Karena Waktu Seperti Pedang

0

Al waktu kas saif (waktu ibarat pedang), begitulah pepatah arab menyebutkan. In lam taqtho’hu yaqtho’uka (kalau kau tak memotongnya maka dia yang akan memotongmu). Memotong waktu itu adalah dengan tidak membiarkannya sia-sia sedang dipotong oleh waktu adalah dibuai oleh waktu dalam kesia-siaan.

Kehidupan terus berputar, saat demi saat terus berganti hingga tahun pun turut berganti. Kehidupan terus berputar laksana roda atau gelombang. Bukan soal apa yang terjadi dalam kehidupan kita, tapi bagaimana kita menjalani kehidupan ini. Muhasabah paling sederhana untuk sebuah kehidupan adalah, apa yang sudah saya lakukukan kemarin dan hari ini? kemudian apa yang harus saya lakukan saat ini dan besok?

Muhasabah akan melahirkan perbaikan dalam kehidupan kita, sebab berawal dari muhasabah selanjutnya kita dapat mengenal sisi kelemahan, kekurangan serta kelebihan kita. Maka tanpa muhasabah sudah dapat dipastikan kita akan menjadi orang yang sulit untuk melakukan perubahan dalam kehidupan kita. Umar bin Khattob -radhiyallahu ‘anhu- pernah berkata: “Haasibuu anfusakum qobla an tuhaasabu (hisablah dirimu sebelum kalian dihisab).

Banyak orang yang kita saksikan, secara drastis mengalami kemajuan dalam hidupnya. Kemajuan dalam ilmu, amalan dan kedudukan. Seolah tak percaya, kita saksikan dia begitu berubah. Ada rasa iri dan bangga melihat mereka, tak lain dan tak bukan itu adalah buah dari Muhasabah.

Pendeknya, dengan muhasabah kita kenal diri kita kemarin dan har ini lalu dengan modal ini kita dapat mempersiapkan hidup yang lebih baik di hari yang akan datang. Tanpa muhasabah maka kita tak akan pernah tau diri kita, dan bila kita tak pernah tau diri kita sendiri, maka kita akan tetap hidup seperti hari ini dan tak aka nada perubahan.

 Masa lalu adalah cerminan masa depan
Allah memang menginginkan kita memiliki masa depan yang baik. Karena itulah Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya surat al-Hasyr : (59 : 18) (yang artinya)

“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah dia persiapkan untuk masa depannya(di akhirat)”

Kehidupan dunia hanyalah laksana persinggahan. Sangat singkat untuk dijadikan cita-cita abadi, sangat pendek untuk dibangunkan harapan bahagia jangka panjang.

Bila saja kehidupan yang singkat ini tak berhasil menjadikan kita baik dimasa depan, itu berarti kita sedang tertipu. Seperti seekor serangga yang terpukau keindahan sarang laba-laba, lalu dia hinggap dan tak dapat lagi lepas darinya hingga kematian menjemputnya dan tinggallah ia menyesali kebodohannya yang tak kenal bahaya dibalik tawaran keindahan fatamorgana.

Bagaimana kita yang lalu dan hari ini, maka begitu pulalah kemungkinan kita di hari nanti. Kaidah mengatakan al jaza-u min jinsil amal balasan itu berbanding lurus dengan perbuatan. Siapa yang menanam benih maka dia pulalah yang akan memanennya.
Raih masa depan yang baik dengan kesyukuran

Sahabat pembaca yang pandai bersyukur, memang kita tak sehebat para Nabi dan Rasul dalam keimanan pada Allah Jalla wa ‘Ala, juga tak sehebat para sahabat dan sahabiyah yang senantiasa membenarkan dan mengamalkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Namun paling tidak, dengan kesyukuran kita yang tinggi pada segenap nikmat Allah, yang selama ini diberikan-Nya pada kita, dapat menjadikan kita dekat dengan mereka di hari nanti yang abadi.

Tak terhitung sudah nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Setiap waktu bahkan satuan terkecil dari waktu, setiap saat. Kita tak pernah lepas dari nikmat-nikmat Allah. Bila saja kita lancang untuk menghitungnya maka kita pun tak akan mampu menghitungnya.

Sungguh Allah, sayang kita, maka nikmat itupun masih diberikannya untuk menambah kebahagiaan kita dipermukaan bumi ini. Maka pertanyaannya adalah; sudah bersyukurkah kita? Bagaimana kita mensyukurinya?

Sahabat pembaca yang pandai bersyukur, sesungguhnya sesuatu yang berharga terkadang barulah berarti kehadirannya ketika dia telah hilang dari hidup kita. Seperti kesehatan barulah terasa nikmatnya ketika tubuh tertimpa sakit. Waktu luang terasa artinya ketika kesempitan telah datang. Harta terasa pentingnya ketika kebutuhan telah mendesak. Dan begitu seterusnya. Sayang, ketika sudah hilang maka itu berarti kita telah terlambat. Kesempatan telah berakhir, dan tinggallah kita menyesali kelalaian kita.

Begitu pulalah kehidupan ini, saat nafas masih berhembus, maka sangat sedikit sekali kita mensyukurinya, yang ada hampir saja mirip fir’aun yang berlaku sombong lagi angkuh, memanfaatkan nikmat Allah untuk kedurhakaan pada-Nya, na’udzu billahi min dzalik .

Kembali ke soal muhasabah, tak terasa kita telah berada di akhir-akhir bulan dzulhijjah, itu artinya tahun 1432 Hijriyah yang selama ini kita hidup di dalamnya sebentar lagi pergi meninggalkan kita, dan dia tak akan pernah lagi kembali. Ada banyak hal yang telah kita lakukan selama ini di dalamnya. Dari yang baik-baik sampai yang tidak baik. Sebenarnya tak ada yang menjamin kita dapat bertemu dengan tahun 1433 Hijriyah dengan selamat sehat sentosa, sebab maut tak pernah kita tahu kapan datangnya. Boleh jadi besok, bahkan bisa saja hari ini.

Untuk segala nikmat yang telah Allah berikan, sekali lagi adakah kita telah mensyukurinya? Jangan sampai maut datang barulah kita tergopoh-gopoh ingin mensyukurinya. Terlambat itu sudah terlambat, hanya penyesalan yang akan kita dapatkan.

Suatu hari Aisyah-radhiyallahu ‘anha– istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia bertanya tentang ibadah Rasulullah yang begitu tinggi padahal beliau telah dijamin masuk syurga dan telah diampuni dosanya yang telah lalu dan akan datang. Apa jawab beliau? Afalaa an akuna ‘abdan syakuroo?! Tidakkah saya pantas menjadi hamba yang bersyukur? Subhanallah! Beginilah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam–  mengajari kita cara bersyukur. Mensyukuri nikmat- yang telah Allah berikan dengan cara meninggkatkan ibdah kepada Allah –subhanahu wa ta’ala- bukan justru sebaliknya menjadikan nikmat itu sebagai sarana berbuat dosa kepada-nya.

Sahabat pembaca yang pandai bersyukur, nikmat umur, nikmat waktu, nikmat kesehatan dan nikmat kesempatan yang masih Allah berikan pada kita saat ini, membutuhkan sikap syukur kita sesegera mungkin. Jalannya tak lain dengan memanfaatkan semuanya untuk ibadah kepada Allah Jalla wa ‘Ala.

Beribadah dengan waktu kita, caranya adalah memanfaatkan waktu kita melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjamin pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti melaksanakan kewajiban-kewajiban dan menghindari larangan-larangan Allah.

Beribadah dengan kesehatan kita yakni dengan memanfaatkan kesehatan fisik kita untuk pelaksanaan ibadah-ibadah dengan baik seperti shalat, haji dan sebagainya.

Beribadah dengan masa muda kita, yaitu dengan memanfaatkannya pada hal-hal yang dicintai dan diridhoi oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala penyebaran kebaikan, pencegahan kemungkaran untuk terwujudnya sebuah masyarakat yang berperadaban, membutuhkan tenaga-tenaga muda yang terarah.

Akhirnya, tak ada kata terlambat untuk sebuah perubahan, kecuali bila kematian benar-benar telah datang.

Hidup kita seberapapun lamanya hanyalah kehidupan yang pendek bila dibandingkan dengan kekalnya kehidupan akhirat. Kerena itu marilah kita bersabar untuk mengisinya dengan ketaatan pada Allah dalam wujud taat pada perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangnnya serta cobaan-cobaannya.

Karena hidup hanya sebentar, maka bila kita tak memanfaatkannya dengan baik maka kita akan menyesal selamanya. Mari kita perhatikan bagaimana Allah mengabarkan penyesalan orang yang hidupnya tidak taat ketika dunia:

“Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.” (QS Al-Mu’minun: 99-100)

Sahabat pembaca yang pandai bersyukur, untuk muhasabah lebih awal nabi mengingatkan dalam hadits Tirmidzi: “Tidak akan bergeser kaki seorang hamba dari hadapan Tuhannya pada hari kiamat nanti sampai mereka ditanya tentang 4 perkara; tentang umurnya dimana ia habiskan, tentang masa mudanya dimana ia penuhi, tentang hartanya darimana dia dapatkan dan kemana dia belanjakan dan tentang ilmunya apa yang telah dia lakukan dengannya”

Mari kejar negri akhirat dengan segenap nikmat yang Allah berikan. Duapuluh empat jam hidup kita mari isi dengan ibadah. Maka saat ini tanyalah diri kita, apa yang telah saya lakukan kemarin dan hari ini? Adakah kita telah mensyukuri nikmat-nikmat Allah dengan ibadah? Lalu renungkanlah, apa yang harus saya lakukan saat ini dan besok, sebelum terlambat!

Oleh: Syahrullah Hamid.

Share.

Leave A Reply