Indahnya Amanah

0

Ketika seorang manusia terlahir di muka bumi ini ia telah membawa  amanah yang mulia dari Allah Ta’ala yaitu sebuah janji yang diucapkannya pada awal penciptaan-Nya bahwa ia akan senantisa menghambakan dirinya semata-mata hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana yang disebutkan oleh Allah Ta’ala : “Bukankah Aku ini Tuhanmu? mereka menjawab betul (Engkau Tuhan kami) kami bersaksi.” (QS al-A’raf: 172). Inilah amanah yang besar itu, bahwa setiap kita akan senantiasa tunduk dan patuh dalam menjalankan semua bentuk penghambaan kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Dalam konteks yang lain, syari’at  mewajibkan bagi setiap muslim untuk senantiasa menjaga amanah yang datang dari manapun sebagai konsekwensi janji dan amanahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala karena menjaga dan menunaikan amanah itu sendiri adalah kewajiban yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah dan para sahabatnya serta ulama’ sholeh terdahulu adalah merupakan contoh teladan dalam menjaga setiap amanah yang mereka terima, ketekunan dalam beribadah, sifat penderma melibihi sayangnya kepada diri mereka sendiri, kecintaan kepada ummatnya dan sifat-sifat keagungan lainya yang menjadi salah satu sebab terpilihnya mereka sebagai pengemban risalah ini. Para pembaca yang budiman marilah kita melihat kehidupan manusia- manusia pilihan Allah ini dalam menjaga amanah-amanah mereka,

1. Sifat amanah Rasulullah
Suatu hari dalam perjalanan pulang dari sebuah pertempuran Rasulullah bersama pasukan (sahabat) beristirahat di suatu tempat, tidak ada tempat untuk berlindung dari sengatan terik matahari hamparan padang pasir membuat panasnya kian menjadi-jadi. Para sahabat tidak tahan melihat Rasul mereka terbakar matahari. Beberapa sahabat berinisiatif memayungi Rasulullah, tapi lagi-lagi tak ada yang bisa mereka gunakan untuk payung. Akhirnya mereka mengambil selembar kulit kambing yang sudah di keringkan, kulit kambing itu sendiri merupakan ghanimah {rampasan perang} yang belum di bagikan, karenanya tidak ada seorangpun yang berhak menggunakannya. Melihat tindakan baik para sahabatnya, Rasulullah justru tidak mau di payungi, Beliau lantas berkata, “Relakah kalian jika nabi kalian bernaung di bawah api neraka?”.

Maksud dari perkataan Rasulullah tersebut, Beliau tidak rela di payungi dengan kulit kambing yang statusnya masih rampasan perang yang belum di bagi. Sehingga belum jelas pemiliknya. Dalam ajaran islam, mengambil atau menggunakan harta rampasan perang merupakan tindakan dosa {ghulul}. ketakutan Rasulullah Shallallahu ‘’Alaihi wa Sallam merupakan cerminan dari penghayatannya atas firman Allah,

”Tidak mungkin seorang Nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu. maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatinya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan, dengan pembalasan yang setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. “ (QS. Ali Imran:161).

Dalam sebuah pembicaraan Rasulullah dan seseorang bersepakat untuk bertemu disuatu tempat, ketika Rasulullah sudah berada ditempat tersebut orang itu tak kunjung datang hingga tiga hari berturut turut padahal Rasulullah terus mendatangi tempat tersebut, setelah bertemu diwaktu yang lain Rasullullah mengingatkan orang tersebut bahwa beliau telah menunggunya selama 3 hari.

2. Sifat amanah ‘Umar bin Khattab
‘Umar bin Khattab memberikan contoh bagaimana beliau begitu amanah dalam kepemimpinan beliau, dalam  permasalahan korupsi ketika beliau menjadi Khalifah Islamiyah, dengan mengharuskan seluruh pejabat maupun pegawai untuk menghitung harta kekayaannya sebelum menjabat dan setelah masa jabatannya selesai, jika terdapat kelebihan, maka kelebihan itu akan dimasukkan kedalam baitul mal. Beliau menetapkan larangan bagi seluruh pejabat untuk melakukan bisnis atau kegiatan perdagangan ketika berdinas, dan harus mecurahkan seluruh perhatiannya kepada rakyat. Beliau juga membuat biro khusus untuk mengawasi harta kekayaan pejabat. Biro ini di ketuai oleh Sahabat Muhammad bin Maslamah dan sanksi bagi yang melanggar adalah peringatan, penyitaan harta dan pemecatan hingga hukuman.

3. Sifat amanah Umar bin Abdul Aziz
Umar bin Abdul Aziz adalah pemimpin yang sangat wara’, zuhud, bersih, dan peduli pada umat. Istrinya menceritakan bahwa pada suatu hari sedang di kamar tidur dan ingat tentang akhirat, beliau gemetar seperti burung dalam air, duduk, dan menangis. Sedangkan perhatiannya kepada umat sangat besar. Ketika akan istirahat siang sejenak karena lelah melaksanakan tugas, anaknya memberi nasihat, ”Apakah Ayah menjamin umur ayah akan panjang sesudah istirahat sehingga menunda banyak urusan yang harus diselesaikan?” ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz tidak jadi istirahat dan langsung meneruskan tugasnya.

4. Sifat amanah Ibrahim bin Adham
Ibrahim bin Adham pernah menjadi penjaga kebun milik orang kaya. Dia menjaga kebun tersebut dengan terus memperbanyak shalat. Satu hari, pemilik kebun meminta dipetikkan buah delima. Ibrahim mengambil dan memberinya. Tapi pemilik kebun malah memarahinya. Ia tersinggung karena diberikan buah delima yang asam rasanya,  “Apa kau tak bisa membedakan buah delima yang manis dan asam?” Ibrahim menjawab, ”Aku belum pernah merasakannya.” Di hari lain, majikan kembali meminta buah delima. Kali ini Ibrahim memberi yang terbaik menurut pengetahuannya. Tapi lagi-lagi pemilik kebun kecewa karena buah yang dia terima asam rasanya. Diapun memecat Ibrahim, kemudian beliau pun pergi.

Di perjalanan, ia menjumpai seorang pria yang sekarat karena kelaparan. Ibrahim memberinya buah delima yang tadi ditolak majikannya. Beberapa waktu kemudian Ibrahim berjumpa dengan pemilik kebun yang berniat membayar upahnya. Ibrahim berkata agar dipotong dengan buah delima yang ia berikan kepada orang sekarat yang ia jumpai. “Apa engkau tak mencuri selain itu?,” tanya pemilik kebun. “Demi Allah, jika orang itu tidak sekarat, aku akan mengembalikan buah delimamu.” Setelah upahnya dibayar Ibrahim pun pergi.

Setelah setahun kemudian pemilik kebun mendapat tukang baru. Dia kembali meminta buah delima. Tukang baru itu memberinya yang paling harum dan manis. Pemilik kebun itu bercerita bahwa ia pernah memiliki tukang kebun yang paling dusta karena mengaku tak pernah mencicipi delima, memberi buah delima kepada orang yang kelaparan, minta dipotong upahnya untuk buah delima yang ia berikan kepada orang kelaparan itu, ”Betapa dustanya dia,” kata pemilik kebun. Tukang kebun yang baru lantas berujar. ”Demi Allah, wahai majikanku. Akulah orang yang kelaparan itu. Dan tukang kebun yang engkau ceritakan itu dulunya seorang raja yang lantas meninggalkan singgasananya karena zuhud.” Pemilik kebun lantas mengambil debu dan menaburnya di atas kepalanya sembari menyesali, ”Celaka, aku telah menyia-nyiakan kekayaan yang tak pernah aku temui.”

Kalau kita melihat cerita diatas bagaimana sifat amanah yang dimiliki oleh manusia pilihan Allah itu, nama dan sejarah mereka terukir dengan tinta emas dan dijadikan pelajaran sepanjang masa bagi pengikut-pengikutnya, sepertinya sesuatu yang mustahil, tapi begitulah rahmat dan hidayah Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Tentunya kita tidak hanya sekedar takjub dengan kehidupan mereka, kita perlu banyak bertanya kepada diri kita masing-masing sudahkah kita menjadi orang yang amanah? Coba kita jawab dengan jujur pertanyaan-partanyaan berikut sebagai bentuk muhasabah: 1. Sudahkah kita menunaikan seluruh hak Allah dan Rasul-Nya?, 2. Apakah kita telah menjadi pemimpin yang adil terhadap bawahan?, 3. Sudahkah kewajiban sebagai suami/istri kita jalankan?, 4. Apakah anak kita telah terdidik dengan baik yang merupakan amanah dari Allah?, 5. Berapa janji telah kita lalaikan?, 6. Apakah harta yang kita dapatkan bebas dari syubhat?, 7. Tepat waktukah kita kekantor dan juga pulangnya?, 8. Selesaikah tugas yang diamanahkan tepat pada waktunya?, sudahkah…?, selesaikah…?, apakah…?

Mari kita merunungi firman Allah dan  hadits Rasulullah berikut : ”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (QS. Al Anfaal: 27). Dan dalam hadits telah disebutkan mengenai peringatan tentang sifat-sifat orang munafik, Rasulullah bersabda, “Ada empat hal, yang jika ada pada seseorang maka ia menjadi munafik sesungguhnya, dan jika orang memiliki kebiasaan salah satu daripadanya, berarti ia memiliki kebiasaan (ciri) nifaq sampai ia meninggalkannya. Bila dipercaya ia berkhianat, bila berbicara ia berdusta, bila berjanji ia memungkiri dan bila bertengkar, ia berucap kotor” (HR. Bukhari Muslim). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda, ”Tanda orang munafik ada tiga: apabila berbicara ia dusta, apabila berjanji ingkar, dan apabila dipercaya ia berkhianat” (HR. Bukhari Muslim). Dimana Allah mengancam sangat keras orang munafik, Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka, dan kamu tidak mendapatkan seorangpun penolong bagi mereka” (QS. an-Nisa: 145). Yang jelas menjaga amanah adalah sesuatu yang sangat berat bahkan langit, bumi, gunung, enggan untuk memikul amanah karena kekhawatiran mereka tidak mampu untuk melaksanakannya (QS. Al-ahzab: 72), saat ini sifat amanah memang seperti “barang langka”. Tapi bukan berarti  kita harus hanyut dalam pusaran orang-orang yang suka melanggar amanah. justru karena langkanya, orang yang memilikinya adalah orang yang luar biasa.

Disamping itu kita juga kita tidak putus asa dan tetap mengharapkan rahmat dari Allah dengan banyak berdoa, serta melatih diri kita untuk menjadi orang yang senantiasa amanah sebab ada janji yang besar yang disediakan oleh Allah bagi orang yang mampu menunaikan amanahnya. Allahul Musta’aan.
*Disadur dari berbagi sumber*(Abu Royyan)

Share.

Leave A Reply