Hidup Bahagia dengan Hati yang Zuhud

0

Kebahagiaan menjadi dambaan setiap manusia. Sumber kebahagiaan paling utama adalah ketenangan jiwa atau ketentraman batin. Jika kita merasa gelisah, jelas kita tidak bahagia. Manusia, adalah makhluk pengejar kebahagiaan. Namun, tak semua manusia mencicipi hidup bahagia. Karena tidak setiap manusia tahu bagaimana merengkuh kebahagiaan. Kebahagiaan tergantung pada pola hidup atau cara menjalani kehidupan ini. Salah satu metode Islam untuk mencapai kebahagiaan itu adalah zuhud.

Kata zuhud bukan sesuatu yang asing bagi umat Islam. Namun banyak yang salah mengartikannya sebagai sikap yang anti duniawi, anti materi, dan anti kekayaan. bahkan seorang zahid (pelaku zuhud) kadang dikesankan sebagai ”harus” miskin, berpakaian compang-camping, dan sebagainya. Itu pemahaman yang keliru.

Hakikat Zuhud

Dalam arti kata, zuhud bisa diartikan berpaling dari suatu hal karena tidak membutuhkan hal tersebut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Zuhud terhadap kehidupan dunia tidak menganggap apa yang ada pada dirimu lebih pasti dari apa yang ada pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan hendaklah engkau bergembira memperoleh pahala musibah yang menimpamu walaupun musibah itu akan tetap menimpamu.” (HR. Ahmad).

Al-Hasan Al-Bashri menyatakan, zuhud bukan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, melainkan lebih memercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tangan kita. ”Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran,” jelas Al-Bashri.
“Lebih memercayai yang di tangan Allah” bermakna menyerahkan segalanya, termasuk soal rezeki, kepada Allah; yakin bahwa Allah sudah mengatur segalanya, memberikan yang terbaik bagi kita (sepahit apa pun menurut perasaan manusia), dan tugas kita hanya ikhtiar dan doa.

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa zuhud merupakan sikap meninggalkan apa yang tidak bermanfaat di dunia ini demi kehidupan akhirat.

Dengan kata lain, sikap ini bukanlah sikap yang menjauhi materi. Namun, sikap menganggap materi di dunia ini hanyalah suatu yang sepele. Karena itu, kenikmatan dunia tidak perlu dianggap utama. Nah, di sini kebanyakan kesalahan penafsirannya. Karena dianggap tidak utama, bukan berarti tidak bisa dimiliki. Karena sepele, maka kenikmatan haruslah dengan mudah ditaklukan oleh zahid. Jadi, seorang zahid dapat meraih kekayaan dengan gampang, karena hal sepele itu tadi.

Setelah meraih kenikmatan dunia dengan gampang, orang zahid tidak terbuai. Sikap zuhud ditandai dengan tidak bergantung kepada kenikmatan dunia itu. Karena tidak bergantung, maka orang zahid lebih hebat dari materi. Karena memang itulah posisi manusia, lebih mulia dari apapun, termasuk kekayaan duniawi.

Karena tidak terbuai, maka harta dunia yang dimiliki tidak perlu dipertahankan secara berlebihan. Bahkan tidak perlu meraihnya dengan cara yang curang. Jika diberi kekayaan dunia, maka kekayaan itu dikembalikan lagi buat kesejahteraan bersama. Dan jika tidak diberi, atau diambil kekayaannya, tidak akan kekurangan suatu apapun. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al Qur’an:

اعْلَمُوٓا۟    أَنَّمَا    الْحَيَوٰةُ    الدُّنْيَا    لَعِبٌ    وَلَهْوٌ    وَزِينَةٌ    وَتَفَاخُرٌۢ    بَيْنَكُمْ    وَتَكَاثُرٌ    فِى    الْأَمْوٰلِ    وَالْأَوْلٰدِ    ۖ    كَمَثَلِ    غَيْثٍ    أَعْجَبَ    الْكُفَّارَ    نَبَاتُهُۥ    ثُمَّ    يَهِيجُ    فَتَرَٮٰهُ    مُصْفَرًّا    ثُمَّ    يَكُونُ    حُطٰمًا    ۖ    وَفِى    الْاٰخِرَةِ    عَذَابٌ    شَدِيدٌ    وَمَغْفِرَةٌ    مِّنَ    اللّٰـهِ    وَرِضْوٰنٌ    ۚ    وَمَا    الْحَيَوٰةُ    الدُّنْيَآ    إِلَّا    مَتٰعُ    الْغُرُورِ

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu” (QS. Al-Hadid: 20).

Dari sini kita lihat salah satu kepribadian zuhud. Sikap ini menuntut manusia tidak terlalu girang dan berbangga diri terhadap kemegahan dunia. Semuanya hanya kesenangan yang menipu. Jadi seorang zahid menganggap kenikmatan itu tidak dengan berlebihan. Orang zahid menyikapinya dengan bersyukur dan menggunakan kenikmatan itu di jalan Allah.

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total. Zuhud juga bukan berati harus miskin atau anti-kaya. Para sahabat misalnya, selain ”hidup normal” – mempunyai istri dan harta kekayaan, di antaranya bahkan ada yang kaya raya, namun tetap bersikap zuhud dan tidak melampaui batas. Sahabat yang kaya, selain mengeluarkan zakatnya, juga gemar infak dan sedekah, termasuk mendanai jihad fi sabilillah dan membantu fakir-miskin.

Al-Imam Ghazali menerangkan dalam Ihya ‘Ulumuddin, hakikat zuhud bukanlah meninggalkan harta benda dan mengorbankannya pada jalur sosial untuk menarik perhatian manusia. Orang yang zuhud adalah orang yang mempunyai harta benda, tetapi ia menyikapinya dengan lapang dada, walaupun ia mampu untuk menikmati hartanya itu tanpa suatu kekurangan apa pun. Hatinya tidak ikut condong ke harta, tidak terlalu terikat dengan harta, karena dia khawatir sikap condongnya itu akan membawanya cinta kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mencintai selain-Nya.

Demikianlah, zuhud tidak berarti berdiam diri dan tidak melakukan usaha apa pun untuk mendapatkan rezeki yang halal –menikmati anugerah di dunia. Zuhud juga bukan sikap malas. Seorang zahid sama sekali tidak identik dengan orang fakir yang tidak mempunyai harta apa pun. Seorang zahid adalah orang yang mendapatkan kenikmatan dunia, tetapi tidak memalingkan dirinya dari ibadah kepada Allah. Ia tidak diperbudak dunia dengan segala kenikmatannya.

Bahagia dengan Sikap Zuhud

“Dari Abul ‘Abbas, Sahl bin Sa’ad As-Sa’idi radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata: ‘Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu perbuatan yang jika aku mengerjakannya, maka aku dicintai Allah dan dicintai manusia’. Maka sabda beliau: ‘Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah mencintaimu dan zuhudlah engkau pada apa yang dicintai manusia, pasti manusia mencintaimu” (HR. Ibnu Majah dan yang lainnya, Hadits hasan).

Dari hadits di atas kita ditunjukkan bagaimana hebatnya praktik zuhud demi mencapai kebahagiaan. Dicintai merupakan suatu hal yang paling membahagiakan. Jadi praktik zuhud bisa mengarahkan orang menuju kebahagiaan. Zuhud pada dunia, Allah akan mencintai manusia yang melakukannya.

Kenapa? Karena cinta Alah tidak diduakan dengan cinta kepada kenikmatan duniawi. Tentu Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mencintai orang seperti ini. Bahkan Allah akan melipatgandakan kenikmatan orang yang zuhud terhadap dunia. Logika Islam memang seperti ini. Pertimbangannya, jika kita terlalu bergantung kepada suatu hal yang sementara, maka kita akan cenderung kehilangannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang obsesinya adalah akhirat, tujuannya akhirat, niatnya akhirat, cita-citanya akhirat, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kecukupan di hatinya, Allah mengumpulkan urusannya, dan dunia datang kepada dia dalam keadaan dunia itu hina. Barangsiapa yang obsesinya adalah dunia, tujuannya dunia, niatnya dunia, cita-citanya dunia, maka dia mendapatkan tiga perkara: Allah menjadikan kemelaratan ada di depan matanya, Allah mencerai-beraikan urusannya, dan dunia tidak datang kecuali yang ditakdirkan untuk dia saja.” (Hr. At-Tirmidzi dan lain-lain; hadits shahih)

Secara psikologis, zuhud adalah jalan kebahagiaan manusia. Manusia dibekali nafsu yang tidak akan pernah terpuaskan. Hal ini membuat rumit jika kita tetap memenuhinya. Kita akan diperbudak oleh harta dan berusaha mengejar harta.

“Sekiranya anak Adam memiliki harta sebanyak dua bukit, niscaya ia akan mengharapkan untuk mendapatkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam itu dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah menerima taubat siapa saja yang bertaubat” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Manfaat Zuhud dalam Kehidupan Sosial
Sikap zuhud, seperti dijelaskan di atas, memberikan tekad tinggi bagi seseorang untuk meraih harta sebanyak-banyaknya, karena harta benda itu derajatnya lebih rendah daripada manusia. Namun karena tidak merasa tergantung, maka setelah memerolehnya, seseorang zahid tidak berkeberatan sedikit pun membagi dengan sesama yang kurang beruntung.

Seorang zahid juga akan menjadi pribadi yang rendah hati. Karena menurutnya, harta benda itu bukan sesuatu yang pantas dibanggakan. Semua itu hanya milik Allah dan dipakai untuk kesejahteraan bersama.
Jadi, seorang zahid tidak akan memamerkan kekayaannya di depan umum. Tidak perlu membeli harta benda yang berguna. Orang zahid juga tidak merasa harus mengadakan pesta-pesta besar atau perkawinan megah bagi anak mereka.

Seorang zahid akan selalu tawadhu’, rendah hati berapapun kekayaan yang Allah anugerahkan kepadanya.

“Pandanglah orang yang berada di bawah kalian, jangan memandang yang ada di atas kalian, itu lebih akan membuat kalian tidak meremehkan nikmat Allah” (HR. Muslim).

Orang zahid yang kurang beruntung juga bermanfaat bagi kehidupan sosial. Mereka tidak menggantungkan hidupnya dari pemberian sesama. Mereka memiliki kemandirian dan semangat juang. Mereka percaya bahwa rezeki sepenuhnya di tangan Allah. Manusia hanya diberi wewenang untuk berusaha. Jadi, tidak akan seorang zahid menipu orang lain atau mencuri harta milik orang lain.

Abu Hazim az-Zahid pernah ditanya, “Apa hartamu?” Ia menjawab, “Dua macam. Aku tidak pernah takut miskin karena percaya kepada Allah dan tidak pernah mengharapkan apa yang ada di tangan manusia.” Lalu ia ditanya lagi, “Engkau tidak takut miskin?” Ia menjawab, “(Mengapa) aku harus takut miskin, sedangkan Rabb-ku adalah pemilik langit, bumi serta apa yang berada di antara keduanya.”

Rasa yakin kepada Allah ini yang harus dilatih untuk menjadi seorang zahid.

Demikianlah sikap zuhud akan mempersempit dan bisa menghilangkan kejahatan yang sering disebabkan kesenjangan sosial. Yang kaya tidak bangga dengan kekayaannya dan mudah untuk memberi kekayaannya kepada yang membutuhkan. Yang miskin juga tidak merasa hina dan tidak menggantungkan kehidupannya pada orang lain.

Pribadi zuhud juga diperlukan di bidang pemerintahan. Kita, apalagi sebagai warga Indonesia ini sangat merindukan pemimpin yang zuhud. Pribadi yang mencontoh kepemimpinannya seperti Rasululullah berserta khullafaurasyidin. Pemimpin yang zuhud tidak akan melakukan money politik agar membuat dirinya terpilih. Mereka juga tidak pandang bulu terhadap penegakan hukum. Hal ini karena mereka tidak tergantung pada dunia.

Yang terpenting, pribadi ini tidak tergoda untuk korupsi. Zuhud mengajarkan untuk berhati-hati terhadap harta yang syubhat (tidak jelas) apalagi yang jelas-jelas keharamannya. Ia akan dengan ringan mengatakan “TIDAK!” pada godaan-godaan haram yang mendekatinya. []

Share.

Leave A Reply