Membela Jihad

0

Oleh Herry Nurdi

Setelah simbol kaum Muslimin disinonimkan dengan tindak kekerasan, langkah selanjutnya adalah jargon dan semboyan Islam yang diserang habis-habisan. Kini, tahap yang iebih besar lagi adalah menyerang ulama-ulama besar.

Kita tahu akan kemana arah yang dituju Perang melawan Terorisme ini, sejak dari awal. Satu per satu identitas kaum Muslimin akan mendapat serangan, bahkan hantaman besar. Tak hanya dari luar Islam, pada akhirnya kaum Muslimin sendiri yang menyerang ajaran Islam akibat provokasi dan pemutar-balikan fakta di lapangan.

Jenggot yang menandakan sunnah, telah dicurigai sebagai salah satu ciri para teroris. Celana yang tak menyentuh mata kaki, baju koko dan cadar disebut sebagai aksesoris para pelaku kekerasan. Jargon dan semboyan Islam, seperti hidup mulia atau mati syahid telah dinyatakan sebagai kalimat berbahaya yang menakutkan. Ajaran Islam seperti jihad dan perjuangan, telah dinyatakan sebagai doktrin te rorisme yang melahirkan kekerasan. Dan para ulama shalih yang dalam sejarah dikenal telah menyumbangkan harta, ilmu bahkan nyawanya untuk mempertahankan kemuliaan Islam, telah dinyatakan sebagai the Godfathers of Terrorist.

Dan kelak, ujung dari rentetan ini adalah Islam sendiri akan dituding sebagai ideologi teror yang menyimpan ancaman bagi peradaban manusia. Kaum Muslimin dipaksa untuk berhati-hati dengan ajaran agamanya sendiri, bahkan dipaksa untuk curiga atas nilai-nilai mulia yang disampaikan oleh para ulama.
Ibnu Taimiyyah misalnya, disebut dalam banyak makalah dan tesis cendekiawan Barat sebagai sosok inspirator perjuangan Islam yang kemudian berubah menjadi inspirator teror. Padahal, yang sesungguhnya adalah, Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama pilihan yang oleh banyak peneliti dipercayai telah menulis kitab lebih dan 3.000 judul . Dan setiap judul, tak pernah mengulangi pembahasan yang telah ditulis sebelumnya.
Dalam kitabnya yang berjudul Isyraqat, DR Aidh al-Qarni memberikan bahasan khusus tentang Ibnu Taimiyyah dengan porsi yang besar. Aidh al-Qarni menyebut Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama yang sejak muda memiliki kecenderungan berbuat adil, dan berpikir sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah. Apapun yang dikatakan, perbuatan yang dilakukan, semuanya selalu diiringi dengan dalil al-Qur’an dan Sunnah. Karena ia memahami al-Qur’an dan Sunnah, maka Ibnu Taimiyyah menjadi seorang ulama mujahid yang pemaaf. (Baca; Ibnu Taimiyyah Ulama Mujahid yang Pemaaf).

Tak hanya menguasai dalil dan menyimpannya sebagai ingatan, Ibnu Taimiyyah adalah seorang ulama pejuang yang berani menentang kezaliman demi menegakkan keadilan. Dalam ceramah, khutbah dan nasihatnya, Ibnu Taimiyyah selalu menyeru manusia untuk mencegah kemungkaran dan mengajak pada kebaikan. Ia adalah ulama yang bergabung dalam Perang Sya’qahab, dakwah di depan penguasa dan turut pula mengangkat senjata. Di sinilah letak fitnah yang ditujukan oleh musuh-musuh Islam dalam menyudutkan ulama besar seperti Ibnu Taimiyyah.

Ia dipenjara selama lima kali dalam hidupnya. Diasingkan, dilarang menulis, dilarang berbicara, bahkan dilarang bertemu dengan manusia oleh penguasa. Ibnu Taimiyyah telah mengalami pedihnya dicaci dan dicambuk oleh manusia. Diusir dari Damsyik hingga Mesir, tapi tak pernah surut keinginannya untuk memperjuangkan tauhid yang benar di depan penguasa yang zalim. Maka, jika sikap seperti ini yang disebut teroris, sungguh telah terjadi kekeliruan besar dalam pandangan hidup manusia.

Seorang orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher pernah menyebut Ibnu Taimiyyah sebagai seorang yang sangat berbahaya yang berpotensi meledakkan ancaman bagi musuh Islam. “Ibnu Taimiyyah telah meletakkan ranjau-ranjau di tanah dan sebagiannya telah diledakkan oleh Muhammad ibn Abdul Wahhab, sebagiannya lagi belum meledak sampai sekarang,” ujar Goldziher. Ibnu Taimiyyah oleh para orientalis dan pemikir Yahudi telah dinobatkan sebagai bagian dan permasalahan dunia. Maka jika kini namanya disebut-sebut lagi sebagai ancaman, maka hal tersebut sama sekali bukan barang anyar.

Nama lain yang telah dinyatakan sebagai ancaman Muhammad ibn Abdul Wahhab yang disebut-sebut sebagai tokoh pendiri Gerakan Wahhabi. Kini, gerakan yang satu ini telah dianggap sebagai ideologi teror yang menghantui peradaban dunia.

Sejak awal, Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab telah diterpa fitnah dan orang-orang yang memusuhinya. Sejak kecil ia adalah pencinta ilmu, hafal al-Qur’an dan mempelajari mazhab Hanbali. Demi ilmu, Ia mengembara sampai ke Makkah, Madinah, Ahsar dan juga Bashri.

Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab berdakwah dengan damai. Pelan-pelan diketuknya pintu hati manusia. Dengan lemah lembut dan tutur sapa yang halus disampaikannya dakwah. Dia menyeru manusia untuk membersihkan tauhid, menumpas kemungkaran dan mengajak manusia pada kebenaran. Tapi sejak awal, konspirasi telah menerpanya. Dan ketika umat sampai pada tahap ini tak ada jalan lain yang bisa ditempuh kecuali membela diri. “Jika tidak ada lagi kecuali kepala tombak yang harus menjadi tunggangan, maka tak ada jalan bagi yang terpaksa kecuali menungganginya,” demikian kalimat yang dikutip dan kitab Istimrariyat Dakwah karya Muhammad Sayyid al-Wakil.

Umat telah dipaksa untuk menunggangi tombak sebagai jalannya, dan Muhammad ibn Abdul Wahhab menjadi ulama yang memimpin perjalanan. Maka saat itu terjadilah peperangan antara pendukung dakwah Muhammad ibn Abdul Wahhab dengan kelompok yang memusuhinya. Kerjasama yang dijalin dengan keluarga Saud, mengantarkan kemenangan atas kota Riyadh pada tahun 1773 dan penguasa sebelumnya, Daham bin Dawud yang dikenal zalim. Dan sejak itu, kekuasaan Bani Saud semakin meluas dan mengantarkan ajaran Muhammad ibn Abdul Wahhab menyebar ke seluruh Teluk Arab sampai Laut Merah.

Azas agama yang dibawa oleh pasukan Bani Saud dan pendakwah dan kalangan Muhammad ibn Abdul Wahhab, akhirnya mengantarkan perjuangan menekan pada tahap berikutnya, melawan penjajah. Pasukan ini berhasil memukul telak pasukan Inggris pada tahun 1806 dan kawasan Teluk Sehingga kawasan perairan Teluk berada di bawah kekuasaannya.

Maka bermulalah strategi penghancuran kekuatan Bani Saud yang ditopang tulang punggungnya oleh gerakan dakwah Muhammad ibn Abdul Wahhab. Dihembuskan berita, dengan dakwahnya Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab hendak melakukan bughat pada Khilafah Utsmani yang kala itu dipimpin oleh Sultan Mahmud II.

Kekuatan kolonial Inggris dan Perancis membisikkan kalimat racun ke telinga khalifah, bahwa Muhammad ibn Abdul Wahhab akan berusaha mencabut panji-panji khilafah. Sultan langsung memberikan respon dengan menyusun stratégi memenangi Bani Sa’ud dan pengikut Muhammad ibn Abdul Wahhab. Biaya sangat besar dikeluarkan, manusia demikian banyak dimobilisasi untuk perang. Salah satu kekuatan yang diorganisir atas bantuan strategi Inggris dan Perancis adalah para pelaku bid’ah dan khurafat. Api permusuhan terus dikipasi sampai mereka mengangkat senjata dan melawan dakwah. (Baca: Wahhabi dan Fitnah Radikal)

Sesungguhnya, para pengikut dakwah Muhammad ibn Abdul Wahhab yang disebut penggerak dakwah Salafiyyah, tidak pernah terbetik niat untuk memberontak. Mereka hanya memiliki dua perbedaan pendapat: Pertama, tentang komitmen para jamaah haji untuk berpegang teguh pada manhaj Islam. Kedua, turunnya wibawa pemerintahan Utsmani di dunia Islam. Dua hal ini yang dihembuskan dan kelak menjadi api peperangan dalam tubuh umat Islam. (Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, DR Ali Muhammad As Shalabi)

Proses fitnah dan provokasi telah membuat umat Islam dam pemimpin kaum Muslimin terjebak dalam permusuhan dan peperangan. Tanpa disadari, Sesungguhnya jauh di balik semua yang nampak, bermain tangan-tangan yang terus bekerja untuk mengadu domba. Karenanya, sejarah tidak boleh berulang. Sebab, harga yang harus dibayar umat Islam akan sangat mahal.

Perbedaan yang nampak dipompa sebagai bentuk permusuhan terlihat dalam perbedaan pendapat tokoh lain yang disebut sebagai inspirator teror; Sayyid Quthb. Pemikiran-pemikiran tokoh Ikhwanul Muslimin ini seolah-olah hendak diadu dengan tokoh pemikir lain dan gerakan yang sama seperti DR Yusuf Qaradhawi. Padahal, yang sesungguhnya terjadi adalah, hanya perbedaan pendapat dan tidak samanya sudut pandang. Tapi har ini, berkat jasa dan kerja media, perbedaan terlihat seperti konflik dan sudut pandang yang berbeda nampak seperti permusuhan dua raksasa pemikiran dalam tubuh umat Islam. Sayyid Quthb, di media disebut oleh Yusuf Qaradhawi sebagai salah satu tokoh yang bertanggung jawab atas tumbuhnya radikalisme dalam tubuh umat Islam. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah, Yusuf Qaradhawi mengamati perubahan yang terjadi dalam proses pemikiran Sayyid Quthb dan waktu ke waktu.

Tokoh yang satu ini pernah memiliki pemikiran berhaluan kiri, lalu berubáh dan menjadi pendukung dakwah. Mendapatkan tekanan dan teror dari pemerintah, bahkan dipenjara dalam keadaan teraniaya. Yusuf Qaradhawi menduga, ini semua masih dalam kerangka proses pemikiran yang sama sekali belum final.
Barangkali, jika keadaan berubah dan kejadian-kejadian berbeda, proses yang belum final itu akan berlanjut pada tahap selanjutnya. Terbukti, Sayyid Quthb pernah melakukan koreksi atas Tafsir fii Dzilal al Qur’an yang ditulisnya sendiri.

Tapi lagi-lagi, hari ini ada tangan-tangan dan kekuatan yang lebih besar tengah bermain mempermainkan umat Islam. Berhati-hati dan waspada, harus menjadi bekal utama umat ini agar tak masuk perangkap dan jatuh pada permusuhan dengan sesama saudara sendiri. Kaum Muslimin harus senantiasa berusaha membersihkan cara pandang atas agamanya, agar tak terjerumus pada permainan yang tengah disiapkan musuh Islam.

Permainan ini akan menghujat Islam, ulama, dan menolak semua simbol-simbol agama. Termasuk menggugat ajaran jihad yang menjadi tulang punggung tegaknya agama Islam. Membela jihad yang benar harus menjadi perhatian umat agar kita menjadi kaum yang menang!

Sumber: Majalah Sabili, No. 6 TH. XVII 19 Syawal 1430

Share.

Leave A Reply