Sabar dan Rahmat Allah

0

Oleh ustadz Rappung Samuddin, Lc. MA.

Diantara nama Allah yang hampir setiap saat kita ucapkan adalah Ar Rahman yang artinya maha luas Rahmat-Nya dan Ar Rahim, yakni yang rahmat dan kasih-Nya menjangkau seluruh makhluk-Nya tanpa terkecuali. Dan bahwasanya, rahmat Allah Ta’ala yang begitu luas mendahului dan mengalahkan siksa-Nya. Karenannya, Allah melarang kita berputus asa dari rahmat-Nya. Merasa diri telah begitu jauh dari-Nya dan seakan tidak ada lagi sandaran dan tempat kembali. Sikap dan perangai semacam ini merupakan gambaran kebodohandan ketertipuan… Ketahuilah, sebesar  apapun kesalahan seorang hamba; masih belum ada apa-apanya ketimbang luasnya rahmat Allah Ta’ala. Dengan syarat, bersungguh-sungguh untuk kembali dan bersabar dalam menempuh jalan-jalan rahmat-Nya.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata:

“Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman: “Hai anak Adam! Sesungguhnya selama engkau berdo’a dan berharap hanya kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni dosa-dosa yang telah engkau lakukan dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam ! Seandainya dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau minta ampunan kepada-Ku, niscaya Aku mengampunimu dan Aku tidak peduli. Wahai anak Adam! Jika engkau datang kepadaku dengan membawa dosa-dosa yang hampir memenuhi bumi kemudian engkau bertemu dengan-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu pun, niscaya Aku datang kepadamu dengan memberikan ampunan sepenuh bumi.” (HR. at-Tirmidzi, beliau berkata: Hadits ini hasan shahih).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tatkala Allah menciptakan makhluk-Nya, Dia menulis dalam kitab-Nya, yang terletak di sisi-Nya di atas‘Arsy, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku”.(HR. Bukhari dan Muslim).

Maha suci Allah …! Begitu luasnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala. Nah, ada sebuah kisah menarik yang membuat Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah menangis kala menyaksikan dan merenungi hikmah di baliknya. Beliau berkata: “Aku belajar kesabaran dari seorang anak kecil. Suatu ketika, saat berjalan menuju masjid akumendapati seorang wanita di dalam rumahnya sedang memukul anaknya. Anak itu menjerit, lalu membuka pintu dan berlari keluar. Maka wanita itu pun mengunci pintu.Tatkala aku pulang (dari masjid), aku mendapati anak itu telah tertidur didepan pintu setelah menangis beberapa saat dan meminta belas kasihan ibunya.Melihat hal itu luluhlah hati sang ibu, lalu membukakan pintu untuk anaknya”. Maka menangislah Fudhail bin ‘Iyadh hingga air mata membasahi janggutnya. Beliau kemudian berkata: “Subhanallah, kalau saja seorang hamba mau bersabar di depan pintu (rahmat) Allah, pasti Allah Ta’ala akan membukakan pintu rahmat itu untuknya!! (Ibnu Abi Syaibah, Mushannaf Ibni Abi Syaibah, 6/22).[]

Sumber: rappungsamuddin.com

 

Share.

Leave A Reply