layaknya wanita pada zaman jahiliyah.

Diantara gerakan lagi yang melawan jilbab di tanah air kita adalah Jaringan Islam Liberal (JIL), ‘makhluk-makhluk’ sekuler-liberalis peliharaan dari orang-orang yang membenci Islam, tak pernah bosan menggonggong demi kepentingan musuh Islam tersebut.

Benarkah kaki tangan musuh Allah ini menginginkan wanita islam menjadi wanita modern?

Bukan wahai saudariku…

Mereka menginginkan anda seperti wanita mereka yang telah kehilangan harga diri, yang bisa dinikmati dan dimiliki siapapun yang menginginkannya, dan itulah hakikat wanita jahiliyyah, bukan wanita modern.

Mereka ingin menipumu agar engkau keluar dari surga sebagaimana iblis mengeluarkan bapak kita Adam darinya. Iblis mengeluarkan Adam dan Hawa dari surga dalam keadaan telanjang, tanpa pakaian, yang menutup aurat mereka.

Wahai saudariku…!

Jauhilah pemikiran mereka, jangan dengarkan gonggongan mereka, anggaplah mereka itu “anjing menggonggong kafilah berlalu “. Allah Subhanahu wa Ta’ala hanya menghendaki darimu kesucian, kemulian dan keluhuran.

Berusahalah semaksimal mungkin untuk menyerupai orang-orang mulia, istri-istri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan istri para sahabat beliau, mereka itulah yang mendapat pujian dan jaminan dari Sang Pencipta.

Janganlah berkata : “kita bukan mereka” bagaimana mungkin kita bisa mencapai apa yang mereka capai? Seorang penyair berkata :

تَشَبَّهُوْا بِالْكِرَامِ إِنْ لَمْ تَكُوْنُوْا مِثْلَهُمْ        إِنَّ التَّشَبُّهَ بِالكِرَامِ فَلاَحٌ

“Berusahalah meniru orang-orang yang mulia walau tidak sama persis dengan mereka, Sebab meniru orang yang mulia itu merupakan keberuntungan.”

Wahai saudariku…!

Engkau seharusnya memperhatikan pakaianmu dan perbuatanmu serta wajib mengikuti kepribadian islam sebagaimana yang engkau dengar, lihat dan baca.

Sungguh sedikit orang yang berbuat dan mengajak kepada kebaikan, sebagaimana seruan seorang penyair :

يَاخَادِمَ الْجِسْمِ كَمْ تَسْعَى لِخِدْمَتِهِ

                               أَتَطْلُبُ الرِّيْحَ مِمَّا فِيْهِ خُسْرَانُ

أَقْبلْ عَلَى النَّفْسِ فَاسْتَكْمِلْ فَضَائِلَهَا

                               فَأَنْتَ بِالنَّفْسِ لاَ بِالْجِسْمِ إِنْسَانُ

“Wahai dikau yang selalu mengurusi badanmu.

Betapa banyak usaha yang telah engkau lakukan.

Apakah engkau mencari keuntungan dari sesuatu yang jelas merugikan.

Perhatikan jiwamu, sempurnakah keutamaannya.

Sebab dikau disebut manusia dengan jiwa, bukan karena tubuh jasadmu.”

 

Wahai saudariku…!

Jadikanlah Khadijah radhiyallahu ‘anha suri tauladan dan panutanmu dalam berjuang dengan harta dan jiwa.

Jadikanlah Khadijah radhiyallahu ‘anha tauladanmu dalam ilmu pengetahuan. Jadikanlah keluarga Yasir radhiyallahu ‘anhuma suri tauladanmu dalam kesabaran dan berpegang teguh kepada agama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Wahai ibu generasi mendatang, perhatikan perkataan seorang penyair :

الأم مدرسة إذا أعددتـها                أعددت شعبا طيّب الأعراق

الأم روض إن تعهدْه الحيَّ        بالـريّ أورق أيّما إيراق

الأم أستاذ الأساتذة الأولى        شغلت مآثرهم مدى الآفاق

“Ibu laksana madrasah, jika engkau persiapkan

Berarti engkau persiapkan generasi yang harum namanya.

Ibu laksana taman, jika ia selalu disiram

Ia akan berdaun rindang.

Ibu adalah guru yang pertama, pengaruhnya sangat besar sepanjang masa.”

 

Wahai saudariku…

Andai mereka melihat bentuk tubuhmu tidak menarik lagi atau ketika usiamu telah senja, tua renta, apakah mereka masih memajang fotomu, di sampul-sampul majalah, buku dan semisalnya, walaupun kamu orang yang terpelajar? Masihkah mereka memintamu bekerja sebagai pramugari di salah satu pesawat, dengan dalih penghargaan terhadap wanita? Masihkah engkau temui orang yang memperjuangkan sempitnya ruang lingkup belajarmu?

Sungguh mereka hanya ingin menikmati kecantikan wajah dan kemolekan tubuh serta merdunya suaramu. Bila hal itu hilang darimu maka merekapun pasti meniggalkanmu, seakan-akan engkau adalah sebuah barang yang sudah habis masa berlakunya.

Wahai saudariku…

Musuh-musuh islam telah mengetahui, bahwa kerusakan dan kerendahan moral wanita berarti pengrusakan terhadap masyarakat secara universal dan integral. Maka janganlah jadikan dirimu bagian dari tentara-tentara mereka.

Kiat-kiat untuk membendung gerakan penetang hijab (jilbab)

Diantara kiat-kiat yang bisa kami tawarkan dalam rangka membendung gerakan penentang hijab (jilbab) ini adalah sebagai berikut :

  1. Berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dilindungi dari syubhat-syubhat yang mereka tawarkan.
  2. Mempelajari Islam dari sumber  yang asli (al-Qur’an – Sunnah), serta mengambil pemahaman dari orang-orang yang konsisten dengan kedua sumber tersebut.
  3. Mengetahui keburukan-keburukan gerakan penentang jilbab itu, agar tidak tertipu dengannya, karena siapa yang tidak mengetahui suatu keburukan dikhawatirkan akan terjatuh dalam keburukan itu tanpa disadari.
  4. Mengadakan dialog-dialog terbuka dengan gerakan penentang jilbab tersebut serta menjelaskan kepada publik akan rusaknya pemikiran mereka.
  5. Membantah syubhat-syubhat yang mereka lontarkan, baik dalam forum seperti seminar maupun dalam bentuk tulisan-tulisan.
  6. Berada di sekitar orang-orang yang konsisten dengan jilbab.
  7. Mendengarkan petuah-petuah orang-orang shaleh.

 Wallahu a’lam.

————————————————-

Tulisan sebelumnya bisa dilihat di sini:

  1. Hijab Wanita Muslimah
  2. Tujuan dan Hikmah Disyariatkan Hijab (1)
  3. Tujuan dan Hikmah Disyariatkan Hijab (2)
  4. Syarat dan Ketentuan Hijab yang Sesuai Syariat Islam
Share.

Leave A Reply