Perhatian Generasi Salaf Terhadap As-Sunnah

0

Perhatian generasi salaf terhadap sunnah sangatlah besar, hal itu terbukti dengan beragamnya upaya yang mereka lakukan dalam menjaga dan memelihara serta menyebarkan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga kita bisa melihat bagaimana mereka mengerahkan segenap daya dan upaya dengan berbagai macam sarana yang mereka miliki demi menjaga keotentikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik itu dari segi keilmuan dan pengamalan, hafalan dan penulisan, serta pengkajian dan penyebarannya.

Perhatian Terhadap As-Sunnah di Masa Sahabat

Para Sahabat ridwanullahi ‘alaihim di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyerap hukum-hukum syariat dari Al-Qur’an yang mereka dapatkan secara langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ayat-ayat yang turun banyak yang masih bersifat umum belum terperinci, begitu pula dengan hukum-hukum yang belum bisa dilaksanakan tanpa mengetahui syarat-syarat dan rukunnya. Hal ini membuat para sahabat harus kembali kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengetahui penjelasan dari semua hal tersebut secara rinci, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling tahu tentang syariat Allah Ta’ala, batasan-batasannya serta tujuannya.

Para sahabat sangat disiplin dalam menjaga batasan-batasan perintah dan larangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, menjadikan beliau sebagai suri tauladan dalam setiap ibadah dan amalan mereka. Bahkan mereka melakukan apa yang Beliau lakukan dan meninggalkan apa yang beliau tinggalkan.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata :

اتَّخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَاتَّخَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَ مِنْ ذَهَبٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي اتَّخَذْتُ خَاتَمًا مِنْ ذَهَبٍ فَنَبَذَهُ وَقَالَ إِنِّي لَنْ أَلْبَسَهُ أَبَدًا فَنَبَذَ النَّاسُ خَوَاتِيمَهُمْ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah memakai cincin emas, maka orang pun memakai cincin emas, kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menanggalkannya dan berkata : sungguh saya tidak akan pernah memakainya lagi selamanya maka orang-orang pun menanggalkan cincin mereka.” (HR. Bukhari/5866)

Bahkan mereka saling mewakili untuk menghadiri majelis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana yang dilakukan oleh Umar radhiyallahu ‘anhu bersama seorang tetangganya, (kisahnya dalam shahih bukhari, kitab ilmu, bab Attanaawub fil Ilmi). Begitu pula yang dilakukan oleh suku-suku (qabilah-qabilah) yang jauh dari Madinah, mereka mengirimkan utusan-utusannya untuk menuntut Ilmu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian kembali mengajarkannya. Mereka juga bertanya kepada istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hal-hal yang menyangkut masalah suami isteri.

Hal ini tidak hanya dilakukan oleh kaum lelaki tetapi para wanita (shahabiyat) pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, mereka bertanya langsung kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana dalam hadits Aisah radhiyallahu ‘anha tentang cara bersuci dari haidh. (HR. Bukhari : 314)

Begitulah perhatian yang sangat besar yang mereka perlihatkan terhadap sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di masa kehidupan beliau, sebagai bentuk penyerahan diri yang sempurna dan paripurna kepada hukum Allah ta’ala dan RasulNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga sebagai contoh tekad yang kuat dalam menuntut ilmu.

Adapun setelah wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka para sahabat menempuh berbagai cara dalam menjaga keotentikan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya adalah dengan menghapalkannya, menulisnya, menyampaikan kepada manusia, dan berhati-hati dalam meriwayatkan hadits.

Para sahabat sangat menyadari beratnya beban dan tanggung jawab yang mereka emban dalam menjaga syariat ini, baik itu Al-Qur’an maupun As-Sunnah, serta mengamalkannya dan menyampaikannya kepada ummat ini. Kesadaran ini muncul dari apa yang mereka pahami dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits beliau, diantaranya :

“Sampaikanlah dariku walau satu ayat.” (HR. Bukhari, 3461)

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja maka hendaklah ia menyiapkan kursinya di Neraka”. (HR. Bukhari, 107)

Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang lain.

Oleh karena itu meskipun mereka sangat bersemangat dalam menyebarkan agama Allah Ta’ala ini, namun mereka juga sangat berhati-hati dalam meriwayatkan satu hadits dari Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam, gambaran kehatian-kehatian itu dapat kita lihat dari contoh-contoh berikut :

1. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Aku tidak takut akan salah maka aku akan menyampaikan kepada kalian hal-hal yang aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau dari apa yang beliau sabdakan, semua itu karena Aku mendengar beliau bersabda :

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku maka hendaklah ia siapkan kursinya di neraka.” (HR. Addarimi (1/67)).

2. Dari Asy Syu’bi, beliau berkata : Saya bersama Ibnu Umar selama setahun, saya tidak pernah mendengarnya menyebutkan satu hadits dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Ibnu Majah, 26, Ad-Darimi, 1/73)

Ini adalah sedikit contoh tentang kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan  sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.[]

Share.

Leave A Reply