Lebih Dekat dengan al-Qur’an

1

Pembaca yang dirahmati Allah Ta’ala, Alhamdulillah Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali mempertemukan kita dengan bulan yang termulia, bulan Ramadhan. Tentunya ini adalah nikmat yang sangat berharga yang patut untuk kita syukuri. Bentuk kesyukuran kita adalah dengan tidak menyia-nyiakan detik-detik dalam bulan ini tanpa amalan yang kita harapkan pahala atasnya.

Ramadhan syahrul Qur’an…

Tentunya kalimat di atas sudah familiar di telinga-telinga kita. Ramadhan memang bulan al-Qur’an. Bulan di mana diturunkannya permulaan Al Quran (QS.Al baqarah 185).

Ramadhan adalah bulan dilipatgandakan pahala  amal kebajikan. Sebagai seorang muslim yang mengharap rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan takut akan siksa-Nya, tentu kita akan berupaya untuk memperbanyak membaca Alqur’an di bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya untuk mendekatkan diri kepada Allah, mengharap ridha-Nya, memperoleh keutamaan dan pahala-Nya.

Al Qur’an adalah kemuliaan yang paling tinggi. Al Quran adalah kalam Allah Subhanahu wa Ta’ala. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah, Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).

Dalam upaya mewarnai hari-hari kita dengan membaca Alqur’an baik itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, hendaknya membaca disertai merenungkan dan memahami maknanya, kemudian melaksanakan perintah-perintah dan larangan-larangannya. Jika kita menjumpai ayat yang memerintahkan sesuatu maka semoga kita pun mematuhi dan menjalankannya, atau menjumpai ayat yang melarang sesuatu maka kitapun meninggalkan dan menjauhinya. Jika kita menjumpai ayat rahmat, kita memohon dan mengharap kepada Allah rahmat-Nya atau menjumpai ayat adzab, kita berlindung kepada Allah dan takut akan siksa-Nya. Di samping itu, di dalam Alqur’an juga terdapat banyak inspirasi-inspirasi dan petunjuk-petunjuk bagi kita untuk menggunakan potensi akal kita, untuk mengkaji dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Bagitu banyak keutamaan-keutamaan dari berinteraksi dengan Al Quran yang insya Allah dengan mengetahuinya semoga bisa semakin memotivasi kita maupun anggota keluarga kita untuk semakin mencintai dan terus membaca dan memahaminya.

Keutamaan membaca Al Quran

Banyak sekali kitab-kitab yang mengulas tentang keutamaan membaca Al-Qur’an ini dikarenakan banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut baik dalil-dalil yang bersumber dari Kitabullah maupun hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berikut ini dalil-dalil keutamaan membaca al-Qur’an,

“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Qur’an) dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran)…” (QS. Al Ankabut : 45)

Orang yang membaca al-Qur’an meski terbata-bata dijanjikan dua pahala karena kesungguhannya.

Sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Orang yang mahir dalam Al Qur’an bersama duta-duta mulia lagi suci. Dan siapa yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan maka baginya dua pahala.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Tiap huruf dalam al-Qur’an bernilai pahala, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Orang yang membaca satu huruf dari Kitabullah maka baginya satu kebaikan dan setiap kebaikan setara dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf akan tetapi alih satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

Masya Allah, berapa pahala yang kita dapatkan ketika mambaca satu ayat? Satu halaman? Satu Juz dalam al-Qur’an dan seterusnya? Apalagi di dalam bulan Ramadhan ini, dimana pahala dilipat gandakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Al-Qur’an menjadi pemberi syafaat (pembela) di akhirat bagi para pembacanya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:

“Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya…” (HR Muslim)

Keutamaan menghafal Al Quran

Alangkah indahnya hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al Quran, tetapi juga menghafalnya dan mengamalkannya. Banyak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mendorong untuk menghafal Al Qur’an, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh” (HR. Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penghafal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”  (HR. Tirmidzi)

Mentadabburi al-Qur’an

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentadabburi al-Qur’an dan mencela orang yang tidak mau memahaminya.

“Apakah mereka orang-orang yang tidak mentadabburi al qur’an ataukah hati-hati mereka terkunci mati “.(QS. Muhammad : 24)

“Sebuah kitab yang telah kami turunkan kepadamu (Muhammad) yang penuh barokah supaya mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang memiliki akal menjadi ingat”. (QS. Shod : 29 ).

Dan Allah pun memuji bagi orang-orang yang memperhatikan makna al-Qur’an dan hati mereka tersentuh karenanya.

“Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al-Qur’an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata, “Ya Rabb kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al-Qur’an dan kenabian Muhammad).” (QS. Al-Ma’idah: 83).

Mengamalkan al-Qur’an

Ini adalah hal yang tidak kalah pentingnya. Al-Qur’an adalah sumber hukum tertinggi dalam Islam. Sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim untuk menjadikan al-Qur’an sebagai pedoman dan pegangan hidup. Muslim yang baik akan menerima segala aturan dan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala dalam al-Qur’an. Tidak ada perasaan berat bagi mereka untuk melaksanakan perintah dan menjauhi larangan Allah Ta’ala. Al-Qur’an akan menjadi lebih berarti bagi seseorang ketika dia tidak sekedar membacanya tapi juga mengamalkan apa-apa yang termaktub dalam al-Qur’an dalam kesehariannya sebagai hamba Allah.

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Qur’’an dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan dengan berulang kali, di dalamnya sebahagian dari ancaman, agar mereka bertakwa atau Al-Qur’an itu menimbulkan pengajaran bagi mereka.” (QS. Thaha: 113)

Salafus Shaleh dengan al-Qur’an

Lalu, bagaimanakah para salafus shaleh berinteraksi dengan Al Quran. Semoga dengan mengetahui kisahnya, kita akan semakin bersemangat untuk benyak menginvestasikan waktu kita bersama Al Quran.

Ibnu Rajab meriwayatkan bahwa Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha selalu membiasakan permulaan hari-hari Ramadhan dengan membaca al-Qur’an. Beliau membacanya dari selepas subuh sampai terbit matahari, setelah itu baru beliau memulai aktifitas yang lain. Diriwayatkan bahwa Iman Malik rahimahullah meninggalkan pembacaan hadits-hadits dan majelis-majelis ilmu pada bulan ramadhan dan hanya menekuni bacaan al-Qur’an langsung dari mushaf.

Imam Dzahaby meriwayatkan dalam kitabnya Hilyatul Auliya: Diriwayatkan bahwa Ibnu Mas’ud biasa mengkhatamkan al-Qur’an dari Jum’at ke Jum’at berikutnya, berbeda dengan bulan Ramadhan beliau akan mengkhatamkannya selama 3 hari sekali. Sa’id bin Jubair dan Aswab bin Yazid mengkhatamkan al-Qur’an setiap 2 hari sekali. Rabi’ bin Sulaiman berkata: Imam Syafi’i biasa mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan.

Imam Ibn Rajab memberikan komentar tentang banyaknya bacaan al-Qur’an di bulan Ramadhan yang dilakukan oleh para salaf soleh: Memang ada larangan mengkhatamkan al-Qur’an kurang dari tiga hari, akan tetapi larangan itu berlaku apabila menjadikannya sebagai kebiasaan secara terus menerus. Adapun pada momen-momen tertentu seperti datangnya bulan Ramadhan yang mempunyai keutamaan waktu atau di Mekah dan Madinah yang mempunyai keutamaan tempat maka dianjurkan untuk membacanya sebanyak mungkin kita mampu. (Lathaif Ma’arif karya Ibn Rajab).

Saudaraku! Raihlah ganjaran Ramadhan dengan memperbanyak ibadah dan tilawah. Janganlah Ramadhan berlalu tanpa meraih pahala dan magfirah-Nya. Bacalah al-Qur’an sebanyak  kita mampu.

Semoga kita semua dimasukan oleh Allah ke dalam golongan orang-orang yang mendapatkan syafaat dari Al-Quran yang selalu dengan istiqomah kita baca dan amalkan. Amiin.[]

Share.

1 Comment

Leave A Reply