Ketetapan-Ketetapan Syariat Dalam Mempersatukan Barisan Pengikut Salaf (3)

4

3. Husnu zhan (berbaik sangka) kepada para ulama yang mulia.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُونُوا خَيْراً مِنْهُمْ وَلا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْراً مِنْهُنَّ وَلا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلا تَنَابَزُوا بِالأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْأِيمَانِ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain, (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman, dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS. al-Hujurat: 11)
Perhatikanlah redaksi ayat ini. Setelah sebelumnya Allah menetapkan keimanan kedua belah pihak yang saling berperang, dalam firman-Nya:  وَإِنْ طَائِفَتَانِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اقْتَتَلُوا  ) Dan jika ada dua golongan dari orang-orang mu’min berperang ), Allah kemudian memerintahkan untuk mendamaikan antara mereka:  فَأَصْلِحُوا بَيْنَهُمَا (maka damaikanlah antara keduanya). Dan akhirnya Allah menetapkan satu kaidah penting dalam ayat selanjutnya:

( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ )

“Sesungguhnya orang-orang Mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. al-Hujurat: 10)
Setelah pada ayat ini Allah memerintahkan kaum Mukminin untuk bertakwa, maka pada ayat selanjutnya (ayat ke-11) Allah Ta’ala melarang mereka dari mengolok-olokkan kaum yang lain, mencela, dan memanggil dengan gelar yang buruk. Sebab semua perbuatan ini akan menimbulkan kelaliman, jiwa yang panas membara selalu disebabkan terbakarnya bara amarah di hati, dan keburukan itu umumnya diakibatnya oleh kata-kata buruk.Dan sesungguhnya api bisa menyala dengan dua potong kayuDan sebagian perang pecah hanya karena salah bicara.Setelah Allah Ta’ala mencegah kita dari bahaya lisan yang dapat memicu tersebarnya kejahatan di tengah-tengah kaum Muslimin, dalam ayat selanjutnya Allah melarang kita memelihara benih pemicunya dalam hati. Allah berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيراً مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضاً أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتاً فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.” (QS. al-Hujurat: 12)
Allah memerintahkan kita menumpas sumber kejahatan dari akarnya. Dalam Shahih Ibnu Hibban, tepatnya pada bab “Dzikru al-Zajr ‘an Suu’ al-Zhann bi Ahad  min al-Muslimin” (Larangan prasangka buruk terhadap Muslim), disebutkan Hadits dari Abu Hurairah yang muttafaq ‘alaihi (disepakati keshahihannya oleh Bukhari dan Muslim): “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah perkataan yang paling dusta.”(11).Sa’id bin al-Musayyib berkata: “Beberapa orang saudaraku dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan kepadaku: ‘posisikanlah urusan saudaramu pada tempat yang terbaik, kecuali perkara yang kau tidak sanggup menanggungnya. Dan janganlah berperasangka buruk terhadap satu pun dari ucapan saudaramu selama kau mampu mencari alasan yang logis untuknya.”(12)Dan barangsiapa selalu husnu zhan terhadap saudaranya, ia takkan memaksakan diri menganggap buruk segala tindak-tanduknya. Jika kita membiasakan hal ini di antara kita, niscaya banyak dari keburukan dan kejahatan yang akan hilang dengan sendirinya.
_______________
(11)       Shahih al-Bukhari, no. 5719; dan Shahih Muslim, no. 2563.(12)       Ungkapan yang sama diriwayatkan juga dari Ibn Umar. Lihat: tafsir surat Al-Hujurat dalam Tafsir Ibn Katsir.

 

[albayan.co.uk/alinshof.com]

Share.