Maulid dalam Sorotan

0

Umat Islam dimuliakan  Allah dengan dua hari raya, yaitu  Idul Adha dan Idul Fitri setiap tahunnya, dan hari  Jum’at setiap pekannya. Selain itu, tidak dikenali hari raya yang lain.

Kenyataan saat ini, kaum Muslimin merayakan hari raya yang lain selain hari raya tersebut, di antaranya Perayaan Maulid Segala sesuatu yang dilarang pasti ada mudharatnya. Demikian pula perayaan hari raya selain hari raya di atas,

Praktek kesyirikan yang tidak disadari
Perayaan maulid sudah menjadi tradisi atau bahkan hal yang wajib dilaksanakan yaitu adanya pembacaan Barzanji, yaitu sebuah ritual membacakan puji-pujian kepada Nabi Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Di dalamnya juga terdapat benih-benih kesyirikan dan pujian yang melampaui batas Syari’at terhadap beliau . Namun mereka menganggap itu sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Hal ini membuat sebuah praktek kesyirikan  dianggap ibadah.  Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda : “Janganlah kalian berlebihan memujiku seperti orang-orang Nashrani berlebihan memuji putera Maryam. Aku  hanyalah seorang hamba, maka katakanlah hamba Allah dan Rasul-Nya.” [HR. Bukhari dari ‘Umar bin Kaththab],Inilah dampak yang terbesar dari sekian kerusakan perayaan maulid.

Syirik menghapus seluruh amal seorang hamba sebagaimana firman-Nya : “Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepada kamu (Hai Muhammad) dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu, ‘Jika engkau berbuat syirik niscaya akan hapus amalmu dan niscaya engkau termasuk golongan orang-orang yang merugi.” [QS. Az-Zumar : 65].

Mendahului Allah dan Rasul-Nya
Allah dan Rasul-Nya tidak pernah menetapkan dalam Syari’at untuk beribadah dengan merayakan kelahiran Nabi. Perbuatan sebagian kaum Muslimin melakukan ritual untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sesuatu yang tidak  dicontohkan  Rasulullah dan Sahabat adalah sikap mendahului Allah dan Rasulullah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya.”[Al-Hujurat :1].

Maksudnya , orang-orang Mukmin tidak boleh menetapkan  hukum, sebelum ada ketetapan dari Allah dan Rasul-Nya. Bagaimana pendapat Anda… Jika Raja alam semesta ini menetapkan suatu aturan untuk kebahagian hambanya, lalu Sang Raja menyatakan bahwa aturan-Nya itu telah sempurna. Lalu datang seorang  membawa aturan baru yang dianggapnya baik untuk semua. Bukankah orang  tersebut telah berani mengatakan bahwa aturan Sang Raja belum sempurna?, dan perlu ditambah?

Inilah hakikat Bid’ah, menyaingi bahkan mengambil hak Allah dalam menetapkan Syari’at. Padahal Allah berfirman: “Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka (aturan) agama yang tidak diizinkan Allah?”[Asy-Syuura :21]. Kita tak akan mendapatkan  riwayat oleh para Sahabat, tabi’in dan tidak pula tabi’uttabi’in. Karena perayaan Maulid baru muncul pada abad ke-4 H. Kalau memang peringatan Maulid itu baik maka tentu para sahabat telah mendahului kita melakukannya sebagaimana kata ulama : “walau kaana khairan lasabaquunaa ilaihi”, “sekiranya itu lebih baik maka orang-orang sebelum kita (yaitu para sahabat) lebih pantas melakukannya”.

Wujud  Cinta yang Keliru

Perayaan maulid oleh sebagian kaum Muslimin dianggap sebagai  ungkapan  cinta terhadap Nabi  Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam. Jika ini benar, siapa diantara kita di zaman ini yang lebih dalam cintanya kepada Nabi selain Sahabat?. Jawabnya “Sahabatlah yang paling dalam cintanya kepada Nabi”. Jika  demikian, maka mengapa para Sahabat tidak membuktikan cinta kepada beliau dengan  merayakan hari kelahiran beliau? Kenapa para Sahabat tidak mengarang bait-bait syair untuk memuji Nabi di hari kelahirannya ? Mengapa pula para Sahabat tidak membentuk “Panitia Lomba Maulid” untuk memeriahkan HUT manusia terbaik di muka bumi ini?,”Tunjukkanlah bukti kalian, jika kalian orang-orang yang benar” [Al-Baqarah : 111].

Ahlussunnah yakin, bahwa yang pokok adalah bagaimana menjadi mukmin yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Karena ungkapan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya bisa juga diucapkan oleh orang-orang munafik,  tetapi mereka bukan orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.Mustahil mendapatkan kecintaan Allah kecuali dengan mengikuti Sunnah Nabi yang mulia. Allah berfirman : “Katakanlah ; ‘Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku (Muhamad)! Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampunkan dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang “ [QS.Ali-‘Imran: 31].

Tidak ada kebaikan dalam Bid’ah.
Tidak jarang kita mendengar lantunan nasyid bermusik di bulan Rabiul Awwal dalam aneka ragam perayaan maulid. Bahkan musik-musik tersebut diperdengarkan di masjid yang di dalamnya digunakan untuk bersujud kepada-Nya.  Allah berfirman : “Dan diantara manusia ada yang menggunakan “lahwal hadits” untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azdab yang menghinakan “ [Luqman : 6]. Ibnu Mas’ud ra menafsirkan lahwal hadits dalam ayat tersebut adalah “nyanyian atau lagu”. [lihat. Tafsir Ibnu Katsier Surat Luqman].

Tasyabbuh  dengan Nashrani
Maulid sesungguhnya adalah perbuatan meniru Nashrani dalam hal merayakan hari kelahiran Nabi Isa  ’Alihimussalam yang mereka sebut dengan Natal. Padahal kita  dilarang keras menyerupai Yahudi dan Nashrani apalagi meniru-niru mereka dalam hal ritual agama. Allah berfirman : “Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti keinginan mereka (Yahudi dan Nashrani) setelah datang kepadamu ilmu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zhalim.” [Al-Baqarah :145]. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata tentang  ayat ini “meniru sesuatu yang menjadi ciri khas mereka, atau yang merupakan bagian dari ajaran Agama mereka” [Iqtidha’ shirathal mustaqim T. / 63-64]. Rasulullah  bersabda : “Barang siapa menyerupai suatu kaum, berarti ia termasuk golongan kaum itu” [Ahmad dan Abu Dawud, shahih].

Adanya Tabziir (Pemborosan)
Berapa dana yang dihabiskan oleh sebagian kaum muslimin yang merayakan maulid? Andai dana-dana tersebut disedekahkan di jalan Allah tentu itu akan lebih bermanfaat, daripada digunakan sebagai penyokong kegiatan yang tidak bernilai ibadah di sisi Allah. Bahkan diantara mereka ada yang sampai memberatkan diri berutang . Ini adalah bentuk kemubazziran yang menghantarkan kita menjadi saudara-saudara syaitan dalam Al-Qur’an, “…dan janganlah kamu menghamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar pada Tuhannya” [Al-Isra’ :26-27].

Persatuan Islam yang Semu
Sebagian kaum Muslimin  berusaha melakukan pembelaan terhadap perayaan maulid dengan berkata : “Ini adalah momen yang istimewa untuk mempererat ukhuwah, silaturahmi dan menyemarakkan sedekah antara saudara Muslim. Jadi tidak ada salahnya kita merayakan maulid dengan kemeriahannya”. Untuk menjawab ungkapan ini kita kembali kepada kaidah yang sangat kokoh bahwa generasi pertama ummat ini adalah sebaik-baik generasi, berdasarkan hadits “Sebaik-baik manusia adalah pada zamanku (Sahabat), kemudian yang sesudahnya (tabi’in) kemudian yang sesudahnya (tabi’ tabi’in)” [HR. Bukhari].

Dari sini kita pahami bahwa para Sahabat adalah manusia terbaik yang paling kokoh ukhuwah dan silaturahminya . Barisan shaf mereka rapat, bersambung dari bahu kebahu dari tumit ke tumit dan kokoh dihadapan Rabbul ‘alamin sewaktu mereka berdiri, ruku’ dan sujud. Jiwa-jiwa mereka bersatu di medan jihad. Begitu pula dana mereka terkumpul tidak karena adanya maulid. Tidak pula karena aneka lomba dan permainan yang mereka adakan setiap Rabiul Awwal. Kita bertanya, jika maulid adalah jembatan menuju persatuan Islam dan Ukhuwah Islamiyah yang kokoh, lalu apa sebab kaum Muslimin sampai saat ini masih terkotak-kotak dan berpecah belah? Padahal perayaan maulid telah berlangsung lebih dari sepuluh abad?. Hanya kepada Allah kita kembali dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dari badai syubhat dan syahwat yang menerpa.(alsofwah)

(Al Balagh Ed.83 TH.II/1428 H)

Share.

Leave A Reply