Ramadhan Bulan Do’a

0

Allah Ta’ala Maha Dekat. Dia menjawab hambaNya yang berdoa kepadaNya. Ini berlaku setiap saat, khususnya di bulan Ramadhan, sebagaimana telah kita sebutkan sebelumnya bahwa setiap Muslim memilki doa yang mustajab pada bulan Ramadhan. Maka sepantasnya seorang Muslim bersungguh-sungguh dalam berdoa sambil mencari sebab terkabulnya doa.
Secara umum ada beberapa sebab terkabulnya doa. Lima diantaranya sebagai berikut:
1. Memilih waktu yang utama. Seperti waktu sahur, diakhir/penghujung shalat wajib, antara adzan dan iqamat, pada saat terakhir di hari Jumat (setelah waktu shalat ashar), saat imam masuk masjid (khatib naik mimbar) hingga selesai shalat Jumat, dan saat berbuka puasa.

2. Memilih tempat yang afdhal (terbaik/utama), seperti masjid, Kota Makkah, Madinah dan sebagainya.

3. Kondisi orang berdoa. Seperti saat dalam perjalanan, karena orang yang dalam perjalanan (musafir) doanya mustajab. Atau seorang ayah mendoakan anaknya, orang yang sedang berpuasa, orang di medan perang (doa pada saat bertemunya dua pasukan mustajab), atau orang yang sedang terzhalimi. Ini dikarenakan doa orang terzhalimi tidak tertolak bahkan Allah mengangkatnya ke atas awan, seraya Allah berfirman (artinya), “Demi kemuliaan-Ku dan keagunganKu, Aku pasti akan menolongmu walaupunsetelah beberapa waktu .”

Termasuk orang yang berdoa sedang terdesak/kesulitan. Hakikat terdesak yang dimaksud adalah ketika seorang hamba terputus dengan semua sebab, lalu saat itu dia menghadap kepada Allah dengan penuh rasa harap kepadaNya semata. Ia menyerahkan seluruh urusannya secara total kepada Allah. Allah berfirman tentang hal ini, “Bukankah Dia yang memperkanankan (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa’ kepada-Nya dan menghilangkan kesusahan” (Qs an-Naml[27]:62).
Diriwayatkan bahwa Nabi Musa ‘alaihissalam melewati seseorang yang berdoa kepada Allah ‘Azza wa jalla. Musa berkata, “Wahai Tuhanku andai hajat/kebutuhan orang ini terdapat padaku (dapat aku penuhi) niscaya akan aku berikan keperluannya.” Dijawab oleh Allah, “Wahai Musa, Aku lebih sayang kepadanya daripada engkau. Tetapi dia berdoa kepadaKu, namun hatinya kepada selainKu.” Maka Musa segera menyampaikan hal itu kepada orang tersebut. Ia tersadar lalu memutuskan untuk berkonsentrasi kepada Allah. Akhirnya Allah Jalla wa ‘ala menjawab/mengabulkan doanya.

Maka hendaknya seseorang yang berdoa selalu berada dalam kondisi jiwa yang merasakan kebutuhan kepada Allah menghilangkan/memutuskan segala rasa harap kepada selain Allah. Dan jangan dia berdoa hanya coba-coba, atau tidak yakin dengan pengabulan dari Allah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (artinya), “Berdoalah kepada Allah sedang kalian yakin akan dikabulkan, ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah.” Hadits ini memilki dua sanad yang saling menguatkan, sehingga derajat hadits ini hasan.

4. Sifat doa.Hendaknya orang yang berdoa memerhatikan adab-adab berdoa. Seperti berwudhu, menghadap qiblat, mengangkat kedua tangan, mengulangi doa sebanyak tiga kali, memilih doa yang singkat tapi padat (kandungannya) , memerbaiki makanan (konsumsi makanan yang baik/halal), bertawassul dengan Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah yang tinggi, tidak meminta yang mengandung dosa pemutusan silaturrahim, dan adab-adab lain yang diajarkan oleh Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di sini saya ingin mengingatkan sebuah kesalahan yang dilakukan oleh kebanyakan orang dalam berdoa. Dalam hal ini sikap berlebihan yang tidak wajar (al i’tida’) dalam berdoa. Diantara bentuk al i’tida’ dalam berdoa adalah seseorang yang merincikan doanya yang sebenarnya tidak perlu.

Sebagian orang mengatakan di dalam doanya, “Ya Allah ampunilah bapak dan ibu kami, kakek dan nenek kami, paman dan bibi kami, om dan tante kami…” Dia terus berdoa dengan menyebut karib kerabatnya secara rinci, kemudian berpindah kepada tetangganya, lalu teman-temannya, demikian seterusnya. Perincian semacam ini mengambil waktu yang tidak sedikit. Padahal cukup ia mengatakan, “Ya Allah ampunilah kami, saudara-saudara kami, karib kerabat kami ,orang-orang yang kami cintai…” Secara global seperti ini, karena rahmat Allah sangat luas.

Sikap berlebihan yang tidak wajar dalam berdoa lainnya adalah seseorang berdoa dengan nama Allah yang tidak diajarkan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Seperti perkataan, “Yaa Ghufraan, Yaa Sulthaan .” Padahal kedua nama ini bukan termasuk nama Allah Jalla wa ‘ala.
Termasuk pula al i’tida’ yakni berlebihan dalam mengangkat suara saat berdoa. Hal ini telah tersebar khususnya di zaman kita saat ini, dengan keberadaan pengeras suara. Mungkin anda mendengarkan orang yang berdoa di timur kota, sementara anda berada di barat. Hal ini tidaklah pantas. Jika seseorang sedang mengimami shalat, lalu ia berdoa, kemudian diaminkan oleh orang-orang di belakangnya, maka hendaknya ia mengangat suara sekadar dapat didengar oleh orang-orang yang shalat di belakangnya saja, tidak perlu menambah volume suara, sebab hal ini termasuk al i’tida’ berlebihan dan merupakan pintu riya’.

Jika seseorang berdoa sendirian untuk dirinya sendiri, maka hendaknya doaanya secara sirr (lirih), sebagaimana firman Allah, “Yang dibacakan ini adalah) penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya Zakaria.(Yaitu) Ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (Qs. Maryam[19]:2-3).
Dan ibadah semakin tersembunyi maka semakin dekat kepada ketulusan /kebenaran dan pengabulan untuk lebih diterima.

5. Hilangnya penghalang terkabulnya doa
Ada beberapa hal yang menghalangi terkabulnya doa. Diantaranya memakan yang haram, entah dari sumber riba, menipu, memperlaris barang (jualan) dengan sumpah palsu, memakan harta anak yatim, dan sebagainya.
Dalam shahih Muslim diterangkan bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut masai lagi berdebu, ia mengangkat tangannya ke langit (seraya berkata), “Wahai Rabb, wahai Rabb….” Tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dia tumbuh dengan yang haram, bagaimana mungkin dikabulkan permohonannya?!

Termasuk pula penghalang terkabulnya doa adalah meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar. Sebagaimana terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari berbagai jalur bahwa Allah Ta’ala berfirman (artinya), “Perintahkanlah yang ma’ruf (kebaikan), laranglah dari kemunkaran, sebelum kalian berdoa kepadaKu tapi Aku tidak kabulkan, kalian memhon pertolongan tetapi Aku tidak menolong kalian, kalian meminta kepadaKu tetapi Aku tidak beri.”
Jika manusia meninggalkan amar ma’ruf nahi munkar terhadap diri mereka, anak-anak, keluarga, tetangga, karib-kerabat dan kepada masyarakat secara umum, maka Allah Jalla wa ‘ala menghukum mereka dengan tidak terkabulnya doa mereka.(Syam)

(Disalin dari Kitab Duruus Ramadhan,Waqafaat Lish Shaaim).

Share.

Leave A Reply