Kewajiban Muslim Terhadap Waktu

0

Di antara karakter waktu adalah ia akan terus berlalu. Ia tidak pernah menunggu siapapun. Rela atau tidak, ia terus berjalan tidak pernah mau menerima alasan ketelatan kita. Karena itu, mereka yang sukses dunia akhirat adalah mereka yang mampu berpacu bersama waktu erenda hari-hari dengan amal shalih. Pembaca budiman, al-Balagh edisi kali ini mengajak kita semua menata waktu kita. Selamat menyimak.

Sedemikian pentingnya waktu sehingga dikatakan itulah kehidupan manusia yang hakiki. Maka, bagi manusia muslim ada kewajiban terhadap waktu yang selalu ia harus perhatikan. Seorang muslimtidak hanya skedar tahu dan mengerti harus mendarah daging akan pentingnya waktu itu lalu mengisinya dengan penuh kesungguhan.
Berikut beberapa kewajiban seorang muslim terhadap waktu:
Pertama, Menjaga Manfaat Waktu.
Kewajiban utama seorang muslim adalah menjaganya seperti ia menjaga hartanya bahkan lebih dari itu. Selanjutnya ia harus mengambil manfaat dari waktunya untuk kepentingan dunia dan akhiratnya, untuk diri dan ummatnya.

Para salaf adalah manusia yang paling mengerti tentang pentingnya waktu. Hasan al-Bashri pernah berkata, “Aku pernah bertemu dengan kaum yang perhatiannya terhadap waktu lebih besar daripada perhatiannya terhadap harta bendanya”. Karena itu para ulama selalu menjaga kelansungan waktunya terus menerus. Mereka takut waktu mereka berlalu tanpa faidah dan kerja keras. Umar bin Abdul Aziz pernah berkata,”Sesungguhnya malam dan siang itu berbuat atas dirimu, maka beramallah pada keduanya”.

Di antara tanda kurangnya kualitas seseorang adalah menyia-nyiakan waktu. Para ulama’ kita mengatakan,”Waktu adalah pedang, bila kamu tidak memakainya dengan baik dan benar ia kan menebasmu”.

Karena itu, mereka selalu berusaha maju ke arah yang lebih baik, bagi mereka hari harus lebih baik dari hari kemarin dan esok harus lebih baik dari hari ini. Berkata salahseorang salaf tentang ini, “siapa yang hari ini seperti keadaannya kemarin ia adalah orang tertipu dan barang siapa yang lebih buruk dari kemarin  ia adalah orang tercela.

Kedua, Mengisi Kekosongan
Waktu luang adalah nikmat yang banyak dilupakan. Kebanyakan orang mengumpamakan waktu luang seperti binatang berbahaya yang harus segera dibunuh dengan senjata kesia-siaan. Rasulullah bersabda, “ Dua nikmat dari Allah yang kebanyakan manusia tertipu; yaitu nikmat sehat dan nikmat waktu luang”.

Waktu luang yang dimaksud dalam hadits di atas adalah saat kosong atau selesai dari berbagai aktifitas duniawi dan bisanya kebanyakan orang “membunuhnya” dengan kesia-siaan. Contoh sederhana adalah betapa banyak orang yang meghabiskan waktu luangnya dengan menghabiskannya di depan televisi atau orang yang ngobrol dengan obrolan yang tidak ada ujung pangkalnya.

Al-Mannawi memberi perumpamaan yang sangat indah tentang hal ini. Beliau mengatakan,”pedagang adalah orang yang bertanggung jawab terhadap barang dagangannya, sedangkan sehat dan peluang adalah modal utamanya yang merupakan penyebab keberuntugannya. Maka, siapa yang mengisi kekosongannya dengan amal kebaikan maka ia akan beruntung dan siapa yang mengisinya dengan mengikuti kemauan syaithan maka ia telah kehilangan modal”

Dalam hadits shahih disebutkan, Rasulullah bersabda, “Pergunakan lima perkara sebelum datang lima perkara…waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu.”
Waktu luang pasti akan terisi, apakah dengan hal-hal yang bermanfaat atau hal-hal yang sia-sia. Maka berbahagialah mereka yang mengisi waktu laungnya dengam hal-hal yang bermanfaat dan sungguh celaka mereka yang mengisinya dengan kesia-siaan. Salafusshalih berkata, “Perhatikan jiwamu, jika Anda tidak menyibukkannya dengan ketaatan, maka dialah yang akan menyibukkanmu dengan kemaksiatan”.

Para salaf sangat benci kepada mereka yang menganggur, tidak mau bekerja beraktifitas baik yang memberi manfaat duniwi maupun ukhrawi. Salah satu sumber kejahatan adalah kelalaian. Sedangkan kelalaian ini salalh satu cabangnya adalah bangkitnya syahwat yang tidak terkendali. Bukankah keserongan Zulaikha pada Yusuf adalah karena didera oleh kesepian, tidak beraktifitas.

Ketiga, Berlomba-lomba Dalam Kebaikan.
Orang beriman mengerti betul pentingnya waktu. Karena itu, ia tidak akan menunda kewajibannya untuk dikerjakan hari esok. Seorang penyair pernah berkata,

“Tak akan kutunda pekerjaanku sampai esok. Sebab si pemalas adalah putra kata ‘besok’ ”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menganjurkan ummatnya membaca doa dimana beliau sendiri selalu membacanya:

“Allaahumma inii a’udzu bika minal hammi walhuzni, wa a’uudzu bika minal ‘ajzi walkasal”

Artinya, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari sedih dan duka cita, dan aku berlindung kpadamu dari lemah dan malas.

Allah ta’ala menerangkan kekeliruan ahlul kitab dan terhadap apa-apa yang diturunkan kepada mereka, Dia berfirman, “Kalau Allah menghendaki maka Ia akan menjadikan kalian ummat yang satu. Akan tetapi Ia menguji kalian dengan apa-apa yang diberikan pada kalian. Maka berlomba-lombalah kalaian mengerjakan kebaikan.”(Qs. Al-Maaidah).

Ketika Allah menyebutkan fasilitas yang diperoleh penduduk surga dan kenikmatan-kenikmatan yang mereka peroleh, Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk berlomba-lomba meraihnya. Allah mengatakan, “Tentang hal itu, hendaknya mereka saling berlomba-lomba” (Qs. Al-Muthaffifin: 2).

Allah ta’ala memuji sebaian RasulNya karena mereka tidak menunda-numda waktunya untuk mengerjakan kebaikan. Allah berfirman tentang mereka, “Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam mengerjakan kebaikan, dan mereka selalu berdoa pada kami dengan harap-harap cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu kepada Kami”. (Qs. Al-Anbiyaa’ : 90)

Rasulullah menganjurkan ummatnya untuk bersegera menyelesaikan pekerjaannya sebelum datang rintangan-rintangan yang menghalanginya, beliau bersabda, “Apakah kalian menunggu (untuk beramal) sampai datang kekayaan yang menyombongkan atau kemiskinan yang melalaikan, atau penyakit yang membinasakan, atau ketuaan yang melemahkan atau dajjal yang menipu…”(HR. Tirmidzi).

Keempat, Belajar Dari Perjalan Hari-hari
Wajib baru setiap Muslim untuk mengambil pelajaran dari hari-hari yang telah lalu. Pada perjalanan siang dan malam selalu ada sesuatu yang baru. Keduanya ‘menjadikan’  yang kecil jadi muda, yang muda jadi tua, yang tua binasa. Bahkan terkadang tidak melaui tahapan itu, betapa banyak manusia diusia yang masih belia sudah dijempaut oleh kematian. Maka, ini adalah pelajaran yang sangat berharga. Perjalan waktu adalah saksi bisu tentang proses terjadinya alam semesta ini dari satu tahapan ketahapan yang lain, dari satu bentuk kepada bentuk yang lain. Maka, pernahkan Anda melihat pohon besar yang tinggi menjulang? Setelah kita merenung taulah kita bahwa pohon besar itu pada awalnya hanyalah sebuah tunas kecil yang lemah dan rapuh tapi dalam rentang watu yang panjang Allah menumbuhkannya. Begitu pula kejadian manusia. Mereka sebelumnya tidak ada sama sekali. Tapi Allah berkehendak mengadakan sesuatu yang sebelumnya sama sekal tidak ada.

Allah berfirman,yang artinya:

“Dia menggilirkan siang dan malam. Sungguh pada yang yang demikian itu ada ibrah bagi orang-orang yang berpikir”(QS. An-Nuur: 44)

Pembaca budiman, inilah beberapa kewajiban kita terhadap waktu. Waktu yang melingkupi hidup kita ini adalah salah satu indikator kesuksesan dan kegagalan kita di dunia dan akhirat. Namun sayang, banyak manusia yang gagal karena salah dalam menyikapi perjalanan waktunya. Wallaahul musta’an

Bencana-bencana Waktu
1.    Lalai.
Ini adal;ah penyakit pikiran. Kejadian peristiwa selalu dilihat dari lahirnya saja. Kurang memperhatikan hakikat dibalik kejadian dan sebab utama kejadian. Contoh sederhana, bencana alam yang banyak terjadi selalu ditinjau dari aspek lahiriyah belaka, tidak pernah dilihat dari sisi lain, yaitu hukum kausalitas dalam ajaran Islam bahwa siapa saja yang melenceng dari syari’at Allah pasti ada resikonya yaitu musibah yang mengerikan.

2.    Menunda Pekerjaan
Menunda pekerjaan adalah di antara musibah-musibah waktu. “Nanti”, “besok”, “sebentar”, “kapan-kapan” adalah di antara senjata pamungkas para penunda waktu.
Pernah ada seseoran yang meminta nasehat seorang lali-laki shalih dari Bani Abdil Qais, Ia hanya berkata dengan singkat, “waspadalah dari berkata “nanti”. Ada juga yang mengatakan bahwa kata “nanti” adalah salah satu dari tentara iblis.

3.Mencerca Zaman
Di antara penyakit orang lemah adalah senang mencerca zaman. Ini sebenarnya prilaku orang-orang malas. Ketidakberdayaannya dalam melawan kemalasan dibungkus dengan cercaan kepada zaman di mana ia berada. Padahal Rasulullah melarang kita mencela zaman, karena zaman dan kejadian yang terjadi di dalamnya itu adalah ketentuan dari Allah.

(Al Balagh Edisi 14/Dzulhijjah 1428 H)

Share.

Leave A Reply