Ibadah Haji Perjalanan Menuju Kemenangan

0

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ،

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

 

Kaum Muslimin dan Muslimat yang Berbahagia,

Lantunan takbir, tahlil dan tahmid menghiasi pagi hari ini, hari raya penuh suka cita dan kebahagiaan. Kita, umat Islam patut bergembira dan merayakan hari ini, atas perintah Allah di dalam QS al-Hajj ayat 34:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكًا لِّيَذْكُرُوا۟ اسْمَ اللّٰـهِ عَلَىٰ مَا رَزَقَهُم مِّنۢ بَهِيمَةِ الْأَنْعٰمِ ۗ    فَإِلٰهُكُمْ  إِلٰهٌ وٰحِدٌ فَلَهُۥٓ أَسْلِمُوا ۗ وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah atas binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepadaNya …”

 

Gema puja dan puji, menjadi alunan dzikir kepada Allah Rabbu al-‘Izzah, pada hari bahagia, hari bergembira dan bersuka cita.

 

Ma’asyiral Musliminwal Muslimat Hafizhakumullah,

Ribuan tahun lalu, seorang lelaki membawa istri dan anaknya ke sebuah lembah tiada berpenghuni, lembah yang tandus nan gersang. Harapan besar mengisi relung hati lelaki taat ini, agar Allah Sang Maha Pengasih memberi jalan petunjuk yang terbaik bagi mereka, namun ternyata ujian dariNya masih berlanjut, Allah memerintahkan kepadanya agar meninggalkan anak dan istrinya di tempat itu. Allah menyimpan baginya sebuah rahasia kemuliaan, tersembunyi di dalam rasa pahit kepatuhan, atau getirnya ketundukan kepada Pencipta seluruh makhluk. Lelaki itu seorang nabi, bahkan rasul mulia utusan Allah, yaitu Ibrahim al-Khalil, istrinya wanita salehah yaitu Hajar, putranya anak patuh, yaitu Ismail -‘alaihimussalam-, lembah itu disebut Makkah, lokasi tempat tinggal mereka, yaitu di samping Ka’bah yang belum terbangun.

 

Penggalan sejarah yang pada akhirnya berbuah manis, lembah gersang tadi berubah menjadi kota yang paling ramai saat ini, kegigihan ibunda Hajar buat menyelamatkan putranya menghasilkan sumur zamzam yang tidak akan pernah kering, kesabaran Nabi Ibrahim bersama putranya, Nabi Ismail, untuk membangun Ka’bah, berujung kepada sebuah perjalanan suci yang diwajibkan atas seluruh umat manusia, ibadah haji. Allah berfirman di dalam QS. al-Hajj ayat 27:

وَأَذِّن فِى النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ

“Maka, serukanlah kepada seluruh umat manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai onta yang datang dari segenap penjuru yang jauh”.

 

Ibadah haji telah diwajibkan sejak zaman Nabi Ibrahim –’alaihissalam-, kemudian berlanjut hingga kepada nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wasallam-, sehingga menunjukkan kepada kemuliaan ibadah ini. Berhaji, bukan perjalanan wisata yang menghambur-hamburkan uang tanpa kegunaan, bukan pula pameran kekayaan atau gelar kepada orang lain yang belum melaksanakan, melainkan perjalanan suci untuk mencapai kemenangan, atas nafsu kemewahan atau sifat angkuh sebagai makhluk termulia ciptaan Allah. Ibadah haji, menjadi pelajaran buat usaha menumbuhkan harapan kepada Allah, di tengah himpitan beban hidup yang serba sulit, seperti yang telah pernah dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim –’alaihissalam-, macam-macam ujian yang menghadang, yaitu kemiskinan, kesendirian, kesedihan, dan lain sebagainya.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia,

Semua bagian dari perjalanan ibadah haji, menjadi pelajaran untuk kehidupan yang lebih baik, setelah melalui kesulitan sebelumnya. Sejak awal mula ibadah haji diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, pada zaman Nabi Ibrahim –’alaihissalam-, dijadikan sebagai sebab untuk kemakmuran Kota Makkah. Allah Ta’ala meminta kepada Nabi Ibrahim –’alaihissalam– agar menyerukan kewajiban ibadah haji ini kepada seluruh umat manusia, namun bukanlah perkara mudah, karena tempat itu belum dihuni oleh seorang pun kecuali mereka, hingga akhirnya Allah Subhanahu wa Ta’ala membuka jalan agar seruan ini didengar oleh seluruh umat manusia dan memenuhi panggilan haji dari seluruh pelosok negeri. Amalan-amalan ibadah haji menjadi cerminan sikap yang kuat untuk keluar dari permasalahan hidup, menuju ketenangan, bahkan kemenangan. Tawaf, sa’i, wukuf, bermalam di padang Muzdalifah, melontar jamrah, hingga tahalul, kesemua ini menjelaskan tentang kerja keras, dibarengi oleh kekhusyukan yang dalam dengan dzikrullah, serta sifat tawakal kepada Allah Rabbul ‘Izzah, agar mendapatkan petunjuk buat mengarungi hidup yang lebih baik lagi. Tujuan akhirnya, yaitu haji mabrur, imbalannya surga Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana hadits Nabi –shallallahu ‘alaihi wasallam-:

“…dan haji yang mabrur, tidak ada balasannya kecuali hanya surga”. (HR. Bukhari-Muslim).

 

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat yang Dikasihi oleh Allah,

Ibadah haji juga mengajarkan tentang jalan kemenangan, nilai-nilai amalan haji menunjukkan kepada hal ini, yaitu:

  1. Kedisiplinan waktu dan tempat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mewajibkan pelaksanaan ibadah haji hanya pada waktu yang khusus, yaitu tanggal 8 hingga 13 Dzulhijah, dan bukan sepanjang tahun, bahkan niat ihram untuk berhaji juga dibatasi hanya pada bulan-bulan haji, yaitu bulan Syawal, Dzulkaidah, dan Dzulhijah. Tempat pelaksanaan ibadah haji juga khusus, yaitu Tanah Suci Makkah, Mina, dan Padang Arafah, bukan di seluruh masjid atau tempat selain ini. Kedisiplinan, menjadi salah satu syarat buat sebuah bangsa meraih kemenangan, perbandingannya kepada sebuah pasukan perang, tidak akan memenangkan pertempuran tanpa kedisiplinan. Allah berfirman di dalam QS al-Anfal ayat 45:

يٰأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللّٰـهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

“Wahai orang-orang beriman, apabila kamu memerangi pasukan musuh, maka berteguh hatilah kamu, dan sebutlah nama Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung”.

 

 

Perjalanan ibadah haji menjadi simbol kesabaran tingkat tinggi. Tawaf, sa’i, melontar jamrah, semua ini memerlukan kesabaran yang banyak, bahkan ibadah shalat di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, bersama dengan jutaan kaum muslim, harus dijalankan dengan penuh kesabaran agar tetap bisa khusyuk. Berhaji tanpa kesabaran, sama dengan menghilangkan kenikmatan menjalankannya, karena pelaksanaan ibadah haji, khususnya pada zaman seperti sekarang ini, hanya dapat dirasakan kelezatannya oleh orang-orang yang bersabar.

Kesabaran, juga menjadi nilai utama yang harus dipenuhi oleh suatu bangsa untuk maju dan menang, kesabaran di dalam menjalankan program-program pembangunan mental atau fisik, kesabaran di dalam menghadapi persaingan bangsa-bangsa lain, kesabaran di dalam menjaga nilai-nilai kebaikan dan memerangi segala bentuk penyimpangan, di bidang akidah, pendidikan, pemikiran, hingga moral. Allah berfirman di dalam QS al-Sajdah ayat 24:

وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُواۖ وَكَانُوابِـَايٰتِنَا يُوقِنُونَ

“Maka Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, ketika mereka sabar, dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”.

 

Semua orang yang melaksanakan ibadah haji, pasti memberikan pengorbanan yang besar. Pengorbanan harta benda, fisik, perasaan, dan lain sebagainya, menjadi hal yang lumrah dalam perjalanan ibadah haji, ibaratnya, tanpa pengorbanan, maka ibadah haji seseorang tidak sempurna. Menyembelih hewan dam atau kurban, seakan-akan menjadi simbol pengorbanan yang tinggi untuk sebuah perjalanan ibadah haji.

Telah menjadi sebuah keyakinan, bahwa suatu bangsa akan jaya, apabila melakukan pengorbanan. Pengorbanan untuk menjaga ideologinya, untuk melindungi seluruh nilai kebaikan yang ada pada dirinya sendiri, pengorbanan untuk mengembangkan diri berdasarkan atas tuntutan sifat-sifat kemuliaannya, bahkan pengorbanan untuk memenangkan pertarungan melawan segala kekuatan buruk yang berupaya menguasainya. Allah berfirman di dalam QS al-Saff ayat 10-13, terjemahnya:

“Wahai orang-orang beriman sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu, jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan memasukkan kamu ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adan, itulah keuntungan yang besar. Dan ada lagi karunia yang lain yang kamu sukai, yaitu pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat waktunya, maka sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman”.

 

  1. Nilai universalitas (menyeluruh).

Sebuah bangsa yang hendak maju, berkembang, dan menjadi penguasa, harus berpikiran menyeluruh, dan tidak terbatas hanya pada wilayah negeri atau negaranya semata. Kebaikan yang ada pada dirinya, berupaya untuk dibagi dan disebarkan kepada seluruh penduduk bumi, sistem ilahiyah yang menjadi pokok aturannya, harus untuk dianut oleh semua bangsa, di wilayah negeri manapun mereka berada. Pemikiran ini, sepatutnya ada dan bertahan pada umat Islam, sesuai tuntunan Al-Qur’an dan hadits Nabi, sehingga mereka tidak hanya berpikir untuk kepentingan yang sempit dan terbatas.

Ibadah haji, berisi nilai universalitas ini, seperti yang tampak begitu jelas pada pelaksanaan wukuf di Padang Arafah, atau shalat dan tawaf di Ka’bah, Masjidil Haram. Umat Islam tidak dibatasi oleh kesukuan, warna kulit, atau rambut, dan bahkan tidak oleh negara, budaya dan bahasa sekalipun, maka tidak perlu pula ada pengelompokan Islam Arab, Islam Nusantara, atau Islam Eropa, Amerika, dan Afrika. Umat Islam ditakdirkan oleh Allah untuk menjadi penduduk besar di atas muka bumi ini, semuanya berkumpul bersama di dalam kepatuhan kepada Allah Rabbul ‘Alamin, semuanya mengucapkan lafazh talbiyah yang sama, mengenakan pakaian ihram yang sama, tidak ada keistimewaan bagi bangsa Indonesia atas bangsa lainnya, kecuali dengan sifat takwa. Allah berfirman di dalam QS al-Hujurat ayat 13:

يٰأَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُواۚ إِنَّ    أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللّٰـهِ أَتْقَٮٰكُمْۚ إِنَّ اللّٰـهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah, ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin dan Muslimat yang berbahagia,

Semua nilai-nilai pelaksanaan ibadah haji ini, menjadi pelajaran penting untuk umat Islam di negara manapun mereka hidup, agar dapat bangkit dari berbagai macam krisis yang dihadapi, agar dapat maju menjadi umat yang menang dalam menghadapi musuh di segenap pertarungan: ideologi, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Semua orang Islam yang telah pernah menunaikan ibadah haji, seharusnya dapat menularkan nilai-nilai kebaikan ini kepada sesamanya umat Islam, atau mewujudkan suasana persatuan dan kebersamaan, sebagaimana yang telah pernah mereka rasakan ketika berhaji. Pendidikan dalam perjalanan ibadah haji, bukan hanya berlaku bagi umat Islam yang sedang menunaikannya, melainkan juga bagi muslim lainnya, meskipun mereka tidak sedang menjalankannya. Syariat haji, menjadi madrasah yang pantas bagi seluruh umat Islam, di manapun mereka berada, pelajaran untuk bangkit, maju, dan menang, serta pelajaran untuk menjadi umat pemimpinyang menjalankan aturan-aturan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas alam semesta ini.

Untuk konteks individu, syariat haji juga mendidik untuk menjadi seseorang yang percaya kepada segala keputusan Allah Subhanahu wa Ta’ala, meyakini bahwa takdir Allah pasti menjadi yang terbaik, bukankah ibunda Hajar -‘alaihassalam- telah membuktikan akan hal ini? Pada saat Nabi Ibrahim –’alaihissalam– hendak meninggalkannya di Kota Makkah, Hajar dengan penuh keyakinan berucap:

“… Maka, Allah pasti tidak akan membiarkan kami”.

 

Seorang muslim yakin bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa bersama dengannya, menjaga dan melindunginya, bahkan memberi petunjuk kepadanya agar mampu untuk keluar dari segala permasalahan hidupnya. Ia hanya diminta untuk melakukan ikhtiar dengan tetap bersandar kepada Allah ‘Azza wa Jalla di dalam segala upayanya.

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahilhamdu

Kepada para pemimpin negeri ini, kami berterima kasih atas perhatian dan pelayanan terbaik yang diberikan kepada jamaah haji, di tanah air, dan di tanah suci Makkah dan Madinah. Kami juga mengingatkan bahwa syariat agama Islam, bukan hanya ibadah haji, maka perhatian yang besar seperti ini, juga patut untuk diberikan kepada seluruh syariat Islam yang ada. Perhatian kepada syariat Islam, yaitu dengan melaksanakan aturan-aturan agama di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini akan menjadi jaminan agar keberkahan dapat turun kepada masyarakat, sebagaimana janji Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kondisi perekonomian yang sulit seperti sekarang ini, semoga menjadi peringatan kepada kita sekalian agar mau kembali kepada syariat Allah ‘Azza wa Jalla, oleh karena itu kami mengajak kepada para pemimpin bangsa untuk menjadi teladan di dalam hal ini, mari bersama-sama bertobat kepadaNya, memohon kasih sayangNya yang Maha Luas, menjalankan agamaNya secara sempurna di segala bidang kehidupan bermasyarakat, bidang hukum, pendidikan, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya.

Kepada kaum muslimah, kami ingatkan bahwa anda adalah permata bagi kaum laki-laki, wajar dan bahkan harus untuk dijaga, dan dilindungi. Allah memerintahkan agar kecantikan kaum muslimah dibalut dengan hijab, maka akan semakin terlihat indah dan sempurna, permata akan nampak berkilau apabila diikat oleh cincin yang menutupi bagian-bagian penting di permukaannya. Kaum muslimah selalu menjadi tujuan utama segala bentuk gerakan perusak, di bidang aqidah, pemikiran, dan akhlak, para penjahat ini sangat paham seluk beluk potensi kaum perempuan dalam memasarkan kejahatan mereka, sentimen emosi yang Allah ciptakan di dalam diri kaum perempuan, dieksploitasi besar-besaran oleh kekuatan jahat ini, demi menyebarkan kerusakannya. Kami nasihatkan, jadilah agen kebaikan, dengan iman dan sifat malu yang ada pada diri anda, dan bukan menjadi agen kejahatan, bebaskan diri anda dari segala ikatan kepentingan duniawi yang semu dan sedikit, tolak semua keinginan-keinginan jahat kaum perusak, karena mereka hanya menjerumuskan kaum perempuan ke dalam jurang kegelapan, kepentingan mereka hanya uang, materi, dan syahwat, sehingga menjadikan tubuh, dan kecantikan anda sebagai obyek jualan belaka. Mereka tidak akan peduli terhadap keselamatan dan kebahagiaan anda, kecuali sebatas janji materi duniawi.

Kepada generasi muda, kami harapkan anda dapat menjadi pembuat sejarah, buat diri anda sendiri, atau keluarga, atau bahkan bagi bangsa, negara, dan umat Islam. Mencatat sejarah dengan karya gemilang yang berguna bagi umat manusia, di bidang kemurnian agama, atau bidang lain yang dibutuhkan oleh sesama manusia. Kaum muda selalu memberi optimisme akan kemajuan bangsa dan umat, mereka membawa semangat dan kekuatan yang penuh buat mewujudkan kemaslahatan itu, maka sejajarkan diri anda sekalian dengan para tokoh-tokoh besar dunia ini, mereka tetap dikenang hingga hari kiamat, dengan hasil karyanya pada saat mereka seusia anda sekalian. Berhati-hatilah terhadap teman yang tidak memiliki tujuan hidup jelas, hanya menghabiskan waktu dengan permainan, atau bahkan kemaksiatan, apalagi terhadap kaum musuh yang senantiasa mengintai untuk menjerumuskan kaum muda ke dalam lembah nista, seperti narkoba, seks bebas, atau bahkan perilaku menyimpang, semisal Lesbian, Gay, Biseks, dan Transgender (LGBT). Anda sekalian, wahai kaum muda, lebih pantas untuk menjadi unsur penyebar kebaikan di tengah masyarakat, dengan kekuatan iman yang anda miliki, namun karena hidup ini memang pertarungan, maka bertarunglah dengan kekuatan-kekuatan jahat itu, jangan larut dalam pusaran mereka, orang-orang yang terbawa gaya hidup suatu kaum, pasti akan menjadi generasi yang kalah.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, Laa Ilaha Illallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin dan Muslimat yang Dimuliakan Allah,

Sebelum mengakhiri khutbah ini, berikut panduan singkat pelaksanaan ibadah kurban. Hewan yang dapat dikurbankan adalah domba yang genap berusia enam bulan, atau kambing yang genap berusia setahun, dan sapi yang genap berusia dua tahun. Syaratnya, yaitu hewan kurban tidak boleh memiliki cacat atau penyakit yang bisa berpengaruh pada dagingnya, jumlah maupun rasanya, misalnya: mata picak, atau kaki pincang, dan penyakit pada kulit, kuku atau mulut.

Seekor domba atau kambing hanya mencukupi untuk kurban satu orang saja, sedangkan seekor sapi boleh berserikat untuk tujuh orang, kecuali berserikat pahala maka boleh pada semua jenis tanpa batas. Sebaiknya pemilik kurban yang menyembelih sendiri hewan kurbannya, tetapi bisa diwakilkan kepada penjagal, dengan syarat seorang muslim yang menjaga shalatnya, dan mengetahui hukum-hukum menyembelih, juga upahnya tidak boleh dari salah satu bagian hewan kurban itu sendiri, seperti kulit atau dagingnya, meskipun penjagal atau pengulit bisa mendapat bagian dari hewan kurban sebagai sedekah atau hadiah.

Waktu penyembelihan hewan kurban, yaitu seusai pelaksanaan shalat Idul Adha hingga tiga hari tasyriq setelahnya. Hewan kurban yang telah disembelih dapat dibagi menjadi tiga bagian, sepertiga buat pemiliknya, sepertiga buat hadiah dan sepertiga buat sedekah kepada fakir miskin. Pahala dari hewan kurban bergantung kepada niat yang ikhlas pekurban, oleh karena itu mari menjaga keikhlasan ketika melakukan ibadah mulia ini.

Akhirnya, marilah kita menundukkan hati, menengadahkan tangan, mengharap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Tuhan Yang Maha Esa, meminta dengan penuh rasa dan keyakinan terhadap ijabah dariNya,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Zat yang kepadaNya segala keluh dan kesah dipanjatkan, Zat yang menunjuki jalan keluar bagi seluruh permasalahan. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Sang Rasul tercinta, para keluarga dan sahabatnya, manusia-manusia terbaik yang pernah hadir di muka bumi.

Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami, tiada Tuhan yang berhak disembah  selain Engkau. Engkau telah menciptakan kami, maka kami adalah hambaMu yang senantiasa berusaha menepati ikrar dan janji kami kepadaMu dengan segenap kekuatan yang kami  miliki. Kami berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatan kami. Kami mengakui betapa besar nikmat-nikmatMu yang tercurah kepada kami, dan kami tahu dengan segenap kesadaran betapa banyak dosa yang telah kami lakukan. Karenanya, ampunilah kami Ya Allah, sungguh tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kami selain Engkau.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar kepada mereka. Ampuni sikap tidak peduli kami terhadap mereka. Berikan kami kesempatan untuk berbakti pada mereka. Lembutkan hati kami kepada orang tua kami, dan hati mereka buat kami agar ridha mereka mengantar kami kepada RidhaMu. Ya Allah jika Engkau telah memanggil mereka ke haribaanMu, maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rahmatMu, dan pertemukan kami dengan mereka dalam keabadian nikmat surgaMu.

Ya Allah curahkanlah berkah buat keluarga kami, jadikan mereka penyejuk pandangan mata dengan ketaqwaan dan ketaatan padaMu, lindungi keluarga kami dari segala marabahaya, jauhkan anak-anak kami dari kawan-kawan jahat, serta bimbinglah mereka agar menjadi anak-anak yang saleh, dapat berbakti kepada orang tua, agama, dan bangsanya.

Ya Allah Ya Tuhan kami, berilah petunjuk kepada para pemimpin negeri kami, curahkan hidayahMu buat mereka, agar mampu membawa bangsa kami menuju ridhaMu, bukalah hati mereka agar kembali kepada agamaMu, menjalankan syariat dan hukum-hukumMu. Ya Allah, berikan mereka kekuatan untuk menolak segala kepentingan jahat musuh-musuhMu, turunkan taufikMu kepada mereka agar dapat berbuat untuk kemaslahatan bangsa kami, dan umat Islam di seluruh belahan dunia. Ya Allah, Rabb kami, berkahilah negeri kami ini dengan ketaatan, dan jauhkan dari kami azabMu akibat perbuatan zhalim para pelaku dosa di antara kami.

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Kuat, Yang Maha Perkasa. Kami yakin bahwa kesombongan musuh-musuhMu terlalu kecil di hadapan sifat perkasaMu. Kami memohon kepadaMu dengan sifat izzahMu, runtuhkanlah kesombongan musuh-musuh Islam, dan telah menyakiti saudara-saudara kami di seluruh dunia, hancurkanlah kekuatan zionis yang menzhalimi umat Islam di Gaza, Palestina, balaslah perbuatan semena-mena kaum Budha di Myanmar atas saudara-saudara muslim kami, suku Rohingya di Arakan, jatuhkanlah rezim tirani jahat di Suriah, mereka telah membantai saudara-saudara kami tanpa belas kasih, atau mengusir saudara-saudara kami, sehingga mereka hidup terlunta-lunta menjadi pengungsi, tanpa rumah tempat tinggal, atau kehidupan yang layak. Ya Allah, hanya kepadaMu kami mengadukan segala penindasan ini, sungguh kami yakin bahwa janjiMu pasti benar, semua kekuatan pelaku kezhaliman pasti hancur dan kalah.

Ya Allah inilah doa dan permintaan kami, Engkaulah Yang Maha Mendengar dan Maha Kuasa mengabulkan doa kami.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْكَ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Share.

Leave A Reply