Khutbah Jum’at: Hal-hal yang Menggugurkan Dosa

0

Khutbah Pembuka

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah

Alhamdulillah, di hari ini, di hari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  menyebut hari jumat sebagai penghulu hari, di mana Adam diciptakan, hari dimana dunia diciptakan, dan di hari dunia akan berakhir.

Pada khutbah yang lalu telah disebutkan beberapa hal yang dapat menggugurkan ancaman neraka, diantaranya adalah musibah dunia. Ternyata musibah dunia yang kita rasakan baik itu kesedihan, kegundahan, rasa sakit merupakan penghancur dosa dan pelebur kesalahan. Termsuk juga uqubah dunia, hukuman dunia yang diterima hamba Allah yang berdosa. begitu juga sayafaat, kebaikan yang kita lakukan, seperti dalam ayat:

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ طَرَفَىِ ٱلنَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ ٱلَّيْلِ إِنَّ ٱلْحَسَنَٰتِ يُذْهِبْنَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّٰكِرِينَ

 “….Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.” (QS. Hud: 114)

Jadi kita tidak berprinsip bahwa ada yang disebut Al Waid, bila Allah mengancam maka pasti ancaman itu diberlakukan. seperti mu’tazilah. Bagi Allah subhanahu wata’ala, janji Allah pasti ditepati, tetapi ancaman Allah belum tentu. Allah bisa saja mengampuni orang yang bersalah, bisa juga kesalahannya dicuci di neraka.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah

Diantara hal yang dapat menggugurkan ancaman neraka adalah memberi maaf dan berlapang dada. Sesuatu yang mudah diucapkan di bibir, tapi sesungguhnya itu sulit. Namun bila ada yang bisa memberi maaf, itu bisa mengundang rahmat Allah.

Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih hidup, istri beliau tercinta Aisyah radhiyallahu anha yang ditimpa gosip tidak sedap. Misthah Ibnu Utsatsah  Ibnu Abdul Muthallib keponakan Abu Bakar turut andil menyebarkan gossip sehingga Abu Bakar marah dan bersumpah untuk memutuskan hubungan dan tidak memberikan bantuan kepada Misthah. Tetapi Allah tidak membiarkan Abu Bakar dalam keadaan yang bisa mencoreng kebaikan beliau selama ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala lalu menurunkan ayat:

وَلَا يَأْتَلِ أُو۟لُوا۟ ٱلْفَضْلِ مِنكُمْ وَٱلسَّعَةِ أَن يُؤْتُوٓا۟ أُو۟لِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱلْمُهَٰجِرِينَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلْيَعْفُوا۟ وَلْيَصْفَحُوٓا۟ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ ٱللَّهُ لَكُمْ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

 “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema’afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nuur: 22)

Misthah adalah keluarga Abu Bakar, termasuk orang yang miskin dan juga berhijrah di jalan Allah. Kata Abu Bakar, saya mengharapkan rahmat Allah. Ia berhak marah, namun ia lebih menyukai ampunan Allah sehingga bersumpah kembali memberikan bantuan. Apa kita bisa seperti itu, persoalan sepele saja bisa menghapus silaturahmi.

Hal lainnya adalah memberi kelonggaran pada orang yang berhutang. Termasuk juga memaafkan orang yang berhutang. Dalam hadits: “Akan ada ummat sebelum kalian meninggal kemudian dihisab. Malaikat bertanya, apakah pernah dalam hidupmu pernah melakukan kebaikan? Ia berkata Tidak pernah. Kata malaikat: coba ingat kembali: ia berkata: saya dulu suka memberi orang lain pinjaman dan saya katakan kepada pelayanku untuk memberi tangguhan atau memberi maaf bagi orang yang tidak bisa membayar hutangnya. Hanya itu. Kata Allah: jangan persulit orang ini. Gugurkan dosanya. Kita lebih berhak melakukan itu (memberi tangguhan dan memaafkan).

Hadits ini diberitakan Nabi kepada kita bukan hanya sekedar cerita, namun agar kita mengamalkan, bagaimana jika ummat Nabi yang melakukan hal tersebut.

Jamaah jumat yang dimuliakan Allah

Yang lain yang bisa menggugurkan ancaman neraka adalah perkataan Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar setiap selesai shalat. Kata Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Barang siapa yang bertasbih 33 kali, memuji Allah 33 kali dan bertakbir 33 kali dan menyempurnakannya dengan laa ilaha illallah lahulmulku walahul hamdu wa huwa alaa kulli sayaai’in qadiir. Dosanya diampuni walaupun dosanya itu sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)

Sungguh dahsyat dzikir ini. Harap dipahami bahwa walaupun orang ini banyak dosa, namun banyak melakukan hal-hal yang disebutkan di atas, sehingga ancaman nerakanya tidak jadi diberlakukan. Dan bukan aib bagi Allah bila ancaman tidak jadi diberlakukan. Yang aib adalah bila janji Allah tidak ditepati.

Hal berikutnya adalah masuk Islam. Disebutkan oleh Ibnul Jalil radhiyallahu anhu: “Kami keluar madinah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tiba-tiba seorang pengendara unta datang, ditanya oleh Rasulullah: kamu dari mana? saya dari keluargaku. Mau kemana?, saya ingin bertemu Rasulullah, kata Raulullah: “saya orangnya”. Apakah saya ikut berperang atau saya masuk Islam dulu? “Masuklah islam lebih dahulu” orang itu bertanya apa yang saya lakukan dalam islam itu? “Engkau bersyaahadat, engkau berpuasa, dsb”. Ketika orang ini berjalan, ontanya terperosok ke lubang dan ia terpental jatuh. Hudzaifah dan seorang shahabat lain lari menolongnya kemudian berkata, ia telah meninggal. “Tahukah kalian mengapa saya memalingkan wajahku?” Kata Rasulullah: saya melihat malaikat datang menyuapinya buah-buah syurga, maka saya pun tidak ingin mengganggu”. Orang ini termasuk dalam ayat:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَلَمْ يَلْبِسُوٓا۟ إِيمَٰنَهُم بِظُلْمٍ أُو۟لَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

 “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al An’am: 82)

Maka iapun melakukan sedikit amalan, namun pahala amalannya dengan diampuni dosanya.

Khutbah kedua

Jamaah jum’at yang dirahmati Allah,

Diantara hal yang bisa menggugurkan adalah bulan Ramadhan. Banyak hadits tentang bulan Ramadhan ini sering kita dengar tapi jarang kita renungkan. Padahal banyak kesempatan untuk bebas dari ancaman neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ومن صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)

Demikian juga shalat tarwih:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ.

“Barang siapa yang shalat malam (tarwih) pada Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosa-dosa yang lalu.” (HR. Bukhari)

Amalan yang dilakukan didorong oleh keimanan dan keinginan untuk mengharapkan pahala di sisi Allah dengan melakukan perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, dosanya yang telah lewat diampuni oleh Allah. Bila dosa telah diampuni maka neraka telah jauh. Ituah prinsip dalam agama ini. Tidak semua ancaman Allah, Allah berlakukan. Dosa ada yang dicuci dan ada yang langsung diampuni.dan di masukkan ke dalam syurga asalkan dia adalah ummat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang tidak melakukan kesyirikan.

doa penutup.[]

Ditranskrip dari khutbah Jum’at Ustadz Ahmad Said, Lc. MA.

Share.

Leave A Reply