Khutbah Jum’at: Metode Penghancuran Umat Islam

0

Khutbah Pertama
Jama’ah Jum’at yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam al-Qur’an:

وَلَايَزَالُونَ يُقَٰتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَن دِينِكُمْ إِنِ ٱسْتَطَٰعُوا۟

“…Golongan kafir selalu memerangi kalian sampai kalian mau meninggalkan agama kalian, sekiranya mereka dapat melakukannya.…” (QS. al-Baqarah, 2:217)

Dari isyarat al-Qur’an ini, sangat jelas bahwa perseteruan antara haq dan bathil senantiasa berlangsung. Maka orang-orang yang beriman kepada Allah bagi mereka hanya dua pilihan saja, tidak ada pilihan yang ketiga. Apakah mereka masuk dalam kelompok yang haq, memperjuangkan yang haq, atau sebaliknya mereka masuk dalam kelompok yang bathil atau menjadi perpanjangan tangan kepentingan kebathilan. Oleh karena itu, tentu kita sepakat untuk menjadi kelompok yang haq, memperjuangkan agama Allah Ta’ala. Mengejawantahkan ajaran-ajaran agama Islam dalam diri, keluarga, dalam masyarakat kita dengan berbagai aktivitas dan kesibukan kita masing-masing baik urusan dunia maupun akhirat, yang intinya berujung bahwa kita termasuk orang-orang yang memperjuangkan yang haq.

Jamaah sekalian, dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala memperkecil cakupan kebatilan, dan mengungkap rahasia kebatilan di dunia ini:

وَلَن تَرْضَىٰ عَنكَ ٱلْيَهُودُ وَلَا ٱلنَّصَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepadamu hingga kamu mengikuti agama mereka… (QS. Al-Baqarah: 120).

Yahudi dan Nashrani menginginkan kaum muslimin mengikuti adat kebiasaan mereka, pola hidup mereka, tata cara salam mereka, kehidupan berumah tangga, cara berpakaian, pergaulan mereka, sampai cara mereka berpesta, model rumah, dan seterusnya. Seluruh variable kehidupan kita diinginkan untuk mengikuti Yahudi dan Nashrani. Sehingga ada orang mengatakan pada hari ini kita tidak pernah ke tempat peribadatan agama lain, tetapi ajarannya sampai di kamar kita masing-masing. Melalui TV, radio dan segala jenis media yang kita baca. Yang kadang mengalahkan keinginan kita, menggeser waktu kita untuk membaca al-Qur’an, sehingga kita tidak sadar, tergelincir sedikit demi sedikit, masuk ke dalam jurang kebathilan.

Dewasa ini semakin banyak metode yang digunakan orang-orang kafir, apalagi ulama kita telah mengingatkan, millahnya kekafiran itu satu saja, hanya namanya yang berbeda. Tapi visi misinya satu, menghancurkan kaum muslimin yang dibantu oleh orang-orang munafiq dari dalam intern kaum muslimin. Oleh karena itu, model dan metode penghancuran kaum muslimin seiring dengan perkembangan zaman semakin modern, perkembangan teknologi, intelektual, pola kehidupan manusia, terutama orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Metode yang pertama pada hari ini, adalah metode intelektual. Allah telah mengingatkan dalam al-Quran:

وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَشْتَرِى لَهْوَ ٱلْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna (lahwal hadits) untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan…” (QS. Luqman: 6)

Kadang kita terjebak dengan kata pendekatan theologi antar agama. Ini adalah metode penghancuran kaum muslimin melalui kaum intelektual. Maka wajar bila mahasiswa jurusan ushuluddin tidak tahu tauhid yang sebenarnya, fakultas syariah tidak memahami syariat, fakultas adab tidak paham bahasa arab. Yang mereka pelajari adalah ilmu yang berusaha menggerogoti dan menghancurkan kaum muslimin dari dalam. Banyak doktor dan professor yang baca al Quran-nya tidak beres, ketika berdebat, tidak tahu bahasa arab, apalagi ilmu hadits. Rujukannya adalah para pendeta luar negeri.

Hadirin yang dimuliakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Metode yang kedua, metode gaya hidup, dengan propaganda semua yang dari barat itu modern, canggih, update, sesuai dengan era millennium. Termasuk gaya berpakaian dimana sebagian muslimah sudah terlena dengan propaganda ini. Muslimah yang sudah mulai berjilbab sesuai dengan ajaran ulama kita, yang Islami, sedikit demi sedikit tereduksi, dengan berbagai model warna dan corak yang menggeser nilai-nilai hijab islami yang sesungguhnya. Apalagi orang-orang sudah belajar Islam . padahal kita mengaku cinta kepada Allah dan rasul-Nya. Allah mengatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku…”  (QS. Ali Imran: 31).

Ini sebuah pertanyaan, apakah hari ini kita betul-betul cinta kepada Allah? Jika jawabannya iya, maka mari kita mengikuti seluruh yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam urusan keluarga, bagaimana kita berinteraksi dengan istri dan anak di rumah. Apakah adabnya sama dengan adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apakah gaya kita memimpin sama dengan gayanya Rasulullah? Apakah pola komunikasi dengan istri sama dengan cara Rasulullah berkomunikasi? kita terkadang parsial, akibat pola hidup yang selalu kita tonton melalui sinetron, drama dan sebagainya.

Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Yang ketiga adalah metode pembunuhan karakter kelompok-kelompok Islam di Indonesia maupun di dunia. Hari ini ribut dengan rancangan undang-undang ormas, dengan alasan ingin menyempurnakan undang-undang tersebut, menambah beberapa pasal, sebagian besar ingin menohok ormas-ormas Islam yang ada. Meski kita tahu bahwa ada ormas-ormas Islam yang tidak sejalan dengan ajaran Islam sendiri dalam bermuamalah dengan masyarakat. Yang ingin menggeneralisir dan menghilangkan ormas-oramas Islam adalah orang-orang partai politik.

Perlu diingat, ormas Islam di Indonesia sangat berjasa bagi Republik Indonesia. Jauh sebelum kemerdekaan belum ada partai. Ada Serikat Dagang Islam, Muhammadiyah, NU, Jong Celebes, semua memperjuangkan kemerdekaan. Sekarang ini orang partai yang dengan pongah ingin membubarkan ormas Islam, tidak melihat sejarah. Tetapi sayangnya kebanyakan kita tidak peduli, tidak ingin membaca. Kebanyakan hanya menonton sepak bola saja. Tetapi perdebatan tentang undang-undang keormasan kita tidak punya wawasan. Sehingga berlalu setelah ditetapkan, banyak pasal yang krusial akhirnya membatasi pergerakan ormas Islam. Ini pembunuhan karakter. Orang-orang yang di luar Islam apalagi, selalu menohok ormas-ormas Islam.

Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,

Yang keempat adalah metode pengaburan ajaran islam. Pada hari ini sebagian kita hanya karena memperebutkan sebuah kursi di pemerintahan, maka ketika membeberkan visi misi, ingin menghidupkan situs sejarah, situs budaya, padahal bertetangan dengan tauhid dan sesuai dengan visi orang-orang kafir. Buat apa dimunculkan semua itu kecuali bila ingin menghancurkan Islam dari dalam. Umat kita sudah jauh meniggalkan situs-situs sejarah yang berbau syirik. Namun hanya karena ingin didukung oleh orang-orang yang ada, sehingga syirik itu ingin dimunculkan kembali. Na’udzubillah.

Khutbah Kedua
Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala,
Mari kita sadar, kembali kepada ajaran agama kita, kembali kepada Islam yang murni, meninggalkan hal yang bertentangan ajaran Islam. Selanjutnya kembali mempererat ukhuwah di antara kita. Ukhuwah dalam al-Qur’an digandengkan dengan keimanan. Artinya setelah kita beriman, ukhuwah mengikutinya, “sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. Mudah-mudahan dengan iman dan ukhuwah, kita bisa memproteksi diri, keluarga, dan masyarakat kita dari metode gerakan penghancuran kaum muslimin.

Kalau kita ingin mengikuti bagaimana para shahabat mengubah peradaban pada saat itu, maka menurut Syaikh Al-Albani ada 2 bekal yang harus kita miliki. Bekal iman kita kepada Allah dan bekal ukhuwah. Itulah dua kekuatan yang kita miliki untuk menjaga kita pada hari ini. Jangan mudah terpancingdengan pancingan sesat. Mari mempererat Ukhuwah atas dasar cinta kepada Allah Ta’ala. Mudah-mudahanan dengannya Allah senantiasa membimbing dan merahmati kita bila kita peduli dengan orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.[]

 

Ditranskrip dari Khubah Jum’at yang dibawakan oleh Ustadz Ir. Iskandar Kato, MM. dengan beberapa perubahan oleh editor.

Share.

Leave A Reply