Menjadi Pemimpin yang Dicintai

0

WahdahMakassar.org. Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, saat menjabat sebagai khalifah, biasa keluar setiap pagi bersamaan dengan terbitnya matahari ke rumah tenda di pinggiran kota madinah, lalu menemui wanita-wanita jompo, buta, lemah dan miskin. Ia menyapu rumah, membuat makanan, dan memerah susu untuk mereka. Bila telah selesai, maka ia pun pulang kembali ke Madinah.

Pada suatu pagi, Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengikuti kepergian Abu Bakar tanpa sepengetahuan khalifah umat Islam yang pertama itu. Umar ingin tahu apa sebenarnya yang dilakukan oleh Abu Bakar. Ternyata ia dapatkan Abu Bakar pergi ke sebuah tenda di pinggir kota Madinah. Setelah Abu Bakar kembali pulang, Umar pun pergi ke tenda tersebut dan bertanya kepada seorang wanita, “Sebenarnya, siapakah Anda?”

Perempuan tua tersebut menjawab, “Aku seorang wanita buta, lemah dan miskin. Suamiku telah tiada sejak beberapa waktu yang lalu dan aku tidak mempunyai keluarga sesudah Allah kecuali orang tadi yang biasa menemuiku.”

Umar bertanya, “Apakah kamu mengenalnya?” Ia menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya.” Umar bertanya, “ Apa yang dia lakukan?”

“Ia menyapu rumah, memerah susu untuk kami, membuat makanan untuk kami, “ jawab wanita renta itu.

Mendengar hal tersebut, Umar pun terduduk dan menangis. Seorang pemimpin Negara menyapu, memasak, memerah susu untuk rakyatnya? Suatu hal yang susah dicari di jaman sekarang.

Begitulah para pemimpin Islam. Mereka memimpin bukan untuk mencari dunia. Kewajiban sebagai pemimpin mereka kerjakan tanpa ada upaya untuk dikenal, dikenang apalagi untuk menyombongkan keberhasilan atau apa yang mereka lakukan. Sebab mereka sadar bahwa jabatan yang dipegangnya sangat besar pertanggung jawabannya di akhirat kelak.

Kisah di atas hanyalah salah satu dari sekian banyak kisah kepemimpinan Islam yang membuat kita berdecak kagum dan rindu akan pemimpin-pemimpin seperti itu.

Menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, tidaklah mudah. Sejumlah prasyarat mesti dimiliki. Namun bukan berarti tidak akan lahir pemimpin tersebut. Islam telah mencontohkan dengan memiliki sebuah peradaban yang telah berkuasa dan berjaya sekian lama, telah berhasil melahirkan pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyat.

Siapa yang tidak kenal kepimpinan Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, sangat fenomenal, yang tidak hanya mencintai dan dicintai rakyatnya. Begitupula empat khalifah selanjutnya, dan salah satunya yang telah dikisahkan pada awal tulisan ini.

Begitu juga kepemimpinan Umar bin Abdul ‘Aziz rahimahullah, yang sangat adil, dan berhasil mensejahterakan rakyat. Masa pemerintahannya hanya berlangsung sebentar. Hanya dua tahun setengah, lebih tepatnya sekitar 2 tahun, 5 bulan, 5 hari. Beliau menemui Rabb-nya dalam keadaan berlaku adil dan telah mampu mensejahterakan rakyatnya. Saking sejahteranya, dimasa kepemimpinan beliau, tidak adak rakyat yang ingin menerima zakat.

Standar Pemimpin Dicintai

Mencari pemimpin yang memiliki kualifikasi seperti; Rasulullah, para khalifah serta Ibnu Umar, tidaklah mudah. Tidak juga instan. Butuh proses kaderisasi yang panjang. Para pemimpin tersebut adalah generasi unggul, yang lahir proses kaderisasi/pembinaan dari Rasulullah, yang dipandu oleh al-Qur’an dan Sunnah.

Salah satu kelebihan para pemimpin tersebut, adalah ketakwaan kepada Allah. Bertakwa berarti taat menjalankan perintah Allah Azza wa Jalla,  dan menjauhi larangan-Nya. Sifat-sifat ketakwaan akan menurunkan berbagai sifat yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin.

Diantara sifat-sifat tersebut; 1) Adil . Sifat ini perlu dimiliki oleh setiap pemimpin. Sifat terhadap siapapun tanpa membeda-bedakan dalam berbagai hal. Misalnya; dalam penegakan hukum, siapapun bersalah harus ditindak sesuai dengan tingkat kesalahannya. Sebagaimana perkataan Rasulullah, “seandainya anakku Fatimah mencuri, maka Aku langsung memotong tangannya”. Tentunya keadilan ini takkan lahir jika tanpa dasar takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pemimpin yang adil selain mendapatkan kecintaan dari rakyatnya juga akan mendapatkan kecintaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bahkan berdasarkan dari salah satu hadits Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bahwa, salah golongan yang mendapat naungan di padang mahsyar kelak adalah pemimpin yang adil.

2) BeriIlmu. Setiap pemimpin perlu memiliki ilmu pengetahuan dan kapasitas intelektual yang mumpuni. Sehingga, dapat menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi rakyatnya, serta mencari solusi terbaik terhadap persoalan-persoalan tersebut.

4) Melaksanakan hukum Allah. Pemimpin punya kewajiban melaksanakan dan memerintahkan rakyatnya melaksanakan hukum Allah. Negeri yang dipimpin orang menegakkan hukum Allah. Negeri tersebut akan diberkahi, diberi rezki dari Allah Azza wa Jalla. Sebaliknya, negeri yang dipimpin orang khianat, kufur terhadap Allah, akan selalu dilaknat, dan diberi musibah silih berganti.

5) Tidak berlaku zalim. Pemimpin yang baik, adalah mengayomi rakyatnya, menyayangi rakyat, membela rakyatnya, serta tidak berbuat zalim kepada siapapun.

Para pemimpin seharusnya takut jika saja ia berbuat zalim kepada rakyatnya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’adz ke Yaman dan beliau berkata kepadanya:

“Takutlah kamu akan doa seorang yang terzhalimi (teraniaya) karena doa tersebut tidak adah hijab (penghalang) di antara dia dengan Allah” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Beberapa kriteria pemimpin di atas akan melahirkan pemimpin ideal. Pemimpin yang. mencintai rakyatnya, rakyatnyapun mencintai dirinya.

Sebagai akhir dari tulisan ini, berikut kutipan kata-kata Amirul Mukminin –Umar bin Abd Aziz, tentang pemimpin ideal:” Sesungguhnya Allah telah menjadikan para imam yang adil itu adalah memperbaiki kerusakan, pembetul kepada penyelewengan, pemusnah kepada kezaliman dan pembela kepada yang lemah, pembantu kepada yang dizalimi. Dialah yang melaksanakan hak-hak Allah kepada hambanya, mendengar ayat-ayat Allah dan memperdengarkannya kepada rakyatnya, melihat tanda kekuasaaannya dan memperlihatkannya kepada mereka, berjalan di atas tali Allah dan mengajak manusia bersamanya, dia umpama seorang hamba kepada para rakyatnya –menjaga harta dan juga keluarga tuannya, tidak sekali-kali menghukum dengan cara jahiliah dan mengikut hawa nafsu mereka, tidak menyelusuri jalan orang-orang yang zalim, tidak bersifat dengan golongan pembesar mustakbirin dalam menindas golongan lemah mustad’afin, dialah penjaga anak yatim, pembantu kepada orang–orang miskin, mendidik anak-anak mereka dan menjaga kaum tua mereka.”[]

Oleh: Burhanuddin

Share.

Leave A Reply