Pelajaran untuk Istri

0

Apa yang akan dilakukan seorang ayah ketika berkunjung ke rumah putrinya, dan mendapatkan informasi darinya bahwa suaminya telah membuatnya marah? Apakah dia akan bertanya kepada putrinya, “Apa yang dia katakana kepadamu? Dan bagaimana dia bisa membuat­mu marah?” Ataukah dia akan mengatakan kepada putrinya, “Kemasi pakaianmu, rumah ayahmu terbuka lebar untukmu?” Atau sebaliknya, dia akan membentak putrinya  dengan mengatakan, “Apa yang kamu katakan kepadanya sehingga dia marah? Jangan-jangan kamu menuruti ibumu melakukan sesuatu yang membuatnya marah dan tersinggung?!”

Semua yang disebut diatas itu tidak baik dilakukan. Melakukan interogasi dan mengajukan pertanyaan untuk mengetahui rincian dan detail konflik yang terjadi adalah

tindakan yang tidak benar. Mengajak si anak meninggalkan rumahnya ke rumah ayahnya juga merupakan langkah tidak bijak. Pun juga membentak si anak dan menimpakan kesalahan kepadanya bukanlah sesuatu yang tepat.

Jadi, apa yang seharusnya dilakukan seorang ayah ketika mengetahui bahwa menantunya telah membuat putrinya marah?

Marilah kita melihat rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mendapatkan inspirasi tentang tindakan yang benar, bijak, dan tepat.

Dari Sahal bin Saad As-Sa’idi, dia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah datang ke rumah Fatimah, Namun beliau tidak menemukan Ali. Lalu beliau bertanya, “Di mana anak pamanmu?” Fatimah menjawab, “Telah terjadi sesuatu antara aku dan dia. Lalu dia memarahiku, kemudian dia keluar.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada seorang lelaki, “Lihatlah, di mana dia?” Lelaki itu lantas berkata, “Dia di masjid, tidur.” Beliau lantas mendatangi­nya, sementara dia (Ali) sedang berbaring dan jubahnya terlepas dari pundaknya sehingga (tubuhnya) terkena tanah. Akhirnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun mengatakan, “Bangunlah, hai Abu Turab (Bapak Tanah).” Sahal mengatakan, Dan dia (Ali) tidak memiliki nama (panggilan) yang lebih dia sukai dari pada nama itu (Abu Turab).” (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Penjelasan Hadits:

Hadits yang mulia ini memberikan petunjuk tentang apa yang sebaiknya dilakukan seorang ayah, istri, dan suami ketika terjadi konflik antara suami dan istri.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada putrinya, Fatimah -sementara beliau berkunjung ke rumahnya­ tentang suaminya, Ali. Lalu Fatimah memberi­tahunya bahwa suaminya baru saja memarahi­nya karena sesuatu hal, tanpa menyebutkan hal itu secara rinci. Ini adalah sikap tertutup yang sangat baik dilakukan oleh setiap istri. Istri seharusnya berusaha keras untuk tidak mem­beritahu keluarganya tentang detail perselisihan yang terjadi antara dirinya dengan suaminya.

Kemudian, marilah kita renungkan apa yang dilakukan Ali radhiyallahu ‘anhu ketika menarik diri dari karena konflik yang terjadi antara dirinya dengan istrinya, Fatimah. Ini langkah yang jauh lebih baik dari pada melanjutkan kemarahannya yang bisa berkembang menjadi pertengkaran yang tajam.

Menarik diri ke mana? Dia tidak lari ke tempat hiburan, atau ke tempat-tempat lainnya yang kerap didatangi oleh para suami seusai bertengkar dengan istrinya. Ali radhiyallahu ‘anhu justru pergi ke masjid untuk mengendurkan urat syarafnya yang tegang dan menenangkan jiwanya yang sedang marah.

Kita belajar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau tidak menunda-nunda untuk mendamaikan antara menantu dan putrinya. Beliau justru segera bertanya tentang menantunya, dan ketika beliau diberitahu bahwa dia berada di masjid, maka

beliau pun mendatanginya dan mengatakan kepadanya, “Bangunlah, hai Abu Turab (Bapak Tanah).” Beliau menyebutnya demikian setelah melihat tubuh menantunya itu berhimpitan dengan tanah karena jubahnya lepas dari tubuhnya.

Ketika itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkritiknya. Hal itu mengisyaratkan bahwa perdamaian yang didasarkan pada penenangan batin lebih baik dari pada perdamaian yang didasarkan pada kritikan dan evaluasi.

Salah satu bukti yang menegaskan bahwa jiwa Ali telah baik adalah apa yang dikatakan oleh Sahal, “Dan dia (Ali) tidak memiliki nama (pang­gilan) yang lebih dia sukai dari pada nama itu (Abu Turab).”

Itulah berkas sinar dari rumah tangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

yang bisa memberikan penerangan kepada kita dengan hal-hal berikut ini:

  • Seorang istri hendaknya tidak menceritakan semua konflik yang terjadi antara dirinya dengan suaminya.
  • Seorang ayah hendaknya menjadi teman bagi anak dan menantunya sekaligus. Dan juga hendaknya lebih banyak berusaha untuk menenangkan batin mereka dari pada mengkritik, mencela, atau mengevaluasi mereka.
  • Tidak ada masalah jika suami menarik diri dari arena konflik ke kamar lain, atau ke masjid, bilamana ia melihat bahwa konflik dengan istrinya itu akan semakin parah dan meruncing.
  • Alangkah baiknya jika suami memberikan respon yang positif ketika diajak berdamai. Sebaiknya ia tidak menolak dan tidak merasa tertekan jiwanya dengan ajakan da­mai ini. Karena hal itulah yang dilakukan Ali ketika bangun dari tidurnya. Dan dia bahkan sangat menyukai nama yang digunakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memanggilnya, “Bangunlah, hai Abu Turab (Bapak Tanah).”
  • Para ayah dan ibu juga harus berusaha keras untuk tidak mencari tahu detail masalah yang terjadi antara anak-anak dan menantunya.

 

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid

Share.

Leave A Reply