Hak dan Kewajiban Istri

0

Salah satu anugerah yang diberikan Allah Ta’ala kepada manusia adalah adanya ikatan pernikahan antara laki-laki dan perempuan yang disahkan lewat janji ijab qabul. Namun di sisi lain, pernikahan juga merupakan suatu amanat yang wajib dijaga agar ikatan suci yang digambarkan Allah sebagai “miitsaaqan ghaliizan/perjanjian yang berat” ini bisa mewujudkan hubungan mawadddah warahmah serta mendatangkan kebahagiaan di antara dua pasangan, baik di dunia ataupun kelak di akhirat. Inilah tujuan pernikahan sebagaimana dalam firman Allah:

وَمِنْ    ءَايٰتِهِۦٓ    أَنْ    خَلَقَ    لَكُم    مِّنْ    أَنفُسِكُمْ    أَزْوٰجًا    لِّتَسْكُنُوٓا۟    إِلَيْهَا    وَجَعَلَ    بَيْنَكُم    مَّوَدَّةً    وَرَحْمَةً    ۚ    إِنَّ    فِى    ذٰلِكَ    لَءَايٰتٍ    لِّقَوْمٍ    يَتَفَكَّرُونَ  

Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.. (QS. Ar-Rum: 21).

Untuk mewujudkan tujuan pernikahan ini, Islam menetapkan kewajiban dan hak masing-masing pasangan dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Seorang istri yang merupakan ibu rumah tangga sangat berperan penting dalam mewujudkan tujuan mulia ini, tentunya dengan mengetahui dan memenuhi kewajiban dan hak-haknya sebagai seorang istri yang digariskan oleh Islam. Di antara kewajiban seorang istri adalah:

  1. Menjadi seorang istri yang shalihah.

Keshalihan seorang istri ditandai dengan ketaatannya terhadap perintah Allah dan rasulNya, serta kepada sang suami yang menafkahinya. Suami sebagai nahkoda rumah tangga wajib dipatuhi dan ditaati, selama apa yang ia perintahkan tidak bertentangan dengan perintah Allah dan rasulNya. Ketaatan inilah yang akan menghantarkannya meraih predikat wanita paling baik dan bahagia, serta mencapai keridhaan Allah dan surgaNya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah ditanya, ” Isrti manakah yang paling baik?” Beliau menjawab:

خَيْرُ النِّسَاءِ مَنْ تَسَرُّ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيعُ إِذَا أَمَرَ، وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا

“Sebaik-baik wanita adalah yang membahagiakan suaminya ketika ia memandangnya, mentaatinya ketika ia memerintahkannya, serta tidak menentang suami dalam perkara diri dan hartanya.” (HR. Hakim, shahih).

Hadits ini menunjukkan kewajiban sang istri untuk selalu ramah, murah senyum, dan siap memenuhi keinginan sang suami dengan penuh keikhlasan. Bahkan ia harus bisa menambah kebahagiaan sang suami ketika terlihat gembira, dan menghiburnya tatkala sedih.

  1. Mendidik anak-anaknya.

Salah satu kewajiban yang kadang dilalaikan oleh seorang ibu adalah pendidikan terhadap putera-puterinya. Pendidikan adalah kewajiban kedua orangtua, namun sang ibulah yang sangat berperan besar di dalamnya. Pendidikan berkualitas yang didapatkan oleh anak di rumahnya sangat penting dan besar manfaatnya dalam mewujudkan cita-cita dan masa depan mereka yang cerah. Pendidikan paling pertama dan utama yang wajib ditanamkan kepada mereka adalah pendidikan agama, seperti shalat, puasa, mengaji, berakhlak baik, dll. Bahkan sang buah hati seharusnya terus dididik dan dibina segi keagamaannya walaupun telah tumbuh dewasa. Sekolah anak juga harusnya selalu diawasi agar bisa meraih nilai yang memuaskan, tidak hanya pada nilai mata pelajaran, tapi juga akhlak dan agamanya. Sebab keshalihan anak-anak sangat besar perannya dalam memberikan kebahagiaan bagi orangtua, baik ketika masih di dunia maupun di akhirat nanti.

  1. Mengatur urusan rumah tangga.

Yaitu mengatur urusan rumah yang menjadi tugasnya. Seperti memasak, membersihkan dan merawat rumah. Juga memperhatikan kebersihan pakaian suami dan anak-anak.

  1. Tidak menyebarkan rahasia atau aib-aib suami.

Menyebarkan rahasia dan aib-aib suami merupakan salah satu dosa besar jika tanpa ada alasan syar’i. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri telah melarang hal ini karena menyangkut kehormatan dan harga diri masing-masing pasangan. Dalam Hadits Riwayat Muslim beliau bersabda:

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

Sesungguhnya termasuk manusia paling jelek kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah laki-laki yang menggauli istrinya kemudian dia sebarkan rahasia ranjangnya.”

Ini tidak hanya larangan untuk suami namun juga larangan bagi sang istri.

Jika istri telah berusaha melaksanakan tugas dan kewajiban ini, maka hendaknya bergembira dengan janji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْت

“Jika seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa Ramadhan, menjaga kehormatannya, dan mentaati suaminya, maka kelak akan dikatakan padanya, “Masuklah ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau suka.” (HR. Ahmad dan Hakim, shahih).

Adapun hak-hak sang istri yang wajib didapatkan dari sang suami adalah:

  1. Mendapatkan Nafkah.

Seorang istri memiliki hak dalam mendapatkan nafkah dari sang suami berupa adanya tempat tinggal yang layak untuknya dan anak-anaknya, dan biaya hidup sehari-hari. Mu’awiyah bin Haidah pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Apakah hak istri atas kami ?” Beliau menjawab,

أَنْ يُطْعِمَهَا إِذَا طَعِمَ، وَأَنْ يَكْسُوَهَا إِذَا اكْتَسَى، وَلَا يَضْرِبِ الْوَجْهَ، وَلَا يُقَبِّحْ، وَلَا يَهْجُرْ إِلَّا فِي الْبَيْت

“Memberinya makanan jika memiliki makanan, memberinya pakaian jika memiliki pakaian, dan jangan sekali-kali memukul wajahnya, mencacinya serta jangan menghajrnya/memboikotnya kecuali di dalam rumah.” (HR. Ahmad, Hakim, dan Ibnu Hibban, shahih).

  1. Mendapatkan pergaulan yang baik.

Seorang suami wajib menggauli sang istri dengan pergaulan yang baik, memuliakan dirinya sebagai seorang istri dan pasangan hidup, menjaga kehormatannya, melindunginya, serta tidak menyebarkan aib dan celanya. Dan sebaik-baik suami adalah yang paling baik terhadap istri, sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ، وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan saya adalah yang paling baik pergaulannya terhadap istri.” (HR. Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, shahih).

Ini merupakan suatu motivasi dari beliau agar para suami bisa memberikan pergaulan dan interaksi yang baik kepada istri-istri mereka.

  1. Mendapatkan pendidikan dan pembinaan dari sang suami.

Ini adalah salah satu hak istri yang banyak dilalaikan oleh para suami. Seharusnya sang istri berhak mendapatkan hal ini karena tugas suamilah yang memberikan pembinaan dan tarbiyah, utamanya yang berkaitan dengan masalah agama. Ini bisa dipahami dari firman Allah Ta’ala:

أَيُّهَا    الَّذِينَ    ءَامَنُوا۟    قُوٓا۟    أَنفُسَكُمْ    وَأَهْلِيكُمْ    نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).

Syaikh As-Sa’di berkata, “Cara memelihara istri dan anak-anak dari api neraka adalah dengan membina, dan mengajarkan mereka (perkara agama), serta memberitahukan mereka akan perintah-perintah Allah”.

  1. Tidak boleh dihukum kecuali dengan hukuman syar’i.

Artinya, jika istri bersalah maka suami tidak boleh semena-mena memberikan hukuman terhadapnya, namun hendaknya harus sesuai dengan aturan dan batasan syariat. Misalnya dengan cara menasehatinya dengan baik, kalau memboikot (hajr) hendaknya tetap berada dalam rumah, dan apabila harus memukul maka jangan pada muka. Allah Ta’ala berfirman:

  وَالّٰتِى    تَخَافُونَ    نُشُوزَهُنَّ    فَعِظُوهُنَّ    وَاهْجُرُوهُنَّ    فِى    الْمَضَاجِعِ    وَاضْرِبُوهُنَّ    ۖ    فَإِنْ    أَطَعْنَكُمْ    فَلَا    تَبْغُوا۟    عَلَيْهِنَّ    سَبِيلًا

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuz (durhaka)nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya.” (QS. An-Nisa’: 34).

Jika masing-masing pasangan fokus mengerjakan kewajibannya, maka insya Allah, hak masing-masing pasangan akan terpenuhi dengan sendirinya tanpa harus dituntut.

 

Sumber: markazinayah.com

Share.

Leave A Reply