Permainan yang Menghabiskan Waktu Bermain Lainnya

0

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya diceritakan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda, “Barangsiapa bermain kartu (bridge), maka seolah-olah dia mencelup tangannya di dalam daging babi dan darahnya.” (HR. Muslim)

Penjelasan Hadits:

Hadits ini digunakan oleh Imam Syafi’i’ Rahimahumullah dan jumhur ulama sebagai dalil untuk mengharamkan bermain kartu (bridge).

Mungkin ada yang bertanya, Apa relevansi Hadits ini dengan wanita, sehingga dimasukkan ke dalam kumpulan hadits-hadits tentang wanita?

Pertanyaan ini bisa dijawab dari dua sisi:

Pertama, ketika seorang pria meninggalkan kebisaan membuang-buang waktu dengan bermain kartu atau hal-hal lain yang diharamkan, maka dia akan memiliki waktu lebih banyak untuk memperhatikan istri atau keluarganya, menyelesaikan keperluannya dan menghabiskan waktu lebih banyak bersamanya.

Boleh jadi banyak sekali istri yang mengeluhkan kebisaan suami mereka yang suka bermain seperti itu, menyia-nyiakan hak-hak mereka, dan tidak melaksanakan kewajibannya terhadap istrinya dengan baik. Bahkan banyak pula suami yang mengabaikan hal-hal yang sifatnya tidak wajib, seperti bersenda gurau dengan istrinya. Karena ketika si suami itu sibuk bermain kartu dan sebagainya dengan teman-temannya, maka dia tidak sempat lagi bersenda gurau dengan istrinya. Padahal, yang terakhir ini -bersenda gurau dengan istri adalah sesuatu yang diperbolehkan bahkan dianjurkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Di dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh An-Nasa’i dinyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Segala sesuatu yang di dalamnya tidak ada dzikrullah (mengingat Allah) adalah senda gurau dan permainan, kecuali empat hal: suami yang mencandai istrinya, orang yang melatih kudanya, orang yang berjalan di antara dua sasaran (target), dan orang yang mengajar renang.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan bahwa suami yang bercanda dengan istrinya tidak termasuk senda gurau dan permainan yang dilarang. Dan beliau mendahulukannya dari pada tiga permainan yang lain. Beliau bahkan menempatkannya pada urutan pertama.

Kedua, ada sebagian wanita yang bermain kartu dan sebagainya. Akibatnya, mereka membuang-buang waktu yang semestinya lebih baik jika dihabiskan bersama suami dan anak-anaknya. Bahkan juga lebih baik untuk dirinya sendiri, ketika dia menghabiskan waktu itu untuk beribadah atau melakukan aktifitas lain yang berpahala. Dan betapa banyak aktifitas berpahala yang bisa dilakukan oleh wanita, seperti: berbakti kepada suami, mendidik anak, shalat sunnah, membaca Al-Qur’an atau mendengarkannya.

Demikianlah, kita melihat bahwa hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ini memberikan perlindungan kepada wanita dari dua sisi: (1) dari sisi suaminya, yakni ketika melarang si suami membuang-buang waktu yang sangat dibutuhkan oleh istri dan anak-anaknya, dan (2) dari sisi dirinya sendiri, yakni ketika melarang wanita membuang-buang waktu yang bisa digunakan untuk beribadah atau melakukan aktifitas lain yang berpahala.

Kemudian, betapa hadits di atas memberikan wasiat, perlindungan, dan perhatian ekstra kepada wanita. Yaitu dengan cara melarang suaminya bermain bersama wanita lain atau permainan-permainan lainnya, dan hanya memperbolehkannya bermain dengan istrinya saja.

Andaikata konsep ini dipublikasikan dan dijelaskan kepada wanita-wanita barat dan timur, bukankah mereka akan silau, gembira , dan antusias terhadap Islam?! Karena, mereka melihat Islam membatasi suaminya untuk bermain bersama istrinya saja, dan melarang para suami membuang-buang waktu yang lebih berhak dan dibutuhkan oleh istrinya.[]

Disalin dari buku “Aku Tersanjung” (Kumpulan Hadits-hadits Pemberdayaan Wanita dari Kitab Shahih Bukhari & Muslim Berikut Penjelasannya), Karya Muhammad Rasyid al-Uwayyid.

————————————————————————–

Anda punya tulisan berupa artikel Islam, opini ataupun kisah nyata yang ingin dipublikasikan di website ini? Silahkan kirim ke info@wimakassar.org.

Share.

Leave A Reply