Khutbah Jum’at: Mencari Ketenangan yang Hakiki

0

Khutbah pembuka

Hadirin jama’ah Jum’at yang semoga dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala

Setiap orang melalui permukaan bumi ini dengan berbagai aktivitas dan profesinya. Dengan profesinya manusia mencari sesuatu dalam kehidupannya dan yang paling dia cari adalah menghilangkan kegundahan, kesedihan, kesengsaraan dalam hatinya dan mencari ketenangan dan ketentraman jiwa dan batin. Ini disebutkan oleh Ibnul Qayyim ketika menukil perkataan Ibnu Hasyim rahimahullah, “saya telah memikirkan usaha-usaha yang telah dilakukan oleh setiap manusia dan saya mengambil kesimpulan bahwa semua manusia berusaha untuk mendapatkan satu hal yaitu mereka menghilangkan kegundahan dalam hati mereka, menjauhkan kesengsaraan dalam hati mereka, mendapatkan ketenangan kebahagiaan yang hakiki. Maka diantara mereka ada yang mencari ketenangan dengan makanan dan minuman, ada yang mencari ketenangan dengan mengumpulkan harta yang banyak, diantara mereka ada yang mencari ketenangan dengan pangkat dan jabatan, diantara mereka ada yang mencari ketenangan tersebut pada wanita, bahkan diantara mereka ada yang mencari ketenangan dengan bermaksiat pada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan zina, riba dan lainnya. Dan saya tidak melihat jalan-jalan yang mereka tempuh itu yang bisa menyampaikan pada perkara yang menunjukkan pada kebahagiaan yang hakiki kecuali seorang hamba yang menghadapkan dirinya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mendahulukan kecintaan dan keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala diatas yang lainnya.”

Maka dari sini saya simpulkan bahwa hamba yang mendapatkan kebahagaian yang hakiki tidak mungkin dicapai dengan perkara dunia yang sifatnya semu atau sementara. Betul bahwa diantara sumber kebahagiaan adalah harta, makanan dan minuman dan sebagainya, tapi itu bukan puncak dari kebahagiaan. Jadi ketika seseorang menumpukan kebahagiaan pada harta atau hal yang bersifat duniawi lainnya, maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki yang bersumber dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimna perkataan Ibnu Hasyim tadi bahwa seseorang yang betul-betul ingin mendapatkan kebahagiaan adalah seseorang yang memperhatikan batinnya, kondisi hubungannya dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, ber-taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan berbagai macam bentuk ibadah yang dicontohkan oleh Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dikatakan, “saya tidak melihat kebahagian itu pada harta benda akan tetapi orang yang bertakwa itulah orang yang mendapat kebahagiaan yang hakiki dan bukanlah orang yang mendapatkan kebahagiaan itu orang yang disenangkan dengan kehidupan dunianya tapi orang yang terlepas atau di jauhkan dari api neraka. Hal ini sesuai dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surah ali Imran ayat 185.

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ فَمَن زُحْزِحَ عَنِ ٱلنَّارِ وَأُدْخِلَ ٱلْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.”

Khutbah Kedua

Sebagian ulama salaf mengatakan kunci kebahagiaan bagi setiap hamba ada tiga, yang pertama jika diberikan nikmat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia mensyukuri nikmat tersebut dan mampu merasa cukup dengan nikmat tersebut dan tidak tamak. Maka itulah sebenarnya kekayaan yang hakiki seperti yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“bukanlah orang kaya itu yang banyak harta bendanya tapi orang kaya adalah yang kaya jiwanya”

Walaupun seseorang kaya tapi hatinya miskin maka dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan yang hakiki karena tamak terhadap dunia dan selalu gelisah karena takut hartanya akan berkurang.

Yang kedua kalau diuji oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala mereka bersabar dengan ujian tersebut bagaimanapun ujian yang diberikan maka dia menyadari bahwa itu takdir dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan tidaklah Allah menguji hambanya kecuali dengan ujian yang mampu dia pikul dan bagaimanapun beratnya ujian tersebut maka lebih banyak orang yang ujiannya lebih berat daripadanya.

Yang ketiga kalau dia berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia segera beristighfar. Bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mengharapkan dosa-dosanya dihilangkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidak ada dosa kecil jika kita senantiasa bermaksiat kepada Allah Ta’ala dan tidak ada dosa besar jika kita senantiasa bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

[]

 

Ditranskrip dari Khutbah Ustadz Asri Muhammad Sholeh, Lc. dengan beberapa perubahan dari redaksi.

Share.

Leave A Reply