Pilihan Terburuk

0

“Lebih baik menjadi Kristen, dari pada hidup melarat!”
Kalimat itu keluar dari bibir seorang ibu.

Naudzubillahi mindzalik? Ada apa gerangan yang terjadi sehingga kalimat “mengerikan” itu bisa terucap dari lisannya?

Lewat tulisan ini akan kuceritakan satu kisah memilukan yang telah menimpa seoranq teman kecilku. Temanku yang memiliki seorang ibu yang berani mengeluarkan kalimat -sekali lagi- “mengerikan” itu.

Kami dibesarkan di salah satu desa di Sulawesi Selatan. Teman kecilku itu adalah anak ke dua dari tiga bersaudara. Kehidupan ekonomi keluarga mereka tergolong lemah. Ayahnya adalah seorang buruh tani di sawah orang lain karena ia tidak memiliki ladang dan sawah sendiri.

Kami berteman sejak kecil, bukan hanya karena kami sekelas di Sekolah Dasar, tetapi juga ia adalah tetanggaku. Meskipun mushalla tempat kami belajar membaca al-Qur’an berbeda, tapi aku mengenalnya sebagai sosok yang sangat rajin datang ke mushalla.

Namun sayang, karena kondisi orang tuanya yang kekurangan, selepas SD ia tidak bisa melanjutkan pendidikannya ke SLTP. Hingga menginjak usia remaja, ia tetap tinggal di rumahnya. Terkadang membantu orang tuanya di sawah.

Kehidupannya di luar gedung sekolah menjadikannya masuk ke dalam pergaulan muda-mudi yang bebas. Ia bebas keluar ke tempat mana saja yang ia inginkan dan bebas berteman dengan siapa saja yang ia mau. Ia tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak mau terikat dengan rumah.

Dalam lingkungan pergaulan itulah ia bertemu dengan seorang pemuda yang beragama Kristen. Perkenalan mereka ternyata tidak hanya berlanjut pada sebatas teman biasa, akan tetapi berlanjut dalam ikatan cinta sepasang pemuda-pemudi. Mereka pacaran.
Anehnya, hubungan mereka itu tidak ditentang oleh orangtua sang gadis. Orangtua temanku ini sama sekali tidak mempermasalahkan tentang perbedaan agama di antara mereka, ini tentulah karena pemahaman agama yang masih awam.

Bahkan saat mereka merencanakan untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Ibu sang gadis malah berkata, “Jika pernikahan mereka nanti bisa menaikkan taraf ekonomi keluarga, kami akan mendukungnya. Lebih baik menjadi Kristen daripada hidup melarat. Saya sudah bosan hidup melarat.” Naudzibillabi min dzalik.

Ternyata penderitaan akan hidup kekurangan telah menjadikan mereka lupa. Mereka merasa dengan hidup yang serba kekurangan. Mereka tak mampu lagi bersabar. Hal itulah yang menjadikan mereka berpikiran singkat. Ibu temanku itu justru mendukung pernikahan anaknya dengan seorang pemuda kafir, hanya karena pemuda itu berasal dari golongan orang berada. Padahal, ayah pemuda kafir itu adalah seorang pemuka agama Kristen di daerahnya.

Awalnya gadis temanku itu berpikir untuk menikah beda agama. Ia tetap dengan ke-Islamannya, sedangkan kekasihnya itu juga tetap dengan keyakinannya. Namun sayang rencana untuk membangun keluarga beda agama itu terbentur pada penolakan orang tua sang pemuda itu sendiri. Mereka tidak menghendaki anaknya menikah dengan wanita Islam. Karenanya, syarat pun diajukan. Gadis itu harus bersedia melangsungkan pernikahannya di gereja, hal itu berarti bahwa ia harus murtad dari Islam dan menjadi Kristiani.

Keadaan menjadi semakin parah ketika ibu sang gadis malah menyetujuinya. Demikian halnya juga dengan temanku itu, tentu karena jerat cinta dari sang pemuda telah melenakan dan mengikatnya. Sedangkan ayahnya tak mampu berbuat apa-apa. Hanya diam. Entah dia setuju atau tidak.

Sungguh malang nasib wanita itu. Dunia telah menjadikannya silau, cinta telah menjadikannya buta. Nikmat hidayah yang sangat besar nilainya dan tak akan bisa dibeli dengan apapun, rela ia tukar hanya karena pernikahan dengan pemuda kafir. Ia menjual akidahnya dengan sangat mudah, tanpa ada penghalang dari orang tuanya. Bahkan ibunya begitu tega merestui anaknya masuk ke dalam hitamnya lumpur dosa besar yang telah diancam dengan kekekalan NERAKA JAHANNAM.

Mata ibu dan anak itu telah buta akan kebenaran, telinga telah tuli akan nasihat-nasihat yang datang dari keluarga dan tetangga-tetangga Islam yang dekat dengannya. Setiap kali Diingatkan, yang terdengar dari lisannya adalah ucapan bahwa lebih baik menjadi Kristen daripada hidup melarat.

Pilihan hidup yang sangat merugikan dan memilukan. Gadis itu melangkah dengan bangga di altar gereja. Mengucapkan janji pernikahan di jalan yang sesat. Melepaskan kebesaran syahadat yang mulia dari dirinya. Ia lebih memilih seorang manusia lemah, seorang pemuda kafir daripada memilih Allah. Alangkah hinanya perbuatan itu, sungguh tidak pantas Allah dan pemuda itu dijadikan objek pilihan sedangkan pemenangnya adalah seorang manusia lemah yang tak ada lagi keraguan bahwa agamanya adalah sesat.

Selesai akad nikah di gereja, keluarga wanita itu melakukan acara resepsi pernikahan di rumahnya. Namun sayang, tidak ada orang yang datang memenuhi undangannya kecuali sedikit. Masyarakat Islam di lingkungannya menganggap bahwa pernikahan itu adalah pernikahan Kristen. Mereka tidak mau datang, karena apabila mereka datang dan memberikan ucapan selamat serta do’a untuk kebahaqiaan mereka, itu berarti bahwa mereka membenarkan pemurtadan wanita itu.

Lihatlah, bukan hanya makhluk langit yang melaknat perbuatan mereka, tapi manusia juga pun enggan untuk memuliakan mereka, bahkan mereka menghinakannya. Sungguh, kita pantas berduka untuknya.

Akan tetapi, apakah berduka itu cukup?

Berduka saja tentulah tidak cukup. Kita juga butuh untuk mengintrospeksi diri masing-masing. Usaha apakah yang telah kita lakukan untuk saling menjaga aqidah saudara seiman kita?

Apakah kisah seperti di atas mampu menggetarkan hati kita untuk menjadi manusia bermanfaat dan mengobarkan semangat kita untuk semakin giat berilmu. Mempelajari addin (agama) ini dengan benar agar dapat kita bagi dengan saudara-saudara kita yang lain di pelosok-pelosok desa sana, dengan harapan agar dalam dada setiap muslim ada ilmu yang menyuburkan iman. Sehingga kata “murtad” pun akan sangat langka terdengar di telinga karena akidah ini tidak akan rela kita jual dengan apapun.

Para mantan Kristen mendapatkan hidayah masuk ke dalam Islam setelah perjalanan panjang mereka menemukan kebenaran dengan mempelajari Islam dan al-Qur’an. Mereka menggunakan kecerdasan akal dan intelektual mereka. Lantas, apakah pantas jika seorang muslim rela melepaskan Islam yang sangat berharga ini dan memilih menjadi kafir hanya karena harta dunia, hanya karena beberapa bungkus mi instant???

Bukan itu saja saudaraku, kisah ini juga memberikan tamparan keras kepada kita. Betapa selama ini kita kurang peka terhadap penderitaan saudara-saudara kita. Betapa indahnya jika kita bisa kembali menqhidupkan sedekah, menjadi dermawan yang ikhlas, meski hanya dengan senyum setiap harinya. Tentulah jalinan ukhuwah akan semakin kuat, kasih sayang akan berhembus dengan kedamaian dan kecintaan pada Islam akan semakin kokoh karena senantiasa saling membantu.

Akhir kata, kisah ini kututurkan bukan untuk menyebarkan aibnya, akan tetapi semoga dapat menjadi pelajaran berharga agar kita senantiasa menjaga diri agar tetap istiqamah. Karena tidak ada yang menjamin bagaimanakah kondisi keimanan kita esok hari.

Wallahu a’lam.

* Kisah ini dituturkan oleh seorang akhwat. Semoga Allah merahmatinya. 2008.
Penulis: Suherni Aisyah Syam

————————————————————————–
Anda punya tulisan berupa artikel, opini ataupun kisah nyata yang ingin dipublikasikan di website ini? Silahkan kirim ke info@wimakassar.org.

Share.

Leave A Reply