Waktu posting: Thu, Mar 17th, 2011
Khutbah | Oleh masteradmin | Dibaca: 584 kali

Khutbah Jumat: Kiat Menghadapi Musibah

Maas’syiral Muslimin, Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Dunia kembali diguncang dahsyat. Gempa bumi kuat berkekuatan 8,9 skala Richter, terjadi hari Jumat lalu (11 Maret 2011) kira-kira 125 kilometer di lepas pantai timur Jepang, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa melanda wilayah lepas pantai Jepang timur laut, memicu tsunami setinggi 10 meter yang menghanyutkan perahu-perahu, rumah-rumah dan mobil-mobil di sepanjang garis pantai.

Negeri kita pun bebrapa bulan lalu saja sedikitnya tercatat 3 musibah besar: banjir bandang di Wasior, Papua Barat (04/10/2010); gempa tektonik berkekuatan 7,2 skala ricjter yang mengundang tsunami menyapu rata Mentawai, Sumatra Barat (25/10/2010), dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta. Kesemuanya menelan ratusan korban jiwa dan harta benda yang tidak sedikit.

Kita hanya bisa menundukkan kepala, sedih, prihatin, dan tidak berdaya apa-apa. Ini menunjukkan kelemahan kita umat manusia di hadapan Allah Yang Maha Besar dan Perkasa.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,
Dunia tempat kita berbijak hanyalah sebagai negeri persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. Penuh dengan ujian dan cobaan. Maka bagi orang mukmin adanya ujian dan cobaan di dunia adalah sebuah kepastian. Tidak seorang pun yang luput dari ujian dan cobaan. Hanya saja bentuk ujian dan cobaan itu yang berbeda-beda, ada yang baik dan yang buruk. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman :

????? ?????? ????????? ????????? ? ????????????? ?????????? ??????????? ???????? ? ??????????? ???????????

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS.Al-Anbiya':35)

???????? ???????? ???? ?????????? ???? ????????? ??????? ?????? ??? ???????????

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut:2)

Jadi, ujian atau cobaan itu pasti, dan ujian itu bisa berupa kebaikan atau keburukan. Hanya saja kebanyakan manusia tidak merasa diuji ketika sedang diberi kebaikan.

Maka dunia adalah negeri tempat taklif (perinrah dana larangan), serta negeri beramal, bukan negeri temapt bersenang-senang, serta berangan-angan, apalagi berfoya-foya.

Tetapi kebanyakan manusia lalai dari kenyataan tersebut.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Untuk apa ujian dan cobaan?!

Untuk mengukur dan mengetahui siapakah yang terbaik dalam menghadapi ujian tersebut. Siapa yang lulus dan siapa yang tidak? Siapa yang layak mendapat surga dan siapa yang tidak ? Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman yang artinya:

??????? ?????? ????????? ???????????? ?????????????? ????????? ???????? ??????? ? ?????? ?????????? ??????????

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,” (QS. Al-Mulk:2)

Orang mukmin akan menerima setiap musibah dengan sabar, tabah dan ikhlas terhadap takdir Allah. Sementara yang tidak beriman, akan tercengang dan bahkan marah terhadap takdir Allah Subhna Wa Ta’ala. Hal ini karena keimanan mereka, baik secara umum maupun secara khusus, yaitu keimana terhadap qadha’ dan qadar, masih belum kokoh.

Bagaimana sebaiknya menghadapi musibah?

Pertama, Sabar. Allah berfirman yang artinya :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”. (QS. Al Baqarah : 155-156)

Sabar di sini maksudnya menerima takdir Allah dengan ikhlas, tidak meratap, tidak marah-marah, dan tidak menyalahkan Allah Subhana wa Ta’ala.

Mengapa harus sabar?
1.    Karena musibah adalah bagian dari ketentuan Allah. Menerimanya adalah wajib, karena ia termasuk kesempurnaan sikap ridha kepada Allah sebagai Rabb. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman yang artinya:

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri,” (QS. Al-Hadid:22-23)

2.    Karena orang yang diberi musibah itu akan diberi kebaikan. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

“Siapa yang Allah berkehendak baik kepadanya maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari)

Rasulullah Shallallhu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

????? ??????? ??????? ?????????? ????????? ??????? ???? ???????????? ??? ?????????? ??????? ??????? ??????? ?????????? ???????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ????????? ???? ?????? ????????????

“Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada hambaNya, maka Allah menyegerakan hukumannya di dunia, dan apabila Allah menghendaki keburukan kepada hambaNya maka Allah menahan dosanya sehingga dia terima kelak di hari Kiamat.” (HR. Tirmidzi [2319])

Dan Nabi Shallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :

????? ?????? ?????????? ???? ?????? ?????????? ,??????? ??????? ????? ??????? ??????? ???????????? ,?????? ?????? ?????? ???????? ?????? ?????? ?????? ?????????

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah.” (HR. Tirmidzi [2320])

3.    Diampuni dosa-dosanya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

??? ??????? ??????????? ???? ?????? ????? ?????? ????? ?????? ?????? ???????? ????????? ?????? ????????? ??????? ????? ??????? ?????? ???? ??????????

“Tidaklah seorang muslim terkena penyakit, kegelisahan, kesedihan dan kegalauwan yang menimpanya kecuali Allah ‘Azza Wajalla akan menghapus darinya kesalahan yang ia perbuat.”  (HR. Ahmad [10759])

Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman :

????? ??????????? ???? ????????? ??????? ???????? ??????????? ????????? ???? ???????

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”  (QS. Asy-Syura: 30)

Ringkasnya, berdasarkan hadits atau ayat tersebut dan yang lainnya, sabar atas musibah itu akan mendatangkan pahala, diampuni dosa, dan diangkat derajatnya, maka selayaknya kita bersabar atas musibah yang menimpa kita, kecil maupun besar.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Kedua, Mengupayakan selamat.

Sabar bukan berarti berpangku tangan dan berdiam diri, tetapi berupaya untuk menjaga keselamatan diri dan keluarga semaksimal mungkin, dan berhati-hati dalam bertindak. Selama ada kesempatan untuk menyelamatkan diri, seharusnya kita ambil kesempatan itu baik-baik. Misalnya, ketika pemerintah memberikan peringatan atau perintah untuk mengungsi karena gunung merapi mau meletus, maka sebisa mungkin kita segera mengungsi, sambil terus berdoa dan bertawakkal kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Tidak menantang bencana dengan berdiam diri terus di situ. Kaedahnya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam :

????? ???? ???????????? ????????? ???? ?????????

“Larilah (Jauhilah) penyakit kusta sebagaimana engkau lari dari kejaran singa.” (HR. Ahmad [9345])

Ketiga, menyerahkan nasib kepada Allah Subhana Wa Ta’ala.
–  Jangan berpustus asa dan jangan meratap.
– Jangan mengharap kematina.
– Berharap kepada Allah Subhana Wa Ta’ala  keselamatan dan jalan keluar.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Keempat, memperbanyak istighfar dan bertaubat.

Setiap musibah itu karena ulah dan dosa manusia. Allah Subhana Wa Ta’ala berfirman yang artinya :

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).”  (QS. Asy-Syura: 30)

Dan Allah Subhana Wa Ta’ala berfitman yang artinya :

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum:41)

Allah Subhana Wa Ta’ala telah menegaskan yang artinya :

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al_Anfal: 33)

Oleh karena itu setiap kali terjadi musibah menimpa kita (baik individu maupun masyarakat), sudah sepantasnya kita iringi dengan intropeksi dan memeperbanyak istighfar dan bertaubat kepada Allah Subhana Wa Ta’ala. Bukan sebaliknya malah semakin menjadi-jadi dalam kemaksiatan, karena dianggap sebagai fenomena alam biasa (yang rutin), yang tidak ada kaitannya dengan doa atau ulah manusia. Padahal Allah dan Rasul-Nya sudah menjelaskan bahwa setiap musibah iyu “bima kasabat aidinnas atau aidikum” (sebab ulah dan dosa manusia).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Sebagai penutup, marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita, merahmati dan memberkati kita, dan semoga Allah melindungi kita dari segala macam bentuk bencana, serta memberi keselamatan kepada kita di dunia dan akhirat. Amin ya Rabbal Alamin.

Sumber bacaan
1.    Majalah Qiblati Edisi 03 Tahun VI  dengan bebrapa perubahan.
2.    http://lidwa.com/app/

  • Ymaryono29

    emang jkalau musibah itu dtg kpd kita kadang2 kita sulit tuk menerimanya. yaa smg Allah Swt senantiasa memberikan kekuatan iaman kepada kita. amin
     

Iklan Buletin al-Balagh