Kelalaian dan Kesalahan Orang Tua dalam Mendidik Anak (8)

0

Pada edisi lalu (tulisan 1 -7 ) telah kami sebutkan 35 bentuk kelalaian dalam mendidik anak. Berikut ini kembali kami sebutkan beberapa kelalaian yang lain, dan masih merupakan kelanjutan dari kelalaian sebelumnya. Diantara bentuk-bentuk kelalaian itu adalah:

36.    Memberikan Pembelaan Anak Secara Langsung, Terlebih Saat di Sekolahnya

Terkadang terjadi salah seorang guru atau mentor di sekolah memarahi atau menghukum salah seorang siswa, kemudian orangtuanya datang dan marah be­sar. Bukannya melakukan dialog dengan penanggung jawab sekolah, bukannya ungkapan tersebut dilontar­kan jauh dari penglihatan anaknya, tetapi sang ayah mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kotor kepada guru atau penanggung jawab sekolah, menumpahkan kemarahannya kepadanya, dan merendahkannya di hadapan anaknya.

Sikap orang tua seperti ini akan menjadikan nilai kewibawaan sekolah berkurang di mata si anak, dia akan merasa bangga, pongah dan menyombongkan diri, sehingga menjadi kurang perhatian dan menyepelekan pelajaran dari para guru dan pembimbing.

37.    Tidak Segera Menikahkan Anak Jika Kondisi Memungkinkan

Di antara orang tua ada yang tidak peduli dengan masalah ini, mereka tidak segera menikahkan anak-anaknya padahal anaknya sudah merasa butuh untuk menikah, dan kondisi finansial orangtua mampu untuk menikahkan mereka.

Ini adalah kesalahan besar; karena dapat menyebabkan permasalahan yang lebih besar terhadap pribadi dan umat. Sebab, diri anak tersebut masa mudanya terabaikan untuk menikah hingga pada usia yang sudah telat, karenanya kehormatan dan akhlak tergadaikan.

Terkadang si anak yang tidak segera dinikahkan dapat mengalami penyakit fisik, baik karena kecelakan mobil atau lainnya, sehingga tidak memungkinkan untuk menikah dengannya, dan tidak ada seorang yang mau mengambilnya sebagai menantu, maka siapa gerangan yang akan merawatnya, terlebih lagi jika kedua orang tuanya sudah lanjut usia sehingga tidak ada lagi yang mengurus dirinya, bahkan terkadang tidak ada seorangpun yang meliriknya sepeninggal orang tuanya.

Demikian halnya terkadang kematian telah menghampiri si pemuda yang diakhirkan masa pernikahannya, maka dia meninggal dunia tanpa meninggalkan keturunan yang nantinya dapat mendoakan yang baik untuknya, menyebut kebaikan dan menghidupkan penyebutannya.

Sekiranya dia hidup dengan usia yang lama, maka barangkali dia hidup dalam keadaan rapuh, terserak dan sangat rentan kepada fitnah.

Seorang yang mengakhirkan pernikahannya, dia akan terhalangi merasakan ketenangan jiwa, kedamaian hati, dan keutamaan-keutamaan lain dari pernikahan.

Pernikahan itu pada prinsipnya dianjurkan dalam syariat Islam, tingkatan terendah hukumnya adalah mubah (boleh). Bahkan, seorang yang merenungkan dalil-dalil syara’ menemukan indikasi hukum tidak hanya terbatas pada mubah semata, akan tetapi sunnah atau wajib.

Sebagian ulama berpendapat bahwa pernikahan adalah fardhu ‘Ain (kewajiban personal) yang menja­dikan orang yang tidak melaksanakannya ketika dalam keadaan mampu akan berdosa. Demikianlah pendapat Madzhab Zhahiriyyoh (Abu Dawud Azh-Zhahiri). Dite­gaskan oleh Imam Ibnu Hazm bahwa pernikahan huk­umnya wajib bagi laki-laki, tidak kepada wanita.

Sedangkan Al-Kasani mengutip dari beberapa Ulama Madzhab Hanafi, bahwa hukum menikah adalah fardhu kifayah, sebagaimana Jihad dan shalat Jenazah, sedangkan menurut ulama yang lain hukumnya wajib.

Kelompok Hanafiyah yang mengatakan hukum wajib, di antaranya menggolongkan wajib kifayah se­bagaimana hukum menjawab salam, dan sebagian lagi menggolongkan wajib ‘Ain dalam aplikasi bukan dalam keyakinan kepada personal sebagaimana zakat fitrah dan menyembelih qurban.

Pendapat ulama yang mengatakan wajib adalah riwayat dari Imam Ahmad yang merupakan pendapat pendapat madzhab Hanbali.

Sebagian madzhab Syafi’i Iraq mengatakan bahwa hukum menikah adalah fardhu kifayah, dan penduduk suatu negeri dapat diperangi apabila menolak melak­sanakannya.

Kalangan ulama yang berpendapat bahwa hukum menikah adalah fardhu, atau wajib ‘ain atau bahkan wajib kifayah mendasarkan kesimpulan hukumnya pada teks-teks yang memerintahkan untuk menikah. Seperti dalam firman Allah Ta’ala,

“Dan jika kamu kha­watir tidak akan mampu berlaku adil terhadap (hak­-hak) perempuan yatim (bilamana kamu menikahinya), maka nikahilah perempuan (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.” (Terjemahan QS. An-Nisaa’: 3)

“Dan nikahkanlah orang-orang yang masih mem­bujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (Terjemahan QS. An-Nur: 32)

Dan jugs hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya:

“Wahai kawula muda, siapa saja dari kljian yang mampu [punya bekal untuk menikah], hendaknya dia menikah, sebab menikah itu lebih dapat menundukkon pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan siapa saja yang belum mampu, hendaknya dia berpuasa, sebab (puasa) itu dapat menjadi peredam (penawar nafsu syahwat). (H.R. Bukhari).

Menurut mereka “amr (perintah)” itu untuk indikasi wajib, dan dalam kajian dalil di atas tidak ada faktor atau sesuatu yang dapat mengalihkan makna dari hukum wajib. Dikuatkan lagi hukum wajib tersebut dengan hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa menikah itu merupakan sunnah beliau, dan pengingkaran beliau terhadap orang yang menolak menikah dan orang yang berniat untuk membujang.

Mayoritas ulama mengatakan hukum nikah itu sunnah (dianjurkan) bagi seorang yang menginginkannya yang tidak dikhawatirkan terjerumus ke dalam perbuatan zina. Jika harapan dan keinginan itu kuat, sekiranya tidak dikhawatirkan akan terjerumus ke dalam perbuatan zina maka wajib baginya untuk menikah selama dia mempunyai kemampuan pada konsekuensi dan bebannya.

Demikianlah kajian singkat berkaitan dengan pendapat para ulama tentang pernikahan dan urgensinya. Kendati demikian, engkau dapati beberapa orang tua tidak memberi perhatian pada masalah ini; yang justru berakibat buruk terhadap anak secara khusus dan kepada umat secara umum.

Adalah keharusan bagi para orang tua untuk memahami hal ini, dan hendaknya menikahkan anak-anaknya ketika mereka membutuhkan dan kondisi orang-orang tua juga memungkinkan.

38.         Menikahkan Anak Secara Paksa

Contoh pemaksaan orang tua kepada anaknya un­tuk menikah, meskipun kepada seseorang yang tidak dicintai, seperti perkataan orangtua kepada anak laki-­lakinya, “Nikahilah puteri pamanmu!, atau puteri paman dari lbumu!, atau puteri ini! Atau puteri saudagar ini! Dan lain-lain”.

Jika sang anak tidak mau menikah, maka orang tua marah besar, bahkan hingga mendiamkannya.

Perlakuan seperti ini tidak diperkenankan; tidak ada hak bagi orang tua untuk memaksa anaknya menikah dengan puteri dari keluarga tertentu, atau puteri yang lain. Barangkali anak melihat sisi lain yang tidak tampak terlihat oleh orang tua, sehingga dia tidak mempunyai ketertarikan pada wanita yang ditunjukkan oleh orang­tuanya, bisa jadi dia sudah mempunyai keinginan pada keluarga lainnya, dan alasan-alasan lainnya.

Memang, ada hak bagi para orang tua untuk meng­arahkannya, dan juga hak bagi mereka untuk berusaha meyakinkan anaknya dengan menjelaskan peluang-­peluang (harapan) yang dimiliki oleh calon peminangnya, serta memperlihatkan segala kemungkinan dan kekurangan kepadanya.

Akan tetapi tidak ada hak bagi mereka berdua untuk memaksakan pilihan kepadanya; bahkan terkadang dapat membahayakannya karena menginginkan kemanfaatannya.

Berharap manfaat, lalu terancam bahaya tanpa sengaja

Dari berbakti bisa menjadi durhaka

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada hak bagi salah satu dari kedua orang tua untuk memaksa anaknya menikahi wanita yang tidak diinginkannya. Bahwasanya ketika dia menolak, maka itu tidak dapat disebut durhaka. Jika tidak ada hak bagi seseorang untuk memaksakan orang lain mengkonsumsi sesuatu yang dia hindari padahal dia mampu untuk mengkonsumsi makanan yang dia sukai, maka nikah juga seperti ini, dan bahkan lebih utama lagi. Jika seseorang memakan sesuatu yang tidak disukainya maka pahitnya makanan tersebut hanya sesaat, sedangkan kebersamaan pasangan yang tidak diinginkan sepanjang waktu sangat menyiksa pelakunya, dan tidak mungkin dia melepaskannya.”

(Bersambung Insya Allah)

Sumber : Disalin dari buku “Jangan Salah Mendidik Buah Hati” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al Hamd.

Share.

Leave A Reply