Hai Suami… Ambil Pena dan Catatlah!

0

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Janganlah laki-laki mukmin membenci wanita mukminah. Sebab, jika ia membenci salah satu perangainya, maka ia akan menyukai perangainya yang lain.” (HR. Muslim).

Penjelasan Hadits:
Mengomentari Hadits ini, Imam An-Nawawi mengatakan, “Seharusnya seorang suami tidak membenci istrinya. Sebab, jika dia menemukan perangai yang tidak dia sukai pada diri istrinya, maka dia akan menemukan perangai lain yang dia sukai. Misalnya, si istri galak tetapi religius, cantik, pandai menjaga diri, sayang kepada suami, atau semacamnya.”

Imam An-Nawawi rahimahumullah; juga menegaskan bahwa Hadits ini menunjukkan larangan. Artinya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang suami membenci istrinya karena adanya perangai (akhlak) yang tidak baik pada dirinya. Hadits ini bukan sekedar informasi (khabar), sebagaimana dikatakan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh. Maksudnya, seorang suami yang mukmin tidak mungkin membenci istrinya secara membabi buta. Imam An-Nawawi menyebut apa yang dikatakan oleh Al-Qadhi ‘Iyadh sebagai pendapat yang lemah atau -bahkan- salah.

Oleh karena itu, kita menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang suami membenci istrinya karena adanya perangai atau tabiat yang tidak disukai pada dirinya. Dan beliau menganjurkan agar suami tersebut mau melihat perangai-perangai lain yang disukainya pada diri istrinya. Karena boleh jadi dia belum menyadari bahwa istrinya memiliki perangai yang dia sukai, atau sengaja menutup mata terhadap hal itu.
Kita sering melihat seorang suami mem¬bandingkan istrinya dengan wanita lain yang memiliki perangai atau tabiat yang tidak dimiliki oleh istrinya. Tetapi dia melupakan beberapa perangai yang baik pada diri istrinya yang justru tidak dimiliki oleh wanita yang dia bandingkan dengan istrinya.

Sebagai contoh, seorang suami yang membenci istrinya gara-gara tidak pandai memasak. Suami ini lantas membandingkan istrinya dengan adik perempuannya yang pandai memasak. Tetapi pada saat yang sama dia lupa membandingkan hal-hal lain yang seharusnya dia lakukan. Yaitu, istrinya pandai dalam mendidik, merawat dan mengajari anak-anaknya, sedangkan adik perempuannya suka mengabaikan anak-anaknya, tidak pandai mendidik dan merawat mereka. Padahal, tidak ada keraguan bahwa kepandaian dalam mendidik dan merawat anak lebih penting dari pada kepandaian memasak.

Karena itulah, ketika terjadi percekcokan antara suami-istri, maka pihak mediator yang bertugas mendamaikan mereka berdua hendaknya mengingatkan suami -yang mengeluhkan kekurangan atau perangai buruk istrinya- tentang perangai-perangai lainnya yang ada pada diri istrinya. Hal itu bisa dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan tertentu yang diajukan kepada suami. Misalnya, apakah dia (istrinya) melakukan ini dan itu? Apakah dia bersikap buruk kepada keluarga anda? Atau pertanyaan-pertanyaan lainnya yang diharapkan bisa memalingkan perhatian suami kepada perangai-perangai yang baik dan dia sukai pada diri istrinya, yang mana dia melupakannya ketika pandangannya terfokus kepada perangai atau tabiat tertentu saja.

Komitmen suami untuk melaksanakan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan melindungi banyak keluarga dari perpecahan dan kesia-siaan. Juga akan menghindarkan suami dari percekcokan-percekcokan yang mungkin terjadi, jikalau sorot matanya hanya tertuju kepada perangai-perangai tertentu saja.

Karenanya, saya menyarankan kepada setiap suami yang mengeluhkan perangai tertentu pada diri istrinya agar mengambil pena dan kertas, lalu berusaha mencatat perangai-perangai yang dia sukai pada diri istrinya. Dengan begitu dia akan mendapati kenyataan bahwa dirinya mampu menginventarisir banyak perangai yang dia sukai pada diri istrinya, yang tidak pernah dia perkirakan sebelumnya.

Dan perangai yang dia sukai pada diri istrinya dengan perangai yang tidak dia sukai, maka dia akan mendapati bahwa dia seharusnya banyak bersyukur kepada Allah karena memiliki istri seperti itu.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

Share.

Leave A Reply