Menikah Karena Perjuangan

0

Oleh: Maryam Ilda

Saat ijab qabul telah terikrarkan. Saat dua insan dipadukan dalam ikatan suci  pernikahan. Dalam babak kehidupan baru yang siap dijalani bersama, ‘selangkah’ fase kehidupan tengah terlewati. Maka seyogyanya, tahapan itu berlalu diiringi pula dengan ilmu tentangnya.

Bukan sekadar ilmu tentang persiapan pernikahan itu sendiri, tapi juga saat setelah menikah, dan semestinya di sepanjang usia pernikahan, kita selalu butuh untuk menambah wawasan dan pemahaman agama. Sebab sejatinya, ilmu lebih dibutuhkan saat berumahtangga. Mulai dari etika pada pasangan, mencari nafkah yang halal, mengasuh anak, menjadikan keluarga gemar ibadah, dan sederet aktivitas kerumahtanggaan lainnya, semuanya harus didasari ilmu. Sungguh disayangkan, bertambah usia (pun hakikatnya berkurang) dengan dibarengi bertambahnya anak, tetapi ilmu pun tak bertambah-tambah!

Menikah adalah proses pekerjaan dunia yang dilakukan bersama pasangan. Tentu dibutuhkan pembagian tugas, sebagai salah satu tujuan pernikahan. Meski aktivitasnya beraroma duniawi, tetapi dibangun, disemangati dengan nuansa ukhrawi. Maka hal yang perlu selalu diperbarui adalah niat. Bahwa menikah adalah ibadah. Menikah pun karena perjuangan. Sederhananya; menikah karena Allah!

Seorang penuntut ilmu, lagi seorang pejuang agama Allah, tidak layak untuk surut semangat juangnya dibandingkan dulu, ketika ia belum menikah. Pesona dan teladan sepanjang zaman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mencontohkannya. Bukankah ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahi Khadijah radhiyallahu ‘anha, semangat dakwahnya juga berasal dari rumah tangganya. Bahkan, sang istrilah yang menyemangati Sang rasul saat dirundung kesedihan dan juga membantu dengan hartanya!

Sejarah pun mengabarkan bahwa saat wahyu pertama turun, dibawa Jibril ‘alaihissalam di Gua Hira, Sang Rasul pulang dengan diliputi rasa takut. Tetapi sang istri, Khadijah radhiyallahu ‘anha berusaha menenangkan, menyelimutinya dan mengiburnya.

Betapa naifnya, saat tengah membangun nilai-nilai rumah tangga dalam perjuangan, ada pasangan yang hanya melihat sisi-sisi kekurangan pasangannya, tanpa mau melihat banyak kelebihan yang dimilikinya. Seakan ‘jerat-jerat’ dunia membuatnya abai memaknai hakikat pernikahan. Bahtera rumah tangga pun terus berlabuh menuju perkampungan akhirat.

Menikah sejatinya adalah sarana untuk menambah keistiqamahan seseorang. Di dalamnya ada aktivitas saling ingat mengingatkan, nasihat menasihati, dan tentu saja saling mendoakan. Saling menguatkan! Sebab nilai-nilai luhur yang diharapkan terwarisi oleh anak-anak kelak adalah generasi berilmu, juga istiqamah melanjutkan perjuangan Islam ini. Semoga![]

Sumber: Majalah “SEDEKAH PLUS” edisi 1 Tahun I.

Share.

Leave A Reply