Ketetapan-Ketetapan Syariat Dalam Mempersatukan Barisan Pengikut Salaf (4)

3

4. Berusaha mengarahkan ucapan para ulama yang mulia kepada hal yang terbaik.

Seorang mulia yang terkenal dengan kebaikan kemudian ia terjatuh dalam satu kesalahan, maka kemungkinan memaafkannya lebih besar, karena banyak alasan yang harus diajukan untuk mentolerir kekhilafannya. Berbeda halnya dengan seorang yang miskin dari kebaikan, ia hanya terkenal dengan keburukannya.

Oleh sebab itulah para muhaqqiq dari kalangan ulama mentolerir beberapa ungkapan oknum tertentu yang bersifat general, dan jika dipahami begitu saja dapat mengandung makna tercela dalam persepsi syariat, dan berusaha mencarikan alasan yang dapat diterima untuk mentolerir ungkapan-ungkapan tersebut. Walaupun mereka terpaksa menyanggah ungkapan tersebut dengan tegas, tapi tetap memberikan peluang untuk memakluminya, dan mereka tidak melakukan hal ini bagi oknum lainnya.

Perhatikanlah dengan seksama sikap Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang membedakan antara ungkapan Ahlul Ilhad (kaum atheisme) para pengusung faham Wihdatul Wujud seperti Ibnu Arabi, Ibnu al-Faridh, dan Ibnu Sab’in, dengan ungkapan beberapa tokoh yang terkenal dengan pengagungan mereka terhadap syariat seperti Abu Isma’il al-Harawi, Abu Sa’id al-Kharraz, dll.

Sikap terpuji ini adalah bagian dari penguasaan Ibnu Taimiyah terhadap pribadi mereka masing-masing. Siapa yang memiliki kemuliaan maka ia lebih dimuliakan, ungkapannya yang bersifat general, diperjelas; dan yang mutlak, dirinci. Mengarahkan ucapan dan perbuatan seseorang sesuai dengan kondisinya lebih utama daripada memaksakan prasangka buruk terhadapnya dalam segala hal.

Al-Subki berkata: “Bila seseorang itu tsiqah (terpercaya) dan terkenal dengan iman dan istiqamah, maka tidak sepantasnya menyikapi ungkapan lisan maupun tulisannya kecuali sesuai dengan kebiasaannya dan orang-orang yang sama dengannya; tetapi haruslah diinterpretasikan kepada hal positif dan selalu husnuzhan terhadapnya dan orang-orang sepertinya.”(13) Walaupun interpretasi tersebut mengharuskan penafsiran yang bersifat general kepada hal yang lebih spesifik. Karena sesungguhnya para ulama sudah membahas perihal spesifikasi ungkapan seseorang dengan kebiasaan, adat, maupun syariat, dll(14) dalam pembahasan tentang sumpah, talak, dsb.

Begitu pula pertimbangan kondisi dan kebiasaan seseorang, cukup penting untuk dijadikan dasar untuk mengetahui maksud dari ungkapannya. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Ketahuilah bahwa orang yang tidak mempertimbangkan dalalah (petunjuk) sebuah kata, dan mengetahui bahwa makna sebuah kata dapat diketahui dari dasar bahasa, adat, dan syariat . . . atau dengan bukti-bukti tekstual yang mengiringi kata tersebut . . . dan terkadang dengan mengetahui kondisi pembicara, lawan bicaranya, serta materi pembicaraan, begitu pula konteks pembicaraan yang menentukan maksud pasti dari sebuah ungkapan . . . dan unsur lainnya yang dapat memperjelas makna sebuah kata; jika ia tidak mempertimbangkan unsur-unsur tersebut, maka ia akan bersikap serampangan dalam hal ini.”(15)

Indeks tulisan:

_______________

(13)       Qa’idah fii al-Jarhi wa al-Ta’dil, hal. 93.

(14)       Penjelasan kaidah-kaidah ini dapat dilihat di kitab-kitab ushul iqih, seperti al-Isnawi, al-Tamhid; begitu pula dalam kitab-kitab asybah, seperti Ghamzu ‘Uyun al-Basha’ir fii Syarh al-Asybah wa al-Nazha’ir, dan dalam kitan-kitab qawa’id fiqihiyah, seperti Qawa’id Ibn Rajab, dll.

(15)       Al-Fatawa al-Kubra, Juz V, hal. 155.

 

[albayan.co.uk/alinshof.com]

Share.