Mengenal Jenis dan Pembagian Najis

0

Oleh: Ustadz Ahmad Hanafi DY, Lc. MA

Salah satu hal yang sangat penting dalam persoalan bersuci adalah pengetahuan kita tentang najis. Definisi najis (an-Najasah) menurut para ulama adalah segala zat kotor yang diperintahkan oleh syariat untuk menjauhinya atau menghilangkannya.

Jenis dan pembagian najis

Dari sisi bentuk dan zatnya, najis dapat dibagi menjadi dua bagian:

Pertama: Najasah ‘ainiyah atau haqiqiyah: yaitu, sesuatu yang dzatnya najis dan tidak dapat diubah menjadi suci sama sekali. Contohnya: kotoran keledai dan air kencing.

Kedua: Najasah hukmiyah: yaitu keadaan yang terjadi pada diri seseorang yang menghalanginya untuk melaksanakan shalat. Hal ini meliputi hadats kecil yang dapat dihilangkan dengan berwudhu, seperti jika seseorang selesai membuang hajat. Dan hadats besar yang dapat dihilangkan dengan mandi, seperti jika seseorang dalam keadaan junub.

Dari sisi ringan dan beratnya, najis dibagi menjadi tiga peringkat:

Pertama: Najasah Mughalladzah (najis berat), seperti yang ada pada seekor anjing atau hewan yang terlahir dari seekor anjing.

Kedua: Najasah Mukhaffafah (najis ringan), seperti kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan (masih dalam masa penyusuan/ASI).

Ketiga: Najasah Mutawassithah (najis pertengahan), semua najis yang tidak termasuk dalam dua kategori di atas, seperti: air kencing, tinja, dan bangkai.

Hal-hal yang dikategorikan najis:

1. Semua yang keluar dari kemaluan dan dubur manusia kecuali air mani. Hali ini meliputi:

  • Air kencing dan tinja manusia.
  • Hanya saja kencing bayi laki-laki yang belum memakan makanan maka najisnya tergolong ringan.
  • Madzi adalah cairan yang keluar dari kemaluan berwarna bening, encer tapi lengket. Biasanya ia keluar ketika seseorang sedang bercumbu dengan pasangannya atau ketika mengingat dan menghayalkan hubungan intim. Yang membedakannya dengan cairan mani adalah madzi ini keluarnya tidak terpancar dan tidak disertai rasa nikmat, bahkan seseorang terkadang tidak merasakan apa-apa ketika ia keluar.
  • Wadi adalah cairan bening dan kental yang keluar setelah buang air kecil.
  • Darah haidh dan nifas.

2. Bangkai

Jika seekor hewan mati dengan sendirinya tanpa melalui proses penyembelihan yang disyariatkan maka ia dikategorikan sebagai bangkai. Dasarnya adalah firman Allah yang artinya:

“Katakanlah: Tidaklah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi, karena sesungguhnya semua itu kotor.” (QS. al-An’aam: 145).

Dikecualikan dalam hal ini bangkai ikan dan belalang, keduanya adalah suci meskipun telah menjadi bangkai. Dalilnya adalah sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam:

أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ الْحُوتُ وَالْجَرَادُ

“Dihalalkan bagi kita dua bangkai; bangkai ikan dan belalang.” (HR. Ibnu Majah, shahih).

Bangkai hewan yang tidak mempunyai darah mengalir seperti semut, nyamuk, dan serangga lainnya tidak dikategorikan najis. Khusus berkaitan dengan lalat yang jatuh di minuman yang hendak diminum, maka petunjuk Nabi shallallahu ’alaihi wasallam sebagai berikut:

إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالْأُخْرَى شِفَاءً

“Jika seekor lalat jatuh ke dalam minuman salah seorang di antara kalian maka celupkanlah (lalat tersebut) ke dalam minuman tersebut kemudian singkirkanlah (lalat itu), karena di salah satu dari kedua sayap lalat itu ada penyakit dan pada sayap lainnya ada penawarnya.” (HR. Bukhari).

3. Darah yang mengalir dari seekor hewan yang dimakan dagingnya ketika disembelih (QS. al-An’aam : 145).

Adapun darah yang tersisa bersama dengan daging hewan tersebut atau yang berada dalam uratnya-uratnya setelah disembelih dan darahnya mengalir, maka ia dikategorikan suci. [Markazinayah.com]

 

Share.

Leave A Reply