Membangun Persatuan Umat Islam untuk Indonesia yang Kuat dan Bermartabat

0

 

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ ِباللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا. أَمَّابَعْدُ؛

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهَ، وَخَيْرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ ِبِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَكُلَّ ضَلاَلَةٍ فِي النَّارِ.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Gema takbir membahana semarakkan suasana bahagia hari raya, lantunan tahmid dan tahlil menyempurnakannya sebagai wujud penghambaan jiwa kepada Allah Penguasa semesta.

Gema takbir, tahmid dan tahlil yang kita kumandangkan di pagi hari ini adalah kalimat dan lafal yang sama menggema di seluruh persada, dilantunkan oleh saudara-saudara kita di berbagai penjuru dunia.

Betapa pagi ini kebahagiaan membuncah memenuhi setiap relung jiwa kita…

Betapa senyum nan ceria menghiasi wajah-wajah kita…

Betapa hiruk pikuk hari raya menyemarakkan suasana hari kita…

Namun kebahagiaan ‘id yang kita rasakan hari ini, boleh jadi telah hilang dari sebahagian saudara-saudara kita nun jauh di sana, di negeri-negeri kaum muslimin yang terjajah.: di Suriah, Burma dan Gaza…

Gema takbir mereka diselingi isak tangis pilu bocah-bocah yang kehilangan keluarga mereka dan kini hidup terlunta sebatang kara.

Gema tahmid mereka diselingi rintihan perih korban-korban terluka bersimbah darah, hanya mendapatkan perawatan seadanya sebab fasilitas kesehatan negeri mereka telah rata dengan tanah akibat serangan udara membabi buta…

Gema tahlil mereka diselingi rentetan senjata dan dentuman rudal-rudal yang menggelegar meluluhlantakkan rumah-rumah kediaman mereka…

Ada berjuta duka menyelubungi hari raya mereka…

Ada berjuta nestapa menghimpit hari-hari mereka…

Ada berjuta tragedi berdarah hantui suasana mereka…

Namun hal itu tidaklah menghalangi mereka untuk menggemakan takbir, tahmid dan tahlil di hari mulia ini seperti kita.

Mereka adalah saudara-saudara kita para kesatria medan laga di bumi jihad yang terus membara, yang telah dan sedang menunaikan janjinya kepada Allah… sementara kita yang berada disini Insya Allah akan terus menanti penuh tawakkal seraya menggenggam janji yang serupa dengan sepenuh jiwa. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا

“Di antara kaum beriman, ada orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah. Di antara mereka ada yang telah menunaikan janjinya, dan di antara mereka ada sedang menunggu, namun mereka tidak pernah mengubah (janji itu) sekalipun.” (QS. al-Ahzab: 23)

 

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum muslimin yang berbahagia!

Ramadhan telah berlalu pergi. Kepergiannya memberikan banyak arti dan meninggalkan jejak-jejak pelajaran yang harus kita renungkan. Salah satunya adalah pelajaran tentang betapa pentingnya ukhuwah dan persaudaraan di jalan Allah untuk membangun sebuah kejayaan. Bulan Ramadhan telah menyatukan umat Islam dengan segala kesyahduan ibadah-ibadahnya, dan juga peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Tragedi Gaza yang terinjak-injak kekejian Zionis Israel misalnya, meski jelas menunjukkan adanya kelemahan kita sebagai umat, namun kesatuan respon dan ungkapan keprihatinan kita sebagai umat setidaknya menjadi tanda awal adanya harapan kejayaan itu masih selalu ada.

Umat Islam yang berbahagia!

Suatu ketika, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersama pasukannya sedang dalam perjalanan pulang dari perang Banil Musthaliq. Di sebuah persinggahan, rombongan besar ini melepas lelah sambil menikmati air dari sumur yang ada. Dalam rombongan manusia yang besar seperti itu, gesekan kecil wajar terjadi. Tanpa sebab yang jelas, seorang sahabat dari kelompok Muhajirin menendang kaki sahabat lain dari kelompok Anshar, persis di tempat sumber air yang menjadi pusat kerumunan pasukan.

Masih diselimuti lelah akibat perang dan perjalanan, insiden kecil itu berhasil memantik sentimen kelompok. Gesekan tersebut sejatinya hanya melibatkan individu dari dua kelompok yang berbeda. Tapi, karena sentimen kelompok yang menonjol, persoalan pribadi tersebut terseret kepada fanatisme golongan.

Tokoh Anshar memanggil anggota kelompoknya, “Wahai kaum Anshar, kemarilah!”

Tidak mau kalah, tokoh Muhajirin membalas dengan memanggil pula anggota kelompoknya, “Wahai kaum Muhajirin, kemarilah!”

Rasulullah yang sedang beristirahat mendengar teriakan dua kelompok tersebut. Dari nada suara yang memanggil itu, Nabi segera paham adanya gelagat yang tidak baik. Beliau mengatakan:

مَا بَالَ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Kenapa aku mendengarkan seruan Jahiliyah?”

Dan setelah Nabi menerima laporan tentang peristiwa yang terjadi, beliau segera mengeluarkan instruksi:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah seruan-seruan itu, karena dia adalah seruan busuk!”

Kaum Muslimin yang dimuliakan Allah,

Muhajirin adalah gelar kehormatan. Gelar ini menggambarkan prestasi. Sebab Muhajirin adalah orang-orang yang berhijrah meninggalkan kampung halamannya demi untuk kepentingan agama dan ummat. Muhajirin adalah orang-orang yang meninggalkan keluarga, harta, dan pekerjaan dan bergabung bersama Rasulullah di kota Medinah untuk misi memperjuangkan agama Allah.

Di sisi lain, Anshar juga merupakan gelar kehormatan. Prestasi yang tergambar dari gelar ini tidak kalah kecilnya. Anshar adalah orang-orang Medinah yang dalam keterbatasan mereka menampung, melayani, dan menanggung kehidupan saudara-saudara mereka yang hijrah ke Medinah. Khususnya bagi kelompok Muhajirin yang belum mampu mandiri.

Anshar adalah penghuni dari kampung yang siap menerima dan melindungi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan dakwahnya.

Namun demikian, ketika gelar yang mulia ini disalahgunakan, saat “Muhajirin” dan “Anshar” keluar dari rel perjuangan Islam dan dibawa kepada kepentingan kelompok, maka Muhajirin dan Anshar menjadi identik dengan Jahiliyah.

مَا بَالَ دَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

“Kenapa aku mendengarkan seruan Jahiliyah?” begitu sabda Rasulullah shalalallahu ‘alaihi wasallam.

Dan ketika gelar ini digunakan untuk memecah-belah ukhuwah islamiyah, Nabi tidak segan-segan mengecamnya:

دَعُوهَا فَإِنَّهَا مُنْتِنَةٌ

“Tinggalkanlah seruan-seruan itu, karena dia adalah seruan busuk!”  

Muhajirin dan Anshar, dua gelar prestasi dan kehormatan, bisa berubah menjadi seruan Jahiliyah dan ajakan untuk berbuat jahat. Bukan karena makna dan kandungan dari Muhajirin dan Anshar itu sendiri, tapi ketika gelar tersebut diselewengkan. Muhajirin dan Anshar yang awalnya untuk mendorong berlomba dalam kebaikan, diselewengkan untuk menjadi simpul perpecahan kaum Muslimin.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu

Kaum Muslimin yang berbahagia,

Episode selanjutnya semakin memperjelas siapa sesungguhnya musuh kaum Muslimin yang utama: kaum Munafiqin. Abdullah bin Ubay bin Salul, gembong kaum Munafiqin yang juga ada dalam rombongan pasukan tidak bisa menyembunyikan belangnya.

Demi mendengar Muhajirin dan Anshar yang memanggil kelompoknya, sifat kemunafikannya segera muncul.

“Benarkah orang Muhajirin telah berani menantang kita!?” ketus Abdullah bin Ubay. “Bila kita sampai di Medinah nanti, orang-orang terhormat akan segera mengusir orang-orang hina.” Begitu bahasa orang Munafik ini mengancam.

Ummat Islam yang dimuliakan Allah,

Ternyata, tanda paling nyata dari kemunafikan adalah kegemaran menimbulkan perpecahan: merusak ukhuwah, memutus silaturahim, memicu konflik, memecah-belah persaudaraan.

Benar, tanda paling nyata keimanan adalah ukhuwah, dan tanda paling jelas kemunafikan adalah perpecahan.

Latar belakang yang berbeda, yang seharusnya menjadi sumber kekuatan bagi orang-orang yang beriman, dimanipulasi menjadi sumber perpecahan dan konflik.

Latar belakang yang tidak sama, karena bahasa, warna kulit, daerah asal, bahkan orientasi kerja, yang seharusnya bisa berpadu untuk saling melengkapi sehingga bisa mencapai kesempurnaan, bagi kaum Munafikin justru dijadikan alasan untuk bertengkar dan saling menjatuhkan.

Ummat Muhammad yang dimuliakan Allah,

Sebagai sebuah bangsa, kita baru saja menyelesaikan satu agenda politik kebangsaan yang penting. Pemilihan anggota legislatif dan pemilihan presiden dan wakilnya. Agenda politik kebangsaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia tersebut merupakan proses yang wajar dalam perjalanan sebuah bangsa.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa dalam menjalankan agenda tersebut, terhadap sesama ummat Islam yang juga anak bangsa, sangat mungkin terjadi perbedaan dalam mempersepsikan realitas politik yang ada, apalagi dalam menentukan pilihan.

Dalam sistem demokrasi yang terbuka dan melibatkan partisipasi politik masyarakat yang luas, realitas politik memang menjadi rumit dan cenderung tidak jelas. Berbagai kepentingan bahkan kesempatan bisa dipermainkan.

Maka selama orientasi kita sama, niat kita tulus untuk sama-sama mewujudkan kemaslahatan ummat dan bangsa, menunjuk perwakilan dan melahirkan pemimpin yang bisa membawa bangsa ini kepada kemakmuran, keadilan, pemenuhan hak-hak, perlindungan kepada kaum yang lemah, dorongan kepada syiar-syiar Islam, akses pendidikan yang terjangkau bagi semua, media yang jujur dan bertanggung jawab, maka mari kita kedepankan ukhuwah Islam.

Sebagai ummat, kita adalah bagian terbesar dari penduduk negeri Allah ini. Saham ummat Islam dalam sejarah, perjuangan, dan revolusi kemerdekaan Indonesia juga terbesar. Setelah kemerdekaan, kita juga yang terus mengukir sejarah pembangunan di negeri ini.

Bahkan dibandingkan dengan saudara-saudara kita yang lain, ummat Islam di bumi Allah yang lain, kitalah negeri dengan jumlah ummat Islam terbesar di abad ini. Dengan demikian jelas bahwa baik negeri ini, maka baik juga kita ummat Islam. Sebaliknya, rusak negeri ini, rusak juga kita ummat Islam.

 

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaha Illallah Allahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu.

Kepada para pemimpin bangsa, umara’ dan ulama. Kami serukan untuk menjadi panutan bagi seluruh masyarakat, bukankah kepemimpinan itu adalah keteladanan? Keteladanan dalam perkataan dan perilaku, keteladanan dalam kejujuran dan perbuatan baik, keteladanan dalam mengedepankan kemaslahatan bangsa atas kepentingan kelompok. Persatuan dan kebersamaan antar sesama anak bangsa, khususnya umat Islam menjadi salah satu kemaslahatan bangsa yang harus dijaga dan dipertahankan, persatuan di atas iman dan ketauhidan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, persatuan yang dibingkai oleh keluasan syariat dan sifat toleransi yang benar. Kebersamaan umat Islam harus dilindungi agar tidak dicederai oleh aliran-aliran yang merusak kemurnian agama, paham dan perilaku yang menyimpang memiliki daya rusak persatuan umat yang patut untuk diawasi. Menjaga kebersamaan umat Islam di atas kemurnian ajaran agama sesuai Al-Qur’an dan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menjadi tugas setiap pemimpin bangsa ini, sehingga menjadi pilar yang kokoh buat ketahanan negara.

Para pemimpin bangsa yang terhormat, penerapan hukum-hukum syariat Islam atas umat manusia menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Kami mengingatkan hal ini sebagai bentuk tanggungjawab atas sesama umat Islam, sebagai bagian dari bangsa ini kami merasa rindu terhadap hukum-hukum syariat yang diterapkan secara sempurna tanpa adanya pemilahan antara hukum-hukum ibadah dan hukum-hukum muamalah. Allah Subhanahu Wata’ala telah menjamin kesejahteraan suatu bangsa yang menjalankan aturan-aturan-Nya, maka apakah bangsa kita masih mau dibawa untuk mencari jaminan kesejahteraan dari selain-Nya?

Tidak ada satupun yang lebih benar perkataannya dari Allah Subhanahu Wata’ala, sehingga segala upaya untuk mencari kesejahteraan dari selain yang telah dijanjikan oleh-Nya hanya menjadi perbuatan yang sia-sia bahkan mengorbankan masyarakat itu sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Seandainya para penduduk negeri itu beriman dan bertaqwa, pasti akan Kami bukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit maupun bumi. Namun mereka mendustakan (Allah), maka Kami pun menghukum mereka akibat apa yang mereka kerjakan” (QS. al-A’raf: 96)

Para pemimpin bangsa yang terhormat, kami mengajak untuk kembali kepada hukum-hukum syariat Allah Subhanahu Wata’ala untuk dapat diterapkan dengan baik dan sempurna, semoga Allah segera menurunkan janji-Nya berupa kesejahteraan dan keberkahan bagi bangsa tercinta ini.

Kepada para ulama panutan umat, kami mengharapkan bimbingan tulus sepanjang waktu. Bimbingan yang bersumber dari Al-Quran dan hadits-hadits sahih Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, mengingatkan kami agar dapat selalu istiqamah di atasnya, menjadi teladan bagi kami dalam sikap istiqamah menjalankan dan memperjuangkan agama. Para ulama kami yang tercinta, bukan layak bagi kami untuk menggurui, namun sebatas saling mengingatkan sesama hamba Allah, bahwa perjalanan lurus suatu bangsa tidak bisa lepas dari peran ulama Islam. Perpaduan antara ulama dan pemerintah menjadi jaminan bagi kebijakan yang membawa maslahat kepada rakyat, perpaduan yang berdasarkan atas asas saling mengingatkan dan menasihati kepada kebaikan, bukan pembenaran atas kebijakan atau perilaku yang tidak sesuai dengan tuntunan agama Allah Subhanahu Wata’ala.

Para ulama kami yang mulia, kesadaran umat Islam untuk bersatu dan menjaga persaudaraan selayaknya menjadi modal berharga sehingga kekuatan umat ini bisa senantiasa bertahan, oleh karena itu berikanlah kami contoh yang baik untuk menjaga tekad persatuan ini dan mewujudkannya antar sesama kaum muslimin atau anak bangsa secara keseluruhan. Kami sadar bahwa perbedaan di antara ulama bisa menjadi sebab perpecahan di tubuh umat, namun sikap bijak dan arahan-arahan yang membangun diyakini bisa –insya Allah- untuk meredam gejolak tersebut. Umat membutuhkan keteladanan dalam sikap kebersamaan dan persatuan ini, saling curiga atau tuding dengan melemparkan kalimat-kalimat yang tidak pantas, rasanya bukan keinginan semua pihak.

Kepada para pemilik dan pelaku media informasi, kami hanya mengingatkan bahwa setiap informasi yang sampai kepada masyarakat maka pasti ada tanggungjawabnya dunia dan akhirat. Kebenaran informasi harus dibalut dengan sifat kejujuran, tanpa kepentingan kelompok atau golongan sehingga tidak membuat keresahan di tengah masyarakat. Keterbukaan saluran informasi bukan menjadi pembenar untuk mengumbar segala sesuatu tanpa saringan kegunaannya bagi masyarakat, karena pada dasarnya setiap kita memiliki tanggungjawab terhadap kemajuan bangsa ini. Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.” (QS. al-Nur: 19)

Saudara-saudara pemilik dan pelaku media informasi, kami mengajak saudara-saudara sekalian untuk menjaga kedamaian bangsa ini dengan menyajikan informasi yang menyejukkan, jauh dari kesan memancing kerusuhan di tengah masyarakat atau menciptakan rasa pesimis dengan sajian acara kekerasan, kriminalitas yang berlebih-lebihan, dan pergaulan bebas yang seakan-akan sudah menjadi kebiasaan.

Kepada para orang tua, kami mengingatkan bahwa ketahanan keluarga menjadi pilar paling utama nilai-nilai kemuliaan masyarakat dan bangsa. Anak-anak kita menjadi generasi yang wajib mendapatkan pendidikan nilai-nilai kejujuran, amanah, ketulusan, keimanan yang mendalam di dalam rumah tangga. Ulama-ulama besar Islam sejak zaman dulu lahir dari perhatian orang tua mereka di dalam rumah sejak kecil. Imam al-Syafi’i dan Imam Ahmad bin Hambal hanyalah contoh dari sebagian kecil ulama besar Islam ini, ibunda Imam al-Syafi’i memasukkannya ke sekolah penghapal Al-Quran sejak usia dini, sehingga beliau mampu mengkhatamkan hapalannya di usia 7 tahun, Imam Ahmad dibangunkan oleh ibundanya sejak sebelum subuh untuk diantar ke rumah seorang guru pengajar ilmu hadits hingga beliau menguasainya dengan baik di usia masih kecil.

Para orang tua yang tercinta, kami mengajak ayah dan bunda sekalian untuk menjaga kelangsungan generasi umat Islam yang tumbuh dengan nilai-nilai kemuliaan dan menyebarkannya di tengah masyarakat, kami mengajak untuk memperhatikan rumah tangga masing-masing dan menjadikannya sebagai sekolah atau madrasah. Mari mengarahkan anak-anak ayah dan bunda sekalian untuk mempelajari Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam, memperkenalkan mereka kepada Allah, Rasulullah, dan agama Islam yang murni, semoga mereka tumbuh menjadi generasi yang kuat dan siap mengarungi hidup dengan naungan agama.

Kepada kaum perempuan, kami mengingatkan bahwa anda sekalian adalah salah satu pilar utama negara dan bangsa. Bangsa dan negara yang baik tercermin dari sikap dan pergaulan kaum perempuan, baiknya menjadi kebaikan bangsa, buruknya juga keburukan bagi bangsa. Tanggung jawab yang memang tidak ringan, semoga Allah Subhanahu Wata’ala membantu anda sekalian untuk memikulnya. Kami mengajak kepada seluruh kaum perempuan untuk berhijab menutup aurat dengan benar dan menjaga pergaulan sebaik-baiknya, sehingga tidak menjadi bahan fitnah atau godaan bagi lawan jenisnya, kami mengajak kepada seluruh kaum perempuan untuk mempelajari ilmu agama sehingga bisa menjalankan perannya untuk membangun masyarakat dan umat, kami mengajak kepada seluruh kaum perempuan yang memiliki ilmu agama untuk ikut aktif berperan serta dalam dakwah Islamiyah khususnya di kalangan kaum perempuan sendiri, sehingga dapat terwujud keseimbangan dalam penyampaian dakwah Islamiyah ini.

Kepada para pemuda Islam harapan umat, kami sampaikan seruan untuk menggunakan masa muda dengan baik dan benar. Fase pemuda tidak akan berulang dalam kehidupan, sehingga hanya penyesalan yang biasa terdengar dari setiap orang yang telah melewati fase ini dan tidak menghasilkan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain. Saudara-saudaraku para pemuda, waktu yang anda miliki lebih mahal dari nilai situs-situs jejaring sosial sehingga tidak pantas untuk dihabiskan dalam keasyikan dunia maya atau menghabiskan paket data seluler, otak anda lebih berharga dari perilaku bebas kaum permisif yang menghalalkan segala jenis hubungan sehingga tidak layak untuk dijejali oleh pandangan-pandangan kotor mereka itu, fisik anda lebih bernilai dari harga golongan tertinggi miras atau narkoba sehingga tidak sebanding apabila dirusak dengan memaksakannya masuk ke dalam tubuh, vitalitas anda jauh lebih mulia dari perilaku kriminalitas kelompok-kelompok geng motor sehingga tidak terjangkau oleh mahalnya bayaran balapan liar atau tingginya pujian orang karena tindakan tidak terpuji. Saudara-saudaraku para pemuda, waktu anda, otak, fisik, dan vitalitas menjadi modal yang selayaknya dijadikan penghubung antara anda dengan Allah Subhanahu Wata’ala. Sangat layak untuk malu apabila masa muda berlalu dan anda tidak punya karya yang diwarisi oleh orang lain.

Kaum muslimin yang berbahagia, akhirnya, marilah kita semua menundukkan hati kita dengan penuh harap kepada Allah, memanjatkan doa kepada-Nya,

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, tempat semua keluh-kesah disampaikan, tempat semua masalah mendapat jalan keluar.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Sang Rasul tercinta, para keluarga dan sahabatnya, manusia-manusia terbaik yang pernah terlahir.

Ya Allah, Engkau adalah Rabb kami Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Engkau telah menciptakan kami, dan kami adalah hamba-Mu dan kami selalu berusaha menepati ikrar dan janji kami kepada-Mu dengan segenap kekuatan yang kami miliki. Kami berlindung kepada-Mu dari keburukan perbuatan kami. Kami mengakui betapa besar nikmat-nikmat-Mu yang tercurah kepada kami dan kami tahu dan sadar betapa banyak dosa yang telah kami lakukan. Karenanya, ampunilah kami. Tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau.

Ya Allah Tuhan Yang Maha Penyayang, sayangi kami, sayangi kedua orang tua kami, yang telah berpeluh lelah merawat dan mendidik kami. Ampuni setiap kata keras kami yang pernah terlontar pada mereka, Ya Allah. Ampuni sikap tak peduli kami atas mereka, Ya Rabb. Berikan kesempatan kami berbakti pada mereka, Ya Allah. Lembutkan hati mereka untuk kami agar ridha mereka mengantar kami kepada Ridha-Mu, Ya Allah.

Dan jika Engkau telah memanggil mereka ke haribaan-Mu, maka basuhlah mereka dengan kelembutan ampunan dan rahmat-Mu, serta pertemukan kami dengan mereka dalam keabadian nikmat Jannah-Mu.

Ya Allah berkatilah keluarga kami, jadikan mereka penyejuk pandangan mata dengan ketaqwaan dan ketaatan pada-Mu.

Duhai Rabb kami yang Maha Penyayang, sayangilah para ustadz, guru-guru kami, lindungi dan bimbinglah mereka. Lapangkan rezekinya , kuatkan azamnya dan berkati jalannya.

Ya Allah bersihkan hati dan jiwa ini dari hasad dan dengki, persatukan jiwa-jiwa ini dalam cinta karena-Mu dan dalam ketaatan pada-Mu, jangan Engkau biarkan syaithan musuh-Mu menggerogoti persaudaraan kami.

Ya Allah, dengan kuasa dan kehendak-Mu pilihkanlah pemimpin negeri ini yang dapat berlaku adil dengan syari’at-Mu di atas bumi yang tidak sejengkal pun melainkan milik-Mu.

Wahai Rabb kami, berkahilah negeri ini dengan ketaatan penduduknya, jangan engkau azab kami karena kezaliman para pendosa di antara kami.

Ya Allah, Rabb yang Maha Kuat, yang Maha Perkasa. Kami yakin bahwa kepongahan musuh-musuh-Mu terlalu kecil di hadapan Keperkasaan-Mu. Kami memohon pada-Mu Ya Rabb, dengan Izzah-Mu, luluh-lantakkanlah kesombongan zionis yang zalim atas saudara- saudara kami di Gaza Palestina, tolonglah para penyeru Laa ilaha illallah di sana. Gembirakan mereka dengan kehancuran negara Zionis yang zalim dan kufur …

Ya Allah yang Maha Penyayang, sayangilah hamba-hamba-Mu yang setia dengan Sunnah Nabi-Mu di bumi bernama Syria, tolonglah mereka dari rezim syi’ah yang zalim dan kejam, bebaskan mereka dari angkara murka, satukan langkah dan jiwa mereka atas kebenaran dan menangkan mereka dengan kekuatan-Mu yang tiada berbatas, Ya Allah…

Ya Allah, Tuhan yang Maha Penyayang, sayangi dan lindungi saudara-saudara kami di Burma, Iraq dan di setiap jengkal bumi milik-Mu ini Ya Allah…

Satukan hati mereka, satukan langkah mereka, berikan kemenangan yang sejati pada mereka.

Sekali lagi Ya Allah Tuhan pemilik segala kerajaan, karuniakanlah kami pemimpin yang shaleh dan takut kepada-Mu, pemimpin yang berani dan cerdas serta mengerti dan faham agama-Mu, sehingga dapat menuntun rakyatnya untuk tetap di jalan-Mu.

Ya Allah yang Maha Pengasih, Masih banyak dari kami hamba-hamba-Mu yang lemah dan terpinggirkan (dan Engkau lebih mengetahui keadaan kami), maka anugerahkanlah kepada mereka pemimpin yang menyayangi mereka dan peduli secara sungguh-sungguh terhadap nasib mereka.

Ya Allah berkahi kami di setiap langkah yang kami ayunkan, terimalah setiap kebaikan yang kami kerjakan, anugerahkanlah ikhlas pada setiap amal itu.

Inilah doa dan permintaan kami, Engkaulah Sang Maha Mendengar dan Maha Kuasa mengabulkan doa hamba-Nya.

اَلَّلهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَ بَيْنَ مَعَاصِيكَ وَ مِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ وَ مِنَ اليَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُنْيَا,

اَلَّلهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَ أبْصَارِنَا وَ قُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَ اجْعَلْهُ الوَارِثَ مِنَّا وَ اجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا وَ لاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِي دِيْنِنَا وَ لاَ تَجْعَلِ الدُنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَ لاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَ لاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمْنَا

Ya Allah, anugrahkanlah untuk kami rasa takut kepada-Mu yang dapat menghalangi antara kami dan perbuatan maksiat kepada-Mu, dan (anugrahkanlah kepada kami) ketaatan kepada-Mu yang akan mengantarkan kami ke surga-Mu, dan (anugrahkanlah kepada kami) keyakinan yang menyebabkan ringannya bagi kami segala musibah dunia ini.

Ya Allah, anugrahkanlah kenikmatan kepada kami melalui pendengaran kami, penglihatan kami dan dalam kekuatan kami selama kami masih hidup. Ya Allah, dan jadikanlah ia warisan dari kami.

Jadikanlah balasan orang yang menganiaya kami dan tolonglah kami atas orang yang memusuhi kami, dan janganlah Engkau jadikan musibah kami dalam urusan agama kami, dan janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai cita-cita terbesar dan puncak dari ilmu kami. Dan jangan Engkau jadikan orang-orang yang tidak menyayangi kami berkuasa atas kami.

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَآخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

 

Sumber: Naskah khutbah Idul Fitri 1435 H yang disusun oleh Dewan Syariyah Wahdah Islamiyah.

Share.

Leave A Reply