Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (1)

2

Oleh: Rapung Samuddin, Lc., MA .

Menilik kedudukan dan kemuliaan para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam yang tinggi karena nikmat shuhbah (menjadi sahabat) bagi Rasulullah, penolong serta pembela baginya, menjadikan kajian tentang mereka merupakan salah satu isu sentral yang sangat urgen dalam akidah Ahlu Sunnah wal Jama’ah. (1) Para ulama tidak pernah mengabaikan persoalan ini dalam karya-karya mereka sebagai rangkaian pembahasan terkait perkara yang wajib diimani, termasuk menyusun kitab yang sifatnya mustaqil (tersendiri) tentangnya, untuk maksud dan tujuan membela kemurnian akidah. Makanya, telah menjadi sesuatu yang makruf di kalangan imam ahlu sunnah, jika ingin memaparkan akidah mereka walau berupa risalah ringkas, pasti memberi porsi pada topik sahabat, baik dalam bentuk penyebutan keutamaan mereka, keutamaan al-khulafa’ al-rasyidin, sifat ‘adalah (kredibilitas), larangan mencela dan mendiskreditkan mereka, atau seruan untuk menahan diri dan lisan terkait perselisihan yang terjadi di antara para sahabat. (2)

Diantara karya ulama klasik yang menyinggung hal tersebut: Kitab “Fadhail al-Shahabah”, oleh Imam Ahmad bin Hambal (w. 241 H), “Fadhail al-Shahabah”, karya Imam al-Daruquthni (w. 385 H), “Fadhail al-Khulafa’ al-Rasyidin”, oleh Imam Abu Nu’aim al-Ashbahani (w. 430 H), “Ma’rifah al-Shahabah”, oleh Ibnu Mandah al-Ashbahani (w. 395 H) dan sebagainya, termasuk dalam bentuk bab-bab, seperti bab dalam “Shahih al-Bukhari”; Bab: Keutamaan Sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan Orang yang menemani Nabi shallallahu alaihi wasallam atau sekedar melihatnya dari kalangan muslimin; maka ia dikategorikan sebagai sahabat”. Juga kumpulan hadits-hadits sahih terkait sahabat dalam “Shahih Muslim” yang kemudian diberi judul bab oleh Imam al-Nawawi (w. 672 H) “Fadhail al-Shahabah” dan masih banyak lagi berupa pemaparan ulama seputar isu sahabat yang tersebar dalam kitab-kitab akidah, mushtalah hadits dan selainnya.

Perhatian besar ini tentunya didasari oleh keyakinan, bahwa menjaga dan membela sum’ah (nama baik) sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam sama artinya dengan menjaga kehormatan Nabi shallallahu alaihi wasallam (3) dan syariat Islam itu sendiri. Merekalah umat terbaik yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk hidup bersama Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, kemudian mengambil ilmu syariat (agama) dari beliau dan memindahkannya kepada umat. Olehnya, mencela dan mendiskreditkan kehormatan mereka berkonsekwensi pada celaan dan kerusakan pada agama. Perkara inilah yang nyaring diserukan oleh para ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah berupa peringatan keras terhadap kelompok-kelompok menyimpang yang berupaya mencederai kredibilitas sahabat, baik melalui riwayat-riwayat dusta,(4) maupun mengobarkan perselisihan-perselisihan di antara mereka kendati terjadi atas dasar ijtihad, termasuk menganggap sesuatu sebagai perselisihan padahal sebenarnya bukan termasuk perselisihan di kalangan mereka. (5)

Oleh karena itulah, Imam Abu Zur’ah al-Razi (w. 264 H) salah seorang guru Imam Muslim rahimahullah tegas menyatakan: “Jika engkau menyaksikan seorang mencela salah satu dari sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ketahuilah ia adalah zindiq. (6) Yang demikian, karena Rasulullah itu benar dan al-Qur’an itu benar, lalu yang menyampaikan kepada kita al-Qur’an dan sunnah-sunnah itu adalah para sahabat Rasulullah. Seungguhnya (kelancangan ini) bertujuan merusak saksi-saksi (agama) kami untuk tujuan membatalkan al-Qur’an dan sunnah. Olehnya celaan atas mereka lebih pantas sebab mereka itu kaum zindiq“. (7)

Berangkat dari sini, maka nampak sekali urgensi kajian seputar sahabat, untuk mengetahui dengan pasti sikap Ahlu Sunnah wal Jama’ah berkenaan dengan generasi terbaik tersebut, agar nampak perbedaan yang jelas antara Ahlu Sunnah dengan kelompok-kelompok lain yang ada dalam dunia Islam sepanjang sejarah.

DEFINISI SAHABAT

Definisi Sahabat Secara Etimologi

Kata al-sahabah atau al-shahabi dalam bahasa Arab, merupakan pecahan dari kata al-suhbah, secara etimologi berarti mu’asyarah (pergaulan atau persahabatan). Ibnu Manzhur (w. 711 H) dalam kitab “Lisan al-Arab” menyebutkan: “Kata shahabahu bermakna ‘asyarahu, (yakni, menemaninya dan bersamanya)”. (8)

Dalam al-Mishbah al-Munir disebutkan: Kata alsuhbah diarahkan pada orang yang sempat melihat dan duduk (bersama sahabatnya). (9)

Abu Bakar Muhammad bin al-Thayyib (w. 403 H) berkata: “Tidak ada perselisihan di antara pakar bahasa Arab, bahwa kata “shahabi” merupakan pecahan dari kata al-shuhbah, … dan ia diarahkan pada makna setiap yang menemani orang lain baik dalam waktu singkat maupun panjang. Dikatakan: “Aku menemani fulan setahun, sebulan, sehari atau sesaat”, semua ini masuk dalam kategori mushahabah (menemani) kendati waktunya pendek atau panjang. Maka dalam hukum bahasa, wajib memberlakukan makna ini pada setiap orang yang menemani (bertemu) Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kendati hanya sesaat dari waktu siang. (10)

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) berkata dalam “al-Sharim al-Maslul”: Kata al-ashhab merupakan bentuk plural dari kata shahib, ia merupakan isim fa’il dari kata shahibahu yashhabuhu (menemaninya); dan makna ini berlaku untuk persahabatan yang waktunya singkat atau panjang. (11)

Definisi Sahabat Menurut Istilah

Terdapat banyak definisi sahabat yang dilontarkan oleh para ulama hadits, diantaranya:

Al-Hafidz Ibnu Katsir (w. 774 H) berkata: “Sahabat adalah orang yang melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan Islam ketika melihatnya, walaupun tidak lama dan tidak meriwayatkan satu hadits-pun dari beliau. Dan ini merupakan pendapat jumhur (mayoritas) ulama, baik kholaf (kontemporer) maupun salaf (terdahulu). (12)

Ali al-Madini (w. 234 H) berkata: “Siapa yang menemani Nabi shallalahu alaihi wasallam atau melihatnya kendati sesaat di waktu siang, maka ia termasuk dalam jajaran sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam”. (13)

Imam al-Bukhari (w. 265 H) berkata terkait definisi sahabat:

وَمَنْ صَحِبَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْ رَآهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَهُوَ مِنْ أَصْحَابِهِ

“Orang yang menemani Nabi shallallahu alaihi wasallam atau sekedar melihatnya dari kalangan muslimin; maka ia dikategorikan sebagai sahabat”. (14)

Imam an-Nawawi (w. 672 H) menyatakan: “Sahabat adalah setiap muslim yang melihat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam walaupun hanya sekilas. Pendapat inilah yang benar mengenai batasan (seseorang dikatakan sebagai) sahabat, dan inilah madzhab yang dipegang oleh Ahmad bin Hambal dan Abu ‘Abdillah al-Bukhari di dalam shahihnya serta seluruh ulama ahli hadits.” (15)

Al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) berkata:

أصح ما وقفت عليه من ذلك أن الصحابي من لقي النبي ـ صلى الله عليه وآله وسلم ـ مؤمناً به ومات على الإسلام.

“Definisi yang paling sahih tentang sahabat yang telah aku teliti ialah: “Orang yang berjumpa dengan Nabi shallallahu alaihi wa sallam dalam keadaan beriman dan wafat dalam keadaan Islam”. (16)

Dari definisi di atas, khususnya yang diutarakan oleh Ibnu Hajar, masuk dalam kategori sahabat orang yang menjumpai beliau, baik dalam waktu lama maupun singkat, meriwayatkan (hadits) dari beliau maupun tidak, turut berperang beserta beliau maupun yang tidak, orang yang melihat beliau walaupun belum pernah menemani beliau, dan orang yang tidak melihat beliau disebabkan sesuatu hal seperti buta…”. (17)

Kemudian al-Hafidz Ibnu Hajar (w. 852 H) menegaskan: “Definisi ini dibangun di atas pendapat yang paling benar dan terpilih menurut para ulama peneliti (muhaqqiqin), semisal Bukhari dan guru beliau, Ahmad bin Hambal, dan yang meneladani mereka berdua. Adapun pendapat selain ini merupakan pendapat yang ganjil (syadzah).” (18)

Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) menambahkan, “Status sahabat dapat diketahui melalui (berita) mutawatir, atau berita yang mustafîdhah (banyak namun di bawah derajat mutawatir), atau dengan kesaksian sahabat yang lain, atau bisa juga dengan meriwayatkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik secara sama’ (mendengar) ataupun menyaksikan, selama berada satu zaman (dengan Nabi).” (19)

Adapun yang tidak termasuk dalam kategori sahabat ini adalah sebagai berikut:

Pertama: Orang yang bertemu beliau dalam keadaan kafir, kendati masuk Islam sesudah itu (yakni sesudah wafat beliau).

Kedua: Orang yang beriman kepada Nabi Isa dari ahli kitab sebelum diutus Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan setelah diutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dia tidak beriman kepada beliau.

Ketiga: Orang yang beriman kepada beliau kemudian murtad dan wafat dalam keadaan murtad, wal’iyaadzu billah. (20)

Keempat: Orang yang melihat beliau shallallahu alaihi wasallam di dalam mimpi, tidak dikategorikan sebagai sahabat menurut konsensus ulama. (21)

KEDUDUKAN SAHABAT DALAM AL-QUR’AN DAN SUNNAH

Kedudukan Sahabat dalam al-Qur’an

Pertama: Kabar dari Allah Ta’ala akan sifat-sifat mulia mereka yang karena kaum kafir tidak senang.

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath : 29).

Imam Ibnu al-Jauzi (w. 597 H) berkata: “Sifat ini diarahkan kepada seluruh sahabat, menurut jumhur ulama”. (22)

Imam Malik bin Anas (w. 189 H) berkata: “Telah sampai padaku (berita) bahwa tatkala kaum Nashrani menyaksikan para sahabat yang menaklukkan negeri Syam, mereka berujar: “Demi Allah, mereka itu lebih baik ketimbang kaum hawariyyun (pembantu-pembantu Nabi Isa alaihis salam) sebagaimana yang kami ketahui tentang mereka”. Perkataan tersebut merupakan bukti kejujuran, sebab umat ini begitu diagungkan dalam kitab-kitab samawi. Yang paling mulia dan agung (dalam umat ini) adalah para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Allah Ta’ala memuliakan penyebutan mereka dalam kitab-kitab samawi yang diturunkan, serta dalam kabar-kabar yang diwariskan turun-temurun. (23)

Ibnu Katsir (w. 774 H) menegaskan: “Atas dasar ayat ini, Imam Malik bin Anas (w. 189 H) – dalam salah satu riwayat – tegas mengkafirkan golongan rafidhah (syi’ah) yang membenci para sahabat. Beliau –Malik bin Anas- berkata: “Hal ini disebabkan mereka membenci para sahabat dan siapa yang membenci mereka maka ia telah kafir berdasarkan ayat ini. (24)

Kedua: Keridhaan Allah Ta’ala terhadap para sahabat.

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar”. (QS. Al-Taubah : 100)..

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H) berkata: Allah Ta’ala rida atas orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam, tanpa syarat ihsan. Dan Ia tidak meridai bagi mereka yang datang kemudian, melainkan jika mengikuti mereka dengan baik (ihsan). (25)

Ketiga: Kabar gembira berupa janji akan surga bagi para sahabat

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik. dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (Qs: al-Hadid : 10).

Imam Mujahid (w. 104 H), dan Qatadah (w. 118 H) berkata: Kata al-husna dalam ayat ini artinya adalah surga. (26)

Terkait ayat di atas, Ibnu Hazm al-Zhahiri (w. 456 H) menyatakan: “Tidak diragukan lagi, seluruh sahabat termasuk ahli surga, seperti firman Allah Ta’ala: “Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang lebih baik –yakni surga –”. (27)

Keempat: Tazkiyah dari Allah Ta’ala akan kejujuran dan kebersihan yang ada dalam hati para sahabat

“Sesungguhnya Allah Telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya)”. (Qs: al-Fath : 18).

Ayat ini merupakan dalil persaksian Allah Ta’ala dan tazkiyah atas para sahabat. Ini adalah bentuk persaksian terhadap apa yang ada dalam hati mereka, sebab Allah-lah yang Maha Mengetahui apa yang terkandung di dalamnya. Dari sini lahir keridhaan-Nya atas mereka. Siapa yang Allah Ta’ala ridha padanya, mustahil mati dalam keadaan kafir. Ukuran utama akan keridhaan tersebut adalah kematian dalam keadaan Islam. Olehnya, keridaan tidak mungkin terwujud melainkan jika kematian mereka berada di atas agama Islam.

Perkara ini lebih ditegaskan oleh hadits Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

لَا يَدْخُلُ النَّارَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنْ أَصْحَابِ الشَّجَرَةِ أَحَدٌ الَّذِينَ بَايَعُوا تَحْتَهَا

“Tidak akan masuk neraka dengan izin Allah seorang-pun yang ikut berbai’at di bawah (pohon)”. (28)

Imam Ibnu Hazm (w. 456 H) berkata: Siapa yang Allah Ta’ala kabarkan, bahwa Ia mengetahui apa yang ada dalam hati-hati mereka, ridha terhadapnya, serta menurunkan sakinah (ketenangan) atasnya, maka tidak halal bagi siapa-pun untuk bersikap tawaqquf (tidak mengakui keutamaan tersebut) atau ragu kepada mereka. (29)

Bersambung InsyaAllah ….

Foot Note:

  1. Terkutip dalam buku DR. Muhammad bin Ibrahim bin Shalih Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, (Cet. I, Saudi Arabiyah, Daar al-Fadhilah, th. 1430 H/2009 M), h. 14. Sumber asli: Muhammad Syafi’, Maqam al-Shahabah, h. 44.
  1. Lihat: Muhammad bin Abdullah al-Wuhaibi, I’tiqad Ahli al-Sunnah fi al-Shahabah, London, al-Muntada al-Islami, t.thn, h. 3-4.
  1. Imam Malik rahimahullah berkata: “Sungguh mereka adalah kaum yang ingin mencela dan mencederai kehormatan Nabi shallallahu alaihi wasallam, namun mereka tidak berhasil. Lalu mereka menempuh cara lain, yakni mencela para sahabat, agar orang-orang berkata: (Rasulullah) adalah laki-laki yang buruk. Sebab jika ia seorang yang shalih, tentu sahabat-sahabatnya juga orang-orang shalih”. Lihat: Ibnu Taimiyah, al-Sharim al-Masluul ‘Ala Syatim al-Rasul, Tahqiq: Muhammad Abdullah Umar al-Halawani, (t.Cet, Beirut; Daar Ibnu Hazm, th. 1418H), Vol. I, h. 581.
  1. Perkara inilah yang kemudian menggerakkan para ulama meletakkan kaidah-kaidah yang harus dipahami dalam kaitannya dengan studi kajian sejarah, khususnya sejarah para sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam. Sebab, jika menilik riwayat-riwayat seputar fitnah yang terjadi di kalangan sahabat, utamanya fitnah pembunuhan khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu anhu, ia tidak lepas dari riwayat tiga orang perawi sejarah klasik. (1). Abu Mikhnaf Luth bin Yahya (w. 157 H) yang terkenal berakidah syi’ah. Nampak sekali sikapnya sangat tendensius tehadap Utsman bin ‘Affan dan menampakkan seakan-akan Utsman memiliki banyak kesalahan. (2). Muhammad bin Umar al-Waqidi (w. 207 H), terkenal dikalangan ulama hadits sebagai seorang yang lemah dan pendusta. Olehnya, al-Thabari sangat berhati-hati dalam menukil sebagian dari riwayat-riwayatnya karena terlalu buruk. (3). Saif bin Umar al-Tamimi (w. 180 H). Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) berkata tentangnya: “Lemah dalam hadits, tapi rujukan dalam sejarah”. (Khusus Saif bin Umar, beliau lebih ringan dari kedua sebelumnya), riwayat-riwayat beliau datang dalam bentuk umum dan tidak memojokkan salah satu dari sahabat. Lihat: DR. Muhammad bin Ibrahim bin Shalih Aba al-Khail, Tarikh al-Khulafa’ al-Rasyidin, Op. Cit., 278-279.
  1. Misalnya, silang pendapat yang terjadi antara kaum Muhajirin dan Anshar di Saqifah Bani Sa’idah. Sebagian ahli sejarah menyatakan sebagai sebuah perselisihan memperebutkan jabatan dan kursi kepemimpinan. Padahal ia bukanlah sebagai sebuah perselisihan, sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah (w. 728 H): “Semisal perdebatan yang terjadi pada pertemuan di Saqifah, dari proses hingga terjadi kesepakatan, tidaklah dikatakan sebagai sebuah perselisihan”. Lihat: Ibnu Taimiyah, Minhaj al-Sunnah al-Nabawiyah, Tahqiq: Dr. Muhammad Rasyyad Salim, (Cet. I, Muassasah Quthubah, 1406 H / 1986 M), Vol. I, h. 29.
  1. Zindiq artinya: Orang yang menyembunyikan kebencian pada Islam, dan ingin merusaknya Islam dari dalam.
  1. Al-Khatib al-Baghdadi (Ahmad bin Ali bin Tsabit), al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayah, Tahqiq: Abu Abdillah al-Suraqi, al, (Cet. I, Madinah al-Munawwarah, al-Maktabah al-Ilmiyah, al-Maktabah al-Syamilah, t.th), h: 49.
  1. Ibnu Manzhur, Lisan al-Arab, (Cet. I, Beirut, Daar al-Shadir, -al-Maktabah al-Syamilah-, t.thn), Vol. I, h. 519.
  1. Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Fayyumi, al-Misbah al-Munir fi Gharib al-Syarhi al-Kabir, (Cet. I, Beirut, Daar al-Kutub al- Ilmiyah, 1414 H), h. 333.
  1. Al-Khatib al-Baghdadi, al-Kifayah fi Ilmi al-Riwayah, Cit., h. 51.
  1. Ibnu Taimiyah, al-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim al-Rasul, Cit., Vol. I, h. 577.
  1. Ibnu Katsir, al-Ba’its al-Hatsits Syarh wa Ikhtishar Ulum al-Hadits, I’dad: Ahmad Muhammad Syakir, (Beirut, Daar al-Kutub al-Ilmiyah, t.thn), hal: 174.
  1. Lihat: Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Tahqiq: Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, (Cet. I, Kairo, Daar al-Hadits, th. 1424 H / 2004 M), VII, h. 5.
  1. Definisi ini dibuat oleh Imam al-Bukhari dalam kitab “Shahih-nya”, dimana beliau memberikan judul bab bagi salah satu pasal di dalamnya yakni “Kitab Fadhail al-Shahabah”, Lihat: Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Tarqim: Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, (Cet. I, Kairo, al-Mathba’ah al-Salafiyah, th. 1400 H), Vol. III, hlm. 5.
  1. Imam al-Nawawi, Syarhu Shahih Muslim, Tahqiq: Abu Abdir Rahman Adil bin Sa’ad, (Kairo, Daar Ibnu Ibrahim, th. 2003 M), Vol. I, hlm. 200.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, (Mathbaah al-Sa’adah, th. 1328 H), Vol. I, hl. 6.
  1. Ibnu Katsir, al-Baits al-Hatsits, Cit., hal: 185.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishabah fi Tamyiz al-Shahabah, Cit., Vol. I, h. 7-8.
  1. Al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Ishaq bin Yahya bin Mandah al-Ashbahani, Ma’rifah al-Shahabah, Tahqiq: Prof. Dr. ‘Amir Hasan Shabri, (Cet. I, Mathbu’at Jami’ah al-Imarat al-Arabiyah al-Muttahidah, th. 1426 H/2005 M), Vol. I, h. 6.
  1. Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi, Zaad al-Masir fi Ilmi al-Tafsir, (Cet. III, Maktabah al-Islami, th. 1404 H/1984 M). VII, hl. 446.
  1. Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), Tahqiq: Sami bin Muhammad Salamah, ( Cet. II, Daar al-Thayyibah, th. 1420 H/1999 M), Vol. VII, h. 362.
  1. Lihat: Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, Cit., Vol. VII, h. 362. Dalam riwayat lain disebutkan, Imam Malik bin Anas berkata: “Siapa yang ada dalam hatinya kebencian pada para sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, maka ia terkena (ancaman) pada ayat ini”. Lihat: Ibnu al-Jauzi, Zaad al-Masir, Op. Cit., Vol. VII, hlm. 449. Al-Baghawi (Abu Muhammad al-Husain bin Mas’ud), Ma’alim al-Tanzil, Tahqiq: Muhammad Abdullah al-Namr, (Cet. IV, Daar al-Thayyibah, th. 1417 H/1997 M), Vol. VII, hl. 328.
  1. Lihat: Ibnu Taimiyah, al-Sharim al-Maslul, Op. Cit., 572.
  1. Ibnu Jarir al-Thabari, Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an (Tafsir al-Thabari), Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, (Cet. I, Beirut, Muassasah al-Risalah, th. 1420 H/2000 M), Vol. IX, h. 96.
  1. Ibnu Hazm al-Zhahiri, al-Fashl fi al-Milal Wa al-Ahwa Wa al-Nihal, (Kairo, Maktabah al-Khanji, al-Maktabah al-Syamilah, t.th), Vol. IV, hl. 116.
  1. Muslim, no: 2496.
  1. Ibnu Hazm al-Zhahiri, al-Fashl Fii al-Milal Wa al-Ahwa Wa an-Nihal, Op. Cit., Vol. IV, hl. 116.

Sumber: http://rappungsamuddin.blogspot.com/

Baca tulisan berikutnya:

Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (2)

Sahabat dalam Perspektif Aqidah Ahlu Sunnah Wal Jama’ah (3)

Share.