Saat Lisan Belajar Diam

0

“Tidak ada suatu ucapanpun yang diucapkan melainkan ada di sampingnya malaikat pengawas yang selalu hadir”

Ketika manusia mesti memilih antara diam atau bicara, maka dalam menyikapinya manusia akan terbagi dalam dua kelompok:

1. Orang yang paham akan urgensi waktu

Ketika dihadapkan pada persoalan seperti ini maka ia akan memilih dua pilihan:

a. Diam dari keburukan

Seseorang pernah ditanya tentang sifatnya yang banyak diam, maka beliau pun menjawab, ”Lidah itu seperti pedang, kalau aku berbicara tanpa faedah di dalamnya maka ia akan membunuhku.”

Seorang ulama juga pernah ditanya tentang hal serupa. Ia menjelaskan alasannya, “Aku telah menyesali perkataanku berkali-kali, namun aku belum pernah menyesal dengan sifat diamku.”

b. Mengatakan kebaikan

Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadits ini menjelaskan bahwa mengungkapkan kebaikan lebih baik dari pada diam. Sedangkan diam lebih baik dari pada mengungkapkan suatu keburukan.

2. Orang yang lalai menjaga waktunya

Orang ini ketika berada dalam keadaan seperti ini, maka ia akan lebih condong ke beberapa hal:

a. Ngomong semau gue

Orang yang tidak mengetahui harga sesuatu maka ia tidak akan pernah berhati-hati ataupun menjaga barang atau sesuatu tersebut. Seperti halnya ketika seorang anak mendapatkan hadiah dari orang tuanya, dan membeli sesuatu dengan hasil keringatnya sendiri, maka anak itu akan lebih menjaga apa yang ia peroleh dari keringatnya sendiri. Mengapa? Karena ia tahu betapa letihnya ia sehingga ia bisa memperoleh hal tersebut. Nah, inilah yang dinamakan qiimah (harga) sesuatu. Begitupun dengan waktu, barangsiapa yang mengetahui urgensi waktu, maka ia tidak akan pernah menyia-nyiakannya meskipun sedetik, ia akan mengisi waktu-waktunya dengan hal yang bermanfaat.

b. Salah bergaul

Banyak bergaul akan menimbulkan banyak berbicara dan banyak bicara akan menimbulkan banyak perkataan kosong tak bermakna. Umar bin Khatthab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan, “Barangsiapa yang banyak bicaranya banyak pula salahnya, dan barangsiapa yang banyak salahnya sedikit malunya, dan barangsiapa yang sedikit malunya banyak dosanya, dan barangsiapa yang banyak dosanya maka api neraka lebih pantas baginya.”

c. Beramal sia-sia

Orang seperti ini akan banyak melakukan hal-hal yang tidak berguna dalam kehidupannya, karena mereka tidak mengetahui hakikat dari waktu itu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,

“Salah satu ciri kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yag tidak bermanfaat baginya.” (HR. Tirmidzi).

Luqman al-Hakim pernah ditanya, “Apa yang bisa membuatmu mendapatkan hikmah itu?” Beliau mengatakan, “Aku tidak menanyakan sesuatu yang kuanggap cukup dan aku tidak mengatakan sesuatu yang tidak perlu.”

Penyakit lisan ini tidak hanya menimpa orang-orang awam tapi tidak sedikit juga dari kalangan penuntut ilmu syar’i yang terjangkit oleh penyakit lidah ini. Survei membuktikan bahwa sebagian penuntut ilmu syar’i tidak bisa menjaga lisan-lisannya ketika mereka berkumpul satu sama lain, bercanda, tertawa terbahak-bahak, dan membicarakan hal-hal yang tidak memberikan faedah kepada dirinya dan orang lain.

Terkadang canda yang banyak bisa membuat para pecanda mengutip ayat-ayat al-Quran, hadits, dan begitupun dengan nama-nama sahabat, padahal hal-hal yang seperti ini tidaklah dibolehkan dalam syari’at Islam. Sebagaimana firman Allah Ta’ala (artinya),

“Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan), tentulah mereka menjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah, “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman.” (QS. at-Taubah: 65-66).

Ketika kita membaca kisah sejarah perjalanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, kita akan menemukan bahwa mereka pun bercanda dan tertawa, namun iman mereka seperti gunung, sehingga kata-kata mereka tidak keluar dari ruang lingkup yang ditetapkan oleh syari’at. Namun kita sekarang ketika bercanda, kadang keluar dari mulut-mulut kita kata-kata dusta tanpa kita sadari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta supaya dengannya orang banyak jadi tertawa. Celakalah baginya dan celakalah”. (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh al-Albani).

Terkadang kita sebagai manusia biasa tidak perduli dengan hal-hal yang seperti ini, padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya sangat berhati-hati dari hal-hal yang tidak berguna bagi mereka, begitupun dengan generasi sesudah mereka, selalu berhati hati dengan waktu, mereka tidak menyia-nyiakan waktunya seperti kebanyakan manusia menyia-nyiakan waktunya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Salah satu ciri kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yag tidak bermanfaat baginya.”

Maka dari itu, siapa lagi yang pantas kita contohi selain mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah dijamin masuk surga, namun beliau tetap saja beribadah sampai kaki beliau bengkak karenanya. Itulah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam, sedangkan kita sebagai manusia biasa belum mengetahui tempat kita di akhirat kelak, namun kita tetap saja melakukan banyak kemaksiatan. Wal’iyaudzubillah.

Beberapa Bencana Lisan:

1. Berkata Bohong atau Berdusta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Sesungguhnya kedustaan itu menunjukkan kepada kejahatan dan kejahatan itu akan mengantarkan kepada neraka. Sesungguhnya seorang itu bermaksud untuk berdusta sehingga dicatatlah di sisi Allah sebagai seorang yang suka berdusta.” (Muttafaq ‘alaih)

2. Ghibah

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bertanya kepada para sahabat,“Tahukah kalian apa itu ghibah?”, Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau bersabda, “Yaitu engkau menceritakan tentang saudaramu yang membuatnya tidak suka.” Lalu ditanyakan kepada beliau, “Lalu bagaimana apabila pada diri saudara saya itu kenyataannya sebagaimana yang saya ungkapkan?” Maka beliau bersabda, “Apabila cerita yang engkau katakan itu sesuai dengan kenyataan maka engkau telah meng-ghibahinya. Dan apabila ternyata tidak sesuai dengan kenyataan dirinya maka engkau telah berdusta atas namanya (berbuat buhtan).” (HR. Muslim. 4/2001. Dinukil dari Nashihatii lin Nisaa’, hal. 26)

3. Mengejek dan mengolok-olok

Diriwayatkan bahwa ada seorang laki-laki yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Siapakah orang muslim yang paling baik?” Beliau menjawab, “Seseorang yang orang-orang muslim yang lain selamat dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR. Muslim).

4. Adu domba

Yahya bin Abi Katsir berkata, “Orang yang mengadu domba bisa membuat kerusakan dalam jangka waktu satu jam, sementara tukang sihir belum tentu bisa membuat kerusakan dalam jangka waktu satu bulan.”

Barangsiapa yang ingin selamat dari hal-hal di atas maka salah satu jalan yang perlu ditempuh adalah diam. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang diam maka ia akan selamat.”

Belajar Diam

Banyak orang mengira bahwa yang perlu kita pelajari hanyalah berbicara, bagaimana retorikanya, kecepatan bicaranya, kefasihan bahasanya, dll. Dan menganggap bahwa sikap diam itu tidaklah terlalu penting dan tidak perlu untuk dikaji. Namun itu tidaklah shahih. Sifat diam tetap perlu dipelajari sebagaimana kita belajar berbicara.

Ulama salaf mengatakan, ”Kami belajar diam sebagaimana kalian belajar berbicara.”

Wallahu Waliyyu at-Tawfiq

(Dari berbagai sumber)

Ahmad Nasing

Buletin Al-Fikrah No. 04 Tahun XV, 09 Shafar 1435 H/13 Desember 2013 M

(stiba.net)

Share.

Leave A Reply