Ketika Islam Diajari Hak Asasi Manusia

2

HAM menjadi dalil setiap orang liberal/ sekuler, bahkan HAM juga menjadi alasan pelaksana konser dan “simpatisan” Lady Gaga menginginkan konser salah satu artis ikon porno itu tetap dilaksanakan. Penolakan Ormas-ormas Islam terhadap konser tersebut dianggap sebagai pelanggaran terhadap HAM dan pro kekerasan. Mereka seakan menggurui Islam akan sebuah statemen klasik bernama “HAM”. Hal inilah yang akan kita bahas dalam edisi ini.

Agama Islam yang mulia telah mengatur seluruh aspek kehidupan manusia menuju kebahagian dunia dan akhirat. Namun banyak orang yang tidak mengetahuinya dan banyak pula yang enggan menerimanya dengan dalih yang beraneka ragam.

Di antara aspek kehidupan yang terus dibicarakan adalah masalah Hak Asasi Manusia (HAM). Banyak orang yang menyangka bahwa HAM itu pertama kali dicetuskan oleh kaum barat. Padahal sesungguhnya ajaran Islam telah lebih dahulu mengajarkan umatnya tentang HAM. Sudah sejak lebih dari 14 abad yang lalu kaum Muslimin sudah mendengar dan mempraktekkan bagaimana memuliakan manusia.

HAM versi Islam tentu saja sangat berbeda dengan HAM versi barat. Karena HAM versi Islam bersumber dari wahyu ilahiyah yang langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala atau melalui sunnah Rasul-Nya shallahu ‘alaihi wasallam (Teosentris). Adapun barat tolak ukurnya adalah manusia itu sendiri (antroposentris).

HAM Versi Barat

Setelah Perang Dunia Kedua tahun 1946, disusunlah rancangan piagam Hak-Hak Asasi Manusia oleh organisasi kerja sama untuk sosial ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdiri dari 18 anggota. PBB membentuk komisi hak asasi manusia (commission of human right). Oleh karena itu, setiap tanggal 10 Desember diperingati sebagai hari Hak Asasi Manusia.

Ini semua muncul sebagai ungkapan keinginan menyatukan manusia dan hak-hak asasi manusia dalam masyarakat internasional yang merasakan akibat buruk dari peperangan. Demikian sejarah adanya piagam HAM di Barat yang kemunculannya mengingatkan kembali kepada penjajahan para penguasa dan tokoh gereja.

Hal ini akan tampak dalam penggunaan HAM sebagai standar pemberian bantuan Internasional terhadap negara-negara berkembang. Bantuan dihalangi dan dilarang kepada negara yang dianggap menyelisihi atau dituduh melanggar HAM menurut pandangan negara superpower.

Karakteristik HAM Versi Islam.

Syariat Islam dibangun di atas bangunan yang kokoh dan lengkap karena berasal dari Allah yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Tidak ada satu kemaslahatan dunia dan akhirat kecuali telah ditunjukkan dan disampaikan dalam islam. Oleh karena itu Islam (syariat) sangat memperhatikan lima kepentingan mendasar yakni Menjaga agama, jiwa, akal, nasab, keturunan, dan harta. Kelima kepentingan mendasar ini yang menjadi tiang kehidupan manusia. Tidak akan baik kehidupan manusia kecuali dengan menjaga lima perkara ini. Kelima hal ini adalah HAM yang dijamin syariat Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam al-Qur’an (yang artinya):

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, orang dalam perjalanan dan hamba sahayamu, ….” (QS. an-Nisa':36).

Ayat di atas menegaskan agar seorang muslim berbuat baik kepada sesama manusia, baik memiliki hubungan kekeluargaan, miskin atau kaya, orang dekat atau jauh dan tidak memandang antara yang Muslim dan yang bukan Muslim. Lebih lanjut Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya):

“Seorang Muslim adalah saudara muslim lainnya. Jangan menzhaliminya dan jangan menyerahkannya. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya dan siapa yang menyelamatkan seorang muslim dari satu bencana maka Allah akan selamatkan dari satu bencana di hari Kiamat. Siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan tutupi aibnya di hari Kiamat.” (HR. al-Bukhari).

Demikian juga dalam haji Wada’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berkhuthbah yang isinya:

“Wahai Manusia hari apakah ini? Mereka menjawab: hari suci. Beliau bertanya lagi: Di negeri apakah ini? Mereka menjawab: Negeri suci (tanah suci). Beliau tanya: Pada bulan apa ini? Mereka menjawab: Bulan suci. Lalu beliau bersabda: ‘Sesungguhnya darah, harta dan kehormatan kalian haram seperti sucinya hari kalian ini di negeri kalian ini dan di bulan kalian ini.’ Beliau ulang beberapa kali.” (HR al-Bukhari).

Islam mengakui adanya HAM, tetapi ia memiliki karakteristik dan maqashid (tujuan) yang jelas dan berbeda dengan HAM versi barat, yaitu:

1. Rabbaniyah. Semua hak telah dijelaskan dalam al-Qur`an dan sunnah. Sumbernya berasal langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, ia lepas dan bebas dari kezhaliman dan kesesatan.

2. Tsabat (tidak berubah-ubah). Walaupun banyak usaha penyesatan dan perancuan kebenaran Islam namun tetap memiliki hujjah kebenaran yang kuat dan tidak goyah.

3. Al-Hiyad, jauh dari rasisme dan mengikuti hawa nafsu.

4. Asy-Syumul (universal). Mencakup seluruh kepentingan dan kemaslahatan manusia sekarang dan masa depan.

5. ‘Alamiyah (bersifat mendunia), cocok untuk segala waktu dan tempat, karena mampu memenuhi kebutuhan manusia dan bisa menjadi solusi terbaik terhadap masalah mereka.

Tujuan HAM dalam Islam.

1. Mewujudkan kesempurnaan ibadah kepada Allah Ta’ala.

2. Menjaga kehidupan manusia dalam semua fasenya.

3. Menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia melalui pembinaan dan pendidikan manusia. Juga memberikan solusi atas perbedaan yang ada dengan cara yang efektif dan efesien.

4. Mewujudkan keadilan sosial dengan menyebarkan keadilan di muka bumi dan menghilangkan kasta sosial.

5. Menjaga kepentingan dan kemashlahatan manusia dengan menjaga lima hal diatas.

HAM dan Umat Islam Indonesia

Implementasi HAM di Indonesia mengikuti iklim politik yang berjalan. Politik di Indonesia bukanlah politik Islam. Namun demikian, dalam banyak hal nilai-nilai Islam masuk ke dalam semangat perundangan dan peraturan negara.

Terkait dengan toleransi, kerukunan beragama, dan penolakan terhadap terorisme, umat Islam Indonesia sebagaimana diwakili oleh ormas-ormas Islam memiliki sikap yang jelas. Umat Islam Indonesia mendukung toleransi, mengutuk terorisme, mengembangkan kebajikan-kebajikan sosial, dan aktif dalam program pemberdayaan perempuan dan pengentasan kemiskinan melalui unit-unit organisasi di bawahnya.

Karena itu melihat umat Islam Indonesia, harus dipisahkan dari kebijakan-kebijakan pemerintahnya. Jika ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara, maka tidak otomatis oleh umat Islam. Jika ada kekerasan dilakukan oleh oknum umat Islam, tidak otomatis oleh Islam. Pemisahan ini perlu agar segala hal yang tidak sesuai dengan ajaran Islam tidak dimasukkan sebagai ajaran Islam itu sendiri.

Ormas-ormas Islam adalah representasi dari umat Islam Indonesia. Dalam sejarah HAM, umat Islam justru menjadi korban pelanggaran HAM oleh negara (rezim politik tertentu). Tragedi G 30 S, Peristiwa Tanjung Priuk, dan lain-lainnya adalah contoh pelanggaran HAM yang meminta korban umat Islam. Dengan demikian, selama ini umat Islam Indonesia tetap konsisten membela tegaknya HAM dan bahkan sangat kritis terhadap semua bentuk pelanggaran HAM baik yang dilakukan oleh negara ataupun oleh oknum umat Islam.

Karena itu, menilai apakah Islam di Indonesia bagian dari penegakan HAM harus dilihat dari sikap resmi ormas-ormas Islamnya. Bukan oleh sikap pribadi-pribadi Muslim atau kebijakan-kebijakan pemerintah. Dari perspektif ini hubungan antara umat Islam Indonesia dengan prinsip-prinsip HAM adalah paralel dan bukan antagonis.    Ormas-ormas Islam Indonesia justru banyak berinisiatif agar akar-akar terorisme dan akar-akar radikalisme Islam disembuhkan dahulu melalui pembinaan ummat (baca: dakwah dan tarbiyah).

Saat ini, faktanya HAM tengah mengalami antiklimaks. Di Timur Tengah melalui serangan membabibuta militer Israel atas komunitas Gaza berjumlah lebih dari 5.000 orang (termasuk anak-anak, wanita, dan orang tua) dan di Suriah yakni pembantaian Sunni oleh Syi’ah dengan korban kurang lebih 8.000 jiwa, menyadarkan kita akan belum pulihnya tragedi kemanusiaan di zaman modern ini.

Kerjasama global yang selama ini terjalin baik dalam menyelesaikan masalah HAM termasuk bagi para pendengungnya seperti ternoda dan kehilangan arah dan maknanya terlebih jika terjadi di negeri-negeri mayoritas kaum muslimin. Ringkasnya, tiada kata HAM untuk islam dan ummatnya.

Penutup

Dalam Islam, posisi manusia amat penting dan mulia. Hubungan antara Allah, alam semesta, dan manusia bahkan menjadi tema utama dalam keseluruhan pembicaraan al-Qur’an. Ini menunjukkan bahwa trikotomi hubungan antara Allah, alam semesta, dan manusia menempatkan hubungan yang sinergis dan harmonis yang harus saling berkerjasama untuk memenuhi sunnatullah dan memperoleh ridha Allah. Dan satu-satunya jalan yang ditempuh Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dalam melahirkan generasi yang telah menorehkan tinta emas dalam peradaban sebagai khairu ummah (umat terbaik) adalah dengan dakwah dan tarbiyah.

Semoga Allah senantiasa menyatukan hati dan gerak kaum muslimin dalam menegakkan kebaikan dan mencegah kemungkaran diseluruh belahan dunia ini, karena tiada daya dan upaya selain hanya milik Allah Azza wa Jalla. Wallahu A’lam Bil Shawab.

Oleh : Abu Usamah.  Aktifis  FSI RI UNM

Share.