Membantah Argumentasi Syi’ah: Masalah Ayat Wilâyah (2)

1

Tulisan ini merupakan sambungan dari tulisan ‘Membantah Argumentasi Syi’ah: Masalah Ayat Wilâyah (1)’

Ketujuh, Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak sependapat bila surah Al-Maidah ayat 55 turun berkenaan dengan Ali, sebab kami yakin secara pasti bahwa kisah tersebut tidak benar. Tidak pernah ada pengemis yang datang meminta-minta pada Ali saat dia sedang rukuk, tidak benar pula bahwa Ali menyerahkan zakat saat tengah rukuk. Apa yang diceritakan itu sedikit pun tidak pernah terjadi.

Bagi yang mau membaca ayat tersebut dengan seksama disertai beberapa ayat sebelum dan sesudahnya, dengan pasti akan tahu bahwa ayat itu memiliki sebab turun yang tidak seperti dikemukakan oleh kalangan Syiah. Itu pertama kali dapat dilacak pada ayat yang ke 51 di surah yang sama, “Wahai orang-orang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin pemimpin (kalian)! Sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain. Barangsiapa di antara kalian menjadikan mereka pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim.” (Al-Maidah [51]). Dalam ayat ini terlihat jelas bahwa Allah melarang kaum Mukmin menjadikan orang-orang Yahudi dan Nasrani sebagai wali (pemimpin, penolong, sahabat setia, dan semisalnya).

Diriwayatkan dalam sebuah hadits yang bersanad hasan bahwa sebab turun ayat ini adalah kejadian yang dialami oleh Ubaidah bin shamit. Di dalamnya menyatakan bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul minta kepada Rasulullah syafaat (pemaafan) bagi Bani Qainuqa’ ketika beliau hendak membunuh mereka. Ia merayu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mewujudkan syafaat itu, hingga akhirnya beliau membiarkan Bani Qainuqà’ tetap hidup atas permintaannya tadi. Karena hal itu, orang-orang Yahudi Bani Nadhir juga menginginkan hal serupa, yakni agar Ubaidah bin Shamit mengajukan syafaat untuk mereka -seperti yang diperbuat Abdullah bin Ubay ibn Salul bagi Bani Qainuqa’. Namun, secara mentah-mentah, Ubadah bin Shamit menolak untuk melakukan itu. Ada pancaran iman yang benderang dalam jiwa Ubadah bin Shamit, yang mana ia juga termasuk peserta Baiat Aqabah, berbeda dengan Abdullah bin Ubay bin Salul yang menyembunyikan kemunafikan di dalam dirinya dan bahkan merupakan pentolan kaum munafik. Dengan keimanannya, tidak mungkin Ubadah bin Shamit melakukan apa yang diperbuat oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Oleh karena itu, dia enggan meluluskan keinginan Bani Nadhir bahkan menolak mereka dengan mentah-mentah. Maka, diturunkanlah firman Allah surah Al-Maidah ayat ke-51 tadi, yang berlanjut hingga ayat ke-56.

Jika kita perhatikan dengan seksama, ayat-ayat tersebut (51 sampai 56) bertemakan kepemimpinan kaum beriman dalam skala umum, dan bukan berbicara tentang seseorang yang bersedekah (atau berzakat) dalam shalat. Setiap orang mungkin saja membuat klaim sebab turunnya ayat seperti yang dibuat kaum Syiah itu, dengan menyandarkannya pada figur-figur lain. Sebagai misal, bisa saja seseorang mengarang hadits palsu yang disandarkan kepada Thalhah bin Ubaidilah, dan berkata bahwa Thalhah bersedekah dalam keadaan rukuk, sehingga dia menjustiflkasi bahwa ayat ke-55 dan surah Al Maidah itu berkenaan dengan Thalhah. Lalu ada orang lain yang mengatakan bahwa ayat itu berkenaan dengan Zubair, dengan melakukan hal serupa. Dan selanjutnya, ada orang lagi yang menisbatkan ayat itu kepada Khalid bin Walid. Bahkan ada lagi yang menyatakannya berkenaan dengan Abbas, paman Nabi. Begitu seterusnya sehingga klaim-klaim yang tidak berdasar seperti ini terus menggelinding tak ada habisnya.

Tindakan memalsukan hadits dan membuat kedustaan atas nama Nabi seperti itu bukanlah hal yang sulit, tetapi dosanya teramat besar di hadapan Allah. Sebab, telah disebutkan dalam hadits bahwa siapa saja yang berdusta atas nama Nabi maka ia harus bersiap-siap menempati jatahnya di neraka. Semoga Allah melindungi kita semua dan neraka.

Andaipun kita mengalah dan mengatakan ayat ini turun berkenaan dengan Ali -padahal kenyataannya ayat ini tidak turun berkaitan dengannya-, pertanyaannya adalah, adakah isinya yang menyinggung tentang masalah kekhilafahan atau kewilâyahan? Manakah lafal yang menyebutkan khilafah? Sama sekali di situ tidak disebutkan tentang kekhilafahan. Jika lafal “Innamâ waliyyukum” diartikan sebagai “hâkimukum” (pemimpin kalian), maka pertanyaannya, pantaskah dikatakan bahwa Allah merupakan pemimpin kita yang menjadi khalifah di bumi? Keyakinan kita mengatakan bahwa Allah adalah Pencipta semua makhluk, Pemilik dan Pengatur seluruh jagad raya. Maka tidak pantas kita menyandarkan kekhalifahan kepada Allah (karena kekhalifahan adalah peran yang diberikan oleh Allah untuk dikelola makhluk-Nya yaitu manusia). Lagipula, jika kita mengatakan bahwa ayat ini (ke-55) bertutur mengenai khilafah, maka itu mengacaukan korelasi (keterkaitan) ayat tersebut dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya —seperti yang telah disinggung tadi. Kita tidak akan bisa nenemukan korelasi itu jika kita masih saja mengatakan bahwa ayat ke-55 ini berbicara tentang khilafah.

Demikianlah pembahasan tujuh titik yang bisa meruntuhkan klaim kaum Syiah yang mengatakan bahwa surah Al-Maidah ayat 55 turun berkenaan dengan Ali. Selain itu, masih ada klaim-klaim lain yang dilontarkan sebagian ulama mereka terkait ayat ini, di mana melalui klaim-klaim tersebut mereka berupaya mengelabui orang banyak. Di antaranya, perkataan Abdul Husain Syarafuddin Musawi dalam bukunya berjudul Murâja’ah; pada pembahasan Murajaah XII di halaman 137, dia mengatakan, “Para mufassir bersepakat bahwa ayat ini tiada lain turun berkaitan dengan Ali manakala dia bersedekah di saat sedang rukuk dalam shalat” Kalangan Syiah Itsna Asyariyah mengklaim bahwa murajaah (peninjauan ulang secara seksama) persoalan tersebut telah dilakukan secara sempurna oleh Abdul Husain Syarafuddin Musawi bersama Syaikh Salim Basyari, Guru Besar Universitas Al-Azhar. Dengan klaim itu mereka ingin mempertontonkan bahwa disandarkannya sebab turunnya ayat ke-55 surah Al-Maidah itu kepada hak kekhalifahan Ali telah direstui oleh umat Islam yang diwakili Guru Besar Universitas Al-Azhar.

Sungguh, ini merupakan klaim yang tidak diragukan lagi kedustaannya. Sayangnya, sekarang bukanlah waktu yang tepat kita membahas kitab Murâja’ah ini. Namun, bagi yang ingin mengetahui lebih banyak tentang kitab itu, sudah ada empat kaset yang dirilis untuk membantah dan mengungkap kedustaan dan murajaah-murajaah ini, serta menjelaskan bahwa Abdul Husain Syarafuddin hanya mengarang-ngarang saja dengan memasukkan nama Syaikh Salim Basyari dalam permasalahan ini, padahal beliau sama sekali tidak tahu-menahu akan hal ini.

Selanjutnya, kita perlu juga menyimak bagaimana sebenarnya pendapat para mufassir terkait ayat ini (surah Al-Maidah ayat 55). Di antara yang telah berhasil saya rangkum pendapatnya adalah:

o    Ibnu Katsir
Beliau berkata, “Adapun firman-Nya ‘seraya mereka rukuk’ lelah dipahami secara keliru oleh sebagian orang bahwa kalimat ini berkedudukan sebagai hal (kata keterangan yang menunjukkan keadaan) dan kalimat ‘dan membayarkan zakat sehingga dimaknai sebagai mereka membayarkan zakat sedang keadaan mereka tengah rukuk Rahkan tidak tanggung-tanggung, sebagian dan mereka membawakan riwayat —yang dinisbatkan kepada Ali— bahwa ayat ini turun herkenaan dengan Ali, yang dalam riwayat itu diceritakan ada Seorang pengemis mendapati Ali yang sedang rukuk lalu Ali memberikan cincinnya kepada pengemis tersebut.
Selanjutnya Ibnu Katsir menyebutkan atsar-atsar yang konon diriwayatkan dari Ali bahwa ayat ini turun mengenai dirinya, kemudian beliau memperlihatkan kelemahan atsar-atsar itu semuanya. Reliau berkata, “Secara umum tidak ada satu atsar pun dan atsar-atsar  yang shahih akibat dan lemahnya sanad dan majhul (tidak dikenal)nya para perawi yang meriwayatkannya.

o    Ibnu Athiyyah
Dalam Al-Muharrar Al- Wajiz, beliau berkata, “Mujahid mengatakan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali bin Abi Thalib yang bersedekah di saat rukuk. Pendapat ini lemah, sehingga perlu dikaji kembali. Yang benar adalah penjelasan mayoritas ulama sebagaimana ielah kami sebutkan.”

o    An-Naisaburi
Dalam catatan kakinya terhadap kitab tafsir Ath-Thabari, beliau mengatakan, “Ada dua pendapat tentang ayat ini Pertama, bahwa maksudnya adalah seluruh umat Muslim karena ayat ini turun berkenaan dengan peristiwa yang dialami Ubadah bin Shamit. kedua, bahwa ayat ini berkaitan dengan seseorang tertentu; ada yang meriwayatkan bahwa maksud seseorang itu adalah Abu Bakar, dan ada lain yang meriwayatkan bahwa itu adalah Ali’ Kemudian Naisaburi mengukuhkan pendapat pertama, dan membantah pendapat yang kedua.

o Al-Qurthubi
Dalam Al-Jâmi’ ii Ahkâm Al-Qur’ân, beliau berkata, “Firman Allah tersebut mencakup seluruh orang beriman. Pernah ditanyakan kepada Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali, alias Al-Baqir, tentang apakah maksud firman Allah ‘Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman…’ adalah khusus untuk Ali bin Abi Thalib? Ia menjawab, ‘Ali termasuk salah satu dan orang-orang beriman.’ Artinya, ia berpendapat bahwa ayat tersebut berlaku pada semua kaum beriman. Nuhas menilai, ‘Ini pendapat yang bagus.”

o Ar-Razi
Dalam kitab tafsirnya, setelah berpanjang lebar menerangkan kesalahan pendapat yang mengatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Ali, beliau menulis, “Ali bin Abi Thalib lebih mengetahui tafsir Al-Qur’an dibanding orang-orang Rafidhah itu. Seandainya ayat ini mengindikasikan perihal kepemimpinannya, pastilah dia menggunakannya sebagai hujjah dalam satu dan seki an banyak kesempatan. Mereka tidak bisa berkata bahwa Ali tidak melakukannya karena taqiyyah, sebab mereka meriwayatkan darinya bahwa di hari Syura ia berpegang dengan hadits yaum al-ghadIr dan hadits mubâhalah untuk menunjukkan seluruh keutamaan dan kebaikannya, namun ia sama sekali tidak berdalil dengan ayat ini (Al-Maidah ayat 55) untuk menegaskan kepemimpinannya. Demikian itu membuahkan kepastian gugurnya pendapat kaum Rafidhah—semoga kemurkaan Allah menyertai mereka.’’ Beliau juga berkata, “Adapun dalih mereka bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali, maka itu tidak bisa diterima. Telah kami jelaskan bahwa mayoritas mufassir meyakini ayat ini berkenaan dengan umat.” Artinya, bukan hanya Ali seorang.

o Al-Alusi
Dalam Ar-Rah Al-Ma’âni, beliau berkata, “Firman-Nya ‘seraya mereka rukuk’ merupakan hal (kata keterangan keadaan) bagi dua pekerjaan sebelumnya, tentu dengan makna ‘tunduk kepada Allah Sehingga jelasnya, mereka melakukan apa yang disebutkan berupa shalat dan zakat dalam keadaan tunduk dan merendah diri kepada Allah.”

o Ibnu Jarir Ath-Thabari
Beliau mengatakan, “Maksud Allah dalam firman-Nya ‘Sesungguhnya wali kalian hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman…,’ bahwa kalian wahai orang-orang beriman tidak memiliki penolong selain Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang beriman yang sifat mereka seperti yang disebutkan Allah. Dikatakan, bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ubadah bin Shamit terkait keputusannya menolak untuk menolong kaum Yahudi dan Bani Qainuqa’ dan sekutu-sekutu mereka, kemudian memastikan loyalitasnya bersama barisan Rasulullah dan kaum beriman. Adapun firman-Nya ‘…dan orang-orang beriman yang mendirikan shalat dan membayarkan zakat seraya mereka rukuk’, . “mereka rukuk” ulama-ulama tafsir berbeda pendapat tentang maknanya; sebagian berkata bahwa maksudnya adalah Ali, sedangkan sebagian lain memaksudkannya untuk seluruh kaum beriman. ”Kemudian beliau menyebutkan siapa saja yang memegang masing-masing dari dua pendapat tersebut.

o    Abdurrahman As-Sa’di
Beliau berkata, “Wilâyah (pertolongan) Allah direngkuh dengan keimanan dan ketakwaan. Sehingga, setiap orang yang beriman lagi bertakwa maka ia menjadi wali Allah, sedang siapa yang menjadi wali Allah maka ia juga menjadi wali Rasulullah. Firman Nya ‘seraya mereka rukuk’ bermakna ‘mereka tunduk dan merendah diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Komentar-komentar serupa juga disampaikan oleh Asy Syaukani dalam Fat Al-QadIr dan Ibnul Jauzi dalam Zâd Al-Masir.

Semua buku tafsir tersebut di atas dan masih banyak lagi lainnya tidak berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Ali. Lantas bagaimana bisa kaum Syiah mengklaim para mufassir berijmak bahwa ayat ini turun berkaitan dengan Ali? Selain itu, surah Al-Maidah ayat 55, sebagaimana Anda lihat, menggunakan lafal jamak ketika menyebutkan orang-orang beriman, sehingga merupakan kesimpulan yang terlalu terburu-buru bila di maksudkan khusus untuk Ali. Andaikata maksudnya Ali, setidaknya ada penyebutan namanya atau sesuatu indikasi yang bisa menunjuk pada dirinya. Misalnya saja, “ orang (dalam bentuk tunggal) yang menegakkan shalat dan membayarkan zakat seraya ia rukuk”; yang seperti ini tentu lebih jelas mengindikasikan kepada Ali.

Karena kenyataannya demikian, masihkah kita nekat mengatakan bahwa maksudnya kepada Ali? Sungguh, hal ini tidak pantas terjadi, sebab tidak boleh sembarangan menyandarkan sebuah makna terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, Dzat yang paling akurat dan paling indah kalam-Nya. Mahasuci Allah Subhanahu wa Ta’ala, lagi Maha Tinggi. Semestinya kita tidak akan mengatakan seperti yang mereka sampaikan, karena Allah berfirman, “Allah hendak menerangkan (syariat-Nya) kepadamu, dan menunjukimu jalan-jalan orang yang sebelum kamu (para nabi dan shalihin), serta (hendak) menerima taubatmu…” (An-Nisa’ [ 26]). Mari kita menghormati ayat ini, dengan meyakini secara teguh kejelasan yang telah Allah berikan kepada kita. Sehingga, pada intinya, klaim kaum Syiah bahwa surah Al-Maidah ayat 55 berkenaan dengan Ali, hanyalah dusta belaka.
Ada satu masalah furu’iyah yang disebutkan ahlul ilmi, yang menarik dan berguna untuk memahami hal ini Sebagian mereka berpendapat bahwa berzakat dengan cincin itu tidak sah. Zakat hanya bisa dibayarkan dengan dirham atau dinar. Bila ada orang yang berzakat dengan cincin, maka itu tidak mencukupi.

Bagaimanapun kesimpulannya, itulah ayat pertama yang mereka jadikan hujjah. Dan inti dalilnya menurut mereka -sepanjang yang saya baca dalam karya sebagian ulama mereka- adalah kata “innamâ” yang berguna untuk menunjukkan hashr (bentuk pembatasan), seperti yang terjadi pada hadits Nabi , “Innamâ al-a’mâl bin niyyât (Sesungguhnya amal-amal itu hanya bergantung pada niat-niat).” (Shahih Al-BukhârI, no. 1). Maknanya, beliau membatasi bahwa amal-amal perbuatan tidak diterima kecuali bila dibarengi dengan niat. Karena inilah mereka menyatakan bahwa surah Al Maidah ayat 55 itu dibatasi maksudnya hanya untuk Ali.

Apa yang mereka nyatakan ini rupanya juga tidak konsisten. Taruhlah jika ternyatakan bahwa hak kekhalifahan hanya terbatas untuk Ali, lalu mengapa mereka juga menuntut kekhalifahan untuk Hasan dan Husain, serta Ali bin Husain? Bukankah ini memperlihatkan bahwa mereka melanggar sendiri pendapat pembatasan itu? Sebab, jika mereka konsisten, tentu mereka hanya mengkhususkan hak kepemimpinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu; yang itu berarti bahwa mereka harus menggugurkan tuntutan kekhalifahan Hasan, Husain, dan tujuh keturunan Husain.

Selesai…

Ditulis dari buku Membantah Argumentasi Syi’ah oleh: Utsman bin Ahmad al-Khumais

Share.

1 Comment

  1.  membayarkan zakat seraya ia rukuk ; maksud ayat itu adalah kalau memilih pimpinan atau imam pilihlah pemimpinmu diantara orang-orang yang masih rukuk(rukuk dalam hal ini adalah masih menjalankan shalat) dan masih membayar zakat itu adalah adalah kriteria yang di gunakan untuk memilih seorang pimpinan/imam Wallahi Bissawab

Leave A Reply