Poligami, Solusi Syar’i yang Terabaikan

2

Oleh Ustadz Harman Tajang, Lc.

Dalil-dalil disyari’atkannya poligami

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam al-Qur’an yang Mulia:

surah an-Nisa' ayat 3

“dan jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. kemudian jika kamu takut tidak akan dapat Berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja[, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya”. (QS. An-Nisaa’: 3)

Diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dari Sa’id bin Jubair beliau berkata : Ibnu Abbas bertanya kepadaku: “apakah engkau telah menikah?”, Aku menjawab: Belum, beliau (Ibnu Abbas) kemudian berkata : “Menikahlah karena sesungguhnya sebaik-baik manusia dari ummat ini adalah yang memiliki banyak istri”. Dan sebaik-baik manusia dari ummat ini dialah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Poligami adalah merupakan sunnah atau jalan para Nabi : Ibrahim ‘alaihissalam memiliki dua orang istri, Nabi Daud ‘alaihissalam memiliki 1000 orang istri sebagaimana yang disebutkan dalam kitab taurat, Nabi Sulaiman memiliki 100 orang istri, sedang rasul kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki 9 orang istri.

Beberapa syubhat seputar Poligami dan bantahannya
1. Hadits rencana pernikahan Ali radhiyallahu ‘anhu dengan putri Abu Jahal : dari Al-Musawwar bin Al-Makhramah beliau berkata : saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau berada di atas mimbar : “Sesungguhnya suku Bani Hisyam bin al-Mughirah meminta izin dariku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib maka saya tidak mengizinkannya, kemudian saya tidak mengizinkannya, kemudian saya tidak mengizinkannya kecuali jika Ali hendak menceraikan putriku kemudian mereka menikahkan putri mereka dengannya karena sesungguhnya ia (Fatimah) adalah bagian dari diriku dan aku bagian dari dirinya. Sesungguhnya aku bersedih dengan apa yang membuat ia bersedih dan aku terusik dengan apa yang mengusiknya.”

Bantahan : orang-orang yang menjadikan hadits ini sebagai alasan untuk melarang poligami ternyata tidaklah menyebutkan hadits ini secara sempurna. Padahal diantara penggalan hadits tersebut di atas adalah : “adapun aku tidaklah mengharamkan apa yang dihalalkan dan menghalalkan apa yang diharamkan”, yang maknanya bahwa beliau tidaklah mengharamkan apa yang dihalalkan Allah Ta’ala untuk kaum muslimin. Para ulama telah bersepakat bahwa hadits ini khusus untuk putri Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika ia dimadu dengan putri musuh Allah, Abu Jahal.

2. Poligami bisa menimbulkan masalah dalam rumah tangga sehingga orang tua harus melarang hal tersebut.
Bantahan : sesungguhnya prosentase jumlah lelaki yang berpoligami tidaklah lebih dari 5 persen dan kalau kita melihat kenyataanya masalah rumah tangga yang terjadi dan sampai kepada pengadilan kebanyakannya dari mereka yang tidak berpoligami, apakah itu kemudian dijadikan alasan bagi orang tua untuk tidak menikahkan putri-putri mereka?!

3. Masalah cemburu, yang bisa menimbulkan masalah dalam rumah tangga dan menimbulkan permusuhan di antara keluarga bahkan diantara anak dan saudara.

Bantahan: kecemburuan adalah sesuatu yang sifatnya fitrah namun hal itu tidak boleh kemudian dijadikan alasan untuk menolak syari’at Ilahi dan untuk mewujudkan kemaslahatan yang lebih besar. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa kecemburuan juga membakar dan terjadi diantara istri-istri Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam namun beliau tidak melarang para sahabat untuk berpoligami bahkan beliau sendiri yang mencontohkannya.

Adapun diantara maslahat dan manfaat berpoligami adalah :
– Menjaga kesucian wanita-wanita yang belum menikah
– Memperbanyak jumlah kaum muslimin, dan kita tahu bahwasanya orang-orang Yahudi dan Nasrani berusaha untuk memperbanyak jumlah mereka

Lalu apakah kita mengorbankan kemaslahatan dan manfaat diatas hanya disebabkan karena kecemburuan?!

4. Seorang lelaki yang berpoligami tidaklah mungkin mampu untuk berlaku adil diantara istri-istrinya, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

Surah an-Nisa' ayat 129

“dan kamu sekali-kali tidak akan dapat Berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai) dengan segala kecondongan, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. dan jika kamu Mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Bantahan : dalam ayat ini Allah mengharamkan ‘segala kecondongan’ dalam masalah cinta dan perasaan namun membolehkan sebagian kecenderungan hati untuk lebih mencintai seorang istri lebih dari yang lainnya dan hal itu dimaafkan dalam syari’at. Perlu diketahui bahwa ‘keadilan’ yang diperintahkan dalam poligami adalah dalam masalah nafkah materi dan hal itu terwujudkan dilihat dari kadar kebutuhan setiap istri serta keridhaannya dan tidaklah dipersyaratkan ‘kesamaan’ dari sisi ukuran dan takaran atau dengan harga yang sama. Karena boleh jadi seorang istri membutuhkan sesuatu dan harganya lebih murah namun ia ridha dengan hal tersebut. Jadi keadilan yang dimaksud kembali pada kadar kebutuhan dan keridhaan masing-masing istri.

5. Berpoligami menjadi sebab banyaknya keturunan yang kemudian menyebabkan kefakiran sebagaimana penafsiran Imam Syafi’i rahimahullah pada Firman Allah : ” … yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya” (An-Nisa : 3). Beliau menafsirkan yaitu: menyebabkan keluargamu tidak jatuh miskin.

Bantahan : para ulama rahimahumullah mengingkari penafsiran Imam Syafi’i rahimahullah di atas. Adapun tafsiran yang benar adalah; hal itu tidaklah menyebabkan kalian berlaku dzolim.

Beberapa faidah yang lain :

  1. Berpoligami lebih baik dari memiliki teman kencan gelap atau hubungan di luar nikah yang diharamkan, dan sungguh hal itu sangat membuat hati kita menjadi miris dengan dilarangnya berpoligami namun perzinahan jalan terus, wallahul musta’an.
  2. Dipersyaratkan bagi suami yang hendak berpoligami memiliki kemampuan dan tidaklah sekedar semangat belaka.
  3. Hendaknya seorang wanita muslimah mencintai saudaranya yang lain sebagaimana ia cinta pada dirinya sendiri, berbagi suami bukan berarti membagi cinta namun pada hakikatnya ia adalah mengali cinta.
  4. Diantara kenikmatan yang akan dirasakan oleh penghuni syurga adalah dikumpulkan bersama dengan orang yang ia cintai dihari kiamat. Karenanya jika seorang lelaki berpoligami dan istri keduanya memiliki kesolehan yang lebih tinggi maka otomatis istri pertama juga akan diangkat derajatnya di dalam syurga karena ia ikut suaminya yang juga diangkat derajatnya karena permintaan istri keduanya.

Subhanallah… betap indah berpoligami, siapkah anda?…[]

 

Share.

2 Comments

Leave A Reply