Kontes Ratu-ratuan, Eksploitasi atau Kasih Sejati?

0

Pada tahun 2009 silam, sebuah artikel mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar dalam ajang Miss Universe 2009. Artikel tersebut secara tegas mengkritik kontes tersebut: “Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban dimana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban dimana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”

Dalam sebuah artikelnya Prof. Daoed Joesoef menulis ”Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak apriori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,” tulis Daoed Joesoef.

Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: ”setelah dibersihkan lalu diukur badannya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”

Hmm, kita memang hidup di akhir zaman, dimana antara yang haq dan bathil sudah terlalu biasa untuk dicampur adukkan. Meski perbedaan keduanya amat jelas tapi perasaan dan akal kadang menjadi takaran penentu yang membutakan, tanpa memperhatikan lagi apa yang telah digariskan Allah melalui risalah yang dibawa Rasul-Nya. Atas nama kebebasan wanita kemudian diekspolitasi. Namun gayung bersambut dalam keadaan tersebut kebanyakan wanita seperti di atas menara gading “kasih sayang”.

Inilah Kasih Sayang Sejati
Coba kita sedikit tengok ke zaman Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, sang panutan. Bagaimana seharusnya memberikan kasih sayang sejati kepada kaum wanita.

Dari Urwah bin Zubair diceritakan bahwa ada seorang wanita mencuri pada zaman Rasulullah di dalam Perang Fatah (Penaklukan Kota Makkah). Lalu kaum (keluarga) wanita tersebut mengadu kepada Usamah bin Zaid seraya memohon syafa’at (pertolongan) kepadanya. Kemudian, lanjut Urwah, ketika Usamah membicarakan hal itu dengan Rasulullah, maka wajah beliau pun berubah. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berbicara denganku mengenai (dispensasi) dalam hal had (sanksi hukum) yang telah ditetapkan oleh Allah?” Usamah pun berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.” Kemudian pada petang harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Lalu beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena mereka dahulu apabila orang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun apabila orang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka melakukan had (sanksi hukum) terhadapnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” Kemudian Rasulullah memerintahkan agar wanita itu dipotong tangannya. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dengan baik dan menikah. Aisyah mengatakan, “Setelah itu wanita tersebut datang kepadaku, lalu aku pun melaporkan keperluannya kepada Rasulullah .“ (HR. Bukhari)

Ini adalah lembar sejarah yang cemerlang dan sangat langka di dalam sejarah umat manusia pada umumnya. Saya kira kecemerlangan semacam itu tidak akan pernah terulang sampai Hari Kiamat. Sejarah belum pernah dan tidak akan pernah mengenal orang yang lebih hebat belas kasihnya kepada kaum wanita dibandingkan Rasulullah. Beliau berwasiat tentang wanita, memerintahkan untuk memuliakannya, menganjurkan untuk merawatnya, tabah menghadapi tabiatnya, dan memaafkan kekhilafannya.

Kendati rasa belas kasih beliau kepada kaum wanita demikian agung, namun beliau tidak akan pernah melanggar ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Bahkan ketika pemberlakuan ketentuan itu akan menimpa seorang wanita muslimah sekalipun.

Ini yang tidak kita jumpai pada diri banyak penguasa, para penanggung jawab maupun para orang tua yang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada wanita, dengan dalih belas kasih kepadanya. Akibatnya, mereka tidak mencegah kaum wanita melakukan sesuatu yang melanggar syari’at Allah. Mereka membiarkan kaum wanita keluar rumah dengan pakaian yang tidak menutup aurat, bersolek, bergaul bebas dengan lawan jenis dan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Ini sama sekali bukan belas kasih kepada wanita. Karena membiarkan wanita melakukan sesuatu yang bisa mengundang murka dan hukuman dan Allah bukanlah wujud belas kasih kepadanya.

Apakah seorang ibu bisa disebut berbelas kasih kepada putrinya ketika dia membiarkannya bermain korek api? Bukankah dia pasti mencegahnya atau mengambil korek api tersebut dan tangannya, kendati si anak sangat menikmati aktifitas menyalakan korek api tersebut, demi mencegahnya membakar dirinya atau membakar rumah beserta isinya?

Belas kasih yang sejati ialah apa yang diterapkan oleh Rasulullah, yakni syari’at Allah yang agung. Syariat itu berfungsi melindungi keselamatan manusia di dunia dan di akhirat, bahkan ketika ia mencegah mereka memperturutkan hawa nafsu mereka dan menghalangi mereka dari kesenangan-kesenangan yang diharamkan.

Barangkali taubat yang dilakukan oleh wanita dan kabilah Makhzum dengan dipotong tangannya tersebut memberikan peringatan (warning) kepada wanita muslimah masa kini yang merasa keberatan terhadap sesuatu yang jauh lebih ringan daripada harus dipotong tangannya. Yaitu wanita yang keberatan untuk menutup auratnya, keberatan untuk tinggal di rumah, dan keberatan untuk taat kepada suaminya. Peringatan itu menunjukkan bahwa semua itu bisa dilakukan oleh kaum wanita dengan pertolongan Allah. Dan di dalam taubat itulah terkandung jaminan keselamatan dan kemenangannya di dunia dan Akhirat.

Andaikata Sayyidah Fatimah mencuri, niscaya ayahnya yakni Nabi sendiri yang akan memotong tangannya. Apakah pemotongan itu paradoks (bertentangan) dengan rasa belas kasih?! Justru itulah belas kasih yang sejati. Karena adzab di Akhirat teramat pedih dan maha dahsyat, sementara melakukan eksekusi (pemotongan tangan) akan membuatnya selamat dan adzab Akhirat tersebut.

Maka dan itu, tidaklah berbelas kasih ketika seorang ayah membiarkan putrinya atau seorang suami membiarkan istrinya melakukan apa saja sesuka hatinya meski bermaksiat kepada Allah .

Peristiwa pencurian yang dilakukan oleh wanita Makhzumiyah itu terjadi pada waktu penaklukan kota Makkah. Yaitu sebuah momentum yang disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum muslimin. Akan tetapi momentum suka cita itu tidak mengabaikan pelaksanaan hukuman (had) yang telah ditetapkan oleh Allah.

Tidak lupa juga kita memberikan perhatian khusus kepada iman yang dimiliki oleh wanita Makhzumiyah tersebut dan taubat yang dilakukannya dengan baik. Dia tidak murtad (keluar) dan agamanya ketika Nabi menolak syafa’at yang diajukan melalui Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Begitu juga ketika hukuman (had) dilakukan terhadap dirinya. Justru dia bensikap pasrah dan bertaubat. Dia bahkan mau datang kepada Sayyidah Aisyah , lalu keperluannya dilaporkan kepada Nabi. Ini adalah bukti nyata yang menunjukkan keseriusan dan kekuatan iman di dalam dirinya.
Hal itu juga akan menjadi persaksian baginya, dan dia -insya Allah- akan menemukan buah dan kepasrahannya itu di Akhirat kelak. Sebab, dunia ini akan berlalu bersama kenangan manis dan pahitnya. Sedangkan Akhirat akan tetap kekal dan abadi. Akhirat jauh lebih baik daripada dunia dengan perbandingan yang tiada tara. Karena nilai dunia jika dibandingkan dengan Akhirat tidak lebih dan air yang menempel di ujung jari ketika dicelupkan ke dalam samudera berbanding dengan seluruh air yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.[]

 

————————————————————————–
Anda punya tulisan berupa artikel, opini ataupun kisah nyata yang ingin dipublikasikan di website ini? Silahkan kirim ke info@wimakassar.org

Share.

Leave A Reply